Many Thoughts

Kalau ada semangkuk es serut lalu diisi dengan nangka, kolang-kaling, alpukat dipotong-potong, sirup, dan susu terkondensasi (susu kental manis maksudnya haha sok-sok ribet aja), kira-kira apa namanya? Es? Nangka? Alpukat? Tidak ada satu komponen di dalamnya yang berhak mewakili satu mangkuk itu. Makanya namanya Es Campur.

Sekarang pikiran saya sedang seperti itu. Bingung juga namanya apa. Sedih jelas nggak, senang juga biasa aja. Dibilang datar nggak juga, jadi apa ya? Campur aduk.

Yang jelas, saya harus membiasakan menulis lagi nih. Menulis menjaga saya tetap menjadi saya, namun tentu saja harus dengan versi yang selalu lebih baik. Harus dalam versi yang baik.

I don't know what to write.

Oh ya, ada dua pelajaran berharga yang saya dapat dari pengalaman sekitar dua tahun belakangan ini. Yang pertama, selalu pikirkan orang lain. Yang kedua, selalu pikirkan langkah berikutnya.

Ini pelajaran yang saya dapat dari seseorang yang suka ngomong, "Saya mah orangnya well prepared!"

Sebenarnya setiap saat adalah modal untuk masa depan. Orang yang selalu berhasil menjadikan setiap saatnya sebagai persiapan masa depan adalah orang yang super efektif dan efisien. Dia adalah orang yang tidak hidup di 'saat ini' terlalu lama.

Maksud saya seperti ini. Misalnya kita mau berjalan tiga meter ke depan. Kita harus melakukannya selangkah demi selangkah, kan? Dan di setiap langkah kita adalah persiapan untuk langkah berikutnya. Orang-orang yang hidup di 'saat ini' terlalu lama itu ibaratnya orang yang setiap melangkah, ayunan kaki setelahnya bukannya lebih maju, tapi malah sejajar dengan kaki satunya. Jalannya jadi lambat sekali.

Kebayang gak maksud saya? Kurang lebih begitulah hehe, sudah malam ikan bobo, Anka juga.

Refresh

Memang tulisan yang paling mudah itu tulisan ngalor-ngidul yang mengalir begitu saja dari otak menuju jari langsung ke keyboard. Bukan jenis tulisan yang harus diturunkan dari tema, buat alur dan kerangka pikir, dan seterusnya.
Kebetulan saya habis dapat tugas dari orangtua saya yang melibatkan komputer sehingga saya seperti tergelincir (atau sengaja meluncur ya hehe) menuju blog saya sendiri. Long lost blog.
Tapi rasanya luar biasa. Membaca tulisan saya di tahun 2011-2012, yang artinya membaca pikiran saya sendiri di kala itu, saya merasa diri ini begitu fresh pada masa-masa dulu.
Kalau sekarang apa, ya? Mumet sih nggak, tapi seperti ada yang menahan. Di setiap saluran otak saya seperti banyak polisi tidur. Rasanya otak saya meminta saya untuk slow down.
I think this is a part of being wiser. I was innocent back then, now I am wiser but still in progress.
***
Dan sekarang sudah bulan Juni ajaaaaa......... Sudah akhir Juni pula astaga. Perasaan kemarin baru saja 1 Januari, tiba-tiba sudah tiba di tengah tahun ini dan saya akan menghadapi banyak hal ke depan. Hal-hal baik tentu saja hehe, baik tapi besar. Dan apapun yang besar pasti butuh persiapan, baik mental maupun fisik. Pada dasarnya manusia itu tidak suka pada perubahan, manusia adalah budak dari kebiasaan. Maka, apapun itu ya saya harus siap-siap.

Saving The World

Menyelamatkan dunia ternyata tidak seheroik film-film superhero. Menyelamatkan dunia ternyata bukan merupakan kegiatan yang melibatkan otot, kekuatan super, darah, ataupun drama.

Mungkin kita perlu terkejut, menyelamatkan dunia sesungguhnya akan terdengar lebih pantas dilakukan oleh bapak-bapak buncit berjas di gedung-gedung ibukota daripada pria ganteng berdada bidang dalam kostum superhero superketat.

Ya, karena ternyata menyelamatkan dunia lebih pantas dikategorikan dalam bidang sosial politik dibandingkan bidang olahraga dan kepahlawanan. Menyelamatkan dunia bukanlah memberantas para villain. Justru menyelamatkan dunia adalah memberantas hal-hal yang membuat villain itu ada.

Kalau dalam kamus teknik industri, menyelamatkan dunia harus menyasar pada akar masalah. Kalau dalam kamus planologi, menyelamatkan dunia harus merujuk pada isu strategis. Kalau dalam kamus d*ktarin, menyelamatkan dunia itu harus mencabut sampai ke akar-akarnya (dah jamur!).

Kalau kita perhatikan pelajaran psikologi di kelas (emang ada? hehe, cuma ada di jurusannya kali), setiap perbuatan seseorang terjadi karena dua hal, yaitu dorongan dari dalam dan rangsangan dari luar. Maka, ketika seseorang melakukan kejahatan, misalnya mencuri, sebagian besar orang akan menyimpulkan bahwa dia imannya lemah dan dia butuh makan. Lihat kan? Imannya lemah, dorongan dari dalam. Serta dia butuh makan, rangsangan dari luar - tiadanya kesejahteraan baginya.
Seseorang tidak akan mencuri jika imannya kuat dan makanan tersedia baginya tiga kali sehari dengan gizi seimbang, apalagi dengan rasa yang menggoyang lidah. Maka dari itu, menyelamatkan dunia justru merupakan sebuah rancangan program untuk menanamkan karakter yang baik ke dalam hati setiap manusia dan membuat lingkungan yang memadai bagi seluruh penduduk.

Secara singkat saya bisa langsung menyimpulkan, untuk menyelamatkan dunia, kita tidak perlu mengumpulkan seluruh kekuatan angin, air, bumi, dan api dalam raga kita dan berubah menjadi Avatar. Juga tidak perlu melawan Negara Api yang terkenal kejam dan bengis. Tidak usah pula repot-repot mencari laba-laba yang akan menggigit dan menulari kita kekuatan super membuat sarang dari ujung tangan. Untuk menyelamatkan dunia, kita hanya perlu membangun sebuah pendidikan yang baik. Sebuah pendidikan yang menanamkan iman dan karakter yang kuat dalam diri manusia. Sebuah pendidikan yang menumbuhkan rasa takut hanya pada Sang Pencipta. Sebuah pendidikan yang membuahkan kesadaran bagi si terdidik bahwa Sang Pencipta Maha Melihat, bahkan sebutir debu sekali pun tak akan terbang tanpa izin-Nya.

Dengan pendidikan, kita telah menghapus dorongan jelek dari dalam diri manusia. Namun, tidak lupa kita juga harus mengeleminir rangsangan dari luar untuk berbuat kejahatan. Untuk meniadakan rangsangan dari luar itu, kita perlu membangun kesejahteraan bagi seluruh penduduk bumi secara merata. Jika hanya sebagian saja yang sejahtera, maka bagian yang beruntung itu harus selalu siaga dari serangan kejahatan sebagian lain yang kurang beruntung. Dan ingat, kesejahteraan itu meliputi seluruh aspek, mulai dari sandang, pangan, dan papan, hingga seluruh organ tubuh kita terpenuhi kebutuhannya. Apalagi alasan mereka untuk berbuat kriminal jika seluruh kebutuhan telah tercukupi?

Maka tidak heran kan, pastur-pastur di gereja selalu bilang “Salam sejahtera”? Dan juga perempuan-perempuan berjilbab dan pria-pria berjenggot selalu mengucap “assalamu’alaikum”, yang artinya keselamatan atas kamu?

Membangun Peradaban Bersih dari Sekolah

Tulisan ini adalah hasil buah pikiran dari Zahra Nur Asyifa, santri kelas X Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, Sukabumi
****
Dua hari yang lalu, salah satu guru di sekolah saya memperlihatkan kondisi Sungai Citarum milik Indonesia kita ini. Sungguh, sungai itu sudah tidak cocok disebut sungai air! Lebih cocok disebut sungai sampah. Beberapa kali saya berkunjung ke Jakarta, dan hal yang selalu menarik mata hanyalah betapa banyaknya sampah berserakan tanpa mengenal estetika di jalanan, di selokan, dan tempat umum lainnya. Alhasil, bencanalah yang datang, seperti banjir, yang sering terjadi di negara kita ini, sampai-sampai ada longsor sampah, yang terkenal sebagai peristiwa Leuwi Gajah yang menewaskan ratusan orang, dan bencana lainnya.  Ini menunjukkan betapa kotornya negara kita ini, betapa buruknya sistem pengelolaan sampah yang dimiliki negeri ini!
Padahal, kebersihan adalah salah satu tolak ukur tingginya peradaban suatu bangsa. Maka keberhasilan pengelolaan sampah menjadi indikator keberhasilan suatu bangsa membangun peradabannya.  Sedangkan Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Oleh karena itu, saya sebagai calon pemimpin bangsa ingin mengubah kenyataan ini dengan mengajak para pembaca semua untuk membangun sistem pengelolaan sampah Indonesia dari sekarang.
Namun, ketika kita sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik, kesuksesan sistem itu bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Maka, Indonesia memerlukan rakyat yang mau dan mampu mengikuti sistem pengelolaan sampah tersebut. Sebenarnya Indonesia juga telah memiliki sistem pengelolaan sampahnya sendiri. Buktinya, banyak saya temui tempat sampah organik dan anorganik di beberapa kota yang pernah saya kunjungi. Namun, karena rendahnya kepedulian SDM-SDM Indonesia, pemilahan sederhana seperti itu saja tidak berjalan dengan baik. Jadi, Indonesia perlu sumber daya manusia yang memiliki kepedulian tinggi dan pastinya berintegritas.
Untuk merealisasikannya, sekolah adalah tempat yang paling tepat. Di sekolahlah pendidikan berlangsung, di sekolahlah orang-orang dikembangkan ilmunya, disempurnakan integritasnya. Sekolah memang tempat yang tepat untuk melahirkan SDM-SDM berkualitas, SDM-SDM yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan, SDM yang mau dan mampu mengelola sampahnya. Karenanya, sekolah pasti dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah Indonesia.
Pemilahan sampah di Al Umanaa
Pemilahan sampah di Al Umanaa
Contohnya sekolah saya sendiri, Al Umanaa, Sukabumi. Kami selalu ditanamkan pemahaman bahwa “Kebersihan itu Sebagian dari Iman”, sehingga siswa-siswi di sekolah saya takut jika membuang sampah sembarangan.  Sekolah saya telah memulai pengelolaan sampahnya sendiri. Sampah kami pilah menjadi enam jenis, compostable (sampah mudah terurai), recyclable (sampah yang dapat didaur ulang), sanitary waste (sampah medis), hazardous waste (sampah berbahaya), trash (sampah yang tidak dapat didaur ulang), dan paper (kertas). Sampah kertas selanjutnya kami olah menjadi kertas daur ulang (recycle paper). Sistem pemilahan enam jenis ini baru kami mulai Januari 2016. Sebelumnya kami hanya memilah sampah menjadi dua jenis, yaitu organik dan anorganik. Alhamdulillah, sistem ini berhasil dijalankan dengan sempurna oleh siswa-siswinya hanya dalam rentang waktu satu minggu. Ini disebabkan karena kami berada dalam sistem pendidikan yang baik. Setiap kesalahan pasti akan ditegur dan dievaluasi secara langsung. Hal ini menyebabkan kami terbiasa untuk membuang sampah dengan benar. Kami pun terdorong untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, seperti motto kami “Kami tinggal di bumi, dan kami mencintainya. Maka, mari menjaganya!”
Jadi, saya sangat yakin bahwa lembaga pendidikan adalah tempat yang benar-benar tepat untuk memulai sistem pengelolaan sampah yang baik. Insya Allah, jika semua sekolah di Indonesia telah melakukan pendidikan sampah pada siswanya, maka rumah-rumah, kantor-kantor, dan tempat-tempat umum pun akan mengelola sampahnya dengan baik. Karena sekolahlah yang menentukan kualitas masyarakat suatu bangsa. Alhasil, Indonesia dapat menjadi negara yang beradab! Negara yang maju dan bermartabat!

Benang Merah di Danone

Jumat kemarin, FOODLAP diundang oleh Danone Young Social Entrepreneur untuk sharing mengenai entrepreneur. Tentu saja itu pengalaman menarik yang bisa diceritakan, tapi di lain waktu. Karena, ada hal menarik lainnya yang saya alami secara personal: terlalu banyak benang merah.

Jadi, orang yang secara personal mengontak FOODLAP namanya Aldi. Dia menyambut kami saat kami tiba di sana, setelah agak sedikit berpeluh-peluh ria di jalanan ibukota. Perkenalan singkat membuat saya menemukan benang merah pertama. Dia anak TI ITB, juga. Setelah tergali lebih dalam lagi, ternyata dia temannya Yoan di 8eh, dan beberapa kali pernah mengantar Yoan ke kosan kami. Setelah sekian tahun berjarak beberapa meter dia di depan pagar kosan dari saya di kamar, ternyata pertemuan kami mengambil tempat di kantor Danone.

Orang kedua yang menyambut kami adalah seorang perempuan muda dengan baju berwarna biru muda. Hidungnya mancung, kulitnya putih, bibirnya tipis, dan menurut saya dia mirip sekali dengan Clorinda, teman saya. Dan ternyata, dia, Adis namanya, angkatan 2009 Fakultas Hukum UI. Dia temannya Jeanne dan dia kenal kakak saya ._.

Di tengah presentasi FOODLAP, muncul lagi satu laki-laki muda berbadan besar dan gelap. Ketika melihat wajahnya, saya langsung tahu dia siapa. Usai presentasi, saya langsung mendatanginya yang baru saja beres berbincang via telepon. Dia langsung menunjuk muka saya,"Elo!" sapanya. Sungguh sapaan yang aneh. Haha.

"Abi ya, pacarnya Atoy?" Saya mencoba menyebut nama.

"Elo," katanya lagi,"kayaknya nama panggilan lo biasanya bukan Anka, deh?"

Haha. Saya tidak menjawab.

***

Selain tiga pertemuan tadi, sebenarnya ada sebuah quote yang ingin saya kutip di sini. Kata-kata ini meluncur keluar dari mulut Adis, dan saya kemarin berjanji padanya,"kalau gue punya novel, gue kayaknya mau ngutip kata-kata lo deh."

Waktu itu kami sedang membicarakan abang ojek. Tiba-tiba, dengan berapi-api, Adis mengomel,"gue paling sebel ya sama abang ojek Jakarta. Pertama, mereka suka godain cewek. Neng, neng, ojek, neng. Kedua, kalau gue datengin, gue udah mau nih sama lo, eh dia malah jual mahal! Mending gue jalan kaki."

Saat dia ngomong begitu, rasanya lucu banget. Tapi pas ditulis kok biasa aja ya? Haha.

Kenapa Megapolitan?

Saya masih ingat film-film masa depan yang menggambarkan kehancuran dunia. Bumi sudah tidak mampu menopang kehidupan manusia. Demi uang, manusia-manusia pendahulunya membiarkan teknologi menghabisi alam, limbah kimia meracuninya, asap pabrik mengotorinya. Oksigen sudah seperti barang langka, air bersih perlu dicari dengan perjuangan.

Saya ingat, pada film-film itu, manusia digambarkan memakai masker setiap mereka pergi. Mereka mempunyai bunker bawah tanah di setiap rumahnya, khawatir bencana alam datang tiba-tiba menghabisi mereka. Pemerintah pun disibukkan dengan penelitian antariksa, mencoba mencari sebuah 'bumi' lain di antara kelip bintang di langit malam.

***
Rasanya kita sudah mulai menjajaki beberapa tahun sebelum film itu dimulai. Orang-orang bermasker, kini bukan khayalan lagi. Di ibukota Indonesia, udaranya seperti asap mobil. Hitam dan mengepul, membuat rakyatnya sesak napas.

sumber: http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2011/08/08/119190_masker-polusi-udara_663_382.jpg

Jakarta, bagi saya, bukan lagi kota idaman. Kalau orang-orang lingkungan berkata 'Jakarta bukan kota yang sustainable', saya berpendapat bahwa Jakarta ini ibaratnya manusia pesakit.

Secara mudah, saya mendeskripsikan sustainability sebagai sebuah keadaan di mana kita bisa hidup selamanya. Tepatnya, bumi bisa hidup selamanya. Dan kehidupan itu bukan kehidupan yang artifisial, yaitu sebuah kehidupan di mana alat pembantulah yang menjadi nyawa.

Manusia yang sedang diberi cobaan dengan penyakit, yang kini hidup mereka bergantung pada alat, bagi saya itulah contoh kecil kehidupan yang tidak lagi sustainable. Dan Jakarta wujudnya kini seperti itu.

Seperti mereka yang butuh asupan oksigen untuk bernafas, Jakarta tidak bisa hidup bila tidak dipasok hasil pertanian dan peternakan dari daerah lain di Indonesia. Seperti mereka yang butuh alat demi jantung yang berdetak, rakyat Jakarta tidak bisa menjalani hari tanpa bantuan kendaraan. Semua sisi kota seperti dirancang hanya untuk automobile. Tidak pernah tampak jalur pedestrian yang pantas bagi para pejalan kaki.

Saya tidak pernah melihat arah pembangunan Jakarta menuju megapolitan ini berpihak kepada kehidupan yang baik. Dan masih ada tujuh daerah lainnya di Indonesia yang akan dikembangkan menjadi megapolitan. Parameter pembangunan hanya didasarkan pada satu ukuran dangkal: ekonomi, rupiah, uang.
***
Secara khusus, saya tidak pernah rela bahwa Bandung ini sedang dikembangkan menjadi megapolitan. Tapi secara umum, saya benar-benar setuju dengan peribahasa anonim ini.
"Ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah tercemar, dan ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia sadar bahwa mereka tidak bisa memakan uang."

25,5 Jam di Al Umanaa

Akhirnya saya berhasil membawa teman-teman FOODLAP untuk ikut serta mengunjungi Al Umanaa. Kisah-kisah dari Al Umanaa sudah cukup sering saya dengar dari teman saya yang bermukim di sana, Mahdi. Dia pernah berbagi pada saya tentang konsep perencanaannya di sana, bagaimana dia sebagai seorang lulusan planologi akhirnya mulai merancang peradaban dari kanvas kosong. Menurut saya pengalaman dan kesempatannya sangat menarik, jarang lulusan S1 sekarang dapat kesempatan untuk memulai lukisannya sendiri di kanvas yang masih bersih.
Mahdi juga sering bercerita tentang murid-murid, alias santri-santri, di sana. Bagaimana prestasinya memukau dan bagaimana guru-gurunya juga totalitas berjuang untuk mengembangkan pribadi setiap siswanya. Dan prestasi itu saya lihat sendiri buktinya kurang lebih setahun yang lalu, ketika saya mengunjungi ‘embrio’ Al Umanaa di Cibinong.
Bermodalkan sepetak tanah kecil dan bangunan-bangunan kayu yang adem dan kokoh, para guru di sana mendidik anak-anaknya. Ketika saya berkunjung ke Cibinong, anak-anak menyuguhkan berbagai pertunjukan, yaitu drama, pidato, story telling, dan membaca puisi dalam berbagai bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang. Begitu fasihnya mereka . Namun, kekaguman saya tidak hanya muncul dari banyaknya bahasa yang mereka gunakan. Lebih dari itu.
Dibandingkan dengan anak-anak SD dan SMP lainnya, mereka sungguh berbeda. Kalau anak-anak di luar sana membaca puisi dengan tampang datar dan tubuh kaku seperti batang pohon pisang (itu saya dulu begitu, sih), mereka semua memiliki kualitas public speaking yang luar biasa. Benar-benar di luar yang biasa.
Mereka mampu berekspresi tanpa malu-malu kucing. Mereka mampu memainkan ekspresi tubuhnya dengan kepercayaan diri yang keren. Mereka memainkan intonasi nadanya dengan tepat, mampu membuat orang tertawa mendengar humornya yang berkelas, dan di saat lain, mampu membakar semangat pendengarnya. Sepanjang pertunjukan, saya hanya bisa terpana melihat mereka yang berkembang demikian pesatnya, sangat signifikan berbeda dengan anak-anak pada umumnya.
***
Itu, saya sadari, hanyalah sebagian kecil dari seluruh kualitas siswa-siswa Al Umanaa ini. Yang mereka ‘pamerkan’ kala itu hanyalah kemampuan mereka dalam public speaking. Saya sungguh penasaran untuk bisa membuka lembaran-lembaran emas lainnya dari kehidupan mereka.
Akhirnya, tanggal 3 dan 4 April 2014, saya bersama Eva, Ridho, Rani, dan Rizan diberi kesempatan untuk bertandang ke sana. Kembali, kami disuguhkan pula berbagai penampilan dari para santri. Meski sudah pernah melihatnya, tapi pesona mereka tetap menyita perhatian saya. Namun, yang berbeda, kami mendapat waktu untuk mengenal Al Umanaa dan para muridnya dengan lebih dalam.
Kesantunan mereka sungguh terasa selama saya banyak berinteraksi dengan mereka. Dan mereka bukan hanya anak-anak pemalas yang mau main-main. Mereka ‘geregetan’ ingin terus berkarya dan belajar. Kalau ada lomba, bukannya malas dan menghindar, mereka justru berinisiatif untuk ikut berpartisipasi.
Program bahasanya juga sangat keren. Berganti-gantian setiap minggu, Bahasa Arab, Inggris, dan Jepang digilir untuk menjadi bahasa pengantar dan percakapan sehari-hari siswa. Selama 7 kali 24 jam, siswa hanya boleh berbicara dalam bahasa yang diizinkan.
Kalau melanggar? Bukan guru yang turun tangan, tapi di antara siswa-siswa itu sendiri pun ada sistem penjagaannya. Siswa yang melanggar akan disidang oleh teman-temannya sendiri, sambil dibimbing oleh para guru. Terdengar sepele dan remeh, tapi kebiasaan-kebiasaan seperti ini menimbulkan komunitas yang saling menjaga dalam kebaikan.
Para siswa sudah diajarkan untuk menegakkan aturan dan berani menegur temannya sendiri yang berbuat salah. Hal ini lah yang absen dari kehidupan anak-anak biasa. Melihat teman mencontek itu sudah biasa, kalau berani melaporkan itu adalah melanggar etika. Di tempat lain, seolah menjadi aturan tidak tertulis bahwa para siswa harus saling lindung-melindungi dalam contek-mencontek. Orang yang melaporkan kasus pencontekan, biasanya akan dijauhi dan dianggap ‘sok suci’. Seperti yang sering disampaikan oleh iklan layanan masyarakat, hal-hal seperti ini adalah bibit dari persekongkolan dalam hal yang lebih buruk: lindung-melindungi dalam korupsi.
***
Mahdi juga berbaik hati mengantarkan kami berkeliling Al Umanaa, memperlihatkan bangunan-bangunan yang telah ada sekaligus menceritakan bagaimana perencanaannya. Al Umanaa sunguh terasa asri, kami beberapa kali disuguhkan buah-buahan yang dipetik langsung dari sana, mulai dari durian, rambutan, manggis, pisang, sampai kelapa. Sempat saya, Eva, dan Rani duduk-duduk menikmati udara sore Sukabumi di gasibu yang beratapkan rambatan pohon markisa.
Di sana ada sebuah tanah lapang yang menjadi benang merah Al Umanaa dan FOODLAP. Tanah itu dimanfaatkan Al Umanaa sebagai laboraturium integrated farming, sebuah closed loop system yang utuh dan alami. Dimulai dari pintu dapur yang sering menggelontorkan sampah-sampah makanan, diikuti dengan kolam lele, kandang ayam, kandang lebah, kandang soang, dan… black soldier fly! Memang, sejak FOODLAP bertemu dengan black soldier fly, saya beberapa kali mendisksuikannya tentang itu dengan Mahdi. Sudah saya duga, Al Umanaa akan mendahului kami memulai pengolahan sampah kecil dengan BSF. Mereka sudah memiliki tiga reaktor pengolahan kecil, yang semuanya diurus oleh para santri.
***

Terlalu banyak pengalaman, penglihatan, dan percakapan menarik selama 25,5 jam di Al Umanaa. Masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi baterai laptop saya sudah tanda seru!

Mantan Peliharaan

Selama hidup saya ini, saya seringkali menemukan kecintaan pada binatang-binatang tertentu. Peliharaan yang pertama-tama saya punya adalah dua ekor kura-kura. Sebenarnya satu sih, yang satu untuk kakak saya, satu lagi untuk saya. Katanya, itu hadiah hiburan dari eyang saya saat kami berdua ditinggal pergi beberapa bulan oleh Ibu saya untuk S2. Yang (katanya) betina, mati dengan cepat. Saya lupa apa yang terjadi, waktu itu saya masih super kecil. Kalau tidak salah kelindas mobil, hiks. Yang kedua punya banyak kenangan dengan saya.

Sedari dia - saya sering menyebutnya sebagai kurce - kecil, kurce terbiasa hidup di air yang cetek. Habitatnya adalah sebuah bak berwarna oranye yang dibasahi air setinggi 1-2 cm. Makanannya sawi. Kotorannya cair dan bau sawi busuk. Tapi saya, saking terbiasanya dengan aroma itu, jadi suka-suka saja kalau ada bau-bauan sawi busuk :p

Ketika saya sudah agak besar, sekitar akhir SD atau awal SMP, saya punya akuarium besar yang menganggur. Kala itu, saya menonton di televisi sebuah kisah dokumenter tentang kura-kura. Ternyata, amboi, kura-kura itu bisa berenang, lho *ceritanya baru tahu* Bermodalkan tontonan televisi dan aquarium menganggur, saya buatkan kurce sebuah habitat baru, yaitu aquarium berisi air *yaelah standar amat*

Tapi! Kura-kura saya tidak bisa berenang :( saking dari kecilnya dia hidup di air yang cetek.

Akhirnya, saya latihlah dia berenang. Saya ikat badannya dengan tali, lalu saya celupkan ke dalam air.

Tentu saja dia panik. Hehe. Setiap kali dia panik, saya angkat lagi dia untuk menghirup nafas di udara. Kemudian kembali saya celupkan dan saya bawa ke sana kemari di dalam air.

Dan, setelah melalui kurikulum yang begitu ketat, akhirnya dia sukses menjadi kura-kura sejati :)))

Ketika saya SMP, dibuat sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Dia pun bisa berenang dengan senang di sana. Yeay. Saya merasa menjadi guru yang sukses.

Tapi kisah Kurce juga berakhir sedih. Saat saya kuliah, Bapak saya memindahkan dia ke kolam di kantornya. Entah tidak bisa beradaptasi atau dibully hewan lain, dia pun meninggal di situ.

Sedih sih sebenarnya.

Tapi, ya sudah. Mari jangan diingat-ingat.

Pedas, silau

Pedas, rasanya
Semua terlihat menyilaukan
Kututup dia
Mencoba menikmati gelap
Dan dia terlarut dalam hitam
Yang kemudian bercampur
Dengan cahaya redup berwarna-warni
Sungguh enak dipandang
Dan aku melayang
Di antara awan-awan lembut
Ungu, biru, dan hijau

!!!

Aku membuka mataku dengan terkejut
Hampir jatuh dalam mimpi rupanya
Lampu kembali menyilaukan
Mataku kembali pedas

Huah,
Ngantuk.

Pohon Bentuk H

Jalan menuju perumahanku adalah jalan sempit yang diapit komplek pemakaman cina kuno. Kuburan dibangun sangat antik, begitu besar, beratap batu, bertuliskan tulisan mandarin, dan dipenuhi ilalang liar. Seandainya aku bukan penghuni sana, mungkin situs ini bisa menjadi tempat wisata yang menarik.

Selain pemakamannya yang lawas itu, ada sebuah hal unik tumbuh di dalamnya. Hal unik itu adalah dua buah pohon. Ada dua pohon di sana berdiri bersebelahan. Yang kerennya, kedua pohon tersebut sebenarnya bersatu! Di antara batangnya yang besar, terdapat sebuah batang besar yang menyatukan kedua pohon itu. Seperti bayi kembar siam.

Kalau dilihat-lihat, pohonnya seperti membentuk huruf H.

Tapi sayang, ketika saya sudah agak dewasa, sekitar SMA atau kuliah, hujan deras dan angin keras melanda komplek kami. Pohon yang sebelah kiri tidak mampu mempertahankan diri sehingga tumbanglah ia, mematahkan sambungan hebat di antara mereka.

Sekarang, dua pohon itu sudah tiada. Warga sekitar memutuskan untuk menghabisi mereka berdua setelah tumbang satu di antaranya.

Jangan setengah lah

Di mana-mana, pekerjaan yang setengah-setengah tidak bakalan sama sekali membuahkan hasil yang oke.

Hasilnya pasti serba tanggung; investasi  atau biaya mungkin lumayan, tapi hasilnya bagus mah ngga. Nanggung kumaha kitu.

Makanya saya, dan kebanyakan orang, kalau memilih di antara produk serupa, tapi ada yang lebih mahal namun berfitur lebih juga, pasti menimbang-nimbang keduanya. Lebih mahal dikit, asal kualitasnya jauh sih gak masalah.

Namun, ada sebuah hal besar, yang sangat krusial, di dunia ini yang dijalankan setengah-setengah. Setengah hati. Istilah inggrisnya: half-assed. Dan hal krusial besar itu adalah: transportasi Indonesia.

Kalau saya mau menciptakan sistem - sistem pasti punya aturan, kan - pasti saya desain sistemnya dengan pengendalian, untuk menjamin semua aturan terlaksana.

Sayangnya, kalau di sini:
Peraturan ada
Rambu-rambu dan marka jalan ada (investasi buat begini gede, lho)

Tapi pengendaliannya...

Aturan-aturan itu tidak ditegakkan dengan utuh. Hanya setengah-setengah dari seluruh sistem itu yang ditegakkan.

Bahkan si penegak-penegak aturan itu yang juga melanggarnya. Mereka pernah menyuruh saya menyeberang tidak di zebra cross. Dan di depan mobil saya, mereka menampakkan telapak tangannya di hadapan saya (tahu kan, kekuatan super orang Indonesia kan ada di telapak tangannya. Bisa berhentiin mobil dengan sekali lambaian. Wkwk), lalu menyeberangkan banyak orang di tengah-tengah jalan tak berzebra cross.

Ngapain sih setengah-setengah.
Lihat kan, hasilnya sekarang transport Indonesia ga ada bagus-bagusnya.

Tulisan yang Termudah

Hal yang paling mudah untuk ditulis tentangnya adalah tentang rasa saat ini dan tentang suasana saat ini.

Hari ini langit begitu mendung, awan berpendar-pendar dalam cahaya matahari. Udara pun terasa agak dingin. Absennya matahari dan kehangatan, membuat saya teringat pada maggot-maggot dan lalat tentara hitam yang sedang FOODLAP kembang biakkan di kosan Rizan. Mereka sepertinya salah satu di antara makhluk-makhluk yang butuh kehangatan. Sejuknya hari ini membuat saya khawatir akan perkembangannya.

Dan akhirnya pun saya menulis di pagi hari, meluapkan pikiran-pikiran lewat tulisan. Sudah dua hari saya absen menulis - sayang sekali. Kemarin-kemarin, menulis terasa berat karena saya selalu memaksa diri saya menuangkan perkataan-perkataan yang berat pula; tulisan dengan topik-topik berbobot. Masalahnya, tidak setiap hari saya mood untuk menulis yang seperti itu.

Tapi justru mood itulah yang harus dibabat.

Harusnya menulis bisa menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari hidup saya. Dan harusnya, juga, menulis menjadi suatu kegiatan yang begitu mudahnya saya lakukan, seperti bernafas, menggerakkan otot jantung, mengkontraksikan otot lambung~

Jadi lah, hari ini saya menulis tulisan yang termudah.

Hobi adalah Cinta

Hobi seharusnya menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Hobi seharusnya tidak menyita terlalu banyak pikiran, tidak membebani perasaan, dan tidak berat untuk dimulai.
Dulu, kayaknya sekitar masa-masa tingkat dua, hidup saya seakan-akan ditemani seorang narator yang siap berkomentar pada apapun yang indra saya rasakan. Langit yang biru, atau bahkan sekedar batu yang codet, bisa menjadi sebuah paragraf oleh narator saya itu. Dalam setiap perjalanan saya, otak saya selalu bercerita. Lalu, ketika saya sudah duduk tenang di meja, segeralah mengalir narator tadi menjadi ketikan di monitor laptop.
Nah, kalau sekarang? Tidak jarang muncul perasaan malas dan terbebani untuk menulis. Kenapa ya? Apakah karena menulis kini bukan sekedar hobi, tapi menjadi kewajiban? Memangnya kenapa kalau jadi kewajiban? Kenapa malah merasa berat? Harusnya bagus dong hobi jadi kewajiban berarti itu adalah kewajiban yang menyenangkan...
Padahal, kalau ditilik secara etimologis, ternyata hobi itu berasal dari kata haba , atau hub (حب) dalam Bahasa Arab. Dan haba sendiri sebenarnya berarti cinta.   Makanya ada kata-kata 'Habibi' yang aritnya kekasih. Jadi, kalau saya hobi menulis harusnya cinta menulis. Dan sebaliknya, kalau saya berani bilang cinta sama Tuhan, harusnya saya hobi melakukan hal-hal yang membuat Dia senang.
Entahlah.
Yang jelas hari ini saya sudah menulis, menunaikan kewajiban saya pada janji saya sendiri: menulis setiap hari selama berumur 23 tahun.

Malaikat

Tak pernah kulihat
Datangnya ia dari langit
Namun seketika muncullah
Di sampingku, membawa pelita
Bagi kalbuku yang merindu

Tidak,
Tiada sayapnya
Tiada pula memancar cahaya
Hanya senyum yang menyenangkan
Dan kata-kata yang menenangkan
Mengiring sepercik hujan
Bagi hatiku yang gersang

Dan ia pun bercerita
Kisah-kisah yang lalu
Kisahnya yang penuh ilham
Buatku tertegun membayang
Dan ku semakin jatuh cinta

Artifisial

Dia melangkahkan kakinya dalam tempo yang pelan. Dia terus berjalan, terus melangkah, terus, terus, dan dia tetap melangkah lambat.

Dia melangkah, tanpa maju, mundur pun tidak. Matanya menatap layar televisi yang menyala. Televisi pipih itu menayangkan reality show yang semuanya tampak diskenariokan. Kisahnya, dramanya, dan tentu pengambilan gambarnya memperlihatkan bagaimana dia direkayasa.

Meski haus belum menyerang, dia reflek mengambil minuman botolan di dekatnya. Sebotol air rasa jeruk diteguknya. Bukan air, bukan pula jeruk. Semua hanya perasa.

Dia pusing sendiri. Masih berjalan di atas treadmillnya, tiba-tiba dia merasa seluruh kehidupannya telah begitu artifisial.

Kalau Mirip Pasti Saudara

Ada sebuah kejadian hari ini yang membawa saya kembali pada secuil pusaran ingatan saya. Kala itu, saya masih kelas 1 SMA dan dipercaya (baca: ditumbalkan) oleh teman-teman sekelas saya yang cantik-cantik itu untuk menjadi 'pejabat' kelas. Entah ketua kelas, sekretaris, atau bendahara (saya lupa yang mana), yang jelas saya sering sekali disuruh-suruh guru untuk memfotokopi bahan pelajaran hari itu. Dan itu adalah pekerjaan yang sangaaaat menyenangkan; keluar kelas, horeeee!

Akhirnya, saking seringnya fotokopa-fotokopi, muka ibu-ibu fotokopian jadi menempel sekali dalam otak saya. Rasanya seperti punya tato wajahnya di balik tengkorak ini. Dan karenanya, saya jadi sadar betul bahwa wajah ibu ini bak pinang dibelah dua dengan wajah guru fisika saya, Ibu Maria.

Kayaknya mereka saudara.

Asumsi-asumsi itu terus menggelitik otak saya. Sampai-sampai, si otak pun mengirimkan sinyal-sinyal gatal pada lidah saya. Setelah saya beberapa lama saya tahan di ujung mulut, akhirnya terlontar juga pertanyaan akan misteri paling besar abad itu.

Waktu itu, saya lagi fotokopi soal Geometri.

"Bu, mau fotokopi bolak-balik 32 kali ya, Bu."
"Ya."
"Bu."
"Ya?"
"Ibu saudaranya Bu Maria ya?"
"Hah?" Si Ibu murni bingung. Wajahnya sesekali bergemerlap cahaya mesin fotokopi,"bukan..."
"Masa sih, Bu?" Lah kenapa saya maksa? Wong yang punya keluarga bukan saya hahaha.
"Hahaha bukan."
"Mirip banget, Bu, abisnya. Beneran bukan saudara?"
"Nggak ah, gak mirip. Bukan saudara juga."
"Beneran Bu? Ibu sepupuan deh kayaknya."
"Nggaak, Bu Maria bukan sepupu saya."
"Sepupuan deh kayaknya, Bu."

Si Ibu cuma ketawa-ketawa saja, sampai 32 lembar fotokopian sudah matang. Segera, saya disuruh bayar dan harus langsung kembali ke kelas.

Beneran mirip, loh.

Malam yang Panas

Percakapan dengan tenang melalui ruang-ruang digital baru saja saya ketak-ketikkan dengan santai, di tengah udara dingin Kota Maastricht. Duduk di ruang hotel yang sangat unik penataannya, ditemani sekaleng cokelat yang sangat terkenal di negerinya Si Kumpeni.

Bumi terus bergulir, gelap dan terang terus menggelincir menyaplok daerah kekuasaannya. Tanpa dirasa-rasa, daerah GMT+01 ini makin melarut dalam gelap antariksa. Sedang mata saya masih melotot menangkap gelombang-gelombang menyakitkan dari monitor laptop.

Target-target hari ini, satu, dua, yak, sudah terlaksana dua. Biasanya agenda harian saya mencapai enam, itupun tidak selalu saya sempurnakan semuanya. Hanya satu-dua yang menjadi prioritas selalu saya usahakan.

Percakapan terus berlanjut, isinya penting-penting, menyangkut pekerjaan maupun urusan pribadi. Dan semuanya terasa menyenangkan. Sampai sebuah kejadian di dunia non-digital itu kembali terulang.

Ah.

Muak saya, berulang-ulang kembali yang seperti ini. Seperti matahari yang pasti tenggelam, sedikit percikan saja langsung membakar seluruh hati dan pikiran saya. Kepala saya seperti terbakar-bakar dalam angkara dan perasaan saya bergemuruh seperti badai di musim panas.

*

Seandainya saya naga, mungkin udah nyembur dari tadi kali ya.

Mendidik untuk Hafal?

Aku sangat bersyukur saat membuka pintu belakang rumah. Siraman matahari yang begitu menyengat langsung berganti dengan udara sejuk dan lampu redup di dapur. Sambil sekilas menyapa Ceu As, aku langsung menapaki lantai yang dingin ke dalam rumah.

Seperti yang telah aku duga, gadis kecil ini menyambutku dengan riang. Dia langsung menggamit tanganku dan menarikku untuk duduk di meja makan.

"Mbak, main sekolah-sekolahan yuk," katanya riang.

"Hayuk," jawabku,"mau belajar apa, Dek?"

"Bahasa Indonesia."

Rupanya, sedari tadi dia sudah menenteng-nenteng buku tulis. Dia menaruhnya di hadapanku dan memberikanku sebuah pensil tumpul.

"Aku gurunya, Mbak muridnya, ya," dia memaksakan skenarionya.

"Ya udah, apa soalnya, Dek?"

Dia membuka bukunya yang lain, lalu membaca keras-keras dengan intonasi anak SD - ada cengkok naik di ujung kalimat,"apakah yang disebut dengan membaca istenif?"

Aku menaikkan alisku.

"Istenif?"
***
Anak SD sekarang rupanya diajari hal-hal yang artinya pun mereka tidak mengerti. Jangankan artinya, mengejanya pun masih susah mereka. Istenif tadi, ternyata, maksudnya adalah intensif. Jadi, di sekolahnya, saat ulangan maupun tugas, mereka ditanyakan definisi dari membaca intensif. Bukan cuma itu, ada lagi teori tentang membaca lantang.

Saat dahiku berkerut-kerut bingung, tidak tahu jawaban apa yang harus aku berikan untuk pertanyaan tadi, akhirnya si Adek langsung memberi tahu aku teori-teori yang harus aku hafalkan. Yang pertama adalah membaca i-isten-in-innn-tennn-sifff. Rupanya, membaca intensif adalah kegiatan membaca di dalam hati tanpa bersuara, menggerakkan kepala, dan menggunakan jari atau alat bantu sebagai petunjuk, dengan tujuan memahami isi bacaan.

Ada lagi jenis membaca yang lainnya. Membaca lantang adalah membaca dengan bersuara dengan tujuan untuk mendengar dan memahami isi bacaan.

Naon.

Apa gunanya menghafalkan makna kedua jenis membaca tadi? Toh aku hidup di dunia ini 23 tahun, tidak menyadari adanya dua jenis cara membaca yang berbeda, tanpa kesulitan yang berarti. Suka-suka gue lah mau baca sambil nunjuk atau teriak-teriak. Lagian, memang kenapa membaca lantang dibedakan dari membaca intensif? Kadang-kadang, aku bersuara kok kalau aku mau intense membaca. Sama-sama membaca intensif kaaan?

Yang aku lumayan sebal, pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku tulisnya semua bersifat menyalin teks di buku. Misalnya seperti tadi, apa yang dimaksud dengan membaca intensif? Padahal, yang penting bukan hafalannya. Yang penting adalah pemahaman konsepnya dan pemahamannya dalam mengaplikasikannya di dunia nyata.
***
"Pertanyaan ketiga!"

"Ya, apalagi," tanggapku tidak bersemangat. Aku mulai heran dengan pertanyaan-pertanyaan dari gurunya ini. Dan juga dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini.

"Di manakah kita membaca intensif?" tanyanya. Tentu saja, ngomong intensifnya belepotan.

Aku tercenung. Wah akhirnya ada yang lepas dari hafalan.

"Di kamar!" jawabku tiba-tiba senang.

"Salaaah," sahutnya kecewa. Kecewa kakak sepupunya ini salah melulu jawabnya dari tadi. Ya iyalah, mana gue tau gitu loooh.

"Loh, di mana dong?"

"Ayo Mbak, inget-inget di mana? Mungkin di tangan, di otak, di rambut..." dia berusaha memberiku clue.

"Oh..." aku agak terperangah,"maksud kamu, di dalam hati?"

"Iya!"
***

Sudah lama aku menyadari, adikku yang satu ini pemahamannya memang tergolong kurang. Dia cenderung untuk menghafal dan saklek pada definisi yang ada di lingkungannya.

Kala itu, dia sedang membuat gelang dari karet warna-warni. Ada alat sederhana khusus untuk membuatnya. Ketika membeli perlengkapan itu, adikku diajari oleh penjualnya bagaimana membuat gelang dan cincin. Rupanya, cara membuat gelang dan cincin itu berbeda, karena memang bentuknya dibuat berbeda.

Dia, yang berpikir kakaknya serba bisa, memintaku mengajari cara membuat cincin. Sudah lupa katanya. Berhubung saat itu aku belum tahu bahwa ada cara sendiri untuk membuat cincin, aku jawab saja,"ya sama aja dong dek sama gelang. Bikin aja lebih kecil."

"Ih gak gitu tau!" bantahnya,"ada caranya sendiri!"

Sekali lagi, ya mana gue tau, tapi di situ aku mulai sedih karena dia tidak mampu menangkap konsep cincin yang kecil dan konsep cara membuat gelang yang bisa dikreasikan. Contoh tadi bukan satu-satunya kasus yang membuatku menyimpulkan tentang kurangnya dia dalam memahami. Tentu ada yang lain lagi, dan semua itu tertuju pada satu kesimpulan. Dia hanya menghafal apa yang lingkungannya katakan. Dia tidak berusaha untuk memahami konsepnya. Padahal, dengan paham konsep, kita bisa berkreasi toh.

Dan aku mulai yakin musababnya ada pada pola pendidikan yang hanya menuntut hafalan.
***
Mereka benar-benar hanya diajari hafalan. Definisi suatu kata. Harus hafal, tidak mengerti tidak masalah. Aku makin bertambah frustrasi di soal-soal berikutnya.

"Sekarang..." Matanya naik turun mencari-cari soal yang ingin dia berikan,"oh coba jawab, apa yang disebut dengan intonasi?"

Dengan yakin tidak akan salah, jawabku,"nada bicara!"

"Salaaah!"

Whut

"Apa dong, Dek?"

"Lagu kalimat."

...

Yah, meski memang ternyata definisi dari KBBI adalah demikian, tapi ya gak gitu juga kali. Ada beberapa lagi pertanyaan-pertanyaan yang secara konsep aku telah benar menjawab, tapi tetap dia salahkan karena berbeda dengan yang ada di buku. Tapi aku lupa pertanyaan apa lagi. Yang jelas, tidak salah kalau aku menyimpulkan bahwa dia sebenarnya tidak mengerti makna dari intonasi. Dia hanya hafal.

Aku jadi penasaran, kalau dia menjawab 'nada bicara' untuk pertanyaan tadi dalam ulangannya, akankah disalahkan oleh gurunya?
***
Sepertinya, tidak adil kalau aku dengan sepihak, dan tanpa riset apapun, menyimpulkan semuanya dengan satu frasa "anak SD jaman sekarang...", lalu geleng-geleng kepala. Karena, sepertinya, masa SDku juga dihabiskan dengan pola yang memangkas kreativitas.

Ceritanya, aku dari kecil senang membaca buku dan menulis. Ada satu buku cerita yang aku cukup sukai. Buku tipis itu bercerita tentang Anastasia. Itu loh, salah satu film kartun yang sempat booming tahun 90an akhir.

Buku itu dimulai dengan prolog dari seorang tokoh bernama Vladimir. Vladimir sendiri juga tokoh di dalam cerita, namun di buku itu dia mendapat peran lebih sebagai narator. Semua kisahnya dituliskan dari sudut pandangnya.

Pada kesempatan itu, guruku meminta anak-anaknya untuk membuat cerita tentang liburan panjang kemarin. Akhirnya, aku membuat sebuah cerita diawali dengan prolog yang kurang umum. Meniru konsep buku Anastasia dengan gayaku sendiri. Di saat anak-anak lain memulai cerita dengan "pada liburan kemarin aku bersama keluarga aku pergi ke...", aku membukanya dengan paragraf yang agak nyentrik.

Sebenarnya gak nyentrik sih, biasa saja. Berbeda, lah.

Esoknya, ibu guru itu mengulas cerita yang kami buat hari yang lalu. Di depan kelas, dia langsung membahas cerpenku, meski tanpa menyebut nama, namun dia mengejeknya. Dia bilang, ngaco banget bikin cerita kayak begini, lalu dia bacakan ceritaku.

UNTUNG, aku tidak langsung minder dan terpangkas percaya dirinya. Untung aku yakin pada buku Anastasia dan hanya menganggap bahwa guruku ini memang kurang pengetahuan. Untung kreativitas aku tidak dia matikan.

Fuh.


Usaha dulu, baru minta

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suat kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Ar-Ra'ad: 11)
Bagi saya, dengan dasar pengetahuan saya dari Al-Quran, tidak ada suatu kondisi di mana kita mengandalkan Allah sepenuhnya. Hasil usaha kita, memang, semua karena Allah. Ya jangan sampai deh kita menjadi orang yang sombong dan merasa mampu hidup tanpa Allah, seperti orang-orang yang digambarkan dalam Surat Az-Zumar: 49.
Maka, apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (Az-Zumar: 49)
Tapi, apakah Dia memberikan hasil atas apa yang kita usahakan atau tidak, itu semua wewenang Allah. Kedaulatan sepenuhnya milik Allah. Dan, kalaupun kita menerima pemberian Allah, pemberian-Nya itu semua karena Dia menilai usaha kita.

Seperti seorang Ibu yang akan mengizinkan anaknya bermain bola di luar jika anaknya telah cukup belajar hari itu. Ibu pasti menilai usaha anaknya dalam belajar, bila tidak cukup keras ya tidak diizinkan. Namun, bila anaknya telah belajar sungguh-sungguh, tetap sepenuhnya hak Ibu untuk mengizinkan atau tidak.

Bisa saja anaknya lagi pilek, kalau sudah belajar ya tetap tidak diizinkan. Nanti ga epet embuh :( Atau di luar rumah sedang panas terik hujan badai kita lalui bersama, masa dikasih izin? Ntar atit lagii. Atau ibunya mau jalan-jalan ke mall anaknya disuruh jaga rumah haha canda.

Jelas-jelas, kalau tidak ada usaha apapun sama sekali dari diri kita, kenapa kita bisa-bisanya meminta macam-macam kepada Allah?

Padahal kita telah ceroboh, tidak bisa kita dengan seenaknya bilang,"ya sudahlah, gue yakin nanti pasti Allah kasih jalan."

Kasarnya ya, tahu diri lah.

Tapi saya gak ngomong begitu loh, itu orang kasar yang ngomong. :|

Allah bilang bertawakallah, bukan pasrah. Tawakal itu beda dengan pasrah. Tawakal itu berjuang sekerasnya dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, ikhlas dengan keputusan-Nya, dan selalu yakin bahwa kita memang mendapat yang terbaik dari Allah. Tapi kalau pasrah itu hanya meminta saja pada Allah, tanpa perjuangan, tanpa usaha, tanpa keringat.

Cerita-Cerita yang Ingin Dikisahkan

Pagi ini, langit sangat mendung. Udaranya benar-benar dingin. Angin memaksa masuk lewat celah-celah jendela, membuat kulit saya jadi agak merinding.

Semalam saya tidur meninggalkan beberapa kewajiban. Habis, sudah terlanjur terlalu ngantuk. Sebenarnya tidak terlalu ngantuk sih, mata saya tidak menyipit-nyipit dan kelopak mata saya belum terasa begitu berat. Tapi saya tahu saya ngantuk karena saya mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan tidak beres. Seperti membuka keran air galon saat gelasnya tidak ditaruh di bawahnya, daaan banyak hal ‘skip´lainnya. Saya jadi teringat dahulu, waktu SMA, ketika saya lagi mengantuk dan ingin minum, saya malah mengisi gelas saya dengan air keran. Whut da hell.

Ada beberapa kisah yang ingin saya ceritakan, saya mau bodo amat dulu sama kerjaan-kerjaan saya yang lain. Sebenarnya, menulis setiap hari kan juga bagian dari kewajiban saya untuk memenuhi perjanjian dengan Nona Prianka. Dan, pekerjaan-pekerjaan lain sudah terlalu sering saya dahulukan daripada pekerjaan pribadi saya ini. Kini saatnya saya menulis di pagi hari, saat otak masih segar, matahari belum menyengat, dan waktu masih banyak.

***
Tiga hari yang lalu adalah hari pertama saya tahu bahwa di kosan ini ada shower air panas. Meski sudah dua tahun tinggal di sini, bukan sesuatu yang tidak wajar kalau saya baru tahu, sebab bapak kosan saya yang dulu melarang anak kosan menggunakan kamar mandi itu. Bapak kosan yang sekarang ternyata mengizinkan (tanpa saya ketahui), hanya jika para pemilik kosan tidak sedang mendiami rumah ini.

Pagi itu cukup dingin, meski tidak sedingin hari ini. Bayangan-bayangan akan mandi air panas muncul di benak saya – duh nyaman sekali. Saya pun segera turun ke lantai dasar dan menyalakan heater. Heater harus dinyalakan dahulu selama setengah jam agar airnya panas.

Saya kembali ke kamar dan berkutat dengan laptop lagi. Sekitar setengah jam kemudian, saya langsung turun lengkap membawa sabun, sikat gigi, shampoo, dan handuk.

Namun, tiba-tiba, di lorong pintu sedang berjalanlah kakak ipar Ibu Kosan, menggeret dua koper yang besar-besar. Dia menyadari kehadiran saya di depannya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap saya. Senyum senang melebar di bibirnya, lalu menyapa saya dengan keras dan bersemangat.

“Selamat pagi!!”

Ah, tidak jadi mandi air panas.
***

lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn.

*) kisah ini ditulis dalam bahasa kalbu. sepertinya gak compatible sama blogger :3

***
Menengok juga wajahmu,
Kupikir silau matamu akan sorot lampu
Hingga begitu gelap bayangannya
Dan yang ada di baliknya.

Wajah yang tertengok,
Berapakah?
Mata-mata tertuju dalam sorot
Aku melihatnya tidak berkedip
Dalam pesona indah tarian dan senyuman.

Di samping sini
Membuatku ingin melangkah
Pintu yang terbuka
Siraman cahaya matahari
Hingga ku hangat dengan siramannya
Dan matahari bilangku untuk diam
Agar tak ada yang lihat
Aku dalam sinaran.
***

Semalam saya tertidur di atas jempol kiri saya sampai-sampai jempol saya sakit. Tertidur dengan posisi menyakitkan, pantat di bangku, jempol di atas meja, dan kepala di atas jempol.

Saya terbangun berkat telefon dari teman, dan tak lama syaraf-syaraf saya mulai sadarkan diri. Denyut sakit dari ujung jempol terasa hingga ke ubun-ubun kepala.

Akhirnya saya tidur lagi dengan lebih baik, dengan pantat di bangku dan kepala di kasur.

Tengah malam, saya terbangun. Pinggang yang melayang itu sungguh posisi tidur yang menyebalkan. Saya pun bergeser untuk tidur dengan sempurna di kasur.

Pagi ini, jempol saya memar.

***

lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn.

*) kisah ini ditulis dalam bahasa kalbu. sepertinya gak compatible sama blogger :3