Malam yang Panas

Percakapan dengan tenang melalui ruang-ruang digital baru saja saya ketak-ketikkan dengan santai, di tengah udara dingin Kota Maastricht. Duduk di ruang hotel yang sangat unik penataannya, ditemani sekaleng cokelat yang sangat terkenal di negerinya Si Kumpeni.

Bumi terus bergulir, gelap dan terang terus menggelincir menyaplok daerah kekuasaannya. Tanpa dirasa-rasa, daerah GMT+01 ini makin melarut dalam gelap antariksa. Sedang mata saya masih melotot menangkap gelombang-gelombang menyakitkan dari monitor laptop.

Target-target hari ini, satu, dua, yak, sudah terlaksana dua. Biasanya agenda harian saya mencapai enam, itupun tidak selalu saya sempurnakan semuanya. Hanya satu-dua yang menjadi prioritas selalu saya usahakan.

Percakapan terus berlanjut, isinya penting-penting, menyangkut pekerjaan maupun urusan pribadi. Dan semuanya terasa menyenangkan. Sampai sebuah kejadian di dunia non-digital itu kembali terulang.

Ah.

Muak saya, berulang-ulang kembali yang seperti ini. Seperti matahari yang pasti tenggelam, sedikit percikan saja langsung membakar seluruh hati dan pikiran saya. Kepala saya seperti terbakar-bakar dalam angkara dan perasaan saya bergemuruh seperti badai di musim panas.

*

Seandainya saya naga, mungkin udah nyembur dari tadi kali ya.

1 comments:

Jeanne Eureka said...

Percakapannya tentang apa itu yang diomongin? Tentang mengakhiri masa lajang kah? Atau apa? Aing kepo nih, makcik khkhkh