Siklus
Namun, ada satu baris signifikan dalam daftar target terbaru saya: menulis setiap hari.
Bismillah.
Saya mulai hari ini.
Inspirasinya dari tokoh-tokoh terkenal, negarawan, dan para pemimpin, hampir semua dari mereka menulis buku. Pemikiran itu memang harus dituangkan.
Oke, intinya inilah langkah pertama saya. Tidak sempurna. Bahkan jauh dari sempurna. Sederhana, tidak terlalu berkonten, tapi perjalanan menuju sukses semuanya diawali dengan satu langkah pertama, ya kan? Hehe.
Oh ya, ngomong-ngomong, saya tuh buat blog baru. Tapi, rasanya kok sayang yaa untuk ditulisi? Rasanya kayak beli buku baru yang bagus gitu, jadi sayang buat ditulis-tulis :B pemikiran yang aneh.
Dosa Millenial
Aku terus scroll layar instagramku. Aku menemukan teman SMA-ku berdiri di depan sebuah danau yang teduh oleh pohon-pohon cemara, ia tidak menatap kamera, menengok ke kanan sedikit, senyum pun tidak. Coat warna hijau lumut yang ia kenakan cukup menjelaskan temperatur sekitar yang tak dapat diraih AC di Indonesia. Di bawahnya, gambar hati ditemani oleh angka 134 likes dan di bawahnya lagi ia menulis And tonight I will fall asleep with you in my heart.
Jempolku tak berhenti.
Ada sebuah suara yang lirih, begitu lemah ia berbisik, memintaku untuk berhenti.
Tapi jempolku tetap tak berhenti.
Kini kulihat sepupuku bersama sepupuku yang lain, berfoto di meja restoran dengan dekorasi antik yang indah dipandang mata. Restoran yang, mungkin, dikenal instagramable. Aku jadi berandai-andai. Andai aku tinggal satu kota dengan mereka, mungkin aku ada di sana juga.
Aku menyadari setengah jam sudah berlalu sejak aku menyentuh layar ini. Dan dalam tiga puluh menit itu, ada banyak potensi manfaat yang bisa terpetik. Aku bisa menghangatkan rendang di kulkas untuk malam ini. Aku bisa membaca buku-buku novel, yang selama ini hanya menumpuk di sudut ruang. Dibeli namun tak dibaca dengan alasan belum ada waktu, sok sibuk lalu mengambinghitamkan tugas kuliah. Aku bisa juga benar-benar mengerjakan tugas kuliahku, yang sebenarnya memang banyak, tapi akan selesai jika aku niat untuk memulai. Atau aku bisa mandi dengan tenang.
Tapi mataku seolah lekat dan jempolku terus menunjukkan gambar-gambar menarik dari kehidupan teman-temanku, kehidupan para selebgram, dan wajah cantik model-model online shop.
Warna merah pada gambar baterai di pojok atas pun tidak kuhiraukan, sungguh malas rasanya bergerak mengambil charger.
Sekarang aku tahu Linda sedang di Sidney, Tania dan Inka sedang jalan-jalan ke Jogja, Rudi ikut kepanitiaan olahraga di kampus, bahkan kabar seorang artis instagram yang tak kukenal, bahwa dia kena tifus karena kelelahan, aku pun tahu.
Sampai tiba-tiba layarku menghitam, aku sadar dia sudah tak sanggup bertahan dengan energi yang tersisa di baterainya.
Suara keras dari hatiku mengucap alhamdulillah.
Aku bersyukur bisa terlepas dari genggaman media sosial. Aku pun segera menyadari satu jam sudah berlalu tanpa ada manfaat yang bisa aku ambil. Satu jam yang berharga, aku lewati tanpa aku berkembang menjadi lebih baik, lebih pintar, ataupun lebih wangi.
Oh, akankah besok aku terlarut lagi?
Kue Mahal dan Kue Warung
Dulu pernah pesan kue seleb (aduh namanya lupa, punyanya si Omesh), gara-gara tidak sengaja pernah lihat review dari youtuber tentang kue tersebut. Awalnya tidak sengaja lihat, tapi dilanjutin nonton, jadi sengaja juga ya namanya? Hehe.
Di kali berikutnya, saya pesan H*rvest. Karena kalau beli cheese cake sulit dibawa naik bus umum, jadilah saya pengertian sedikit dan nitip cookies saja. Sebulan kemudian saya baru tahu itu harganya mahal banget, langsung berasa pemborosan huhuhu padahal keperluan baby masih banyak.
Menurut saya sih enak banget. Tapi, si Mahdi gak pernah nyentuh sedikit pun. Pernah saya paksa, makan cuma satu, lalu yaudah disudahi. Di lain kesempatan, saya paksa lagi untuk makan sambil saya memberikan pendapat bahwa kue tersebut enak banget. "Cobain deh yang cokelatnya tebal."
"Enakan g*odtime!"
Buset, kata saya dalam hati, kue mahal gini dibandingin sama kue warung, kalah pula. Hahahaha.
Di waktu berikutnya lagi, saya pesan brownies panggang yang terkenal di Bandung. Saya pesan yang original karena di atasnya ditaburi kacang almond yang baik untuk janin, wkwkwk (tetap berusaha memenuhi gizi bayi). Malamnya, datanglah brownies yang saya impi-impikan itu. Saya potong, saya makan, dan saya letakkan di atas meja.
Dari waktu ke waktu, saya menyadari brownies makin lama makin sedikit. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Mahdi. Akhirnya, ketika saya sedang bareng doi, saya coba tawari browniesnya, pura-pura gak tahu dia suka makanin browniesnya.
"Mau, mau. Tolong potongin," jawabnya.
"Suka ya?"
"Iya, ini enak banget. Mendingan ini lah ke mana-mana daripada waktu itu beli H*rvest. Mahal lagi."
Percakapan disela oleh kesibukan mengunyah.
Lalu Mahdi menambahkan,"ini enak banget. Setara lah dengan g*odtime."
What???
Hahahaha. Di situlah saya tertawa keras, tetap yaaa perbandingannya sama si kue swalayan itu.
Mendulang Medali di Tengah Ujian Sekolah
Namun, kondisi ini tidak menyurutkan langkah Muslih. Santri dikenal yang hemat ekspresi ini setiap harinya dengan serius dan istiqomah berlatih mengerjakan soal-soal matematika.
Melemaskan Jari - Sebuah Hadiah dalam Diri
Biasanya, saya jawab seperti ini, "Emang gitu, saya kalau sudah lama gak main voli, terus tiba-tiba main lagi, tangannya juga gitu kok. Tapi kalo udah hari kedua dst, udah gak gitu lagi."
Ya memang semuanya, kalau sudah lama tidak dilakukan, pasti ada proses adaptasi dari tubuh yang harus diterima. Kalau kebiasaan merokok, tiba-tiba berhenti, katanya akan terasa pusing. Kalau kebiasaan tidak main voli, tiba-tiba main, ya, yang tadi itu, tangannya merah-merah. Kalau terbiasa nganggur, tiba-tiba jemarinya diminta untuk menulis lagi... Kaku rasanya.
Beberapa pekan ke belakang, saya dapat dua permintaan untuk meliput dan menulis tentang sesuatu. Namanya juga bukan sekedar menulis blog, tulisan macam itu pasti ada deadlinenya. Alhasil, dua tulisan tadi menjadi karya yang saya paling kurang sreg melihatnya. Saya sudah buat, hapus, buat lagi, hapus lagi, save as, buat baru, hapus lagi, buat lagi, bandingkan tulisan 1 dan tulisan 2, edit, minta masukan, tetaaaap saja saya jauh dari puas melihatnya. Semua karena
Jadi, sesungguhnya, tulisan ini saya dedikasikan untuk melemaskan kembali jemari saya seperti membasahi kanebo yang sudah keras. Terlepas dari itu, memang sudah lama sebuah pemikiran mengambang-ngambang di otak saya, meminta untuk dikongkretkan melalui tinta-tinta virtual di blog ini. Ya, inilah pemanasan saya.
***
Flashback sedikit ke bulan September 2016, saya kebanjiran amplop dan hadiah dari orang-orang, yang kebanyakan, saya tidak kenal. Adat di Indonesia, pernikahan itu adalah acara orang tua, maka yang diundang juga teman-teman orang tua saya. Jadi, ya, yang saya salami selama dua jam penuh penyiksaan (baju yang dibelit-belit, kepala pusing yang ditusuk-tusuk cunduk mentul dan berbagai riasan lainnya), ya kebanyakan orang-orang yang tidak saya kenal juga, haha. Ujung-ujungnya, yang kasih saya hadiah juga orang-orang yang tidak saya kenal.
Kembali ke pasca acara, saya dan Mahdi sibuk sendiri, eh sibuk berdua deng, membuka amplop dan hadiah satu per satu. Kebanyakan orang lebih senang dapat amplop karena uang mentah bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Hadiah, bukannya tidak bermanfaat, tapi punya resiko tidak terpakai apabila kita dapat hadiah barang yang sama, sudah punya barang itu, atau memang sebenarnya bukan barang yang kita butuhkan. Namun, saya sendiri merasakan sensasi yang berbeda setiap saya membuka hadiah dibandingkan dengan membuka amplop.
Saya selalu deg-degan sendiri setiap mau membuka hadiah. Menurut saya, rasa penasaran yang timbul dan efek kejutannya itu sangat menyenangkan dan mendebarkan. Apapun hadiahnya, saya selalu merasa puas dan senang setelah membuka. Seperti rasa penasaran yang terpuaskan dan kesenangan melihat barang baru.
Dan, itulah yang saya rasakan juga selama kurang lebih lima bulan ke belakang.
Hehehe.
Selama ada si debay ini di perut, saya selalu penasaraaaaan sendiri.
Kayak apa ya mukanya?
Datangnya dia di perut ini rasanya seperti dapat hadiah. Kadang tidak sabar juga rasanya untuk membuka, tapi di sisi lain, saya sangat menikmati prosesnya.
Alhamdulillah saya diberi proses yang sangat mudah. Mual-mual hampir tidak ada. Paling hanya eneg sedikit aja kalau mencium aroma tertentu. Ngidam ini itu pun hampir tidak ada. Saya juga masih bisa beraktivitas macam-macam. Memang ada perubahan-perubahan yang harus saya terima dan saya jalani, tapi itu semua tidak memberatkan. Hehehehe.
Yang jelas, di awal, perasaan yang muncul pada diri saya hanyalah rasa tanggung jawab. Saya merasa mendapat amanah untuk menjaga nyawa seseorang, yang kebetulan dititipkan di saya. Saya hanya merasa diberi tugas tambahan untuk menjamin nutrisinya, perkembangannya, dan sebagainya. Rasa bonding terhadap si bayi ini sama sekali tidak klimaks. Saya sampai sempat khawatir juga, jangan-jangan saya ada kelainan nih kok gak merasa 'sayang' ya, sampai-sampai saya bertanya ke beberapa teman yang lebih dulu berpengalaman. Namun, kesimpulannya, saya tidak ada kelainan.
Sampai akhirnya, waktu itu di usia kandungan ke empat bulan, saya kontrol rutin seperti biasa dan dapat kesempatan mengintip doi lagi melalui USG. Dia kayak manusia mini gitu, lagi telentang menghadap atas. Tangannya menggapai-gapai entah apa, kakinya juga heboh banget kayak naik sepeda. Saya tertawa sedikit, sedikit saja soalnya jaim ada dokter, melihat kelakuan aneh di dalam perut. Sesaat USG-nya dipause, sesaat kemudian kembali menyala, dan dia sudah dalam posisi yang berbeda. Kalau tadi terlentang, sekarang seperti lagi posisi push up. Akhirnya, saya ketawa beneran. Lincah amat, sih.
Dari situ, saya mulai suka memikirkan ini anak. Maksudnya, si rasa ikatan itu sudah mulai muncul. Tapi, ternyata hanya beberapa hari setelah USG saja hahaha. Setelah itu, saya tidak terlalu ingat lagi dan hanya merasa punya tanggung jawab.
Sampai akhirnya, bulan ini saya kontrol, dan melihatnya mulai berbentuk seperti manusia sungguhan membuat saya terenyuh. Belum lagi sekarang saya juga sudah bisa terus merasakan gerakan-gerakannya. Huaaaah. Undescribable. Kalo katanya "picture says thousand words", maka picture pun tidak cukup. Hehehehehehehe.
Yaaa begitulah.. Ini hanya soal perasaan. Sebuah pemanasan menuju tiga PR tulisan saya ke depan. Doakan semoga cepat beres! :D
Kembali dalam Kabut Penuh Cinta
Anak-anak generasi saya masih banyak menghabiskan waktu di depan televisi dan playstation. Menurut saya tidak jauh berbeda, kedua benda itu menjadi terdakwa penyebab rusaknya mata anak-anak, rendahnya kemampuan komunikasi dan sosialisasi, sampai rendahnya tingkat konsenstrasi anak. Tak jauh berbeda dengan smartphone. Jadi, jangan buru-buru senang dulu jadi generasi 90an. Kita belum tentu lebih baik daripada generasi tab, smartphone, dan kemudahan digital lainnya.
Terlepas dari itu, intinya saya mau bilang, anak-anak generasi saya pasti banyak yang tahu tentang Kabut Cinta. Yi Ping, Ru Ping, Shu Huan, Du Fei, dan nama-nama Cina lainnya. Kalau sekarang yang lagi booming adalah film Korea, dulu film Cina dan Taiwan merajai televisi Indonesia. Mulai dari yang terjadul, Yoko, saya saja lupa ceritanya hahaha tapi Ibu saya suka banget. Kemudian, ada Pendekar Harum, Meteor Garden (ini justru saya gak nonton, padahal yang paling populer ya?), Kera Sakti (pasti langsung teringat sama lagu ngerapnya yang sensasional dan nempel banget di otak), Putri Huan Zhu, dan Kabut Cinta.
By the way, tulisan berikut bisa jadi mengandung spoiler Kabut Cinta. Bagi yang mau nonton lagi, dan waktu kecil gak mampu menangkap cerita (kayak saya hahaha), saya sudah peringatkan yaa hehehe.
***
Saat mengobrol singkat dengan seorang teman tentang acara televisi zaman SD, saya langsung terkenang dengan kuis-kuis zaman dulu yang super menarik. Sebut Famili 100, Tebak Gambar, Komunikata, dan lain-lain. Lalu percakapan itu bergeser jadi membicarakan film-film yang tadi saya sebutkan. Sampai akhirnya tercetus oleh mulut saya, "nonton Kabut Cinta ga?"
Teman saya sepertinya lupa-lupa ingat. Akhirnya, saya langsung mengambil HP, membuka YouTube, dan mempertontonkan episode 1 Kabut Cinta. Dari situlah rasa penasaran saya berkembang. Saya dulu memang nonton setiap pekan setiap sore. Tapi, kok, saya kayak gak ngerti ceritanya ya? Saya tidak bisa ingat cerita Kabut Cinta. Maka akhirnya, saya tontonlah film itu sampai episode terakhir. Pelan-pelan saya cicil setiap malam supaya tidak mengganggu produktivitas. Semuanya didorong oleh rasa penasaran. Dan rasa cinta.
Saya jatuh cinta. Saya tenggelam dalam kabut penuh cinta.
Bukan, saya gak jadi fanatik atau apa. Bukan karena pemerannya yang ganteng atau apalah alasan-alasan ABG lainnya. Saya justru jatuh cinta secara pemikiran. Saya kagum dengan jalan ceritanya. Saya terpesona sebagai seorang perempuan biasa yang hobi bikin cerpen.
Yang pertama tentang pembangunan karakter tokoh
Lu Yi Ping, sebagai tokoh utama, memiliki watak yang sangat keras. Ia memiliki semangat menegakkan keadilan untuk dirinya dan ibunya. Dan watak itu terus menerus dengan konsisten diperlihatkan di film. Yang paling membuat saya kagum, latar belakang yang melahirkan watak itu juga tergambar dengan jelas. Lu Yi Ping, anak dari seorang mantan Jenderal yang keras, emosian. Dialah yang menjadi contoh bagi Yi Ping dalam menumbuhkan sikap kerasnya.
Sedangkan ibunya, seorang yang lemah lembut dan cenderung menghindari konflik. Ibunya memilih untuk mengalah daripada melawan, setidak adil apapun kondisi dan situasi. Yi Ping tumbuh dalam keluarga dengan ayah beristri banyak. Istri mudanya dengan licik seringkali menciptakan kondisi yang menyulitkan bagi ibu Yi Ping, dan klimaksnya ia memfitnah ibu Yi Ping yang membuat Yi Ping dan ibunya terusir dari rumah ayahnya. Kondisi inilah yang membuat Yi Ping bergerak menjadi pelindung bagi ibunya. Ia menjadi tameng yang kuat, terus memperjuangkan hingga ibunya mendapatkan keadilan dan terbebas dari 'siksaan' istri muda ayahnya.
Kemudian mengenai premisnya dan antagonisnya
Premis. Sesuatu yang saya pelajari dari buku karangan Raditya Dika. Sesuatu yang kemudian banyak saya temukan melalui google dan pinterest. Premis merupakan satu kalimat yang menggambarkan isi sebuah karya fiksi secara keseluruhan. Premis mengandung beberapa unsur, di antaranya karakter, tujuan, dan halangan yang dihadapi oleh tokoh utama.
Tujuan tokoh utama, dalam sebuah karya fiksi, bisa jadi tercapai dan mungkin juga tidak. Semakin saya mempelajari premis, saya menyadari bahwa tujuan tokoh utama pun dapat saja berubah. Perubahan-perubahan itu terjadi karena pengalaman-pengalaman yang dirasakan tokoh utama.
Bisa saya katakan, tahapan dalam Kabut Cinta berdasarkan tujuan Lu Yi Ping terbagi menjadi dua. Tahap pertama, Lu Yi Ping memiliki tujuan untuk membalas dendam kepada ayahnya dan istri mudanya. Dan yang paling menarik bagi pemikiran saya adalah, peran antagonisnya! Sungguh bukan sesuatu yang biasa, peran antagonis yang biasanya jahat dan bermusuhan dengan tokoh utama, dalam cerita ini justru dimainkan oleh orang dekat tokoh utama, yaitu Shu Huan, kekasih Yi Ping.
Pada dasarnya anggapan bahwa antagonis adalah tokoh jahat adalah salah. Secara konsep, antagonis adalah tokoh yang melawan tujuan dari tokoh utama. Yi Ping, yang dengan keras kemauan ingin membalas dendam ayah dan istri mudanya, harus berhadapan dengan Shu Huan, yang berusaha keras menanamkan kemampuan memaafkan dan perasaan kasih sayang pada diri Yi Ping.
Keren kan??? Mungkin untuk sebagian orang biasa saja, tapi saya benar-benar kagum karena antagonisnya ini pacar sendiri. Gak mainstream gituuu...
Nah, akhirnya Shu Huan berhasil meredamkan segala api yang membakar nurani Yi Ping. Justru Yi Ping berubah dan jadi sangat sayang pada ayahnya. Tapi kalau ke istri muda ayahnya sih nggak, karena sepanjang film dia emang nyebelin sih hahahaha. Perubahan pribadi ini membawa kita pada perubahan premis. Kita masuklah ke tahap dua yang sekarang Yi Ping memiliki tujuan untuk tetap bersama Shu Huan.
Kali ini, antagonisnya sama menariknya. Antagonis diperankan oleh Ru Ping, adik tiri Yi Ping. Ru Ping ini suka juga sama Shu Huan dari awal cerita. Yang bikin menarik adalah sifat Ru Ping supeeeeeeeeer baik, sangat penyabar, penuh pengertian, selalu memaafkan orang lain, selalu memperhatikan dan mengerti perasaan orang lain, rela berkorban, tidak mau menyimpan dendam, dan sebagainya. Benar-benar semua sifat yang ada di buku PPKN SD dikumpulkan. Beda banget sama Yi Ping yang orangnya ketus, keras kepala, dan emosian. Jarang kan ada cerita yang tokoh antagonisnya baik, bahkan secara karakter bisa dibilang lebih baik daripada tokoh utama?
Itu yang buat saya tertarik. Karena saya selalu ingin bisa buat cerita yang menarik.
Many Thoughts
Sekarang pikiran saya sedang seperti itu. Bingung juga namanya apa. Sedih jelas nggak, senang juga biasa aja. Dibilang datar nggak juga, jadi apa ya? Campur aduk.
Yang jelas, saya harus membiasakan menulis lagi nih. Menulis menjaga saya tetap menjadi saya, namun tentu saja harus dengan versi yang selalu lebih baik. Harus dalam versi yang baik.
I don't know what to write.
Oh ya, ada dua pelajaran berharga yang saya dapat dari pengalaman sekitar dua tahun belakangan ini. Yang pertama, selalu pikirkan orang lain. Yang kedua, selalu pikirkan langkah berikutnya.
Ini pelajaran yang saya dapat dari seseorang yang suka ngomong, "Saya mah orangnya well prepared!"
Sebenarnya setiap saat adalah modal untuk masa depan. Orang yang selalu berhasil menjadikan setiap saatnya sebagai persiapan masa depan adalah orang yang super efektif dan efisien. Dia adalah orang yang tidak hidup di 'saat ini' terlalu lama.
Maksud saya seperti ini. Misalnya kita mau berjalan tiga meter ke depan. Kita harus melakukannya selangkah demi selangkah, kan? Dan di setiap langkah kita adalah persiapan untuk langkah berikutnya. Orang-orang yang hidup di 'saat ini' terlalu lama itu ibaratnya orang yang setiap melangkah, ayunan kaki setelahnya bukannya lebih maju, tapi malah sejajar dengan kaki satunya. Jalannya jadi lambat sekali.
Kebayang gak maksud saya? Kurang lebih begitulah hehe, sudah malam ikan bobo, Anka juga.
Refresh
Kebetulan saya habis dapat tugas dari orangtua saya yang melibatkan komputer sehingga saya seperti tergelincir (atau sengaja meluncur ya hehe) menuju blog saya sendiri. Long lost blog.
Tapi rasanya luar biasa. Membaca tulisan saya di tahun 2011-2012, yang artinya membaca pikiran saya sendiri di kala itu, saya merasa diri ini begitu fresh pada masa-masa dulu.
Kalau sekarang apa, ya? Mumet sih nggak, tapi seperti ada yang menahan. Di setiap saluran otak saya seperti banyak polisi tidur. Rasanya otak saya meminta saya untuk slow down.
I think this is a part of being wiser. I was innocent back then, now I am wiser but still in progress.
***
Dan sekarang sudah bulan Juni ajaaaaa......... Sudah akhir Juni pula astaga. Perasaan kemarin baru saja 1 Januari, tiba-tiba sudah tiba di tengah tahun ini dan saya akan menghadapi banyak hal ke depan. Hal-hal baik tentu saja hehe, baik tapi besar. Dan apapun yang besar pasti butuh persiapan, baik mental maupun fisik. Pada dasarnya manusia itu tidak suka pada perubahan, manusia adalah budak dari kebiasaan. Maka, apapun itu ya saya harus siap-siap.
Saving The World
Mungkin kita perlu terkejut, menyelamatkan dunia sesungguhnya akan terdengar lebih pantas dilakukan oleh bapak-bapak buncit berjas di gedung-gedung ibukota daripada pria ganteng berdada bidang dalam kostum superhero superketat.
Ya, karena ternyata menyelamatkan dunia lebih pantas dikategorikan dalam bidang sosial politik dibandingkan bidang olahraga dan kepahlawanan. Menyelamatkan dunia bukanlah memberantas para villain. Justru menyelamatkan dunia adalah memberantas hal-hal yang membuat villain itu ada.
Kalau dalam kamus teknik industri, menyelamatkan dunia harus menyasar pada akar masalah. Kalau dalam kamus planologi, menyelamatkan dunia harus merujuk pada isu strategis. Kalau dalam kamus d*ktarin, menyelamatkan dunia itu harus mencabut sampai ke akar-akarnya (dah jamur!).
Kalau kita perhatikan pelajaran psikologi di kelas (emang ada? hehe, cuma ada di jurusannya kali), setiap perbuatan seseorang terjadi karena dua hal, yaitu dorongan dari dalam dan rangsangan dari luar. Maka, ketika seseorang melakukan kejahatan, misalnya mencuri, sebagian besar orang akan menyimpulkan bahwa dia imannya lemah dan dia butuh makan. Lihat kan? Imannya lemah, dorongan dari dalam. Serta dia butuh makan, rangsangan dari luar - tiadanya kesejahteraan baginya.
Seseorang tidak akan mencuri jika imannya kuat dan makanan tersedia baginya tiga kali sehari dengan gizi seimbang, apalagi dengan rasa yang menggoyang lidah. Maka dari itu, menyelamatkan dunia justru merupakan sebuah rancangan program untuk menanamkan karakter yang baik ke dalam hati setiap manusia dan membuat lingkungan yang memadai bagi seluruh penduduk.
Secara singkat saya bisa langsung menyimpulkan, untuk menyelamatkan dunia, kita tidak perlu mengumpulkan seluruh kekuatan angin, air, bumi, dan api dalam raga kita dan berubah menjadi Avatar. Juga tidak perlu melawan Negara Api yang terkenal kejam dan bengis. Tidak usah pula repot-repot mencari laba-laba yang akan menggigit dan menulari kita kekuatan super membuat sarang dari ujung tangan. Untuk menyelamatkan dunia, kita hanya perlu membangun sebuah pendidikan yang baik. Sebuah pendidikan yang menanamkan iman dan karakter yang kuat dalam diri manusia. Sebuah pendidikan yang menumbuhkan rasa takut hanya pada Sang Pencipta. Sebuah pendidikan yang membuahkan kesadaran bagi si terdidik bahwa Sang Pencipta Maha Melihat, bahkan sebutir debu sekali pun tak akan terbang tanpa izin-Nya.
Dengan pendidikan, kita telah menghapus dorongan jelek dari dalam diri manusia. Namun, tidak lupa kita juga harus mengeleminir rangsangan dari luar untuk berbuat kejahatan. Untuk meniadakan rangsangan dari luar itu, kita perlu membangun kesejahteraan bagi seluruh penduduk bumi secara merata. Jika hanya sebagian saja yang sejahtera, maka bagian yang beruntung itu harus selalu siaga dari serangan kejahatan sebagian lain yang kurang beruntung. Dan ingat, kesejahteraan itu meliputi seluruh aspek, mulai dari sandang, pangan, dan papan, hingga seluruh organ tubuh kita terpenuhi kebutuhannya. Apalagi alasan mereka untuk berbuat kriminal jika seluruh kebutuhan telah tercukupi?
Maka tidak heran kan, pastur-pastur di gereja selalu bilang “Salam sejahtera”? Dan juga perempuan-perempuan berjilbab dan pria-pria berjenggot selalu mengucap “assalamu’alaikum”, yang artinya keselamatan atas kamu?
Membangun Peradaban Bersih dari Sekolah
Benang Merah di Danone
Jumat kemarin, FOODLAP diundang oleh Danone Young Social Entrepreneur untuk sharing mengenai entrepreneur. Tentu saja itu pengalaman menarik yang bisa diceritakan, tapi di lain waktu. Karena, ada hal menarik lainnya yang saya alami secara personal: terlalu banyak benang merah.
Jadi, orang yang secara personal mengontak FOODLAP namanya Aldi. Dia menyambut kami saat kami tiba di sana, setelah agak sedikit berpeluh-peluh ria di jalanan ibukota. Perkenalan singkat membuat saya menemukan benang merah pertama. Dia anak TI ITB, juga. Setelah tergali lebih dalam lagi, ternyata dia temannya Yoan di 8eh, dan beberapa kali pernah mengantar Yoan ke kosan kami. Setelah sekian tahun berjarak beberapa meter dia di depan pagar kosan dari saya di kamar, ternyata pertemuan kami mengambil tempat di kantor Danone.
Orang kedua yang menyambut kami adalah seorang perempuan muda dengan baju berwarna biru muda. Hidungnya mancung, kulitnya putih, bibirnya tipis, dan menurut saya dia mirip sekali dengan Clorinda, teman saya. Dan ternyata, dia, Adis namanya, angkatan 2009 Fakultas Hukum UI. Dia temannya Jeanne dan dia kenal kakak saya ._.
Di tengah presentasi FOODLAP, muncul lagi satu laki-laki muda berbadan besar dan gelap. Ketika melihat wajahnya, saya langsung tahu dia siapa. Usai presentasi, saya langsung mendatanginya yang baru saja beres berbincang via telepon. Dia langsung menunjuk muka saya,"Elo!" sapanya. Sungguh sapaan yang aneh. Haha.
"Abi ya, pacarnya Atoy?" Saya mencoba menyebut nama.
"Elo," katanya lagi,"kayaknya nama panggilan lo biasanya bukan Anka, deh?"
Haha. Saya tidak menjawab.
***
Selain tiga pertemuan tadi, sebenarnya ada sebuah quote yang ingin saya kutip di sini. Kata-kata ini meluncur keluar dari mulut Adis, dan saya kemarin berjanji padanya,"kalau gue punya novel, gue kayaknya mau ngutip kata-kata lo deh."
Waktu itu kami sedang membicarakan abang ojek. Tiba-tiba, dengan berapi-api, Adis mengomel,"gue paling sebel ya sama abang ojek Jakarta. Pertama, mereka suka godain cewek. Neng, neng, ojek, neng. Kedua, kalau gue datengin, gue udah mau nih sama lo, eh dia malah jual mahal! Mending gue jalan kaki."
Saat dia ngomong begitu, rasanya lucu banget. Tapi pas ditulis kok biasa aja ya? Haha.
Kenapa Megapolitan?
Saya ingat, pada film-film itu, manusia digambarkan memakai masker setiap mereka pergi. Mereka mempunyai bunker bawah tanah di setiap rumahnya, khawatir bencana alam datang tiba-tiba menghabisi mereka. Pemerintah pun disibukkan dengan penelitian antariksa, mencoba mencari sebuah 'bumi' lain di antara kelip bintang di langit malam.
Manusia yang sedang diberi cobaan dengan penyakit, yang kini hidup mereka bergantung pada alat, bagi saya itulah contoh kecil kehidupan yang tidak lagi sustainable. Dan Jakarta wujudnya kini seperti itu.
Seperti mereka yang butuh asupan oksigen untuk bernafas, Jakarta tidak bisa hidup bila tidak dipasok hasil pertanian dan peternakan dari daerah lain di Indonesia. Seperti mereka yang butuh alat demi jantung yang berdetak, rakyat Jakarta tidak bisa menjalani hari tanpa bantuan kendaraan. Semua sisi kota seperti dirancang hanya untuk automobile. Tidak pernah tampak jalur pedestrian yang pantas bagi para pejalan kaki.
Saya tidak pernah melihat arah pembangunan Jakarta menuju megapolitan ini berpihak kepada kehidupan yang baik. Dan masih ada tujuh daerah lainnya di Indonesia yang akan dikembangkan menjadi megapolitan. Parameter pembangunan hanya didasarkan pada satu ukuran dangkal: ekonomi, rupiah, uang.
"Ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah tercemar, dan ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia sadar bahwa mereka tidak bisa memakan uang."
25,5 Jam di Al Umanaa
Mantan Peliharaan
Pedas, silau
Pedas, rasanya
Semua terlihat menyilaukan
Kututup dia
Mencoba menikmati gelap
Dan dia terlarut dalam hitam
Yang kemudian bercampur
Dengan cahaya redup berwarna-warni
Sungguh enak dipandang
Dan aku melayang
Di antara awan-awan lembut
Ungu, biru, dan hijau
!!!
Aku membuka mataku dengan terkejut
Hampir jatuh dalam mimpi rupanya
Lampu kembali menyilaukan
Mataku kembali pedas
Huah,
Ngantuk.
Pohon Bentuk H
Jalan menuju perumahanku adalah jalan sempit yang diapit komplek pemakaman cina kuno. Kuburan dibangun sangat antik, begitu besar, beratap batu, bertuliskan tulisan mandarin, dan dipenuhi ilalang liar. Seandainya aku bukan penghuni sana, mungkin situs ini bisa menjadi tempat wisata yang menarik.
Selain pemakamannya yang lawas itu, ada sebuah hal unik tumbuh di dalamnya. Hal unik itu adalah dua buah pohon. Ada dua pohon di sana berdiri bersebelahan. Yang kerennya, kedua pohon tersebut sebenarnya bersatu! Di antara batangnya yang besar, terdapat sebuah batang besar yang menyatukan kedua pohon itu. Seperti bayi kembar siam.
Kalau dilihat-lihat, pohonnya seperti membentuk huruf H.
Tapi sayang, ketika saya sudah agak dewasa, sekitar SMA atau kuliah, hujan deras dan angin keras melanda komplek kami. Pohon yang sebelah kiri tidak mampu mempertahankan diri sehingga tumbanglah ia, mematahkan sambungan hebat di antara mereka.
Sekarang, dua pohon itu sudah tiada. Warga sekitar memutuskan untuk menghabisi mereka berdua setelah tumbang satu di antaranya.
Jangan setengah lah
Di mana-mana, pekerjaan yang setengah-setengah tidak bakalan sama sekali membuahkan hasil yang oke.
Hasilnya pasti serba tanggung; investasi atau biaya mungkin lumayan, tapi hasilnya bagus mah ngga. Nanggung kumaha kitu.
Makanya saya, dan kebanyakan orang, kalau memilih di antara produk serupa, tapi ada yang lebih mahal namun berfitur lebih juga, pasti menimbang-nimbang keduanya. Lebih mahal dikit, asal kualitasnya jauh sih gak masalah.
Namun, ada sebuah hal besar, yang sangat krusial, di dunia ini yang dijalankan setengah-setengah. Setengah hati. Istilah inggrisnya: half-assed. Dan hal krusial besar itu adalah: transportasi Indonesia.
Kalau saya mau menciptakan sistem - sistem pasti punya aturan, kan - pasti saya desain sistemnya dengan pengendalian, untuk menjamin semua aturan terlaksana.
Sayangnya, kalau di sini:
Peraturan ada
Rambu-rambu dan marka jalan ada (investasi buat begini gede, lho)
Tapi pengendaliannya...
Aturan-aturan itu tidak ditegakkan dengan utuh. Hanya setengah-setengah dari seluruh sistem itu yang ditegakkan.
Bahkan si penegak-penegak aturan itu yang juga melanggarnya. Mereka pernah menyuruh saya menyeberang tidak di zebra cross. Dan di depan mobil saya, mereka menampakkan telapak tangannya di hadapan saya (tahu kan, kekuatan super orang Indonesia kan ada di telapak tangannya. Bisa berhentiin mobil dengan sekali lambaian. Wkwk), lalu menyeberangkan banyak orang di tengah-tengah jalan tak berzebra cross.
Ngapain sih setengah-setengah.
Lihat kan, hasilnya sekarang transport Indonesia ga ada bagus-bagusnya.
Tulisan yang Termudah
Hari ini langit begitu mendung, awan berpendar-pendar dalam cahaya matahari. Udara pun terasa agak dingin. Absennya matahari dan kehangatan, membuat saya teringat pada maggot-maggot dan lalat tentara hitam yang sedang FOODLAP kembang biakkan di kosan Rizan. Mereka sepertinya salah satu di antara makhluk-makhluk yang butuh kehangatan. Sejuknya hari ini membuat saya khawatir akan perkembangannya.
Dan akhirnya pun saya menulis di pagi hari, meluapkan pikiran-pikiran lewat tulisan. Sudah dua hari saya absen menulis - sayang sekali. Kemarin-kemarin, menulis terasa berat karena saya selalu memaksa diri saya menuangkan perkataan-perkataan yang berat pula; tulisan dengan topik-topik berbobot. Masalahnya, tidak setiap hari saya mood untuk menulis yang seperti itu.
Tapi justru mood itulah yang harus dibabat.
Harusnya menulis bisa menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari hidup saya. Dan harusnya, juga, menulis menjadi suatu kegiatan yang begitu mudahnya saya lakukan, seperti bernafas, menggerakkan otot jantung, mengkontraksikan otot lambung~
Jadi lah, hari ini saya menulis tulisan yang termudah.
Hobi adalah Cinta
Malaikat
Tak pernah kulihat
Datangnya ia dari langit
Namun seketika muncullah
Di sampingku, membawa pelita
Bagi kalbuku yang merindu
Tidak,
Tiada sayapnya
Tiada pula memancar cahaya
Hanya senyum yang menyenangkan
Dan kata-kata yang menenangkan
Mengiring sepercik hujan
Bagi hatiku yang gersang
Dan ia pun bercerita
Kisah-kisah yang lalu
Kisahnya yang penuh ilham
Buatku tertegun membayang
Dan ku semakin jatuh cinta
