Dosa Millenial

Seseorang menyunggingkan senyum manis di sebuah foto berbentuk kotak. Foto yang dapat dilihat, tapi tak dapat disentuh. Dengan satu gerakan jempol, ia akan hilang dari pandanganku, tergantikan senyum-senyum manis lain di bawahnya. Pose-pose unik di depan pemandangan yang menarik, berhiaskan kata-kata mutiara yang kadang tak ada kaitannya dengan foto.

Aku terus scroll layar instagramku. Aku menemukan teman SMA-ku berdiri di depan sebuah danau yang teduh oleh pohon-pohon cemara, ia tidak menatap kamera, menengok ke kanan sedikit, senyum pun tidak. Coat warna hijau lumut yang ia kenakan cukup menjelaskan temperatur sekitar yang tak dapat diraih AC di Indonesia. Di bawahnya, gambar hati ditemani oleh angka 134 likes dan di bawahnya lagi ia menulis And tonight I will fall asleep with you in my heart.

Jempolku tak berhenti.

Ada sebuah suara yang lirih, begitu lemah ia berbisik, memintaku untuk berhenti.

Tapi jempolku tetap tak berhenti.

Kini kulihat sepupuku bersama sepupuku yang lain, berfoto di meja restoran dengan dekorasi antik yang indah dipandang mata. Restoran yang, mungkin, dikenal instagramable. Aku jadi berandai-andai. Andai aku tinggal satu kota dengan mereka, mungkin aku ada di sana juga.

Aku menyadari setengah jam sudah berlalu sejak aku menyentuh layar ini. Dan dalam tiga puluh menit itu, ada banyak potensi manfaat yang bisa terpetik. Aku bisa menghangatkan rendang di kulkas untuk malam ini. Aku bisa membaca buku-buku novel, yang selama ini hanya menumpuk di sudut ruang. Dibeli namun tak dibaca dengan alasan belum ada waktu, sok sibuk lalu mengambinghitamkan tugas kuliah. Aku bisa juga benar-benar mengerjakan tugas kuliahku, yang sebenarnya memang banyak, tapi akan selesai jika aku niat untuk memulai. Atau aku bisa mandi dengan tenang.

Tapi mataku seolah lekat dan jempolku terus menunjukkan gambar-gambar menarik dari kehidupan teman-temanku, kehidupan para selebgram, dan wajah cantik model-model online shop.

Warna merah pada gambar baterai di pojok atas pun tidak kuhiraukan, sungguh malas rasanya bergerak mengambil charger.

Sekarang aku tahu Linda sedang di Sidney, Tania dan Inka sedang jalan-jalan ke Jogja, Rudi ikut kepanitiaan olahraga di kampus, bahkan kabar seorang artis instagram yang tak kukenal, bahwa dia kena tifus karena kelelahan, aku pun tahu.

Sampai tiba-tiba layarku menghitam, aku sadar dia sudah tak sanggup bertahan dengan energi yang tersisa di baterainya.

Suara keras dari hatiku mengucap alhamdulillah.

Aku bersyukur bisa terlepas dari genggaman media sosial. Aku pun segera menyadari satu jam sudah berlalu tanpa ada manfaat yang bisa aku ambil. Satu jam yang berharga, aku lewati tanpa aku berkembang menjadi lebih baik, lebih pintar, ataupun lebih wangi.

Oh, akankah besok aku terlarut lagi?

Kue Mahal dan Kue Warung

Alkisah Mahdi suatu hari ada urusan di Bandung. PP saja, jadi tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan saya hehe, malam-malam juga sudah pulang lagi. Tapi, Bandung adalah kota wisata yang kulinernya menggoyang lidah. Jadi, saya selalu siap pesanan setiap doi ke Bandung.

Dulu pernah pesan kue seleb (aduh namanya lupa, punyanya si Omesh), gara-gara tidak sengaja pernah lihat review dari youtuber tentang kue tersebut. Awalnya tidak sengaja lihat, tapi dilanjutin nonton, jadi sengaja juga ya namanya? Hehe.

Di kali berikutnya, saya pesan H*rvest. Karena kalau beli cheese cake sulit dibawa naik bus umum, jadilah saya pengertian sedikit dan nitip cookies saja. Sebulan kemudian saya baru tahu itu harganya mahal banget, langsung berasa pemborosan huhuhu padahal keperluan baby masih banyak.

Menurut saya sih enak banget. Tapi, si Mahdi gak pernah nyentuh sedikit pun. Pernah saya paksa, makan cuma satu, lalu yaudah disudahi. Di lain kesempatan, saya paksa lagi untuk makan sambil saya memberikan pendapat bahwa kue tersebut enak banget. "Cobain deh yang cokelatnya tebal."

"Enakan g*odtime!"

Buset, kata saya dalam hati, kue mahal gini dibandingin sama kue warung, kalah pula. Hahahaha.

Di waktu berikutnya lagi, saya pesan brownies panggang yang terkenal di Bandung. Saya pesan yang original karena di atasnya ditaburi kacang almond yang baik untuk janin, wkwkwk (tetap berusaha memenuhi gizi bayi). Malamnya, datanglah brownies yang saya impi-impikan itu. Saya potong, saya makan, dan saya letakkan di atas meja.

Dari waktu ke waktu, saya menyadari brownies makin lama makin sedikit. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Mahdi. Akhirnya, ketika saya sedang bareng doi, saya coba tawari browniesnya, pura-pura gak tahu dia suka makanin browniesnya.

"Mau, mau. Tolong potongin," jawabnya.

"Suka ya?"

"Iya, ini enak banget. Mendingan ini lah ke mana-mana daripada waktu itu beli H*rvest. Mahal lagi."

Percakapan disela oleh kesibukan mengunyah.

Lalu Mahdi menambahkan,"ini enak banget. Setara lah dengan g*odtime."

What???

Hahahaha. Di situlah saya tertawa keras, tetap yaaa perbandingannya sama si kue swalayan itu.

Mendulang Medali di Tengah Ujian Sekolah

Ahad, 15 April 2018, M. Muslih Attoyibi, santri kelas 9 SMP Al Umanaa Boarding School, disambut hawa panas dan udara lembab ketika memasuki Gedung Ecovention, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Santri yang akrab dipanggil Muslih ini melangkah pasti untuk menjalankan amanah mewakili SMP Al Umanaa Boarding School dalam ajang Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR). Perjuangan yang tidak sia-sia, Muslih berhasil menyabet medali perunggu dalam kompetisi yang diikuti oleh sekitar 2300 peserta se-Indonesia.

Muslih sebelumnya telah melalui tahap penyisihan dan semifinal yang dilaksanakan di Sukabumi pada 17 Desember 2017 dan 4 Februari 2018. Setelah berhasil melewati keduanya, Muslih ditantang untuk mempersiapkan babak final dalam kondisi yang lebih sempit. Bagaimana tak terbilang sempit, santri asal Sukabumi ini harus berjuang menuju final di saat ia juga sedang mempersiapkan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) untuk kelulusannya. Bahkan, babak final dilaksanakan di tengah USBN.

Namun, kondisi ini tidak menyurutkan langkah Muslih. Santri dikenal yang hemat ekspresi ini setiap harinya dengan serius dan istiqomah berlatih mengerjakan soal-soal matematika.
Perjalanan jauh menuju Jakarta melewati kemacetan harus ditempuh. Tiba di Ibukota, didampingi pembimbing, Muslih disambut oleh udara panas. Kendaraan terus melaju menuju Taman Impian Jaya Ancol. Pintu Timur lokasi wisata ini tampak dipadati oleh mobil-mobil. Panitia KMNR di pintu berlalu lalang membantu para peserta yang kesulitan.

Kendaraan terus melaju mencari Gedung Ecovention. Dari kejauhan, Gedung Ecovention tampak sesak oleh ribuan peserta yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia. Babak final dilaksanakan sejak pk08.00 hingga pk10.30. Selama itu pula, Muslih berkonsentrasi mengerjakan soal-soal di hadapannya. Setelah makan siang, pk14.00 Muslih ditemani pembimbing, kembali menuju Ecovention untuk menyaksikan pengumuman. Alhamdulillah, hanya atas ridho Allah, nama Muhammad Muslih Attoyibi menggema dalam Gedung Ecovention, Taman Impian Jaya Ancol, sebagai peraih medali perunggu.

Selamat kepada M. Muslih Attoyibi, insyaAllah bisa menelurkan prestasi-prestasi lainnya yang lebih gemilang.

Melemaskan Jari - Sebuah Hadiah dalam Diri

"Saya gak suka main voli, abis tangannya kayak langsung merah-merah dan ada banyak titik merah," sebagian besar orang komentar kalau tahu saya lumayan senang main voli.

Biasanya, saya jawab seperti ini, "Emang gitu, saya kalau sudah lama gak main voli, terus tiba-tiba main lagi, tangannya juga gitu kok. Tapi kalo udah hari kedua dst, udah gak gitu lagi."

Ya memang semuanya, kalau sudah lama tidak dilakukan, pasti ada proses adaptasi dari tubuh yang harus diterima. Kalau kebiasaan merokok, tiba-tiba berhenti, katanya akan terasa pusing. Kalau kebiasaan tidak main voli, tiba-tiba main, ya, yang tadi itu, tangannya merah-merah. Kalau terbiasa nganggur, tiba-tiba jemarinya diminta untuk menulis lagi... Kaku rasanya.

Beberapa pekan ke belakang, saya dapat dua permintaan untuk meliput dan menulis tentang sesuatu. Namanya juga bukan sekedar menulis blog, tulisan macam itu pasti ada deadlinenya. Alhasil, dua tulisan tadi menjadi karya yang saya paling kurang sreg melihatnya. Saya sudah buat, hapus, buat lagi, hapus lagi, save as, buat baru, hapus lagi, buat lagi, bandingkan tulisan 1 dan tulisan 2, edit, minta masukan, tetaaaap saja saya jauh dari puas melihatnya. Semua karena cinta jari-jari saya sudah kaku macam kanebo kering.

Jadi, sesungguhnya, tulisan ini saya dedikasikan untuk melemaskan kembali jemari saya seperti membasahi kanebo yang sudah keras. Terlepas dari itu, memang sudah lama sebuah pemikiran mengambang-ngambang di otak saya, meminta untuk dikongkretkan melalui tinta-tinta virtual di blog ini. Ya, inilah pemanasan saya.

***

Flashback sedikit ke bulan September 2016, saya kebanjiran amplop dan hadiah dari orang-orang, yang kebanyakan, saya tidak kenal. Adat di Indonesia, pernikahan itu adalah acara orang tua, maka yang diundang juga teman-teman orang tua saya. Jadi, ya, yang saya salami selama dua jam penuh penyiksaan (baju yang dibelit-belit, kepala pusing yang ditusuk-tusuk cunduk mentul dan berbagai riasan lainnya), ya kebanyakan orang-orang yang tidak saya kenal juga, haha. Ujung-ujungnya, yang kasih saya hadiah juga orang-orang yang tidak saya kenal.

Kembali ke pasca acara, saya dan Mahdi sibuk sendiri, eh sibuk berdua deng, membuka amplop dan hadiah satu per satu. Kebanyakan orang lebih senang dapat amplop karena uang mentah bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Hadiah, bukannya tidak bermanfaat, tapi punya resiko tidak terpakai apabila kita dapat hadiah barang yang sama, sudah punya barang itu, atau memang sebenarnya bukan barang yang kita butuhkan. Namun, saya sendiri merasakan sensasi yang berbeda setiap saya membuka hadiah dibandingkan dengan membuka amplop.

Saya selalu deg-degan sendiri setiap mau membuka hadiah. Menurut saya, rasa penasaran yang timbul dan efek kejutannya itu sangat menyenangkan dan mendebarkan. Apapun hadiahnya, saya selalu merasa puas dan senang setelah membuka. Seperti rasa penasaran yang terpuaskan dan kesenangan melihat barang baru.

Dan, itulah yang saya rasakan juga selama kurang lebih lima bulan ke belakang.

Hehehe.

Selama ada si debay ini di perut, saya selalu penasaraaaaan sendiri.

Kayak apa ya mukanya?

Datangnya dia di perut ini rasanya seperti dapat hadiah. Kadang tidak sabar juga rasanya untuk membuka, tapi di sisi lain, saya sangat menikmati prosesnya.

Alhamdulillah saya diberi proses yang sangat mudah. Mual-mual hampir tidak ada. Paling hanya eneg sedikit aja kalau mencium aroma tertentu. Ngidam ini itu pun hampir tidak ada. Saya juga masih bisa beraktivitas macam-macam. Memang ada perubahan-perubahan yang harus saya terima dan saya jalani, tapi itu semua tidak memberatkan. Hehehehe.

Yang jelas, di awal, perasaan yang muncul pada diri saya hanyalah rasa tanggung jawab. Saya merasa mendapat amanah untuk menjaga nyawa seseorang, yang kebetulan dititipkan di saya. Saya hanya merasa diberi tugas tambahan untuk menjamin nutrisinya, perkembangannya, dan sebagainya. Rasa bonding terhadap si bayi ini sama sekali tidak klimaks. Saya sampai sempat khawatir juga, jangan-jangan saya ada kelainan nih kok gak merasa 'sayang' ya, sampai-sampai saya bertanya ke beberapa teman yang lebih dulu berpengalaman. Namun, kesimpulannya, saya tidak ada kelainan.

Sampai akhirnya, waktu itu di usia kandungan ke empat bulan, saya kontrol rutin seperti biasa dan dapat kesempatan mengintip doi lagi melalui USG. Dia kayak manusia mini gitu, lagi telentang menghadap atas. Tangannya menggapai-gapai entah apa, kakinya juga heboh banget kayak naik sepeda. Saya tertawa sedikit, sedikit saja soalnya jaim ada dokter, melihat kelakuan aneh di dalam perut. Sesaat USG-nya dipause, sesaat kemudian kembali menyala, dan dia sudah dalam posisi yang berbeda. Kalau tadi terlentang, sekarang seperti lagi posisi push up. Akhirnya, saya ketawa beneran. Lincah amat, sih.

Dari situ, saya mulai suka memikirkan ini anak. Maksudnya, si rasa ikatan itu sudah mulai muncul. Tapi, ternyata hanya beberapa hari setelah USG saja hahaha. Setelah itu, saya tidak terlalu ingat lagi dan hanya merasa punya tanggung jawab.

Sampai akhirnya, bulan ini saya kontrol, dan melihatnya mulai berbentuk seperti manusia sungguhan membuat saya terenyuh. Belum lagi sekarang saya juga sudah bisa terus merasakan gerakan-gerakannya. Huaaaah. Undescribable. Kalo katanya "picture says thousand words", maka picture pun tidak cukup. Hehehehehehehe.

Yaaa begitulah.. Ini hanya soal perasaan. Sebuah pemanasan menuju tiga PR tulisan saya ke depan. Doakan semoga cepat beres! :D

Kembali dalam Kabut Penuh Cinta

Membicarakan anak-anak generasi saya, yang dulu TV kabel belum menjadi barang yang mudah didapat laksana sekarang kita cari handphone, dan juga generasi yang mengalami masa-masa tanpa smartphone, yang saya akui, sangat menarik untuk sekedar di-scroll dan dipelototi sampai lupa waktu. Ngomong-ngomong soal smartphone, saya sendiri beberapa saat kadang terjebak dalam feeds-nya yang jauh dari penting dan bermanfaat, karena itu saya dengan penuh keniatan meng-uninstall beberapa aplikasi yang sangat besar gravitasinya untuk di-scroll.

Anak-anak generasi saya masih banyak menghabiskan waktu di depan televisi dan playstation. Menurut saya tidak jauh berbeda, kedua benda itu menjadi terdakwa penyebab rusaknya mata anak-anak, rendahnya kemampuan komunikasi dan sosialisasi, sampai rendahnya tingkat konsenstrasi anak. Tak jauh berbeda dengan smartphone. Jadi, jangan buru-buru senang dulu jadi generasi 90an. Kita belum tentu lebih baik daripada generasi tab, smartphone, dan kemudahan digital lainnya.

Terlepas dari itu, intinya saya mau bilang, anak-anak generasi saya pasti banyak yang tahu tentang Kabut Cinta. Yi Ping, Ru Ping, Shu Huan, Du Fei, dan nama-nama Cina lainnya. Kalau sekarang yang lagi booming adalah film Korea, dulu film Cina dan Taiwan merajai televisi Indonesia. Mulai dari yang terjadul, Yoko, saya saja lupa ceritanya hahaha tapi Ibu saya suka banget. Kemudian, ada Pendekar Harum, Meteor Garden (ini justru saya gak nonton, padahal yang paling populer ya?), Kera Sakti (pasti langsung teringat sama lagu ngerapnya yang sensasional dan nempel banget di otak), Putri Huan Zhu, dan Kabut Cinta.

By the way, tulisan berikut bisa jadi mengandung spoiler Kabut Cinta. Bagi yang mau nonton lagi, dan waktu kecil gak mampu menangkap cerita (kayak saya hahaha), saya sudah peringatkan yaa hehehe.

***

Saat mengobrol singkat dengan seorang teman tentang acara televisi zaman SD, saya langsung terkenang dengan kuis-kuis zaman dulu yang super menarik. Sebut Famili 100, Tebak Gambar, Komunikata, dan lain-lain. Lalu percakapan itu bergeser jadi membicarakan film-film yang tadi saya sebutkan. Sampai akhirnya tercetus oleh mulut saya, "nonton Kabut Cinta ga?"

Teman saya sepertinya lupa-lupa ingat. Akhirnya, saya langsung mengambil HP, membuka YouTube, dan mempertontonkan episode 1 Kabut Cinta. Dari situlah rasa penasaran saya berkembang. Saya dulu memang nonton setiap pekan setiap sore. Tapi, kok, saya kayak gak ngerti ceritanya ya? Saya tidak bisa ingat cerita Kabut Cinta. Maka akhirnya, saya tontonlah film itu sampai episode terakhir. Pelan-pelan saya cicil setiap malam supaya tidak mengganggu produktivitas. Semuanya didorong oleh rasa penasaran. Dan rasa cinta.

Saya jatuh cinta. Saya tenggelam dalam kabut penuh cinta.

Bukan, saya gak jadi fanatik atau apa. Bukan karena pemerannya yang ganteng atau apalah alasan-alasan ABG lainnya. Saya justru jatuh cinta secara pemikiran. Saya kagum dengan jalan ceritanya. Saya terpesona sebagai seorang perempuan biasa yang hobi bikin cerpen.

Yang pertama tentang pembangunan karakter tokoh
Lu Yi Ping, sebagai tokoh utama, memiliki watak yang sangat keras. Ia memiliki semangat menegakkan keadilan untuk dirinya dan ibunya. Dan watak itu terus menerus dengan konsisten diperlihatkan di film. Yang paling membuat saya kagum, latar belakang yang melahirkan watak itu juga tergambar dengan jelas. Lu Yi Ping, anak dari seorang mantan Jenderal yang keras, emosian. Dialah yang menjadi contoh bagi Yi Ping dalam menumbuhkan sikap kerasnya.

Sedangkan ibunya, seorang yang lemah lembut dan cenderung menghindari konflik. Ibunya memilih untuk mengalah daripada melawan, setidak adil apapun kondisi dan situasi. Yi Ping tumbuh dalam keluarga dengan ayah beristri banyak. Istri mudanya dengan licik seringkali menciptakan kondisi yang menyulitkan bagi ibu Yi Ping, dan klimaksnya ia memfitnah ibu Yi Ping yang membuat Yi Ping dan ibunya terusir dari rumah ayahnya. Kondisi inilah yang membuat Yi Ping bergerak menjadi pelindung bagi ibunya. Ia menjadi tameng yang kuat, terus memperjuangkan hingga ibunya mendapatkan keadilan dan terbebas dari 'siksaan' istri muda ayahnya.

Kemudian mengenai premisnya dan antagonisnya
Premis. Sesuatu yang saya pelajari dari buku karangan Raditya Dika. Sesuatu yang kemudian banyak saya temukan melalui google dan pinterest. Premis merupakan satu kalimat yang menggambarkan isi sebuah karya fiksi secara keseluruhan. Premis mengandung beberapa unsur, di antaranya karakter, tujuan, dan halangan yang dihadapi oleh tokoh utama.

Tujuan tokoh utama, dalam sebuah karya fiksi, bisa jadi tercapai dan mungkin juga tidak. Semakin saya mempelajari premis, saya menyadari bahwa tujuan tokoh utama pun dapat saja berubah. Perubahan-perubahan itu terjadi karena pengalaman-pengalaman yang dirasakan tokoh utama.

Bisa saya katakan, tahapan dalam Kabut Cinta berdasarkan tujuan Lu Yi Ping terbagi menjadi dua. Tahap pertama, Lu Yi Ping memiliki tujuan untuk membalas dendam kepada ayahnya dan istri mudanya. Dan yang paling menarik bagi pemikiran saya adalah, peran antagonisnya! Sungguh bukan sesuatu yang biasa, peran antagonis yang biasanya jahat dan bermusuhan dengan tokoh utama, dalam cerita ini justru dimainkan oleh orang dekat tokoh utama, yaitu Shu Huan, kekasih Yi Ping.

Pada dasarnya anggapan bahwa antagonis adalah tokoh jahat adalah salah. Secara konsep, antagonis adalah tokoh yang melawan tujuan dari tokoh utama. Yi Ping, yang dengan keras kemauan ingin membalas dendam ayah dan istri mudanya, harus berhadapan dengan Shu Huan, yang berusaha keras menanamkan kemampuan memaafkan dan perasaan kasih sayang pada diri Yi Ping.

Keren kan??? Mungkin untuk sebagian orang biasa saja, tapi saya benar-benar kagum karena antagonisnya ini pacar sendiri. Gak mainstream gituuu...

Nah, akhirnya Shu Huan berhasil meredamkan segala api yang membakar nurani Yi Ping. Justru Yi Ping berubah dan jadi sangat sayang pada ayahnya. Tapi kalau ke istri muda ayahnya sih nggak, karena sepanjang film dia emang nyebelin sih hahahaha. Perubahan pribadi ini membawa kita pada perubahan premis. Kita masuklah ke tahap dua yang sekarang Yi Ping memiliki tujuan untuk tetap bersama Shu Huan.

Kali ini, antagonisnya sama menariknya. Antagonis diperankan oleh Ru Ping, adik tiri Yi Ping. Ru Ping ini suka juga sama Shu Huan dari awal cerita. Yang bikin menarik adalah sifat Ru Ping supeeeeeeeeer baik, sangat penyabar, penuh pengertian, selalu memaafkan orang lain, selalu memperhatikan dan mengerti perasaan orang lain, rela berkorban, tidak mau menyimpan dendam, dan sebagainya. Benar-benar semua sifat yang ada di buku PPKN SD dikumpulkan. Beda banget sama Yi Ping yang orangnya ketus, keras kepala, dan emosian. Jarang kan ada cerita yang tokoh antagonisnya baik, bahkan secara karakter bisa dibilang lebih baik daripada tokoh utama?

Itu yang buat saya tertarik. Karena saya selalu ingin bisa buat cerita yang menarik.

Many Thoughts

Kalau ada semangkuk es serut lalu diisi dengan nangka, kolang-kaling, alpukat dipotong-potong, sirup, dan susu terkondensasi (susu kental manis maksudnya haha sok-sok ribet aja), kira-kira apa namanya? Es? Nangka? Alpukat? Tidak ada satu komponen di dalamnya yang berhak mewakili satu mangkuk itu. Makanya namanya Es Campur.

Sekarang pikiran saya sedang seperti itu. Bingung juga namanya apa. Sedih jelas nggak, senang juga biasa aja. Dibilang datar nggak juga, jadi apa ya? Campur aduk.

Yang jelas, saya harus membiasakan menulis lagi nih. Menulis menjaga saya tetap menjadi saya, namun tentu saja harus dengan versi yang selalu lebih baik. Harus dalam versi yang baik.

I don't know what to write.

Oh ya, ada dua pelajaran berharga yang saya dapat dari pengalaman sekitar dua tahun belakangan ini. Yang pertama, selalu pikirkan orang lain. Yang kedua, selalu pikirkan langkah berikutnya.

Ini pelajaran yang saya dapat dari seseorang yang suka ngomong, "Saya mah orangnya well prepared!"

Sebenarnya setiap saat adalah modal untuk masa depan. Orang yang selalu berhasil menjadikan setiap saatnya sebagai persiapan masa depan adalah orang yang super efektif dan efisien. Dia adalah orang yang tidak hidup di 'saat ini' terlalu lama.

Maksud saya seperti ini. Misalnya kita mau berjalan tiga meter ke depan. Kita harus melakukannya selangkah demi selangkah, kan? Dan di setiap langkah kita adalah persiapan untuk langkah berikutnya. Orang-orang yang hidup di 'saat ini' terlalu lama itu ibaratnya orang yang setiap melangkah, ayunan kaki setelahnya bukannya lebih maju, tapi malah sejajar dengan kaki satunya. Jalannya jadi lambat sekali.

Kebayang gak maksud saya? Kurang lebih begitulah hehe, sudah malam ikan bobo, Anka juga.

Refresh

Memang tulisan yang paling mudah itu tulisan ngalor-ngidul yang mengalir begitu saja dari otak menuju jari langsung ke keyboard. Bukan jenis tulisan yang harus diturunkan dari tema, buat alur dan kerangka pikir, dan seterusnya.
Kebetulan saya habis dapat tugas dari orangtua saya yang melibatkan komputer sehingga saya seperti tergelincir (atau sengaja meluncur ya hehe) menuju blog saya sendiri. Long lost blog.
Tapi rasanya luar biasa. Membaca tulisan saya di tahun 2011-2012, yang artinya membaca pikiran saya sendiri di kala itu, saya merasa diri ini begitu fresh pada masa-masa dulu.
Kalau sekarang apa, ya? Mumet sih nggak, tapi seperti ada yang menahan. Di setiap saluran otak saya seperti banyak polisi tidur. Rasanya otak saya meminta saya untuk slow down.
I think this is a part of being wiser. I was innocent back then, now I am wiser but still in progress.
***
Dan sekarang sudah bulan Juni ajaaaaa......... Sudah akhir Juni pula astaga. Perasaan kemarin baru saja 1 Januari, tiba-tiba sudah tiba di tengah tahun ini dan saya akan menghadapi banyak hal ke depan. Hal-hal baik tentu saja hehe, baik tapi besar. Dan apapun yang besar pasti butuh persiapan, baik mental maupun fisik. Pada dasarnya manusia itu tidak suka pada perubahan, manusia adalah budak dari kebiasaan. Maka, apapun itu ya saya harus siap-siap.

Saving The World

Menyelamatkan dunia ternyata tidak seheroik film-film superhero. Menyelamatkan dunia ternyata bukan merupakan kegiatan yang melibatkan otot, kekuatan super, darah, ataupun drama.

Mungkin kita perlu terkejut, menyelamatkan dunia sesungguhnya akan terdengar lebih pantas dilakukan oleh bapak-bapak buncit berjas di gedung-gedung ibukota daripada pria ganteng berdada bidang dalam kostum superhero superketat.

Ya, karena ternyata menyelamatkan dunia lebih pantas dikategorikan dalam bidang sosial politik dibandingkan bidang olahraga dan kepahlawanan. Menyelamatkan dunia bukanlah memberantas para villain. Justru menyelamatkan dunia adalah memberantas hal-hal yang membuat villain itu ada.

Kalau dalam kamus teknik industri, menyelamatkan dunia harus menyasar pada akar masalah. Kalau dalam kamus planologi, menyelamatkan dunia harus merujuk pada isu strategis. Kalau dalam kamus d*ktarin, menyelamatkan dunia itu harus mencabut sampai ke akar-akarnya (dah jamur!).

Kalau kita perhatikan pelajaran psikologi di kelas (emang ada? hehe, cuma ada di jurusannya kali), setiap perbuatan seseorang terjadi karena dua hal, yaitu dorongan dari dalam dan rangsangan dari luar. Maka, ketika seseorang melakukan kejahatan, misalnya mencuri, sebagian besar orang akan menyimpulkan bahwa dia imannya lemah dan dia butuh makan. Lihat kan? Imannya lemah, dorongan dari dalam. Serta dia butuh makan, rangsangan dari luar - tiadanya kesejahteraan baginya.
Seseorang tidak akan mencuri jika imannya kuat dan makanan tersedia baginya tiga kali sehari dengan gizi seimbang, apalagi dengan rasa yang menggoyang lidah. Maka dari itu, menyelamatkan dunia justru merupakan sebuah rancangan program untuk menanamkan karakter yang baik ke dalam hati setiap manusia dan membuat lingkungan yang memadai bagi seluruh penduduk.

Secara singkat saya bisa langsung menyimpulkan, untuk menyelamatkan dunia, kita tidak perlu mengumpulkan seluruh kekuatan angin, air, bumi, dan api dalam raga kita dan berubah menjadi Avatar. Juga tidak perlu melawan Negara Api yang terkenal kejam dan bengis. Tidak usah pula repot-repot mencari laba-laba yang akan menggigit dan menulari kita kekuatan super membuat sarang dari ujung tangan. Untuk menyelamatkan dunia, kita hanya perlu membangun sebuah pendidikan yang baik. Sebuah pendidikan yang menanamkan iman dan karakter yang kuat dalam diri manusia. Sebuah pendidikan yang menumbuhkan rasa takut hanya pada Sang Pencipta. Sebuah pendidikan yang membuahkan kesadaran bagi si terdidik bahwa Sang Pencipta Maha Melihat, bahkan sebutir debu sekali pun tak akan terbang tanpa izin-Nya.

Dengan pendidikan, kita telah menghapus dorongan jelek dari dalam diri manusia. Namun, tidak lupa kita juga harus mengeleminir rangsangan dari luar untuk berbuat kejahatan. Untuk meniadakan rangsangan dari luar itu, kita perlu membangun kesejahteraan bagi seluruh penduduk bumi secara merata. Jika hanya sebagian saja yang sejahtera, maka bagian yang beruntung itu harus selalu siaga dari serangan kejahatan sebagian lain yang kurang beruntung. Dan ingat, kesejahteraan itu meliputi seluruh aspek, mulai dari sandang, pangan, dan papan, hingga seluruh organ tubuh kita terpenuhi kebutuhannya. Apalagi alasan mereka untuk berbuat kriminal jika seluruh kebutuhan telah tercukupi?

Maka tidak heran kan, pastur-pastur di gereja selalu bilang “Salam sejahtera”? Dan juga perempuan-perempuan berjilbab dan pria-pria berjenggot selalu mengucap “assalamu’alaikum”, yang artinya keselamatan atas kamu?

Membangun Peradaban Bersih dari Sekolah

Tulisan ini adalah hasil buah pikiran dari Zahra Nur Asyifa, santri kelas X Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, Sukabumi
****
Dua hari yang lalu, salah satu guru di sekolah saya memperlihatkan kondisi Sungai Citarum milik Indonesia kita ini. Sungguh, sungai itu sudah tidak cocok disebut sungai air! Lebih cocok disebut sungai sampah. Beberapa kali saya berkunjung ke Jakarta, dan hal yang selalu menarik mata hanyalah betapa banyaknya sampah berserakan tanpa mengenal estetika di jalanan, di selokan, dan tempat umum lainnya. Alhasil, bencanalah yang datang, seperti banjir, yang sering terjadi di negara kita ini, sampai-sampai ada longsor sampah, yang terkenal sebagai peristiwa Leuwi Gajah yang menewaskan ratusan orang, dan bencana lainnya.  Ini menunjukkan betapa kotornya negara kita ini, betapa buruknya sistem pengelolaan sampah yang dimiliki negeri ini!
Padahal, kebersihan adalah salah satu tolak ukur tingginya peradaban suatu bangsa. Maka keberhasilan pengelolaan sampah menjadi indikator keberhasilan suatu bangsa membangun peradabannya.  Sedangkan Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Oleh karena itu, saya sebagai calon pemimpin bangsa ingin mengubah kenyataan ini dengan mengajak para pembaca semua untuk membangun sistem pengelolaan sampah Indonesia dari sekarang.
Namun, ketika kita sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik, kesuksesan sistem itu bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Maka, Indonesia memerlukan rakyat yang mau dan mampu mengikuti sistem pengelolaan sampah tersebut. Sebenarnya Indonesia juga telah memiliki sistem pengelolaan sampahnya sendiri. Buktinya, banyak saya temui tempat sampah organik dan anorganik di beberapa kota yang pernah saya kunjungi. Namun, karena rendahnya kepedulian SDM-SDM Indonesia, pemilahan sederhana seperti itu saja tidak berjalan dengan baik. Jadi, Indonesia perlu sumber daya manusia yang memiliki kepedulian tinggi dan pastinya berintegritas.
Untuk merealisasikannya, sekolah adalah tempat yang paling tepat. Di sekolahlah pendidikan berlangsung, di sekolahlah orang-orang dikembangkan ilmunya, disempurnakan integritasnya. Sekolah memang tempat yang tepat untuk melahirkan SDM-SDM berkualitas, SDM-SDM yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan, SDM yang mau dan mampu mengelola sampahnya. Karenanya, sekolah pasti dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah Indonesia.
Pemilahan sampah di Al Umanaa
Pemilahan sampah di Al Umanaa
Contohnya sekolah saya sendiri, Al Umanaa, Sukabumi. Kami selalu ditanamkan pemahaman bahwa “Kebersihan itu Sebagian dari Iman”, sehingga siswa-siswi di sekolah saya takut jika membuang sampah sembarangan.  Sekolah saya telah memulai pengelolaan sampahnya sendiri. Sampah kami pilah menjadi enam jenis, compostable (sampah mudah terurai), recyclable (sampah yang dapat didaur ulang), sanitary waste (sampah medis), hazardous waste (sampah berbahaya), trash (sampah yang tidak dapat didaur ulang), dan paper (kertas). Sampah kertas selanjutnya kami olah menjadi kertas daur ulang (recycle paper). Sistem pemilahan enam jenis ini baru kami mulai Januari 2016. Sebelumnya kami hanya memilah sampah menjadi dua jenis, yaitu organik dan anorganik. Alhamdulillah, sistem ini berhasil dijalankan dengan sempurna oleh siswa-siswinya hanya dalam rentang waktu satu minggu. Ini disebabkan karena kami berada dalam sistem pendidikan yang baik. Setiap kesalahan pasti akan ditegur dan dievaluasi secara langsung. Hal ini menyebabkan kami terbiasa untuk membuang sampah dengan benar. Kami pun terdorong untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, seperti motto kami “Kami tinggal di bumi, dan kami mencintainya. Maka, mari menjaganya!”
Jadi, saya sangat yakin bahwa lembaga pendidikan adalah tempat yang benar-benar tepat untuk memulai sistem pengelolaan sampah yang baik. Insya Allah, jika semua sekolah di Indonesia telah melakukan pendidikan sampah pada siswanya, maka rumah-rumah, kantor-kantor, dan tempat-tempat umum pun akan mengelola sampahnya dengan baik. Karena sekolahlah yang menentukan kualitas masyarakat suatu bangsa. Alhasil, Indonesia dapat menjadi negara yang beradab! Negara yang maju dan bermartabat!

Benang Merah di Danone

Jumat kemarin, FOODLAP diundang oleh Danone Young Social Entrepreneur untuk sharing mengenai entrepreneur. Tentu saja itu pengalaman menarik yang bisa diceritakan, tapi di lain waktu. Karena, ada hal menarik lainnya yang saya alami secara personal: terlalu banyak benang merah.

Jadi, orang yang secara personal mengontak FOODLAP namanya Aldi. Dia menyambut kami saat kami tiba di sana, setelah agak sedikit berpeluh-peluh ria di jalanan ibukota. Perkenalan singkat membuat saya menemukan benang merah pertama. Dia anak TI ITB, juga. Setelah tergali lebih dalam lagi, ternyata dia temannya Yoan di 8eh, dan beberapa kali pernah mengantar Yoan ke kosan kami. Setelah sekian tahun berjarak beberapa meter dia di depan pagar kosan dari saya di kamar, ternyata pertemuan kami mengambil tempat di kantor Danone.

Orang kedua yang menyambut kami adalah seorang perempuan muda dengan baju berwarna biru muda. Hidungnya mancung, kulitnya putih, bibirnya tipis, dan menurut saya dia mirip sekali dengan Clorinda, teman saya. Dan ternyata, dia, Adis namanya, angkatan 2009 Fakultas Hukum UI. Dia temannya Jeanne dan dia kenal kakak saya ._.

Di tengah presentasi FOODLAP, muncul lagi satu laki-laki muda berbadan besar dan gelap. Ketika melihat wajahnya, saya langsung tahu dia siapa. Usai presentasi, saya langsung mendatanginya yang baru saja beres berbincang via telepon. Dia langsung menunjuk muka saya,"Elo!" sapanya. Sungguh sapaan yang aneh. Haha.

"Abi ya, pacarnya Atoy?" Saya mencoba menyebut nama.

"Elo," katanya lagi,"kayaknya nama panggilan lo biasanya bukan Anka, deh?"

Haha. Saya tidak menjawab.

***

Selain tiga pertemuan tadi, sebenarnya ada sebuah quote yang ingin saya kutip di sini. Kata-kata ini meluncur keluar dari mulut Adis, dan saya kemarin berjanji padanya,"kalau gue punya novel, gue kayaknya mau ngutip kata-kata lo deh."

Waktu itu kami sedang membicarakan abang ojek. Tiba-tiba, dengan berapi-api, Adis mengomel,"gue paling sebel ya sama abang ojek Jakarta. Pertama, mereka suka godain cewek. Neng, neng, ojek, neng. Kedua, kalau gue datengin, gue udah mau nih sama lo, eh dia malah jual mahal! Mending gue jalan kaki."

Saat dia ngomong begitu, rasanya lucu banget. Tapi pas ditulis kok biasa aja ya? Haha.

Kenapa Megapolitan?

Saya masih ingat film-film masa depan yang menggambarkan kehancuran dunia. Bumi sudah tidak mampu menopang kehidupan manusia. Demi uang, manusia-manusia pendahulunya membiarkan teknologi menghabisi alam, limbah kimia meracuninya, asap pabrik mengotorinya. Oksigen sudah seperti barang langka, air bersih perlu dicari dengan perjuangan.

Saya ingat, pada film-film itu, manusia digambarkan memakai masker setiap mereka pergi. Mereka mempunyai bunker bawah tanah di setiap rumahnya, khawatir bencana alam datang tiba-tiba menghabisi mereka. Pemerintah pun disibukkan dengan penelitian antariksa, mencoba mencari sebuah 'bumi' lain di antara kelip bintang di langit malam.

***
Rasanya kita sudah mulai menjajaki beberapa tahun sebelum film itu dimulai. Orang-orang bermasker, kini bukan khayalan lagi. Di ibukota Indonesia, udaranya seperti asap mobil. Hitam dan mengepul, membuat rakyatnya sesak napas.

sumber: http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2011/08/08/119190_masker-polusi-udara_663_382.jpg

Jakarta, bagi saya, bukan lagi kota idaman. Kalau orang-orang lingkungan berkata 'Jakarta bukan kota yang sustainable', saya berpendapat bahwa Jakarta ini ibaratnya manusia pesakit.

Secara mudah, saya mendeskripsikan sustainability sebagai sebuah keadaan di mana kita bisa hidup selamanya. Tepatnya, bumi bisa hidup selamanya. Dan kehidupan itu bukan kehidupan yang artifisial, yaitu sebuah kehidupan di mana alat pembantulah yang menjadi nyawa.

Manusia yang sedang diberi cobaan dengan penyakit, yang kini hidup mereka bergantung pada alat, bagi saya itulah contoh kecil kehidupan yang tidak lagi sustainable. Dan Jakarta wujudnya kini seperti itu.

Seperti mereka yang butuh asupan oksigen untuk bernafas, Jakarta tidak bisa hidup bila tidak dipasok hasil pertanian dan peternakan dari daerah lain di Indonesia. Seperti mereka yang butuh alat demi jantung yang berdetak, rakyat Jakarta tidak bisa menjalani hari tanpa bantuan kendaraan. Semua sisi kota seperti dirancang hanya untuk automobile. Tidak pernah tampak jalur pedestrian yang pantas bagi para pejalan kaki.

Saya tidak pernah melihat arah pembangunan Jakarta menuju megapolitan ini berpihak kepada kehidupan yang baik. Dan masih ada tujuh daerah lainnya di Indonesia yang akan dikembangkan menjadi megapolitan. Parameter pembangunan hanya didasarkan pada satu ukuran dangkal: ekonomi, rupiah, uang.
***
Secara khusus, saya tidak pernah rela bahwa Bandung ini sedang dikembangkan menjadi megapolitan. Tapi secara umum, saya benar-benar setuju dengan peribahasa anonim ini.
"Ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah tercemar, dan ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia sadar bahwa mereka tidak bisa memakan uang."

25,5 Jam di Al Umanaa

Akhirnya saya berhasil membawa teman-teman FOODLAP untuk ikut serta mengunjungi Al Umanaa. Kisah-kisah dari Al Umanaa sudah cukup sering saya dengar dari teman saya yang bermukim di sana, Mahdi. Dia pernah berbagi pada saya tentang konsep perencanaannya di sana, bagaimana dia sebagai seorang lulusan planologi akhirnya mulai merancang peradaban dari kanvas kosong. Menurut saya pengalaman dan kesempatannya sangat menarik, jarang lulusan S1 sekarang dapat kesempatan untuk memulai lukisannya sendiri di kanvas yang masih bersih.
Mahdi juga sering bercerita tentang murid-murid, alias santri-santri, di sana. Bagaimana prestasinya memukau dan bagaimana guru-gurunya juga totalitas berjuang untuk mengembangkan pribadi setiap siswanya. Dan prestasi itu saya lihat sendiri buktinya kurang lebih setahun yang lalu, ketika saya mengunjungi ‘embrio’ Al Umanaa di Cibinong.
Bermodalkan sepetak tanah kecil dan bangunan-bangunan kayu yang adem dan kokoh, para guru di sana mendidik anak-anaknya. Ketika saya berkunjung ke Cibinong, anak-anak menyuguhkan berbagai pertunjukan, yaitu drama, pidato, story telling, dan membaca puisi dalam berbagai bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang. Begitu fasihnya mereka . Namun, kekaguman saya tidak hanya muncul dari banyaknya bahasa yang mereka gunakan. Lebih dari itu.
Dibandingkan dengan anak-anak SD dan SMP lainnya, mereka sungguh berbeda. Kalau anak-anak di luar sana membaca puisi dengan tampang datar dan tubuh kaku seperti batang pohon pisang (itu saya dulu begitu, sih), mereka semua memiliki kualitas public speaking yang luar biasa. Benar-benar di luar yang biasa.
Mereka mampu berekspresi tanpa malu-malu kucing. Mereka mampu memainkan ekspresi tubuhnya dengan kepercayaan diri yang keren. Mereka memainkan intonasi nadanya dengan tepat, mampu membuat orang tertawa mendengar humornya yang berkelas, dan di saat lain, mampu membakar semangat pendengarnya. Sepanjang pertunjukan, saya hanya bisa terpana melihat mereka yang berkembang demikian pesatnya, sangat signifikan berbeda dengan anak-anak pada umumnya.
***
Itu, saya sadari, hanyalah sebagian kecil dari seluruh kualitas siswa-siswa Al Umanaa ini. Yang mereka ‘pamerkan’ kala itu hanyalah kemampuan mereka dalam public speaking. Saya sungguh penasaran untuk bisa membuka lembaran-lembaran emas lainnya dari kehidupan mereka.
Akhirnya, tanggal 3 dan 4 April 2014, saya bersama Eva, Ridho, Rani, dan Rizan diberi kesempatan untuk bertandang ke sana. Kembali, kami disuguhkan pula berbagai penampilan dari para santri. Meski sudah pernah melihatnya, tapi pesona mereka tetap menyita perhatian saya. Namun, yang berbeda, kami mendapat waktu untuk mengenal Al Umanaa dan para muridnya dengan lebih dalam.
Kesantunan mereka sungguh terasa selama saya banyak berinteraksi dengan mereka. Dan mereka bukan hanya anak-anak pemalas yang mau main-main. Mereka ‘geregetan’ ingin terus berkarya dan belajar. Kalau ada lomba, bukannya malas dan menghindar, mereka justru berinisiatif untuk ikut berpartisipasi.
Program bahasanya juga sangat keren. Berganti-gantian setiap minggu, Bahasa Arab, Inggris, dan Jepang digilir untuk menjadi bahasa pengantar dan percakapan sehari-hari siswa. Selama 7 kali 24 jam, siswa hanya boleh berbicara dalam bahasa yang diizinkan.
Kalau melanggar? Bukan guru yang turun tangan, tapi di antara siswa-siswa itu sendiri pun ada sistem penjagaannya. Siswa yang melanggar akan disidang oleh teman-temannya sendiri, sambil dibimbing oleh para guru. Terdengar sepele dan remeh, tapi kebiasaan-kebiasaan seperti ini menimbulkan komunitas yang saling menjaga dalam kebaikan.
Para siswa sudah diajarkan untuk menegakkan aturan dan berani menegur temannya sendiri yang berbuat salah. Hal ini lah yang absen dari kehidupan anak-anak biasa. Melihat teman mencontek itu sudah biasa, kalau berani melaporkan itu adalah melanggar etika. Di tempat lain, seolah menjadi aturan tidak tertulis bahwa para siswa harus saling lindung-melindungi dalam contek-mencontek. Orang yang melaporkan kasus pencontekan, biasanya akan dijauhi dan dianggap ‘sok suci’. Seperti yang sering disampaikan oleh iklan layanan masyarakat, hal-hal seperti ini adalah bibit dari persekongkolan dalam hal yang lebih buruk: lindung-melindungi dalam korupsi.
***
Mahdi juga berbaik hati mengantarkan kami berkeliling Al Umanaa, memperlihatkan bangunan-bangunan yang telah ada sekaligus menceritakan bagaimana perencanaannya. Al Umanaa sunguh terasa asri, kami beberapa kali disuguhkan buah-buahan yang dipetik langsung dari sana, mulai dari durian, rambutan, manggis, pisang, sampai kelapa. Sempat saya, Eva, dan Rani duduk-duduk menikmati udara sore Sukabumi di gasibu yang beratapkan rambatan pohon markisa.
Di sana ada sebuah tanah lapang yang menjadi benang merah Al Umanaa dan FOODLAP. Tanah itu dimanfaatkan Al Umanaa sebagai laboraturium integrated farming, sebuah closed loop system yang utuh dan alami. Dimulai dari pintu dapur yang sering menggelontorkan sampah-sampah makanan, diikuti dengan kolam lele, kandang ayam, kandang lebah, kandang soang, dan… black soldier fly! Memang, sejak FOODLAP bertemu dengan black soldier fly, saya beberapa kali mendisksuikannya tentang itu dengan Mahdi. Sudah saya duga, Al Umanaa akan mendahului kami memulai pengolahan sampah kecil dengan BSF. Mereka sudah memiliki tiga reaktor pengolahan kecil, yang semuanya diurus oleh para santri.
***

Terlalu banyak pengalaman, penglihatan, dan percakapan menarik selama 25,5 jam di Al Umanaa. Masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi baterai laptop saya sudah tanda seru!

Mantan Peliharaan

Selama hidup saya ini, saya seringkali menemukan kecintaan pada binatang-binatang tertentu. Peliharaan yang pertama-tama saya punya adalah dua ekor kura-kura. Sebenarnya satu sih, yang satu untuk kakak saya, satu lagi untuk saya. Katanya, itu hadiah hiburan dari eyang saya saat kami berdua ditinggal pergi beberapa bulan oleh Ibu saya untuk S2. Yang (katanya) betina, mati dengan cepat. Saya lupa apa yang terjadi, waktu itu saya masih super kecil. Kalau tidak salah kelindas mobil, hiks. Yang kedua punya banyak kenangan dengan saya.

Sedari dia - saya sering menyebutnya sebagai kurce - kecil, kurce terbiasa hidup di air yang cetek. Habitatnya adalah sebuah bak berwarna oranye yang dibasahi air setinggi 1-2 cm. Makanannya sawi. Kotorannya cair dan bau sawi busuk. Tapi saya, saking terbiasanya dengan aroma itu, jadi suka-suka saja kalau ada bau-bauan sawi busuk :p

Ketika saya sudah agak besar, sekitar akhir SD atau awal SMP, saya punya akuarium besar yang menganggur. Kala itu, saya menonton di televisi sebuah kisah dokumenter tentang kura-kura. Ternyata, amboi, kura-kura itu bisa berenang, lho *ceritanya baru tahu* Bermodalkan tontonan televisi dan aquarium menganggur, saya buatkan kurce sebuah habitat baru, yaitu aquarium berisi air *yaelah standar amat*

Tapi! Kura-kura saya tidak bisa berenang :( saking dari kecilnya dia hidup di air yang cetek.

Akhirnya, saya latihlah dia berenang. Saya ikat badannya dengan tali, lalu saya celupkan ke dalam air.

Tentu saja dia panik. Hehe. Setiap kali dia panik, saya angkat lagi dia untuk menghirup nafas di udara. Kemudian kembali saya celupkan dan saya bawa ke sana kemari di dalam air.

Dan, setelah melalui kurikulum yang begitu ketat, akhirnya dia sukses menjadi kura-kura sejati :)))

Ketika saya SMP, dibuat sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Dia pun bisa berenang dengan senang di sana. Yeay. Saya merasa menjadi guru yang sukses.

Tapi kisah Kurce juga berakhir sedih. Saat saya kuliah, Bapak saya memindahkan dia ke kolam di kantornya. Entah tidak bisa beradaptasi atau dibully hewan lain, dia pun meninggal di situ.

Sedih sih sebenarnya.

Tapi, ya sudah. Mari jangan diingat-ingat.

Pedas, silau

Pedas, rasanya
Semua terlihat menyilaukan
Kututup dia
Mencoba menikmati gelap
Dan dia terlarut dalam hitam
Yang kemudian bercampur
Dengan cahaya redup berwarna-warni
Sungguh enak dipandang
Dan aku melayang
Di antara awan-awan lembut
Ungu, biru, dan hijau

!!!

Aku membuka mataku dengan terkejut
Hampir jatuh dalam mimpi rupanya
Lampu kembali menyilaukan
Mataku kembali pedas

Huah,
Ngantuk.

Pohon Bentuk H

Jalan menuju perumahanku adalah jalan sempit yang diapit komplek pemakaman cina kuno. Kuburan dibangun sangat antik, begitu besar, beratap batu, bertuliskan tulisan mandarin, dan dipenuhi ilalang liar. Seandainya aku bukan penghuni sana, mungkin situs ini bisa menjadi tempat wisata yang menarik.

Selain pemakamannya yang lawas itu, ada sebuah hal unik tumbuh di dalamnya. Hal unik itu adalah dua buah pohon. Ada dua pohon di sana berdiri bersebelahan. Yang kerennya, kedua pohon tersebut sebenarnya bersatu! Di antara batangnya yang besar, terdapat sebuah batang besar yang menyatukan kedua pohon itu. Seperti bayi kembar siam.

Kalau dilihat-lihat, pohonnya seperti membentuk huruf H.

Tapi sayang, ketika saya sudah agak dewasa, sekitar SMA atau kuliah, hujan deras dan angin keras melanda komplek kami. Pohon yang sebelah kiri tidak mampu mempertahankan diri sehingga tumbanglah ia, mematahkan sambungan hebat di antara mereka.

Sekarang, dua pohon itu sudah tiada. Warga sekitar memutuskan untuk menghabisi mereka berdua setelah tumbang satu di antaranya.

Jangan setengah lah

Di mana-mana, pekerjaan yang setengah-setengah tidak bakalan sama sekali membuahkan hasil yang oke.

Hasilnya pasti serba tanggung; investasi  atau biaya mungkin lumayan, tapi hasilnya bagus mah ngga. Nanggung kumaha kitu.

Makanya saya, dan kebanyakan orang, kalau memilih di antara produk serupa, tapi ada yang lebih mahal namun berfitur lebih juga, pasti menimbang-nimbang keduanya. Lebih mahal dikit, asal kualitasnya jauh sih gak masalah.

Namun, ada sebuah hal besar, yang sangat krusial, di dunia ini yang dijalankan setengah-setengah. Setengah hati. Istilah inggrisnya: half-assed. Dan hal krusial besar itu adalah: transportasi Indonesia.

Kalau saya mau menciptakan sistem - sistem pasti punya aturan, kan - pasti saya desain sistemnya dengan pengendalian, untuk menjamin semua aturan terlaksana.

Sayangnya, kalau di sini:
Peraturan ada
Rambu-rambu dan marka jalan ada (investasi buat begini gede, lho)

Tapi pengendaliannya...

Aturan-aturan itu tidak ditegakkan dengan utuh. Hanya setengah-setengah dari seluruh sistem itu yang ditegakkan.

Bahkan si penegak-penegak aturan itu yang juga melanggarnya. Mereka pernah menyuruh saya menyeberang tidak di zebra cross. Dan di depan mobil saya, mereka menampakkan telapak tangannya di hadapan saya (tahu kan, kekuatan super orang Indonesia kan ada di telapak tangannya. Bisa berhentiin mobil dengan sekali lambaian. Wkwk), lalu menyeberangkan banyak orang di tengah-tengah jalan tak berzebra cross.

Ngapain sih setengah-setengah.
Lihat kan, hasilnya sekarang transport Indonesia ga ada bagus-bagusnya.

Tulisan yang Termudah

Hal yang paling mudah untuk ditulis tentangnya adalah tentang rasa saat ini dan tentang suasana saat ini.

Hari ini langit begitu mendung, awan berpendar-pendar dalam cahaya matahari. Udara pun terasa agak dingin. Absennya matahari dan kehangatan, membuat saya teringat pada maggot-maggot dan lalat tentara hitam yang sedang FOODLAP kembang biakkan di kosan Rizan. Mereka sepertinya salah satu di antara makhluk-makhluk yang butuh kehangatan. Sejuknya hari ini membuat saya khawatir akan perkembangannya.

Dan akhirnya pun saya menulis di pagi hari, meluapkan pikiran-pikiran lewat tulisan. Sudah dua hari saya absen menulis - sayang sekali. Kemarin-kemarin, menulis terasa berat karena saya selalu memaksa diri saya menuangkan perkataan-perkataan yang berat pula; tulisan dengan topik-topik berbobot. Masalahnya, tidak setiap hari saya mood untuk menulis yang seperti itu.

Tapi justru mood itulah yang harus dibabat.

Harusnya menulis bisa menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari hidup saya. Dan harusnya, juga, menulis menjadi suatu kegiatan yang begitu mudahnya saya lakukan, seperti bernafas, menggerakkan otot jantung, mengkontraksikan otot lambung~

Jadi lah, hari ini saya menulis tulisan yang termudah.

Hobi adalah Cinta

Hobi seharusnya menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Hobi seharusnya tidak menyita terlalu banyak pikiran, tidak membebani perasaan, dan tidak berat untuk dimulai.
Dulu, kayaknya sekitar masa-masa tingkat dua, hidup saya seakan-akan ditemani seorang narator yang siap berkomentar pada apapun yang indra saya rasakan. Langit yang biru, atau bahkan sekedar batu yang codet, bisa menjadi sebuah paragraf oleh narator saya itu. Dalam setiap perjalanan saya, otak saya selalu bercerita. Lalu, ketika saya sudah duduk tenang di meja, segeralah mengalir narator tadi menjadi ketikan di monitor laptop.
Nah, kalau sekarang? Tidak jarang muncul perasaan malas dan terbebani untuk menulis. Kenapa ya? Apakah karena menulis kini bukan sekedar hobi, tapi menjadi kewajiban? Memangnya kenapa kalau jadi kewajiban? Kenapa malah merasa berat? Harusnya bagus dong hobi jadi kewajiban berarti itu adalah kewajiban yang menyenangkan...
Padahal, kalau ditilik secara etimologis, ternyata hobi itu berasal dari kata haba , atau hub (حب) dalam Bahasa Arab. Dan haba sendiri sebenarnya berarti cinta.   Makanya ada kata-kata 'Habibi' yang aritnya kekasih. Jadi, kalau saya hobi menulis harusnya cinta menulis. Dan sebaliknya, kalau saya berani bilang cinta sama Tuhan, harusnya saya hobi melakukan hal-hal yang membuat Dia senang.
Entahlah.
Yang jelas hari ini saya sudah menulis, menunaikan kewajiban saya pada janji saya sendiri: menulis setiap hari selama berumur 23 tahun.

Malaikat

Tak pernah kulihat
Datangnya ia dari langit
Namun seketika muncullah
Di sampingku, membawa pelita
Bagi kalbuku yang merindu

Tidak,
Tiada sayapnya
Tiada pula memancar cahaya
Hanya senyum yang menyenangkan
Dan kata-kata yang menenangkan
Mengiring sepercik hujan
Bagi hatiku yang gersang

Dan ia pun bercerita
Kisah-kisah yang lalu
Kisahnya yang penuh ilham
Buatku tertegun membayang
Dan ku semakin jatuh cinta

Artifisial

Dia melangkahkan kakinya dalam tempo yang pelan. Dia terus berjalan, terus melangkah, terus, terus, dan dia tetap melangkah lambat.

Dia melangkah, tanpa maju, mundur pun tidak. Matanya menatap layar televisi yang menyala. Televisi pipih itu menayangkan reality show yang semuanya tampak diskenariokan. Kisahnya, dramanya, dan tentu pengambilan gambarnya memperlihatkan bagaimana dia direkayasa.

Meski haus belum menyerang, dia reflek mengambil minuman botolan di dekatnya. Sebotol air rasa jeruk diteguknya. Bukan air, bukan pula jeruk. Semua hanya perasa.

Dia pusing sendiri. Masih berjalan di atas treadmillnya, tiba-tiba dia merasa seluruh kehidupannya telah begitu artifisial.