Menunggu mood

Ada suatu Gagasan Besar di kepala. Gagasan Besar menggoyang-goyangkan isi tempurung kepalaku dengan keinginannya untuk tumpah menuju dunia.
Dia ingin didengar, dan dia mau sekarang juga.

Dia mengalir keluar menuju jari-jemariku, menggerayangi pembuluh darahku di sana. Dia mendesak-desak nadiku, memaksa keluar lewat ujung jariku.

Tangaku geli karenanya.

Tanganku gatel.

Aku ingin menulis.

Sekarang dia meledak-ledak di dalam badanku. Mendidih, seperti orang sakaw, dia gemetaran meminta keluar. Bosan dia berkurung di dalam kepalaku.

Tapi, lihatlah. Sekarang sudah jam setengah 7 pagi, ada pekerjaan yang harus kusambut sebentar lagi. Aku harus siap-siap. Tidak akan sempat kutuliskan semuanya.

*

Dia paham maksudku. Dia tahu saat ini aku digencet oleh sempitnya waktu. Dan, yang jelas, dia tahu aku jadi tidak mood untuk menulis.

Dia menyerah. Dia menyusut masuk ke dalam kepalaku meninggalkan jari-jariku yang kini terasa hampa, meringkuk di tengah otakku.

Semoga dia tidak hilang dilekang waktu.

Prolog Film

Bandung terbangun dengan pelan.
Cahaya matahari perlahan merambat menyapa, begitu lembut seolah berbisik.
Langit berawan biru muda, rasanya sangat... sendu.
Sunyinya dunia, tanpa hentakan drum dari radio, tanpa bising knalpot, bahkan tanpa kicau burung, membuat semuanya semakin... sendu.

Rasanya, cocok sekali hari ini menjadi permulaan sebuah film tentang kiamat atau zombie apocalypse.

Buku adalah Jendela Dunia

Buku adalah jendela dunia. Kalau saya hanya membaca, maka saya cuma seorang penonton dunia dari dalam rumah saya, menontonnya melalui jendela saya yang sempit.

***

Peribahasa umum buku adalah jendela dunia menginspirasi orang-orang untuk menjadi pembaca yang rajin. Buku adalah jendela dunia menyemangati sebagian untuk gemar membaca.

Saya juga senang membaca buku, meskipun akhir-akhir ini jarang sekali saya menyentuh buku selain buku tulis dan buku agenda. Tapi saya masih sering membaca artikel-artikel di laptop. Yah, tapi laptop kan jendela (windows) juga, hehe.

Dengan membaca, saya jadi tahu banyak hal-hal baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Saya juga bisa mengetahui penelitian-penelitian baru, yang kadang-kadang erat kaitannya dengan keseharian saya. Atau bahkan, jawaban 'kenapa' atas banyak hal, yang terkadang terlalu biasa untuk dipertanyakan mengapa. Misal, mengapa langit biru, mengapa pelangi hanya setengah lingkaran (karena setengahnya ada di matamu).

Tapi, jangan lupa. Buku hanyalah jendela dunia. Ingatlah, one only knows the road once he walks the road.

Tidak ada pemahaman yang utuh hanya dengan membaca, Yang terpenting adalah menjalankan atau mempraktikkan apa yang dibacanya, mencobanya sendiri. Misal saja saya membaca peta, tentu saya bisa tahu arah dan jalan dari Dago menuju Cileunyi. Tapi, jika saya tidak pernah menapakinya, saya tidak akan pernah mengerti dengan sempurna bagaimana caranya menuju ke sana.

Kalau saya hanya pembaca peta, saya mampu menjelaskan arah menuju Cileunyi. Tapi saya tidak akan pernah bisa menyebutkan bahwa kalau ke sana macet loh di daerah Margahayu, dan di sana ada jalanan bolong-bolong, udaranya panas saat di Soekarno-Hatta dan jadi dingin ketika di Cileunyi, dan ternyata di daerah sini banyak premannya mending hindari.

Buku adalah jendela dunia. Kalau saya hanya membaca, maka saya cuma seorang penonton dunia dari dalam rumah saya, menontonnya melalui jendela saya yang sempit.
Kasih
Tidak pedih
Karena sedih
Tak perih

Kala hati
Terpatri
Pada mati

Senyum

Di dunia ini, ada beberapa jenis senyum.

Mungkin, banyak yang mengklasifikasikan senyum menjadi dua golongan, yaitu senyum tulus dan senyum palsu. Tapi, sore ini aku melihat lebih.

Aku berjalan beriringan bersama Kak Gita, menikmati udara sore di tepi taman kota.

"Gita!"

Suara berat memanggil nama kakakku dari belakang. Sontak, kami berdua menoleh lalu Kak Gita melontarkan sebuah senyum kepada laki-laki itu. Senyum untuk menyapa.

"Halo,"jawab Kak Gita manis.

Senyum halo.

"Eh- halo," jawab laki-laki itu kikuk.,"lagi apa di sini?"

"Jalan-jalan aja sama adikku," Kak Gita mengedikkan kepalanya kepadaku. Aku bertatapan dengan laki-laki seumuran kakakku tadi, lalu segera menyunggingkan senyum.

Senyum formalitas.

Dia balas tersenyum dan langsung mengalihkan pandangannya lagi pada kakakku.

"Btw, Git," katanya.

"Ya?" Kak Gita tersenyum,"ada apa?"

Senyum menunggu tanggapan.

"Eh-," dia bergerak kikuk lagi, menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak terlalu gatal,"kebetulan ketemu kamu nih, aku tadi dapat tiket gratis nonton bioskop berdua untuk malam ini."

Laki-laki itu berhenti bicara, seolah menanti jawaban Kak Gita. Tapi, Kak Gita sendiri bingung mau jawab apa, wong pertanyaannya saja belum ada.

Keheningan pun menggelayut aneh.

"Maksudku," dia melanjutkan sambil tersenyum.

Senyum canggung.

"Maksudku, kamu mau gak nonton sama aku malam ini?"

"Oh," jawab Kak Gita riang. Dia tersenyum.

Senyum senang.

"Mau-mau aja kok!"

"Eh betulan?" laki-laki itu balik bertanya. Setelah Kak Gita mengangguk yakin, dia langsung tersenyum lebar.

Senyum yang lebih senang lagi.

Kak Gita menoleh kepadaku,"nanti kita beli satu tiket aja buat kamu. Lumayan kan, harga satu tiket buat nonton bertiga. Kamu ada uang gak?"

Mendengar niatan Kak Gita untuk mengajakku, laki-laki tadi melongo pasrah.

Aku mengabaikan laki-laki tadi, lalu kusampaikan bahwa uangku habis. Dan ternyata Kak Gita juga tidak membawa uang yang cukup banyak.

"Yah, maaf ya," kata Kak Gita menyesal pada sang pria,"kita gak ikut deh, gak bawa uang ternyata."

"Eh, aku bayarin aja deh," panik, laki-laki itu berbicara dengan sangat cepat.

"Wah, beneran?"

"I-iya, aku aja yang bayarin," katanya. Kak Gita mengucapkan terimakasih dengan riang, dan aku juga menyampaikan rasa terimakasihku kepadanya. Dia menoleh padaku, lalu tersenyum.

Senyum terpaksa.

Bapak Kecil

Di ITB, ada seorang bapak tua yang mungil. Rambutnya agak panjang untuk ukuran laki-laki, tapi masih potongan rambut laki-laki. Warna rambutnya abu-abu, hitamnya telah lekang oleh waktu. Kemejanya selalu kebesaran.

Dagu runcingnya sekilas membuat dia bermuka licik. Matanya agak kecil. Aku jadi teringat Kreacher - salah satu peri rumah di Harry Potter.

Tidak, tidak. Bukan karena beliau seperti makhluk aneh. Beliau sangat manusia, kok.

Aku sering melihat beliau masuk ke kelas-kelas membawa nampan berisi segelas besar air putih, terkadang teh hangat. Beliau biasanya mengetuk pintu, menyela pembicaraan dosen di kelas, lalu masuk dengan membungkuk dan menaruh gelas itu di meja dosen.

Beliau sangat hormat sekali, padahal dari tampangnya, umur beliau lebih tua dari sebagian besar dosen.

Terkadang dia masuk membawa remote control proyektor kelas yang tertinggal di tata usaha.

Pernah suatu kali, aku berkuliah di lantai 4 sebuah gedung kuliah yang jauh dari tata usahaku. Di tengah pelajaran, beliau muncul di samping pintu, mengetuk-ngetuk, lalu masuk dengan sangat sopan. Beliau menyerahkan remote control kepada dosenku, dengan tampang melongo karena kelelahan. Beliau berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan agar bisa bicara kepada dosenku dengan benar.

Tapi usahanya gagal.

Lalu sang dosen memijit-mijit tombol remote. Dan tidak terjadi apapun.

"Kayaknya salah remote," kata dosenku.

"Oh iya, Pak," jawab bapak tua pasrah.

Masih ngos-ngosan, beliau keluar dari kelas dengan cepat untuk mencari remote yang benar.

Berilah petunjuk

Dian menghempaskan tubuhnya ke kursi keras di tepi taman.

Randi, di sampingnya, tampak terkejut dengan kedatangannya, namun dengan sengaja tidak mau menoleh. Biar cool.

"Ran, Andra tadi minta putus," keluh Dian suram. Air mata menggenang di tepian mata indahnya.

"Hm," jawab Randi sok tidak peduli. Dia masih menatap bukunya, meski otaknya sudah tidak konsen lagi.

"Raaan, nengok dong, gue ngobrol sama lo, lo jangan baca doaang," rengek Dian.

"Iya nih gue tutup," dengan nada kesal Randi menoleh,"apa?"

"Gue mau diputusin."

"Hmm"

"Pemicu berantemnya gara-gara gue telat janjian. Padahal bukan salah gue, angkotnya ngetem gila. Jalanan macet, orang-orang nyebrang di mana-mana bikin kendaraan jadi pelan. Eh giliran ada yang nyebrang di zebra cross, malah ditabrak sedan. Makin macet lah. Mana panas banget, make up gue sampai luntur."

"Yaaah, memang sudah rusak kota ini,"jawab Randi akhirnya.

"Panaaaaas, gak ada pohon di mana-mana, makin panaaaaas." Dian mengeluh.

Randi memaksakan senyum.

"Ya Allah, rusak banget bumi," muka Dian semakin buram,"dan Andra tega-teganya cuma karena telat lima menit..."

Dian menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan,"maaf gak nyambung curhatannya, Ran. Tapi udah kepalang sedih banget nih, semua hal jadi sedih. Terus tadi lihat penjambretan juga di pinggir jalan, kakek-kakek pula yang dijambret. Sedih banget lihatnya."

"Kota ini kacau banget ya, Yan?"

"Iya, Ya Allah... Beri petunjuk-Mu,"kini menetes satu butir air mata. Dian menghapusnya cepat.

Randi merogoh sesuatu dari tasnya, lalu menaruhnya keras di pangkuan Dian.

"Nih, petunjuk."

Al-Quran berwarna silver terdiam di atas paha Dian. Dian dan Kitab itu saling bertatapan. Keheningan kaku terasa menyelubungi dedaunan di taman.

"Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa," lanjut Randi.

Dian tertawa canggung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya siih, tapi apa hubungannya sama masalah hidup gue?"

Randi mendecak kesal,"ya hidup muslim kan harusnya berpedoman sama Quran? Pemecahan masalah lo ada di sana juga. Tadi lo minta petunjuk, ini udah dikasih, malah ga mau baca. Lo berharapnya petunjuk apa sih? Petunjuk lewat mimpi? Hahahaha."

Dian menciut,"iya bener sih, yaudah gue tanya ke elo deh sebagai orang yang rajin baca, masalah gue sama Andra gimana dong penyelesaiannya?"

"Ya putus aja," kata Randi pendek, "sudah jelas kan?"

Cewek itu tidak mampu berkata-kata. Dia hanya terperangah menatap Randi. Benar sih, kalau di Islam katanya gak ada pacaran, tapi...

"Nah, kalau masalah kota ini gimana? Penjambretan, macet, panas, global warming, kan harus baca-baca literatur lain," Dian mengalihkan pembicaraan.

"Ada, Yan," kata Randi, "prinsip pengelolaannya ada di situ. Lo cuma harus baca dan belajar."

"Gue udah pernah baca, tapi kan gue gak paham maknanya, banyak banget yang kiasan-kiasan gitu."

"Ah lo mah cari-cari alasan aja, bilang aja males baca," merasa Kitabnya tidak akan disentuh Dian, Randi merebutnya lagi dari Dian, "tinggal cari pembimbing, repot amat."

Dian nyengir tidak enak, "ya udaaah, lo mau jadi pembimbing gue?"

"Oke, siap. Kapan mulai?"

Randi menatap Dian tegas. Bulat niatnya untuk ngajarin cewek ini ilmu Allah, kalau dia memang mau. Kapan mulai?

...

Hening.

"Hehe, gak sekarang deh. Kapan-kapan."

"Halah, tuh kan."

Puitis

Puitis,
kala jemuku menulis

Puisi,
waktu ilham tak isi

Rima,
janji tetaplah sama

Sajak,
malam beranjak!

Hei!

Tulis!
Walau ilhammu habis.

Bangga?

Scroll,

scroll,

scroll,

Matanya menelurusi barisan kalimat di layar.

Scroll, scroll.

Sepintas, senyum kecil, walau hanya beberapa milidetik, tersungging di bibirnya.

Bagus, pikirnya. Senang.

Dia sibuk mengagumi tulisan itu, dengan diksi yang sungguh tepat dan unik, membuatnya tak jemu dibaca. Kata sambungnya selalu pas, bahkan spasinya, enternya, italicnya, tulisan itu terpahat dengan cantik.

Scroll

Dia larut dalam blognya sendiri. Kebanggaan bermekaran dalam hatinya, menguap ke atas dan membesarkan kepalanya hingga siap meletus. Percaya dirinya tumbuh; gue jago.

Scroll

Dan dia mendapati sebuah tulisannya tahun lalu, ketika dia menyebutkan cerita tentang seorang temannya. Sebuah tautan tertera di sana, sebuah tautan menuju blog teman baiknya itu. Lama tidak jumpa, coba aku lihat blognya ah.

Dan, satu kali klik ternyata mampu menariknya ke dasar palung.

Dia ingat temannya ini pernah jadi penulis cerpen lepas dari suatu majalah cewek.

Kalimat pembukanya sungguh ngena.

Kalimat pembuka ini akan menarik semua pembacanya untuk tenggelam dalam tulisannya. Bahkan dia bisa memberikan soundeffect dalam kisahnya, seolah kisah ini benar-benar bersuara.

Diksinya, oh, bahkan kata-kata sesederhana itu tidak pernah terlintas dalam otaknya. Bagaimana bisa?

Sebuah kisah yang mengalir dengan santai, dan mengenakkan pembacanya. Diakhiri dengan cerita yang menggantung, pun begitu mempesona.

Kepalanya mengempis dengan cepat, bunga-bunga bangga berguguran di dasar hatinya.

Gara-gara klik setitik, rusak scroll sebelangga.

nilai

gelap
larut
diam-diam

tengok
saat terang
dan lihat
kamu
terbaring

gelap
larut
tiba-tiba

esok
kala terang
langkahkan
kaki
lepaskan
baringanmu

Gantungan Korden

Saya mau gantungan korden, atau gorden, dengan panjang kurang lebih 1 m. Yang bukan dari kayu, tapi. Di ACE Hardware aja tidak ada. Sepertinya saya harus cari di toko khusus korden.

Saya perlu gantungan korden, soalnya saya sudah beli korden baru untuk di kosan. Murah dan warnanya enak, lumayan untuk ganti suasana kamar. Tapi sayangnya korden yang baru ternyata tidak compatible dengan gantungan korden yang lama. Alhasil, saya perlu cari gantungan baru juga.

Ngomong-ngomong soal alhasil, saya baru menyadari bahwa alhasil sepertinya berasal dari bahasa Arab. Saya menyadari ini karena melihat suku kata Al di depan Hasil. Bahasa Arab kan punya kata "Al" sebagai "The" dalam Bahasa Inggris. Mungkin, kalau dibahasa Indonesiakan, Al adalah Sang, atau Si.

Atau, Al adalah anaknya Maia dan Ahmad Dhani.

Saya juga baru menemukan bahwa ternyata karib berasal dari Bahasa Arab; qoriib. Dan yang paling lucu adalah tajir! Ternyata tajir berasal dari Bahasa Arab; At-taajir, yang artinya pedagang. Jadi, kalau orang Indonesia mengartikan tajir sebagai kaya, berarti ada korelasi antara pedagang dengan kekayaan ya. Hahaha. Btw, kaya dalam Bahasa Arab sendiri adalah ghoniyun.

Your Love

I gaze to the dark, glowing sky
I notice its stars blink
In the space
Farther than this soul could fly

And that distance
Will ever be the gap
Between You
And me
If I just sit here
Wish and ask you things

My reaching hands
Shall never knock Your door
As I cry for Your Love

Because You have shown me the path
That leads to You
I just need to walk
Halfway
Because You, on the other end
Will run
Towards me
And flood me
With Your healing, soothing love
That I have always been thirsty of