Difference

Jess, the Australian girl.
"Hey, Jess, try to say 'water',"
"Wotah?"

Yew Thong, Singapore guy
"So, if you're eating by yourself, you usually say 'I'm eating alone', right?"
Everybody nodded.
"But in Singapore, you can just say 'I eat myself'."

Jacqueline, loves Singlish very much.
"Singlish is about how you speak lazy. It's a lazy English."

Isaac, the Hongkong boy
"Isaac, what does that mean?" I pointed at Mandarin characters.
"Shi... Wo bu che dao, it's read ... (speaking in Mandarin distinctively) and, um, oh sorry did I just speak in Mandarin?"
-__-
"Yeah, you don't say did."

Hui Xin, loves SNSD
I was practicing my Korean.
"Hui Xin, namjak chingu juseyo?"
"HAHA you just said 'give me boyfriend'!"
"HAHA NOOO, I meant 'namjak chingu isseoyo?' (do you have boyfriend?)"
// "Her hair is very straight. Mashiseoyo (delicious)."
"HAHA"
"OH! -__- I meant moshiseoyo (beautiful)!!"

Ain and Ufai, Malaysian students
"Bisa tolong ambilkan sendok?"
"Sorry?"
"Eh, hm, spoon."
"Oh. Di Malaysie ini suduk dan garfu."
"Oh, di Indonesia ini sendok dan garpu."
"Sendok yang itu."
"Oh, itu centong."
"Centong yang untuk mandi."
...
"Itu gayung."

(akan diperbarui lagi kalau ada yang menarik)

Semalam

Semalam mimpi aneh sekali; saya berhasil membunuh ularnya Voldemort, lalu saya bertemu teman saya yang bangkit dari kematian ("gimana rasanya bangkit dari kematian?" "pegal," jawabnya, lalu mengulet).

Bertepatan dengan itu, para Death Eaters berhasil menemukan saya dan saya langsung lari. Mereka mengejar saya, akhirnya saya pergi ke pojokan rak buku, lalu jongkok di sana pura-pura jadi batu (what????! -_-).

Dan mereka percaya dong kalau saya itu batu. Krik.

Lalu akhirnya seorang teman saya datang menyelamatkan saya dan langsung duel dengan Death Eater itu.

Haha. Mimpi aneh.

Published with Blogger-droid v2.0.4

Introduction

Senior dari Malaysia ini menjabat tangan saya.
"Name kamu siape?"
"Anka."
"Sorry?"
"Anka."
"Hamka?"
"Anka."
"Oh, sabar, ya."

Hmm, mukanya terlalu datar untuk bercanda.

"Maaf?"
"Sabaria."
Oooooh.

***

"What's your name?"
"Yu Tong."
"Su."
"Hui Yin."
"Hui Xin."
"Okay, err, sorry, what's your name, again?"
"I'm Hui Xin."
"I'm Hui Yin."
...

***

"My name's Yoon Seok."
"Pardon?"
"Yoon Seok. Just call me Yoon, please, sometimes people don't pronounce it well, so it's heard like you suck."

***

Seorang perempuan berkulit sawo matang dengan jilbab biru keluar dari ruangan. Segera saya susul.
"Sorry, international student?"
Matanya menatap dengan familiar.
"Yes, you too?"
"Ya. Where are you from? Indonesia?"
"Yes."
"AH, AKHIRNYA. Tapi saya harus pergi haha yaudah duluan ya."

***

"Hey, You Suck," Jess terkikik sedikit,"so would you like to be in one group with us?"

***

jadi, siapa yang hebat hayo?

Menulis, sepertinya adalah sebuah hal sederhana.

Dapat membaca sebuah buku, itu pun tampaknya sederhana. Terdapat serangkaian kalimat tercetak di bundelan kertas, kita menangkap bentuk hurufnya, membacanya dan memahaminya sebagai sebuah makna.

Semua hal yang kita pahami, mengerti, dan kita kuasai dengan baik sampai saat ini, banyak kaitannya dengan apa yang telah kita baca. Bukan hanya baca, tapi juga dengar, rasakan. Semua yang disampaikan oleh indera-indera kita ini.

Jadi, sebenarnya, saya sekarang mampu memahami materi integral, rumus-rumus fisika, dan apapun itu, semua tidak lepas dari kumpulan informasi yang sudah saya timbun dari kecil.

Intinya, maksud saya, memahami ilmu-ilmu tersebut, sepertinya adalah suatu pencapaian yang membanggakan bagi seseorang. Padahal, sebenarnya, ilmu-ilmu itu sebenarnya datangnya dari dunia luar yang ditangkap oleh indera lalu diolah oleh otak kita, misalnya ya membaca tadi.

Saya coba kutip dari buku Psikologi Komunikasi karangan Drs. Jalaludin Rakhmat, M.Sc.
"...Ketika Anda membaca buku ini, retina mata Anda, yang terdiri dari 12 juta sel saraf lebih, bereaksi pada cahaya dan menyampaikan pesan dari cabang-cabang saraf yang menyambungkan mata dengan saraf optik. Saraf optik menyambungkan impuls-impuls saraf itu ke orak. Sepuluh sampai 14 juta sel saraf pada otak Anda, disebut neuron, dirangsang oleh impuls-impuls yang datang. Terjadilah proses persepsi yang menakjubkan. Bagian luar neuron, dendrit, adalah penerima informasi. Soma mengolah informasi dan menggabungkannya. Axon adalah kabel miniatur yang menyampaikan informasi dari alat indera ke otak, otak ke otot, atau dari neuron yang satu kepada yang lain. Di ujung axon terdapatlah serangkaian knop (terminal knobs) yang melanjutkan informasi itu..."

Yang mau coba saya sampaikan, kehebatan kita akan pahamnya akan sesuatu ilmu itu, sebenarnya bersumber dari sesuatu yang kita anggap mudah, sederhana, dan wajar, yaitu  proses persepsi dari indera kita terhadap dunia luar, seperti membaca, mendengarkan, mengalami, dan sebagainya. Padahal, sebenarnya, proses itu merupakan proses yang jauuuuuuuuuuuh dari sederhana. Seperti dapat dibaca di atas, kita bisa ngerti proses saraf itu pun belum tentu. Melibatkan jutaan sel saraf yang bahkan kita lihat saja belum. Selama mencoba membaca atau mendengar itu, terjadi proses yang kita sadari pun tidak.

Ada sesuatu yang hebat merangkum di sini.

Jadi sebenarnya, kita lebih pantas untuk bersyukur daripada berbangga atas semua ilmu yang sudah kita serap dan pengalaman yang kita pelajari.

Ah, kali ini, saya agak sukar menuangkan isi pikiran saya, tapi ngerti-ngerti aja kan? ~_~


Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.
(Surat Al An'aam:98)
 

widya kelana

So, I'm having this summer school in KAIST, South Korea. I'm taking Project Management class. After about 4 days being the only Indonesian, I started to think in English. You know, it's like my brain talking to me in English. (dan itu menyedihkan.) Now, I'm already used to listen in English. I think my listening skill improves a lot.

Tapi gue pengen tetep ngomong Indonesia. Hahaha. Dua hari pertama, lidah gua gatel bet rasanya pengen ngomong Indonesia. Yang cukup menekan juga, kebanyakan yang datang ke KAIST ini sebagai international student adalah orang-orang Singapur yang rasnya adalah Cina dan bahasanya adalah Mandarin. Jadi, kadang-kadang mereka bicara dalam bahasa Mandarin -_- Rasanya seperti menjadi tuli dan tidak terlibat dalam pembicaraan :|

wo bu che dao ni shuo shen me laaaa, wo bu ming pai.

haha.

that's the only sentence I can talk to them whenever they get deep in their Mandarin conversation.

Banyak sekali cerita menarik di sini. Semua rasanya berhenti di ujung lidah saking ga ada orang yang bisa diajak cerita hahaha. Kemarin oke sih, akhirnya gua videocall si Abay yang lagi rame-ramean di HMP dan gua pun bisa melepas kegatelan lidah gue yang udah kebelet banget pengen ngomong endonesa. Tadi juga  ujung-ujungnya gue ngehubungin sekre HMP yang selalu ramai pengunjung kayak dufan.

Tapi ya tetep aja, gak cerita-cerita banyak juga. Kayaknya, bercerita adalah salah satu kebutuhan hidup primer gue deh hahahahaha, rasanya gak bisa aja hal-hal seru dan menarik kayak gini disimpan sendirian.

Jadi yah, salah satu kisahnya akan gua ceritakan di sini.

(mari bicara dalam kata ganti saya)

Tadi profesor saya memberikan dua buah artikel di kelas. Kedua-duanya berkaitan dengan dunia teknologi informasi. Saya baru baca salah satunya. Menurut saya, ini adalah artikel yang menarik. Judulnya adalah:

IT Doesn't Matter, by Nicholas G. Carr

Intinya, yang penulis coba katakan di sini adalah, penemuan IT itu sangat berguna. Orang-orang menyangka, IT adalah faktor besar penentu kesuksesan perusahaan. Namun, penulis berpendapat bahwa IT adalah sesuatu yang sudah tidak terlalu berpengaruh.

Coba pikirkan keadaan zaman dulu ketika listrik masih jarang. Perusahaan/pabrik yang bisa mendapatkan sumber listrik itu akan mengalami banyak keuntungan dan kemajuan dibanding perusahaan lain. Tapi, ketika infrastruktur tenaga listrik sudah menyebar merata dan bisa diakses semua orang, kepemilikan akan listrik menjadi tidak terlalu berpengaruh. Listrik bukan lagi barang langka, tapi justru menjadi komoditas.

Sama halnya dengan IT, sekarang internet sudah bisa diakses semua orang. Karena itu, IT bukan lagi hal yang bisa membuat sebuah perusahaan lebih unggul daripada perusahaan lain, tapi IT adalah sebuah infrastruktur umum, standar.

Sedikit saya kutip dari sana,

"That's not to say that infrastructural technologies don't continue to influence competition. They do, but their influence is felt at the macroeconomic level, not at the level of the individual company. If particular country, for instance, lags in installing the technology - whether it's a national rail network, a power grid, or a communication infrastructure - its domestic industries will suffer heavily."
Dapat poinnya, kan? IT bukan lagi faktor yang terlalu berpengaruh dalam kesuksesan sebuah perusahaan. Tapi, pengaruhnya hanya akan terasa di level makro. Kalau teknologi, infrastruktur maupun informasi, belum menunjang dengan baik di suatu negara, maka industri lokalnya akan sangat menderita.

Mungkin penulis tidak bermaksud begitu, tapi saya langsung merasa negara saya sedang ditunjuk oleh si penulis.

Dalam artikel ini juga disebutkan sejarah-sejarah mengenai perkembangan infrastruktur (penulis menggunakannya untuk membuktikan bahwa IT sudah berada di siklus akhirnya). Contoh-contoh yang penulis berikan antara lain penemuan jalan raya, pembangunannya, betapa langkanya jalan raya saat itu sehingga memiliki akses menuju jalan raya merupakan daya saing yang sangat besar, sampai kini menjadi komoditas umum, yang sudah tidak terlalu berpengaruh pada kesuksesan perusahaan secara individual. Pola yang sama diikuti oleh rel kereta api, pembangkit tenaga listrik, dan, menurut penulis, sekarang diikuti juga oleh teknologi informasi.

Saya tidak akan membahas mengenai poin tadi, tapi, saya langsung, yah sedih juga, saat menyadari, semua yang ada di 'sejarah' mereka itu, listrik, rel kereta, bahkan jalan raya, saat ini belum cukup baik di Indonesia. Berapa orang yang protes mengenai jalan di Tamansari, Bandung, yang bocel-bocel kayak bulan? Berapa orang berusaha melakukan pengabdian masyarakat dengan memasukkan listrik ke daerah Indonesia yang belum tersentuh lampu sama sekali?

Bahkan, ketika negara maju sudah hampir sempurna infrastruktur teknologi informasinya, Indonesia sepertinya masih terus mengembangkan infrastruktur yang pembangunannya sudah jadi 'sejarah' negara-negara maju tadi.

Hmm.

Pantas saja, banyak yang mengatakan kita belum siap untuk globalisasi. (jadi teringat isu yang pernah diangkat Kajian Strategis KM-ITB: ACFTA, MP3EI, dll. mungkin bisa digugel kalau mau lebih ngerti?)

PR banyak nih buat kita :D hihi, ya gapapa lah, kalau kata dosen saya, dan saya suka kalimat ini,

"Masalah adalah peluang perbaikan."
kita seperti dihadapkan pada ribuan proyek untuk dikerjakan :D seru juga kan hahahahaha daripada ga ada kerjaan samsek ntar tiap hari malah nonton doraemon doang. Doraemon juga munculnya seminggu sekali doang kali, jam 8 pagi hari Minggu di RCTI *loh kok ngiklan*.

Sedikit ingin mengaitkan dengan yang selama ini saya kerjakan di acara Pasar Malam ITB; UMKM sangat terkait dengan masalah infrastruktur ini. Dulu saya sempat berdiskusi dengan beberapa orang di ITB, dan tanggapan mereka adalah keilmuan di ITB, kecuali beberapa jurusan, kurang terkait dengan UMKM. Saya, awalnya, setuju dengan pernyataan tadi. Tetapi, setelah dipikir-pikir, yang akan dikerjakan teknik sipil, lingkungan, penerbangan, kelautan, geodesi, arsitektur, planologi, elektro, informatika, daaaaaaaan lain-lain, kan infrastruktur juga!

haiya! :D

rasanya kemampuan menulis saya mulai menurun

kepindahan saya ke kosan lain, yang, sayang sekali, tanpa internet, ternyata cukup berpengaruh pada kehidupan blog ini. ketika saya membuka blogger lagi, rasanya seperti melihat ceret tua di sudut ruangan, kilapnya sudah jenuh termakan debu, berteman dengan untaian benang-benang dari laba-laba kecil.

padahal saya punya internet di HP. kenapa tidak digunakan ya?

emang lebih malesin sih kalau nulis di HP. di laptop saja mata cepat lelah, bagaimana di handphone? kecil, silau pula. hmm. rasanya ingin kembali ke dunia analog. tidak juga sih, banyak  kemudahan dari dunia digital ini, tapi rasanya, makin banyak pula yang... palsu.

palsu, bet.

lari di candi saja bisa sambil duduk dan hanya menggunakan jari. if you know what I mean.

yasudah. rasanya komentar saya tentang dunia digital, teknologi, dan antek-anteknya pernah saya bahas di blog ini sebelumnya. sekali lagi, saya suka kok teknologi. saya sendiri pengguna teknologi-teknologi mutakhir itu. tapi yah, jangan sampai dunia asli kita yang fana ini terlupakan. coba saja lihat, kenapa dunia pariwisata masih terus berjalan? kenapa orang masih suka ke pantai, naik gunung, dan bertualang keliling dunia? padahal kan, semua itu bisa diakses melalui foto-foto dan google.

ya karena memang lebih seru mengalami langsung yang aslinya daripada lewat google. dunia asli masih jauh lebih indah dan menyentuh lebih banyak indera kita daripada foto-foto digital itu, setuju?

setujuan, bro.

coba lihat komik ini, book of future
sepertinya dia juga sepikiran dengan saya. baguslah. hoho.

yah, saya hari ini, diwakili oleh tulisan ini, sebenarnya hanya ingin membersihkan sedikit debu dari ceret usang tadi. semoga laba-labanya cepat gulung tikar dari sini.

Semoga Masih Sempat

Semua ada di tangan-Nya.
Waktuku mungkin sebentar, mungkin kumasih diberi penangguhan.
Butuh lebih dari dua dekade untuk aku menyadari, memaknai.
Kesempatan itu, perjumpaan itu, seperti matahari mengintip di ujung subuh
Pengetahuan itu, pelajaran itu, cahayanya tak terkira.
Semua ada di tangan-Nya.
Jam terus berdetak, doaku tidak sia-sia usia ini.
Semoga masih sempat.

Karena Karena

Manakah yang cuma-cuma
Ketika apa ditimbang
Karena mengalikan
Melipatgandakan apa-apa

Apa-apaan!

Tertulis di sana mereka yang berlaku
Dia pikir dia baik?
Apa-apaan?!
Karena karena segalanya
Apa yang kau lakukan?
Tertutupkah matanya?
Seperti berjuang, untuk berkhianat, kaukah di sisi kami?
Dia bilang, karena!

Apa-apaan, hanya seujung jarilah kita
Seperti kau celupkan itu ke lautan luas
Di situlah kita, yang tersisa
Seperti sebuah titik bintang di malam hari


Tertutupkah matanya, galaksi-galaksi raksasa bertaburan
Begitu besar, kuasa itu

Tertutupkah matanya, samudra luas menderu
Setetes air kita di antara

Siapa? Siapakah dia?

Apa yang kau lakukan?
Karena karena kau harus genggam di hati
Seluas alam semesta, ketika bintang berkelip lemah
Setetes air dan setitik debu
Lihatlah itu gunung nan besar, memasok bumi hingga ke dalam
Hancurlah dia nanti, begitu besar, kuasa itu

Karena itu kau harus tahu
Karena karena membuatmu mau
Tertutupkah matanya?
Sia-siakah?



Published with Blogger-droid v2.0.4

Sudah Maret Lagi

Maret lagi. Tahun 2012.

Sudah setahun berlalu sejak... sejak Maret tahun lalu.

Entah kenapa, bulan-bulan ini tahun lalu adalah masa-masa yang paling saya ingat dalam hidup setahun kemarin. Ada apa ya? Mungkin karena Sketsa. Itu looooh, acara kaderisasi wilayahnya SAPPK. Acara Sketsa selalu tampak 'baik' di mata saya. Dari pertama kali saya jadi peserta 2 tahun silam, hingga tahun lalu akhirnya saya menjadi panitia acara.

Saking 'baik'nya di mata saya, saya sampai benar-benar kepingin jadi panitia acara di Sketsa itu. Meskipun dinasti acara saya harus dilengserkan oleh Gavrila karena satu dan lain hal (haha canda gav), saya tetap senang menjalankan tanggung jawab saya di sana.

Rasanya juga, Maret dan April tahun lalu membuat hidup saya lebih baik. Hmm, bukan karena Maret dan Aprilnya, tapi, kayaknya ya kayaknya, sejak masa-masa itu gradien hidup saya jadi makin tajam, dan menaik. Fufu. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

<3

Yah dan sekarang sudah Maret lagi. Sudah setengah jalan malah.

singkat aja

menyenangkan sekali.

gue pikir gue ga akan ada koneksi internet di kosan ini, tadi siang gw sampe kayak orang oon nempel-nempel ke tembok ujung berharap dapet percikan wifi dari arjip 4 alias tetangga hahahaha. dapet sih ternyata, lumayan juga, poor signals tapi. terus on off on off gitu. yaudah gw jadi ogah, lagian daerah yang dapet sinyal di pojokan dan gelap. ntar orang mikir gw macem-macem lagi. haha.

akhirnya gue balik ke kamar dan tiba-tiba dapet ide (ting! ada lampunya keluar) 'coba bikin modem pake hp aja'

DAN SUKSES.

haha menyenangkan sekali, koneksinya lumayan cepet lagi. masang Ym gak mati-mati.

wew, teknologi memang sudah berkembang. top markotop rotoptoptoptop (Y)

Yaaah, teruntuk yoan, kalo lo mau online bisa nyolong wifi HP gue. ntar gw kasih passwordnya asal lo bawain oleh-oleh ye dari singapur.

tapi sedihnya, ini jam setengah 3 pagi, dan semalem gw belom makan malam -_-
gara-gara paginya olahraga lalu lanjut beberes kamar, sore-sore pas selesai gue tepar banget. terus ya itu, gue nempel-nempel tembok nyari wifi, dan balik-balik malah internetan di kasur. ceritanya mau nunggu solat isya nih, eh malah keboboan. ngek. belom makan malem. tadinya pengen ngajak temen makan, tapi males sms, yaaaah beginilah jadinya.

sekarang kepikiran pengen sahur tapi ga ada makanan. pengen keluar cari makan, tapi... bodo. bodo amat ga mau ah sendiri serem juga jam segini kalo ketemu penyamun-penyamun. ampun bang ._.

nyaaah nyacuda, marilah menyelesaikan hal-hal yang belom selesai kemaren malem. kyakya.

seharusnya

seharusnya sekarang gue lagi nugas. atau, kalau emang males nugas, seharusnya gue beres-beres.
tapi, wah, betapa tidak menyangkanya sekali gue. setelah sekarang hampir selesai, gue baru menyadari betapa baiknya selama ini. rasanya..... gue tidak cukup berterimakasih dengan itu.

seharusnya, gue lebih berterimakasih.

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)"

Jadi, apa?

"Kamu ada apa-apa ya sama dia?"

"Hah, apa sih, mengada-ada  saja."

"Iya, kok, kata orang-orang, kamu sesuatu banget sama dia."

"Eh- jangan berpikir yang nggak-nggak, ya!"

"Dia kan nggak banget, kok kamu mau?"

"Ih apa sih, kamu kayak apa banget deh."


Coba sampaikan pada saya apa arti itu semua --- apa-apa? jadi, apa? Kayak apa banget? Jadi, seperti apa?

Seandainya Marah Roesli membaca tulisan ini, reaksinya bagaimana ya

Anjing

"Anjing lo!"
Aku menoleh. Laki-laki berbadan pendek berada di hadapanku. Bibirnya bergetar, nafasnya terengah-engah oleh teriakannya sendiri.

Laki-laki pendek itu sampai basah oleh keringat di mukanya. Kemarahan itu sepertinya benar-benar membakar ubun-ubunnya.

"Dasar anjing tolol, bisanya kabur doang! Pengecut lo, dasar anjing! Beraninya main di belakang! Anjing!"
Aku bersuara pelan -- dan, seperti yang kuduga, orang itu tidak peduli. Kenapa dia berkata seperti itu? Itu kasar sekali, aku sampai ingin menangis. Aku tidak pernah kabur dari apapun, aku juga tidak pengecut dan aku tidak hanya berani main di belakang.

"WOI! Jangan diem aja! Semua gara-gara lo! Gua gak mau tau, lo yang tanggung jawab, jing! Lo pikir, ini semua bisa dibayar pake duit hah?!"
Aku benar-benar sedih, aku tidak pernah berbuat kesalahan, apa yang harus aku pertanggungjawabkan?
"WOI NJING!"
Aku menyahut lemah,

"Guk."  

Australy?

Saya tiba-tiba teringat pada percakapan di suatu tahun 2009. Ceritanya, Yoan waktu itu mau kirim surat via pos ke Nadia, di negeri kangguru sana. Entahlah, kebodohan memang sedang melanda kami.

Yoan: eh australia tulisanna gimana ya (bersiap menulis di amplop kosong)

Prianka: austra...

Yoan: a u s t r a l y, ya?

Prianka: eh, pake 'y' apa pake 'ie' ya?

Yoan: aduh...

Mbak-mbak pos: (nada datar, muka bete) A U S T R A L I A.


Krik.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Angkot Penuh Cerita


Juni 2009
Saya dan Dimba duduk diam-diaman di mikrolet. Segerombolan anak SMP (mereka kecil sekali, mungkin pas SD cuma segede Detective Conan) berdiri di pinggir jalan saling berteriak pada satu sama lain. Mikrolet menepi, menawarkan diri untuk ditumpangi.

Dua orang cewek naik sambil berteriak,"DADAAAH."

Dadah-nya mereka dibalas dengan berlebihan oleh gerombolan itu sementara mikrolet lanjut pergi. Dua anak itu lalu saling berbincang dengan riang dan heboh diiringi tawa-tawa cekikikan. Tiba-tiba mikrolet ini melewati tiga anak cowok, kecil juga, dan berseragam SMP. Dua orang meneriakkan sebuah nama ke mikrolet dan satu orang lagi memalingkan muka.

Tidak saya sangka-sangka, hal ini menimbulkan reaksi cekikikan dari satu anak cewek ini.

Sambil melotot kekanakan, dia berkata,"iiiiih, si Putra kan suka sama elo tauuuuu~"

Saya langsung menangkap tatapan Dimba dan kami berdua langsung memalingkan muka dan tertawa sendiri tanpa suara.

***

Suatu hari di tahun 2011
Angkot agak penuh dan saya duduk dengan sesak di dalam. Namun, dua anak perempuan di ujung sana tidak terlalu peduli dan ribut-ribut sendiri sementara ibunya duduk diam kelelahan. Yang satu berumur sekitar 7 tahun dan satu lagi sekitar 5 tahun. Yang tua sibuk mengomentari mobil-mobil di sekitarnya sementara yang kecil menebak-nebak nama warnanya.

"Ih mobilnya ijoooo!"kata yang kecil.

"Caheum-ledeng,"si kakak menyebut trayek angkotnya.

"IJO MULUUUT!"

***

10 Januari 2012
Dua orang anak SMP duduk di pojok mikrolet, berhadap-hadapan. Yang satu cewek, satu lagi cowok.

Sementara saya asik membenarkan  rambut yang terus menerus tertiup angin, mereka bercakap-cakap sesekali. Percakapan didominasi oleh si cewek. Saya tidak terlalu memperhatikan, angin menyerbu wajah saya, membawa serta partikel-partikel debu dan benih polusi lainnya sehingga saya harus menyipit jadi mirip orang Jepang (eh, nggak deng, kan kata s*nzhui orang Jepang itu putih hahahaha).

"...baru putus katanya," dengung si cewek.

Saya menoleh, jadi tertarik pada yang baru saya dengar, percakapan anak SMP.

Cowok mengangguk tidak peduli.

"Iya,"lanjut Cewek,"Nia putus. Lo tau Rama ga? (cowok menggeleng) Itu yang ketua ----- (motor lewat, saya tidak dengar kata-katanya) ... dia mantannya Nia, tapi masih sayang sama Nia. Jadi dia gak rela ngelihat Nia diduain, makanya deh sekarang jadi kayak gini."

Cowok menggumamkan sesuatu. Cewek melanjutkan,"gue juga masih sama Adam. Dia tau gue masih sama Adam. Gue juga tau dia masih sama si itu. Makanya, ah, ribet deh."

Mikrolet melaju kencang, saya menyiapkan uang dan,"kiri, Bang."

***

Kisah Si Pek


Hai. Nama saya Pek. Ibu saya orang Thailand, Ayah saya orang Indonesia, tapi mereka sudah bukan suami istri - paham maksud saya?

Bulan lalu Ibu saya menikah dan saya memutuskan untuk pindah ke Indonesia, bersama Ayah saya. Jangan pikir selama ini saya jarang bertemu Ayah. Dia itu orang penting katanya, makanya banyak duit dan bisa bolak-balik Jakarta-Pattaya atau sekedar mengirimkan saya tiket Garuda ke Jakarta.

Saya sekarang kuliah di suatu universitas terkenal di Indonesia. Meskipun ayah saya orang Sunda dan saya bisa berbahasa Indonesia, tapi logat saya masih aneh. Tidak, saya tidak menganggap diri saya beserta logat saya itu aneh. Tetapi, anak-anak Indonesia itu, memang tidak di depan saya tapi saya tahu, berkata demikian.

Saya tidak peduli, sampai suatu saat saya menyadari mereka menganggap nama saya aneh. Padahal, justru nama mereka yang aneh. Bunga. Apa itu? Mawar, Bimo, Nadila, Putri.

Aneh semua.

Tahu tidak, nama saya itu bagus.

Tanpa saya, ekspektasi hanyalah sebuah ekstasi.

Teknologi

iPad murah banget atau gimana, saya gak ngerti, tapi kenapa banyak banget ya yang punya iPad di dunia ini. Bukan iPad doang deh, semua benda elektronik yang disentuh sedikit saja sudah bisa bereaksi dengan canggih, kayaknya di mana-mana ada (termasuk di rumah saya - punya kakak saya itu).

Rasanya, di mana-mana juga, saya lihat mereka (kecuali kakak saya) memainkan potong-potongan buah -- yang buahnya loncat-loncat dan kita harus memotongnya ala ninja, seolah-olah kita pakai pedang padahal cuma nyentuhin jari ke monitor. Saya juga pernah memainkan permainan itu dan memang seru. Bukan seru sih, tapi gravitasi gamenya semacam besar gitu. Adiktif. Selain itu, ada juga si burung marah alias angry birds yang diluncurkan membunuh babi-babi hijau. Padahal babinya mukanya lucu loh, kenapa harus dibunuh? Hmm, mungkin karena mereka haram (asal). Hahaha.

Oh iya, ngomong-ngomong soal Angry Birds, waktu itu saya pernah melihat post di 9gag yang agak nyinyir. Haha, ini dia:
Hmm, gak tau sih apakah benar computing power HP-HP kita sekarang lebih besar daripada milik NASA waktu itu, tapi yang jelas, yah, kita sudah berada di zaman yang... kalau orang-orang bilang, 'lebih mudah'.

Saya kurang setuju sih kalau hidup sekarang dibilang lebih mudah. Menurut saya, setiap hal yang dianggap positif dan memudahkan umat manusia, pasti diiringi kesulitan juga.

Eits. Negatif benar pikiran barusan. Hahaha.

Gini deh, setiap manusia diberi kesulitan, pasti Tuhan memberi kemudahan juga di situ (sama saja sih, cuma kata 'kesulitan'nya didahuluin daripada 'kemudahan' biar kesannya lebih positif thinking). Mungkin, teknologi-teknologi yang diberikan Tuhan pada kita sekarang karena adanya cobaan-cobaan lain yang lebih - lebih apa, ya? bukan lebih berat, hmm, mungkin, lebih berbeda dibanding zaman dulu.

Dan akibat kemudahan itu juga, tuntutan bukannya makin diberatkan ya? Yaudah, langsung pakai contoh konkret; dosen saya bilang waktu zaman beliau kuliah, beliau ada tugas besar menggambar teknik part mesin di kertas dan itu membuat dia begadang berhari-hari. Tapi, tugas kami sekarang lebih ribet; harus membongkar mesinnya, membuat gambar per part di komputer (yang nyatanya lebih mudah dan cepat dan praktis daripada gambar tangan), lalu menggabungkan part-part itu menjadi model mesin di komputer. Dosen saya bilang, kalau dulu saya disuruh begitu juga, bisa-bisa saya begadang berminggu-minggu, tapi kalian kan sudah mudah, ada software, jadi ya kalian bisa disuruh begitu.

Intinya: jaman dulu sama jaman sekarang sama saja susahnya (atau mudahnya). Cuma berbeda saja.

Balik lagi ke si NASA tadi, memang benar sih, kesannya kita insignificant banget dibanding orang jaman dulu. Dan, inilah hal yang benar-benar saya perhatikan:

Alat-alat elektronik menarik dan keren dan praktis itu sudah merajalela di rumah-rumah tiap orang, dan anak-anak juga sudah mulai menyentuhnya. Dan, mungkin, permainan-permainan di situ, yang dirancang dengan baik dan dengan grafis yang keren pula, lebih menarik daripada kerjaan-kerjaan kita waktu kecil pas lagi luang.

Waktu saya kecil, ada game juga sih; SEGA, Nintendo, terus pas gedean dikit ada PS. Tapi itu kan lebih gak praktis dibanding tablet-tablet sekarang. Dan tablet sekarang portable pula. Terus, kalau main PS bakal ketauan satu rumah karena harus di TV rumah. Jadi, intinya, saya terbatas dalam main game. Lebih terbatas dibanding mainin tablet.

Waktu kecil, kalau saya lagi ada waktu luang (sebenarnya selalu luang gak sih? hahaha) saya biasanya gambar-gambar. Itu waktu TK sampai SD awal. Begitu sudah bisa menulis, saya mulai sering menulis-menulis cerita tidak bermutu di kertas bekas yang sudah disiapkan ibu saya. Saya juga sering menggambar di tembok kamar saya, gunting-gunting kerajinan dari majalah, membuat cap dari kentang dan wortel, main masak-masakan, ngupasin bawang saat ibu saya sedang masak, naik sepeda, main PS (tentu saja hahahaha), menjahit baju buat boneka saya, baca buku cerita, nonton Amigos (bahaha), daaan masih banyak lagi.

Itu sih saya. Kalau anak kecil sekarang??

Saya tidak tahu sih, saya belum punya anak. Tapi, waktu itu saya makan malam bersama keluarga saya di restoran sushi di daerah Tebet sana dan di samping saya ada dua orang ibu-ibu dengan dua orang anak SD. Saat ibu-ibu itu asik makan dan bercengkerama, satu anak ini main potong-potong buah yang tadi saya bilang itu.

Kalau bahasa 9gagnya: dafuq? -__- (hahaha, semalam saya mimpi buka 9gag loh, tetoot)

Di restoran saja main ai-fad (iPad behehe), gimana di rumah? Maaf, menyimpulkan sendiri, tapi itu yang muncul di pikiran saya.

Lagian, sepupu-sepupu saya yang masih kecil-kecil juga sudah bergaul dengan gadget-gadget itu. Dan blackberry jugaaaa. Seolah-olah, semua kegiatan saya waktu kecil itu... (muncul flashback dalam warna sephia) menggambar, menulis, menari, menyanyi, bersajak... (bahkan saya tidak menari menyanyi dan bersajak hahaha) tergantikan oleh gadget itu!!

Ah!

Tidak!

Bukannya saya anti teknologi, justru saya sekolah di institut teknologi, tapi saya tidak rela kalau teknologi malah jadi penyebab masalah-masalah baru. Sering kan, dengar kata-kata ini: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Dan sekarang seolah-olah teknologi itu menjadi penumpul kreativitas anak-anak. Aaaah. *menangis menjerit berlari di tengah hujan*

Padahal, teknologi dalam iPad, blackberry, dan produl-produk lainnya sebenarnya ditujukan, saya yakin, untuk yang baik. Misalnya untuk e-book, sangat hijau sekali ya. Memudahkan komunikasi, apalagi untuk pebisnis-pebisnis, orang kantoran, dan siapapun lah yang butuh komunikasi cepat lancar dan butuh menggenggam dunia dalam tangan. Saya pribadi berpendapat, anak SD belum butuh laaah, mau ngapain dia sama akses google yang tidak terbatas di handphonenya? Bisa buat searching-searching pelajaran sih, tapi kan tidak seurgent si orang kantoran tadi, yang sedetik lewat saja mungkin berpengaruh pada investasinya atau kliennya atau apalah (hahahaha saya jadi mahasiswa sok tau).

Yaaah, marilah bersama-sama kita manfaatkan teknologi sebaik-baiknya, dan mengantisipasi buruk-buruknya. Supaya hidup ini indah seperti sajadah (maksa). Senang seperti benang. Lucu seperti pikachu.

-____-

Selamat liburan atau selamat SP atau selamat ujian lagi! Bye

Keluhan?

Bermula dari liburan yang agak lowong ini, saya jadi lumayan setia sama komputer beserta koneksi internetnya (hehe). Akhirnya, youtube pun menjadi salah satu tongkrongan saya. Oh ya, Dj Earworm sudah menambah lagi koleksi lagu-lagu remixnya doski dan lumayan keren (Y). Coba cari ini aja di youtube: world go boom.

Selain lagu-lagu dari Amerika itu, saya juga buka video-video dari Korea, untuk spesifiknya: Girls' Generation alias SNSD.

Nah ini dia

Hahaha, kalau mau asal ngejudge, muka mereka muka cewek-cewek manja gitu gak sih? Yang kesannya sedikit-sedikit ngomong "Aaah~" manja gitu, sambil mukul lemah tanpa usaha tanpa tenaga. :P

Tapi tapi tapi!

Saya tiba-tiba melihat di Youtube, mereka ternyata tanggal 24 Desember kemarin harus konser berkali-kali di tempat yang berbeda. Waw, itu jadwal yang padat sekali ya. Dan di videonya pun mereka tampak selalu bahagia dan cling dan penuh senyum.

Itu diaaa maksud saya, pesan yang rasanya tiba-tiba muncul dari ciwi-ciwi ini. Selama ini, saya merasa, terutama setelah muncul twitter ya, jaringan sosial itu jadi seperti tempat untuk mengeluh. Yah, mungkin maksudnya hanya untuk melepas kepenatan dan curhat memang kebutuhan manusia, tapi sialnya, kalau 'curhat' dipajang di akun sesuatu, curahan hati itu kadang-kadang dianggap seperti keluhan. Apalagi tulisan itu akan terus terpajang secara digital di handphone dan laptop orang-orang, jadi rasanya kayak, apa ya, keluhan terus menerus?

Saya pernah, waktu itu saya buka twitter pagi-pagi, lalu ada tweet dari seseorang yang kurang lebih isinya
'Alhamdulillah akhirnya blablabla'

Lalu saya scroll lagi dan muncul berikutnya adalah
'Huff, masih banyak kerjaan blablabla'

Kalau saya pribadi, tweet pertama itu seperti memberi energi positif dan tweet kedua agak-agak bikin demotivation. Bahaha, lebai sih, tapi ternyata tulisan itu bisa memberi pengaruh lumayan ya, entah positif maupun negatif.

Iya, jadi si SNSD ini padat sekali kerjaannya dan, menurut saya sih melelahkan (coba bayangkan latihan nari, nyanyi, rekaman, make up, bangun pagi-pagi ke stage pertama, pindah lagi naik mobil ke tempat lain, make up lagi, nari lagi, pindah lagi, make up lagi, tampil lagi~ @_@ ), tapi mereka tetap tersenyum di panggung. Ya memang itu tuntutan pekerjaan, sih, dan saya tidak tahu di belakang panggung apakah mereka nangis-nangis dan keluh sana sini, tapi mari kita ambil sisi yang kelihatan baik saja hehe. Kesannya, kalau dilihat dari Youtube, hidup mereka tanpa masalah gitu, tapi apakah iyaaa? Ah, pasti mereka juga punya masalah; cewek-cewek umur 20an tahun, belum lagi kalau lagi PMS hahaha. Tapi harus selalu tampil dengan senyum dan tawa dan kebahagiaan yang tak terkira.....


Beheheh.

Yaaah lanjut, dan mereka berani sekali untuk operasi plastik. Eh bukannya saya pro operasi plastik dan mau operasi plastik, mungkin di Korea sana operasi plastik biasa saja kali, ya, tapi, kan tetep aja, sakiiit. Daaan, ini pesan kedua yang tiba-tiba saya lihat; no pain no gain. Kalau orang-orang pada bilang "Ah mereka cantik kan gara-gara oplas. Malesin, ah", tapi ayolah, bukannya justru itu ya, mereka berani berjuang untuk apa yang mereka inginkan.

Eh, tapi gak berarti saya pengen oplas, ye.

Yaaah, jangan jadi lebih lemah dari SNSD deh ya hahaha

Ngalor Ngidul

Hari ini saya menonton GPMB lagi - di bangku barat a.k.a kelas paling rendah dan harganya 40 ribu. Saya jadi ingat, 7 tahun lalu di suatu Desember 2004, harga tiket barat cuma 5000 Rupiah.

Delapan kali lipat. Lumayan juga ya, ibaratnya kalau hari ini saya beli iPhone 7juta, tahun 2018 nanti 56juta.

@_@

Hahaha, perumpamaan saya agak salah sih, tapi ya sudahlah. Intinya ada dua, 1) barang makin mahal, 2) waktu berjalan cepat sekali ya, saya makin tua saja.

Iya nih, sebenarnya ada sesuatu yang, kalau dalam bahasa facebook, it's complicated, antara saya dan waktu. Ada sesuatu antara saya dan kenyataan bahwa saya semakin tua dan saya bukan anak-anak, bahkan bukan remaja lagi. Hahaha, apakah semua orang merasa begini atau saya saja? Rasanya kayak ada perasaan tidak rela gitu dan mata saya langsung memandang jauh dengan nanar setiap kali saya memikirkan, dulu..., atau wah teman-teman saya, dan saya, sudah dekat sekali ya dengan dunia kerja, pernikahan,...


Ih~

Coba saja bayangkan sendiri, ketika kita harus menghadap orang tua dan ngomong saya-mau-nikah.

Hi.

Haha, tidak masalah sih, bukannya saya tidak mau, tapi coba bayangkan perasaan yang bakalan muncul di sekitar peristiwa itu. Hahaha, antara geli, malu, deg-degan, tapi pengen. :3

Yah sudahlah ya, biarkan itu menjadi peristiwa di empat sampai lima tahun lagi. Kalau dulu banyak undangan ulang tahun di McD, lalu berubah menjadi undangan sweet seventeen di tempat yang lebih 'dewasa', dan kemudian tahapan berikutnya mungkin mulai ada undangan 'eh makan-makan yok gua minggu depan wisuda', dan berikutnya... undangan pernikahan.

EA EA EA kenapa jauh amat mikirnya hahahahahahahahahahahahahaha.

malu sendiri.

Iya iya iya, pokoknya saya tadi nonton GPMB. Tapi tahun ini PSUMB tidak main jadi ya saya menikmati band orang lain aja. Mungkin saat-saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk membuka http://trendmarching.or.id haha pasti seru dan forumnya ramai membahas band-band seantero Indonesia.

Oh ya, sekedar info, dari penyisihan tadi (baru selesai baca), peringkat 1 untuk final adalah... Pupuk Kaltim Bontang (yah memang prediksinya begini :P ), diikuti oleh Udayana (selamat!) dan kemudian di peringkat 3 ada BCK Duri (selamat juga!). Korps Tarakanita lumayan juga dapat peringkat 7. Yasudah, selamat beristirahat ya pemain-pemain semua, semoga besok tampil baik di final :)

Ngomong-ngomong, menurut saya, marching band adalah salah satu contoh dalam kehidupan bahwa proses lebih penting daripada hasil. Bukan hasil pertandingan ya, itu mah penting, haha. Tapi, jadi gini. Marching band itu kan membentuk barisan-barisan tertentu. Nah, barisan yang bentuknya indah itu akan berhasil indah kalau selama proses pembentukan barisannya baik. Misalnya ada sebuah barisan lurus yang harus pindah empat meter ke samping. Kalau hasil akhirnya barisan lurus itu tepat berpindah 4 meter ke samping, tapi selama perpindahan si pemain-pemainnya berantakan dan tidak menjaga barisan tetap lurus, maka yang penonton lihat, permainan mereka jelek. Tapi, kalau mereka berpindah tapi dengan cantik, lurus, dan bagus, meskipun ternyata perpindahannya cuma 3 meter, itu tetap dianggap sukses!

Tuh kan, memang proses lebih penting deh kayaknya.

Haha, ya sudah lah, selamat bulan Desember!

2011

Semester lima bahkan sudah mau berakhir. Saya, yang seharusnya semester lima, dan dengan sukarela turun lagi ke semester tiga (karena apa hayoooo), sekarang sudah berada di penghujung tahun lagi. Suka tidak suka, saya makin bertumbuh, tua, dan harusnya makin dewasa.

Ngomong-ngomong, blog ini sudah usang sekali, ya. Berdebu, tidak terawat.

Haha sudahlah, mari kita lanjutkan perbincangan. Rasanya baru kemarin 2010, bakar-bakaran makanan sama Jeanne dan Riri di belakang rumah, sampai rumah berasap dan rambut bau daging. Hahaha, sekarang sudah mau Januari lagi dan si Jeanne sudah punya pacar, nanti tahun baruannya bareng kita-kita apa pacar ya Jeanne? Hehe :P

Tapi tahun ini tetap saja akan berlalu dalam hitungan hari, saya sendiri belum menghitung berapa hari (malas ingat-ingat tanggal), tapi tadi pagi Yudki bilang tinggal 11 hari lagi. Ah, ngomong-ngomong soal Yudki, mungkin dia akan bertanya ini pada saya:

"Nduk, bukuku sudah selesai kau baca belum?"

Dan pastinya saya selalu jawab dengan pembuka berupa 'maaf' dan penutup :3 sebagai rayuan supaya sabar menunggu bukunya. Hahahaha.

Maaf ya Yud :3

Yaaah, balik lagi, sekali lagi tahun ini sudah mau berakhir dalam hitungan 11 hari dan betapa banyak anugrah Tuhan selama 354 hari ke belakang. Mungkin, ada cukup kesedihan dan kesulitan yang saya hadapi selama hampir setahun ini tapi ya lihat lah sekarang, saya baik-baik saja dan... what doesn't kill you makes you stronger B)

Bahaha.

Tapi, kalau diingat-ingat, kayaknya yang bahagia-bahagia dan senang-senang lebih banyak deh.

Coba kita recall. Saya diberi kesempatan untuk mengubah jalan hidup saya, saya disadarkan mana yang baik dan mana yang tidak, saya diberi kesempatan untuk menjalankan yang saya senangi, menyayangi orang lain, dan lebih mendekat kepada-Nya.

Masih ada satu masalah menyisa sebenarnya, tapi mudah-mudahan bisa diselesaikan secepatnya Januari ini, atau kalau bisa sebelum ganti tahun deh. Hahaha.

Yah sudahlah, sebenarnya seseorang pernah bicara pada saya (sebagai tanggapan atas vakumnya blog ini),"ayolah Jap, nulis lagi. Jangan jadi lemah."

Iya juga sih, rasanya seperti kemampuan saya menumpul :/

Mungkin tahun depan target saya harus menyangkut tulis-menulis kali ya.