Mendidik untuk Hafal?

Aku sangat bersyukur saat membuka pintu belakang rumah. Siraman matahari yang begitu menyengat langsung berganti dengan udara sejuk dan lampu redup di dapur. Sambil sekilas menyapa Ceu As, aku langsung menapaki lantai yang dingin ke dalam rumah.

Seperti yang telah aku duga, gadis kecil ini menyambutku dengan riang. Dia langsung menggamit tanganku dan menarikku untuk duduk di meja makan.

"Mbak, main sekolah-sekolahan yuk," katanya riang.

"Hayuk," jawabku,"mau belajar apa, Dek?"

"Bahasa Indonesia."

Rupanya, sedari tadi dia sudah menenteng-nenteng buku tulis. Dia menaruhnya di hadapanku dan memberikanku sebuah pensil tumpul.

"Aku gurunya, Mbak muridnya, ya," dia memaksakan skenarionya.

"Ya udah, apa soalnya, Dek?"

Dia membuka bukunya yang lain, lalu membaca keras-keras dengan intonasi anak SD - ada cengkok naik di ujung kalimat,"apakah yang disebut dengan membaca istenif?"

Aku menaikkan alisku.

"Istenif?"
***
Anak SD sekarang rupanya diajari hal-hal yang artinya pun mereka tidak mengerti. Jangankan artinya, mengejanya pun masih susah mereka. Istenif tadi, ternyata, maksudnya adalah intensif. Jadi, di sekolahnya, saat ulangan maupun tugas, mereka ditanyakan definisi dari membaca intensif. Bukan cuma itu, ada lagi teori tentang membaca lantang.

Saat dahiku berkerut-kerut bingung, tidak tahu jawaban apa yang harus aku berikan untuk pertanyaan tadi, akhirnya si Adek langsung memberi tahu aku teori-teori yang harus aku hafalkan. Yang pertama adalah membaca i-isten-in-innn-tennn-sifff. Rupanya, membaca intensif adalah kegiatan membaca di dalam hati tanpa bersuara, menggerakkan kepala, dan menggunakan jari atau alat bantu sebagai petunjuk, dengan tujuan memahami isi bacaan.

Ada lagi jenis membaca yang lainnya. Membaca lantang adalah membaca dengan bersuara dengan tujuan untuk mendengar dan memahami isi bacaan.

Naon.

Apa gunanya menghafalkan makna kedua jenis membaca tadi? Toh aku hidup di dunia ini 23 tahun, tidak menyadari adanya dua jenis cara membaca yang berbeda, tanpa kesulitan yang berarti. Suka-suka gue lah mau baca sambil nunjuk atau teriak-teriak. Lagian, memang kenapa membaca lantang dibedakan dari membaca intensif? Kadang-kadang, aku bersuara kok kalau aku mau intense membaca. Sama-sama membaca intensif kaaan?

Yang aku lumayan sebal, pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku tulisnya semua bersifat menyalin teks di buku. Misalnya seperti tadi, apa yang dimaksud dengan membaca intensif? Padahal, yang penting bukan hafalannya. Yang penting adalah pemahaman konsepnya dan pemahamannya dalam mengaplikasikannya di dunia nyata.
***
"Pertanyaan ketiga!"

"Ya, apalagi," tanggapku tidak bersemangat. Aku mulai heran dengan pertanyaan-pertanyaan dari gurunya ini. Dan juga dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini.

"Di manakah kita membaca intensif?" tanyanya. Tentu saja, ngomong intensifnya belepotan.

Aku tercenung. Wah akhirnya ada yang lepas dari hafalan.

"Di kamar!" jawabku tiba-tiba senang.

"Salaaah," sahutnya kecewa. Kecewa kakak sepupunya ini salah melulu jawabnya dari tadi. Ya iyalah, mana gue tau gitu loooh.

"Loh, di mana dong?"

"Ayo Mbak, inget-inget di mana? Mungkin di tangan, di otak, di rambut..." dia berusaha memberiku clue.

"Oh..." aku agak terperangah,"maksud kamu, di dalam hati?"

"Iya!"
***

Sudah lama aku menyadari, adikku yang satu ini pemahamannya memang tergolong kurang. Dia cenderung untuk menghafal dan saklek pada definisi yang ada di lingkungannya.

Kala itu, dia sedang membuat gelang dari karet warna-warni. Ada alat sederhana khusus untuk membuatnya. Ketika membeli perlengkapan itu, adikku diajari oleh penjualnya bagaimana membuat gelang dan cincin. Rupanya, cara membuat gelang dan cincin itu berbeda, karena memang bentuknya dibuat berbeda.

Dia, yang berpikir kakaknya serba bisa, memintaku mengajari cara membuat cincin. Sudah lupa katanya. Berhubung saat itu aku belum tahu bahwa ada cara sendiri untuk membuat cincin, aku jawab saja,"ya sama aja dong dek sama gelang. Bikin aja lebih kecil."

"Ih gak gitu tau!" bantahnya,"ada caranya sendiri!"

Sekali lagi, ya mana gue tau, tapi di situ aku mulai sedih karena dia tidak mampu menangkap konsep cincin yang kecil dan konsep cara membuat gelang yang bisa dikreasikan. Contoh tadi bukan satu-satunya kasus yang membuatku menyimpulkan tentang kurangnya dia dalam memahami. Tentu ada yang lain lagi, dan semua itu tertuju pada satu kesimpulan. Dia hanya menghafal apa yang lingkungannya katakan. Dia tidak berusaha untuk memahami konsepnya. Padahal, dengan paham konsep, kita bisa berkreasi toh.

Dan aku mulai yakin musababnya ada pada pola pendidikan yang hanya menuntut hafalan.
***
Mereka benar-benar hanya diajari hafalan. Definisi suatu kata. Harus hafal, tidak mengerti tidak masalah. Aku makin bertambah frustrasi di soal-soal berikutnya.

"Sekarang..." Matanya naik turun mencari-cari soal yang ingin dia berikan,"oh coba jawab, apa yang disebut dengan intonasi?"

Dengan yakin tidak akan salah, jawabku,"nada bicara!"

"Salaaah!"

Whut

"Apa dong, Dek?"

"Lagu kalimat."

...

Yah, meski memang ternyata definisi dari KBBI adalah demikian, tapi ya gak gitu juga kali. Ada beberapa lagi pertanyaan-pertanyaan yang secara konsep aku telah benar menjawab, tapi tetap dia salahkan karena berbeda dengan yang ada di buku. Tapi aku lupa pertanyaan apa lagi. Yang jelas, tidak salah kalau aku menyimpulkan bahwa dia sebenarnya tidak mengerti makna dari intonasi. Dia hanya hafal.

Aku jadi penasaran, kalau dia menjawab 'nada bicara' untuk pertanyaan tadi dalam ulangannya, akankah disalahkan oleh gurunya?
***
Sepertinya, tidak adil kalau aku dengan sepihak, dan tanpa riset apapun, menyimpulkan semuanya dengan satu frasa "anak SD jaman sekarang...", lalu geleng-geleng kepala. Karena, sepertinya, masa SDku juga dihabiskan dengan pola yang memangkas kreativitas.

Ceritanya, aku dari kecil senang membaca buku dan menulis. Ada satu buku cerita yang aku cukup sukai. Buku tipis itu bercerita tentang Anastasia. Itu loh, salah satu film kartun yang sempat booming tahun 90an akhir.

Buku itu dimulai dengan prolog dari seorang tokoh bernama Vladimir. Vladimir sendiri juga tokoh di dalam cerita, namun di buku itu dia mendapat peran lebih sebagai narator. Semua kisahnya dituliskan dari sudut pandangnya.

Pada kesempatan itu, guruku meminta anak-anaknya untuk membuat cerita tentang liburan panjang kemarin. Akhirnya, aku membuat sebuah cerita diawali dengan prolog yang kurang umum. Meniru konsep buku Anastasia dengan gayaku sendiri. Di saat anak-anak lain memulai cerita dengan "pada liburan kemarin aku bersama keluarga aku pergi ke...", aku membukanya dengan paragraf yang agak nyentrik.

Sebenarnya gak nyentrik sih, biasa saja. Berbeda, lah.

Esoknya, ibu guru itu mengulas cerita yang kami buat hari yang lalu. Di depan kelas, dia langsung membahas cerpenku, meski tanpa menyebut nama, namun dia mengejeknya. Dia bilang, ngaco banget bikin cerita kayak begini, lalu dia bacakan ceritaku.

UNTUNG, aku tidak langsung minder dan terpangkas percaya dirinya. Untung aku yakin pada buku Anastasia dan hanya menganggap bahwa guruku ini memang kurang pengetahuan. Untung kreativitas aku tidak dia matikan.

Fuh.


Usaha dulu, baru minta

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suat kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Ar-Ra'ad: 11)
Bagi saya, dengan dasar pengetahuan saya dari Al-Quran, tidak ada suatu kondisi di mana kita mengandalkan Allah sepenuhnya. Hasil usaha kita, memang, semua karena Allah. Ya jangan sampai deh kita menjadi orang yang sombong dan merasa mampu hidup tanpa Allah, seperti orang-orang yang digambarkan dalam Surat Az-Zumar: 49.
Maka, apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (Az-Zumar: 49)
Tapi, apakah Dia memberikan hasil atas apa yang kita usahakan atau tidak, itu semua wewenang Allah. Kedaulatan sepenuhnya milik Allah. Dan, kalaupun kita menerima pemberian Allah, pemberian-Nya itu semua karena Dia menilai usaha kita.

Seperti seorang Ibu yang akan mengizinkan anaknya bermain bola di luar jika anaknya telah cukup belajar hari itu. Ibu pasti menilai usaha anaknya dalam belajar, bila tidak cukup keras ya tidak diizinkan. Namun, bila anaknya telah belajar sungguh-sungguh, tetap sepenuhnya hak Ibu untuk mengizinkan atau tidak.

Bisa saja anaknya lagi pilek, kalau sudah belajar ya tetap tidak diizinkan. Nanti ga epet embuh :( Atau di luar rumah sedang panas terik hujan badai kita lalui bersama, masa dikasih izin? Ntar atit lagii. Atau ibunya mau jalan-jalan ke mall anaknya disuruh jaga rumah haha canda.

Jelas-jelas, kalau tidak ada usaha apapun sama sekali dari diri kita, kenapa kita bisa-bisanya meminta macam-macam kepada Allah?

Padahal kita telah ceroboh, tidak bisa kita dengan seenaknya bilang,"ya sudahlah, gue yakin nanti pasti Allah kasih jalan."

Kasarnya ya, tahu diri lah.

Tapi saya gak ngomong begitu loh, itu orang kasar yang ngomong. :|

Allah bilang bertawakallah, bukan pasrah. Tawakal itu beda dengan pasrah. Tawakal itu berjuang sekerasnya dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, ikhlas dengan keputusan-Nya, dan selalu yakin bahwa kita memang mendapat yang terbaik dari Allah. Tapi kalau pasrah itu hanya meminta saja pada Allah, tanpa perjuangan, tanpa usaha, tanpa keringat.

Cerita-Cerita yang Ingin Dikisahkan

Pagi ini, langit sangat mendung. Udaranya benar-benar dingin. Angin memaksa masuk lewat celah-celah jendela, membuat kulit saya jadi agak merinding.

Semalam saya tidur meninggalkan beberapa kewajiban. Habis, sudah terlanjur terlalu ngantuk. Sebenarnya tidak terlalu ngantuk sih, mata saya tidak menyipit-nyipit dan kelopak mata saya belum terasa begitu berat. Tapi saya tahu saya ngantuk karena saya mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan tidak beres. Seperti membuka keran air galon saat gelasnya tidak ditaruh di bawahnya, daaan banyak hal ‘skip´lainnya. Saya jadi teringat dahulu, waktu SMA, ketika saya lagi mengantuk dan ingin minum, saya malah mengisi gelas saya dengan air keran. Whut da hell.

Ada beberapa kisah yang ingin saya ceritakan, saya mau bodo amat dulu sama kerjaan-kerjaan saya yang lain. Sebenarnya, menulis setiap hari kan juga bagian dari kewajiban saya untuk memenuhi perjanjian dengan Nona Prianka. Dan, pekerjaan-pekerjaan lain sudah terlalu sering saya dahulukan daripada pekerjaan pribadi saya ini. Kini saatnya saya menulis di pagi hari, saat otak masih segar, matahari belum menyengat, dan waktu masih banyak.

***
Tiga hari yang lalu adalah hari pertama saya tahu bahwa di kosan ini ada shower air panas. Meski sudah dua tahun tinggal di sini, bukan sesuatu yang tidak wajar kalau saya baru tahu, sebab bapak kosan saya yang dulu melarang anak kosan menggunakan kamar mandi itu. Bapak kosan yang sekarang ternyata mengizinkan (tanpa saya ketahui), hanya jika para pemilik kosan tidak sedang mendiami rumah ini.

Pagi itu cukup dingin, meski tidak sedingin hari ini. Bayangan-bayangan akan mandi air panas muncul di benak saya – duh nyaman sekali. Saya pun segera turun ke lantai dasar dan menyalakan heater. Heater harus dinyalakan dahulu selama setengah jam agar airnya panas.

Saya kembali ke kamar dan berkutat dengan laptop lagi. Sekitar setengah jam kemudian, saya langsung turun lengkap membawa sabun, sikat gigi, shampoo, dan handuk.

Namun, tiba-tiba, di lorong pintu sedang berjalanlah kakak ipar Ibu Kosan, menggeret dua koper yang besar-besar. Dia menyadari kehadiran saya di depannya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap saya. Senyum senang melebar di bibirnya, lalu menyapa saya dengan keras dan bersemangat.

“Selamat pagi!!”

Ah, tidak jadi mandi air panas.
***

lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn.

*) kisah ini ditulis dalam bahasa kalbu. sepertinya gak compatible sama blogger :3

***
Menengok juga wajahmu,
Kupikir silau matamu akan sorot lampu
Hingga begitu gelap bayangannya
Dan yang ada di baliknya.

Wajah yang tertengok,
Berapakah?
Mata-mata tertuju dalam sorot
Aku melihatnya tidak berkedip
Dalam pesona indah tarian dan senyuman.

Di samping sini
Membuatku ingin melangkah
Pintu yang terbuka
Siraman cahaya matahari
Hingga ku hangat dengan siramannya
Dan matahari bilangku untuk diam
Agar tak ada yang lihat
Aku dalam sinaran.
***

Semalam saya tertidur di atas jempol kiri saya sampai-sampai jempol saya sakit. Tertidur dengan posisi menyakitkan, pantat di bangku, jempol di atas meja, dan kepala di atas jempol.

Saya terbangun berkat telefon dari teman, dan tak lama syaraf-syaraf saya mulai sadarkan diri. Denyut sakit dari ujung jempol terasa hingga ke ubun-ubun kepala.

Akhirnya saya tidur lagi dengan lebih baik, dengan pantat di bangku dan kepala di kasur.

Tengah malam, saya terbangun. Pinggang yang melayang itu sungguh posisi tidur yang menyebalkan. Saya pun bergeser untuk tidur dengan sempurna di kasur.

Pagi ini, jempol saya memar.

***

lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn.

*) kisah ini ditulis dalam bahasa kalbu. sepertinya gak compatible sama blogger :3

Menunggu mood

Ada suatu Gagasan Besar di kepala. Gagasan Besar menggoyang-goyangkan isi tempurung kepalaku dengan keinginannya untuk tumpah menuju dunia.
Dia ingin didengar, dan dia mau sekarang juga.

Dia mengalir keluar menuju jari-jemariku, menggerayangi pembuluh darahku di sana. Dia mendesak-desak nadiku, memaksa keluar lewat ujung jariku.

Tangaku geli karenanya.

Tanganku gatel.

Aku ingin menulis.

Sekarang dia meledak-ledak di dalam badanku. Mendidih, seperti orang sakaw, dia gemetaran meminta keluar. Bosan dia berkurung di dalam kepalaku.

Tapi, lihatlah. Sekarang sudah jam setengah 7 pagi, ada pekerjaan yang harus kusambut sebentar lagi. Aku harus siap-siap. Tidak akan sempat kutuliskan semuanya.

*

Dia paham maksudku. Dia tahu saat ini aku digencet oleh sempitnya waktu. Dan, yang jelas, dia tahu aku jadi tidak mood untuk menulis.

Dia menyerah. Dia menyusut masuk ke dalam kepalaku meninggalkan jari-jariku yang kini terasa hampa, meringkuk di tengah otakku.

Semoga dia tidak hilang dilekang waktu.

Prolog Film

Bandung terbangun dengan pelan.
Cahaya matahari perlahan merambat menyapa, begitu lembut seolah berbisik.
Langit berawan biru muda, rasanya sangat... sendu.
Sunyinya dunia, tanpa hentakan drum dari radio, tanpa bising knalpot, bahkan tanpa kicau burung, membuat semuanya semakin... sendu.

Rasanya, cocok sekali hari ini menjadi permulaan sebuah film tentang kiamat atau zombie apocalypse.

Buku adalah Jendela Dunia

Buku adalah jendela dunia. Kalau saya hanya membaca, maka saya cuma seorang penonton dunia dari dalam rumah saya, menontonnya melalui jendela saya yang sempit.

***

Peribahasa umum buku adalah jendela dunia menginspirasi orang-orang untuk menjadi pembaca yang rajin. Buku adalah jendela dunia menyemangati sebagian untuk gemar membaca.

Saya juga senang membaca buku, meskipun akhir-akhir ini jarang sekali saya menyentuh buku selain buku tulis dan buku agenda. Tapi saya masih sering membaca artikel-artikel di laptop. Yah, tapi laptop kan jendela (windows) juga, hehe.

Dengan membaca, saya jadi tahu banyak hal-hal baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Saya juga bisa mengetahui penelitian-penelitian baru, yang kadang-kadang erat kaitannya dengan keseharian saya. Atau bahkan, jawaban 'kenapa' atas banyak hal, yang terkadang terlalu biasa untuk dipertanyakan mengapa. Misal, mengapa langit biru, mengapa pelangi hanya setengah lingkaran (karena setengahnya ada di matamu).

Tapi, jangan lupa. Buku hanyalah jendela dunia. Ingatlah, one only knows the road once he walks the road.

Tidak ada pemahaman yang utuh hanya dengan membaca, Yang terpenting adalah menjalankan atau mempraktikkan apa yang dibacanya, mencobanya sendiri. Misal saja saya membaca peta, tentu saya bisa tahu arah dan jalan dari Dago menuju Cileunyi. Tapi, jika saya tidak pernah menapakinya, saya tidak akan pernah mengerti dengan sempurna bagaimana caranya menuju ke sana.

Kalau saya hanya pembaca peta, saya mampu menjelaskan arah menuju Cileunyi. Tapi saya tidak akan pernah bisa menyebutkan bahwa kalau ke sana macet loh di daerah Margahayu, dan di sana ada jalanan bolong-bolong, udaranya panas saat di Soekarno-Hatta dan jadi dingin ketika di Cileunyi, dan ternyata di daerah sini banyak premannya mending hindari.

Buku adalah jendela dunia. Kalau saya hanya membaca, maka saya cuma seorang penonton dunia dari dalam rumah saya, menontonnya melalui jendela saya yang sempit.
Kasih
Tidak pedih
Karena sedih
Tak perih

Kala hati
Terpatri
Pada mati

Senyum

Di dunia ini, ada beberapa jenis senyum.

Mungkin, banyak yang mengklasifikasikan senyum menjadi dua golongan, yaitu senyum tulus dan senyum palsu. Tapi, sore ini aku melihat lebih.

Aku berjalan beriringan bersama Kak Gita, menikmati udara sore di tepi taman kota.

"Gita!"

Suara berat memanggil nama kakakku dari belakang. Sontak, kami berdua menoleh lalu Kak Gita melontarkan sebuah senyum kepada laki-laki itu. Senyum untuk menyapa.

"Halo,"jawab Kak Gita manis.

Senyum halo.

"Eh- halo," jawab laki-laki itu kikuk.,"lagi apa di sini?"

"Jalan-jalan aja sama adikku," Kak Gita mengedikkan kepalanya kepadaku. Aku bertatapan dengan laki-laki seumuran kakakku tadi, lalu segera menyunggingkan senyum.

Senyum formalitas.

Dia balas tersenyum dan langsung mengalihkan pandangannya lagi pada kakakku.

"Btw, Git," katanya.

"Ya?" Kak Gita tersenyum,"ada apa?"

Senyum menunggu tanggapan.

"Eh-," dia bergerak kikuk lagi, menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak terlalu gatal,"kebetulan ketemu kamu nih, aku tadi dapat tiket gratis nonton bioskop berdua untuk malam ini."

Laki-laki itu berhenti bicara, seolah menanti jawaban Kak Gita. Tapi, Kak Gita sendiri bingung mau jawab apa, wong pertanyaannya saja belum ada.

Keheningan pun menggelayut aneh.

"Maksudku," dia melanjutkan sambil tersenyum.

Senyum canggung.

"Maksudku, kamu mau gak nonton sama aku malam ini?"

"Oh," jawab Kak Gita riang. Dia tersenyum.

Senyum senang.

"Mau-mau aja kok!"

"Eh betulan?" laki-laki itu balik bertanya. Setelah Kak Gita mengangguk yakin, dia langsung tersenyum lebar.

Senyum yang lebih senang lagi.

Kak Gita menoleh kepadaku,"nanti kita beli satu tiket aja buat kamu. Lumayan kan, harga satu tiket buat nonton bertiga. Kamu ada uang gak?"

Mendengar niatan Kak Gita untuk mengajakku, laki-laki tadi melongo pasrah.

Aku mengabaikan laki-laki tadi, lalu kusampaikan bahwa uangku habis. Dan ternyata Kak Gita juga tidak membawa uang yang cukup banyak.

"Yah, maaf ya," kata Kak Gita menyesal pada sang pria,"kita gak ikut deh, gak bawa uang ternyata."

"Eh, aku bayarin aja deh," panik, laki-laki itu berbicara dengan sangat cepat.

"Wah, beneran?"

"I-iya, aku aja yang bayarin," katanya. Kak Gita mengucapkan terimakasih dengan riang, dan aku juga menyampaikan rasa terimakasihku kepadanya. Dia menoleh padaku, lalu tersenyum.

Senyum terpaksa.

Bapak Kecil

Di ITB, ada seorang bapak tua yang mungil. Rambutnya agak panjang untuk ukuran laki-laki, tapi masih potongan rambut laki-laki. Warna rambutnya abu-abu, hitamnya telah lekang oleh waktu. Kemejanya selalu kebesaran.

Dagu runcingnya sekilas membuat dia bermuka licik. Matanya agak kecil. Aku jadi teringat Kreacher - salah satu peri rumah di Harry Potter.

Tidak, tidak. Bukan karena beliau seperti makhluk aneh. Beliau sangat manusia, kok.

Aku sering melihat beliau masuk ke kelas-kelas membawa nampan berisi segelas besar air putih, terkadang teh hangat. Beliau biasanya mengetuk pintu, menyela pembicaraan dosen di kelas, lalu masuk dengan membungkuk dan menaruh gelas itu di meja dosen.

Beliau sangat hormat sekali, padahal dari tampangnya, umur beliau lebih tua dari sebagian besar dosen.

Terkadang dia masuk membawa remote control proyektor kelas yang tertinggal di tata usaha.

Pernah suatu kali, aku berkuliah di lantai 4 sebuah gedung kuliah yang jauh dari tata usahaku. Di tengah pelajaran, beliau muncul di samping pintu, mengetuk-ngetuk, lalu masuk dengan sangat sopan. Beliau menyerahkan remote control kepada dosenku, dengan tampang melongo karena kelelahan. Beliau berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan agar bisa bicara kepada dosenku dengan benar.

Tapi usahanya gagal.

Lalu sang dosen memijit-mijit tombol remote. Dan tidak terjadi apapun.

"Kayaknya salah remote," kata dosenku.

"Oh iya, Pak," jawab bapak tua pasrah.

Masih ngos-ngosan, beliau keluar dari kelas dengan cepat untuk mencari remote yang benar.

Berilah petunjuk

Dian menghempaskan tubuhnya ke kursi keras di tepi taman.

Randi, di sampingnya, tampak terkejut dengan kedatangannya, namun dengan sengaja tidak mau menoleh. Biar cool.

"Ran, Andra tadi minta putus," keluh Dian suram. Air mata menggenang di tepian mata indahnya.

"Hm," jawab Randi sok tidak peduli. Dia masih menatap bukunya, meski otaknya sudah tidak konsen lagi.

"Raaan, nengok dong, gue ngobrol sama lo, lo jangan baca doaang," rengek Dian.

"Iya nih gue tutup," dengan nada kesal Randi menoleh,"apa?"

"Gue mau diputusin."

"Hmm"

"Pemicu berantemnya gara-gara gue telat janjian. Padahal bukan salah gue, angkotnya ngetem gila. Jalanan macet, orang-orang nyebrang di mana-mana bikin kendaraan jadi pelan. Eh giliran ada yang nyebrang di zebra cross, malah ditabrak sedan. Makin macet lah. Mana panas banget, make up gue sampai luntur."

"Yaaah, memang sudah rusak kota ini,"jawab Randi akhirnya.

"Panaaaaas, gak ada pohon di mana-mana, makin panaaaaas." Dian mengeluh.

Randi memaksakan senyum.

"Ya Allah, rusak banget bumi," muka Dian semakin buram,"dan Andra tega-teganya cuma karena telat lima menit..."

Dian menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan,"maaf gak nyambung curhatannya, Ran. Tapi udah kepalang sedih banget nih, semua hal jadi sedih. Terus tadi lihat penjambretan juga di pinggir jalan, kakek-kakek pula yang dijambret. Sedih banget lihatnya."

"Kota ini kacau banget ya, Yan?"

"Iya, Ya Allah... Beri petunjuk-Mu,"kini menetes satu butir air mata. Dian menghapusnya cepat.

Randi merogoh sesuatu dari tasnya, lalu menaruhnya keras di pangkuan Dian.

"Nih, petunjuk."

Al-Quran berwarna silver terdiam di atas paha Dian. Dian dan Kitab itu saling bertatapan. Keheningan kaku terasa menyelubungi dedaunan di taman.

"Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa," lanjut Randi.

Dian tertawa canggung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya siih, tapi apa hubungannya sama masalah hidup gue?"

Randi mendecak kesal,"ya hidup muslim kan harusnya berpedoman sama Quran? Pemecahan masalah lo ada di sana juga. Tadi lo minta petunjuk, ini udah dikasih, malah ga mau baca. Lo berharapnya petunjuk apa sih? Petunjuk lewat mimpi? Hahahaha."

Dian menciut,"iya bener sih, yaudah gue tanya ke elo deh sebagai orang yang rajin baca, masalah gue sama Andra gimana dong penyelesaiannya?"

"Ya putus aja," kata Randi pendek, "sudah jelas kan?"

Cewek itu tidak mampu berkata-kata. Dia hanya terperangah menatap Randi. Benar sih, kalau di Islam katanya gak ada pacaran, tapi...

"Nah, kalau masalah kota ini gimana? Penjambretan, macet, panas, global warming, kan harus baca-baca literatur lain," Dian mengalihkan pembicaraan.

"Ada, Yan," kata Randi, "prinsip pengelolaannya ada di situ. Lo cuma harus baca dan belajar."

"Gue udah pernah baca, tapi kan gue gak paham maknanya, banyak banget yang kiasan-kiasan gitu."

"Ah lo mah cari-cari alasan aja, bilang aja males baca," merasa Kitabnya tidak akan disentuh Dian, Randi merebutnya lagi dari Dian, "tinggal cari pembimbing, repot amat."

Dian nyengir tidak enak, "ya udaaah, lo mau jadi pembimbing gue?"

"Oke, siap. Kapan mulai?"

Randi menatap Dian tegas. Bulat niatnya untuk ngajarin cewek ini ilmu Allah, kalau dia memang mau. Kapan mulai?

...

Hening.

"Hehe, gak sekarang deh. Kapan-kapan."

"Halah, tuh kan."

Puitis

Puitis,
kala jemuku menulis

Puisi,
waktu ilham tak isi

Rima,
janji tetaplah sama

Sajak,
malam beranjak!

Hei!

Tulis!
Walau ilhammu habis.

Bangga?

Scroll,

scroll,

scroll,

Matanya menelurusi barisan kalimat di layar.

Scroll, scroll.

Sepintas, senyum kecil, walau hanya beberapa milidetik, tersungging di bibirnya.

Bagus, pikirnya. Senang.

Dia sibuk mengagumi tulisan itu, dengan diksi yang sungguh tepat dan unik, membuatnya tak jemu dibaca. Kata sambungnya selalu pas, bahkan spasinya, enternya, italicnya, tulisan itu terpahat dengan cantik.

Scroll

Dia larut dalam blognya sendiri. Kebanggaan bermekaran dalam hatinya, menguap ke atas dan membesarkan kepalanya hingga siap meletus. Percaya dirinya tumbuh; gue jago.

Scroll

Dan dia mendapati sebuah tulisannya tahun lalu, ketika dia menyebutkan cerita tentang seorang temannya. Sebuah tautan tertera di sana, sebuah tautan menuju blog teman baiknya itu. Lama tidak jumpa, coba aku lihat blognya ah.

Dan, satu kali klik ternyata mampu menariknya ke dasar palung.

Dia ingat temannya ini pernah jadi penulis cerpen lepas dari suatu majalah cewek.

Kalimat pembukanya sungguh ngena.

Kalimat pembuka ini akan menarik semua pembacanya untuk tenggelam dalam tulisannya. Bahkan dia bisa memberikan soundeffect dalam kisahnya, seolah kisah ini benar-benar bersuara.

Diksinya, oh, bahkan kata-kata sesederhana itu tidak pernah terlintas dalam otaknya. Bagaimana bisa?

Sebuah kisah yang mengalir dengan santai, dan mengenakkan pembacanya. Diakhiri dengan cerita yang menggantung, pun begitu mempesona.

Kepalanya mengempis dengan cepat, bunga-bunga bangga berguguran di dasar hatinya.

Gara-gara klik setitik, rusak scroll sebelangga.

nilai

gelap
larut
diam-diam

tengok
saat terang
dan lihat
kamu
terbaring

gelap
larut
tiba-tiba

esok
kala terang
langkahkan
kaki
lepaskan
baringanmu

Gantungan Korden

Saya mau gantungan korden, atau gorden, dengan panjang kurang lebih 1 m. Yang bukan dari kayu, tapi. Di ACE Hardware aja tidak ada. Sepertinya saya harus cari di toko khusus korden.

Saya perlu gantungan korden, soalnya saya sudah beli korden baru untuk di kosan. Murah dan warnanya enak, lumayan untuk ganti suasana kamar. Tapi sayangnya korden yang baru ternyata tidak compatible dengan gantungan korden yang lama. Alhasil, saya perlu cari gantungan baru juga.

Ngomong-ngomong soal alhasil, saya baru menyadari bahwa alhasil sepertinya berasal dari bahasa Arab. Saya menyadari ini karena melihat suku kata Al di depan Hasil. Bahasa Arab kan punya kata "Al" sebagai "The" dalam Bahasa Inggris. Mungkin, kalau dibahasa Indonesiakan, Al adalah Sang, atau Si.

Atau, Al adalah anaknya Maia dan Ahmad Dhani.

Saya juga baru menemukan bahwa ternyata karib berasal dari Bahasa Arab; qoriib. Dan yang paling lucu adalah tajir! Ternyata tajir berasal dari Bahasa Arab; At-taajir, yang artinya pedagang. Jadi, kalau orang Indonesia mengartikan tajir sebagai kaya, berarti ada korelasi antara pedagang dengan kekayaan ya. Hahaha. Btw, kaya dalam Bahasa Arab sendiri adalah ghoniyun.

Your Love

I gaze to the dark, glowing sky
I notice its stars blink
In the space
Farther than this soul could fly

And that distance
Will ever be the gap
Between You
And me
If I just sit here
Wish and ask you things

My reaching hands
Shall never knock Your door
As I cry for Your Love

Because You have shown me the path
That leads to You
I just need to walk
Halfway
Because You, on the other end
Will run
Towards me
And flood me
With Your healing, soothing love
That I have always been thirsty of

(Ikut) Heboh RUU Pilkada

Belakangan, Indonesia, atau facebookers pada khususnya, tengah ramai dengan RUU Pilkada; langsung atau tidak langsung (saya, melalui blog ini, mau ikut serta dalam keramaian itu ah). Sebagian besar berbelasungkawa atas ‘matinya’ demokrasi di Indonesia dengan disahkannya RUU Pilkada tidak langsung. Tidak saya temukan sedikitpun yang mendukung RUU Pilkada tidak langsung di media sosial, tapi ada segelintir yang menyatakan ‘ah, sama saja’.

Kebetulan, saya termasuk di dalam yang segelintir itu.

Historikal
Secara faktual, sejarah bangsa ini tidak melulu indah dengan dilangsungkannya sistem pilkada langsung. Nyatanya, pilkada langsung juga menghasilkan banyak kepala daerah yang dibenci dan dinyatakan tidak becus, korup, dan sebagainya, oleh para rakyat. Sebut saja, Fauzi Bowo yang bahkan tidak mampu mengambil hati rakyat pada pilkada keduanya, Dada Rosada, yang sudah divonis penjara, dipersalahkan untuk berbagai macam kemunduran di Kota Bandung, dan tentu tidak lupa kan dengan kasus heboh Ibu Ratu Atut Chosiyah? Ratu Atut Chosiyah yang asik bermain dengan suap-menyuap dalam urusan Pilkada. Mereka semua produk Pilkada langsung, bung.

Seolah kita semua lupa dengan kasus-kasus itu. Memang, kepala daerah yang lovely juga ada yang dihasilkan dari proses Pilkada langsung. Sebut saja Ridwan Kamil, Jokowi, Ahok, Nurdin Abdullah, dan sebagainya. Tapi, sejujurnya, berapa sih yang baik itu dibandingkan ratusan kepala daerah lainnya di Indonesia? Apakah dari situ kita mau menyimpulkan bahwa Pilkada langsung memang superior dan jauh lebih baik daripada Pilkada tidak langsung?

Menang dengan Hati
Pilkada langsung, apakah semewah itu sampai harus benar-benar dipertahankan? Penyelenggaraan Pilkada langsung sebenarnya sangat mahal. Dan buang-buang kertas, kecuali rakyat Indonesia mau kertas votingnya menggunakan daun pisang hahaha.

Selain itu, kebobrokan pilkada langsung yang membuat saya jijik dari dulu adalah: sistem marketing.
Dalam pilkada langsung, para calon harus mampu merebut hati rakyat. Apalagi di tengah masyarakat postmodern ini, yang direbut secara harafiah benar-benar perasaan rakyat, bukan lagi logika rakyat. Rakyat memilih tidak lagi dengan pertimbangan rasional, tapi menggunakan insting dan perasaannya,
Dengan kenyataan demikian, untuk menghemat kampanye, untuk apakah calon tersebut mempromosikan program-programnya? Toh rakyat tidak terlalu peduli. Rakyat maunya calon yang dapat menyentuh hati mereka.

Dan hati yang tersentuh bisa diperoleh dengan senyum yang ramah. Hati dapat disentuh dengan kisah yang mengharu biru. Lihat saja, banyak kontes pemilihan idola yang dimenangi oleh para finalis yang memiliki kisah hidup serba sedih. Hati mudah simpati oleh orang yang unik, yang tampak beda, yang tampak terzalimi, yang tampak membumi, yang tampak membela rakyat, bahkan yang penampilannya tampak baik (dalam buku Psikologi Komunikasi karya Jalalludin Rahmat, salah satu aspek yang menimbulkan simpati seseorang adalah aspek atraksi personal, dan aspek atraksi personal ini salah satunya dipengaruhi oleh kecantikan atau ketampanan). Bahkan, bagi sebagian rakyat Indonesia, hati dapat disentuh oleh pribadi yang dermawan, yang mau berbagi, yang sayangnya, menurut KPU, kedermawanan ini disebut sebagai money politic.

Hati tidak dapat tersentuh dengan logika dan rasional dan konten pemikiran. Perhatikan saja debat cawapres kemarin. Banyak yang berpendapat bahwa Hatta Rajasa secara konten lebih unggul dalam debat dibandingkan Pak Jusuf Kalla. Tapi toh simpati sebagian besar rakyat tetap setia pada pasangan Jokowi-JK. Hehe.

Kalau kondisinya begini, tim pemenangan atau tim marketing calon tidak perlu repot-repot mengedukasi masyarakat tentang konten yang akan dibawa calon; yaitu analisis mengenai apa permasalahan bangsa ini, apa akar masalahnya, dan apa solusi yang ditawarkannya. Yang penting, desain bagus, citra sesuai yang diinginkan rakyat, dan sosok yang mengayomi.

Jadi, saya bisa ambil kesimpulan kasar bahwa hati rakyat disentuhnya dengan pencitraan dan orang yang menyosok. Tanpa bermaksud menyinggung, Jokowi sudah memiliki banyak pendukung bahkan sebelum dia mengajukan diri sebagai capres. Artinya, para “awwalun” pendukung tersebut mendukung karena sosoknya, tanpa perlu mengetahui konten apa yang akan dibawa Jokowi saat mencalonkan diri nanti.

Padahal, kalau pakai analisis yang logis, Jokowi kan sevisi dengan Bu Megawati. Bahkan Ibu Mega tidak berhasil maju lagi sebagai presiden pada tahun 2004 silam. Saya yakin, kalau kemarin yang maju sebagai pilpres dari PDI-P adalah Ibu Mega, pemilihnya tidak akan sebanyak Jokowi, meski mereka berada di bawah payung visi yang sama.

Bahkan, kelompok masyarakat sekelas mahasiswa ITB, yang katanya putra-putri terbaik bangsa dan terbiasa melakukan analisis dalam tugas-tugas kuliah, masih lebih melihat sosok daripada konten, alias lebih memakai perasaan daripada rasio. Kesimpulan ini saya ambil dengan sampling asal dan seadanya pada kasus pemilu calon ketua kabinet keluarga mahasiswa ITB pada tahun 2013 kemarin. Teman-teman di sekitar saya banyak yang memilih calon x karena sosoknya yang keren dan rupawan. Bahkan, ada pernyataan,”gue ga tau sih isu yang dia bawa, tapi gue milih dia abis keren sih.

Yang jelas, saya langsung berpendapat,”wah PR banget buat dia kalau sampai kepilih, soalnya dia dipilih oleh orang-orang yang secara umum tidak peduli tentang apa yang dia bawa.”


*
Padahal, tahu dari mana bahwa calon yang kita dukung benar-benar merakyat, baik, dan keren, seperti yang kita duga, selain dari media kampanye mereka? Namanya juga media kampanye, pasti iklannya yang bagus-bagus dong hehe.
Lagian, kata Rasul, kalau mau mengenal pribadi seseorang, kita harus tinggal tiga hari sama beliau.
*

Anggota Dewan yang Terhormat
Bagi saya, banyaknya protes yang dituai RUU Pilkada tidak langsung menunjukkan ketidakpercayaan rakyat pada wakil-wakilnya di kursi DPR. Padahal, RUU Pilkada tidak langsung ini, sebenarnya, sesuai-sesuai saja dengan sila terpanjang dari Pancasila. Bahkan lebih sesuai daripada Pilkada langsung yang menggunakan sistem voting.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Teringat waktu SD, guru saya menjelaskan perbedaan demokrasi liberal dengan demokrasi Pancasila. Katanya, demokrasi liberal dijalankan dengan sistem voting alias suara terbanyak yang menang, sedangkan dalam demokrasi Pancasila, pengambilan keputusan dilakukan dengan musyawarah. Dalam musyawarah, yang menang adalah pendapat dengan argument yang terkuat, meskipun yang menyuarakan hanya sebagian kecil.

Ya mana bisa gak pakai sistem voting, orang rakyat Indonesia kan banyak, masa disuruh musyawarah buat nentuin Kepala Daerah?
Ya makanya ada DPR. Seperti kata pelajaran PPKn waktu SMA, sejarah dibentuknya perwakilan rakyat pada zaman Yunani dahulu disebabkan makin bertambahnya jumlah manusia sehingga pengambilan keputusan tidak lagi dapat melibatkan seluruh warga negara. 

(Tapi, katanya sih DPR kita sekarang pakai sistem voting, bukan musyawarah lagi.)

Meski demikian, saya, secara jujur dan subjektif, juga kurang percaya sih sama wakil saya. Hehe. Saya  agak beranggapan bahwa pencetusan RUU Pilkada tidak langsung ini berbau ‘mempertahankan kekuasaan’. Jadi, seperti orang banyak, ternyata saya sama halnya dengan kebanyakan orang, kurang percaya dengan wakil-wakil saya di DPR. Dan, dengan demikian, saya menyimpulkan bahwa akar permasalahannya sebenarnya ada pada DPRnya. Kalau kita semua percaya sama orang-orang yang kita pilih untuk duduk di kursi DPR, Pilkada tidak langsung tidak akan menjadi masalah lagi, kan?

Ngomong-ngomong, anggota DPR itu dipilih langsung oleh kita, loh. Lihat kan bahwa pemilihan langsung ternyata bisa menghasilkan orang-orang yang tidak kita percaya? Pemilihan langsung DPR ternyata menghasilkan UU yang ditentang sebagian besar rakyatnya; UU Pilkada tidak langsung.

Manusianya
Money politic dan kasus suap pilkada tidak akan terjadi kalau manusianya berakhlak. Pemilihan kepala daerah dengan tujuan mempertahankan kekuasaan golongan, memenangkan yang bayar, dan sebagainya, tidak akan terjadi kalau manusianya berakhlak. Pilkada langsung maupun tidak langsung akan sama-sama menghasilkan produk yang baik apabila manusia-manusianya berakhlak dan cerdas.

Jadi, akar permasalahan dari semua ini sebenarnya manusianya; pendidikan bagi manusianya. Sampai kapanpun, kalau permasalahan pendidikan tidak dibenahi, mau sistem langsung kek, tidak langsung kek, setengah langsung kek, ya sama saja lah hasilnya.

Sekedar informasi, Nabi Muhammad, Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khatab,  dan beberapa khalifah lainnya, ternyata tidak dipilih dengan sistem Pemilu langsung, loh. Memang deh, semua  tergantung manusianya.

Musikal

Mendengar adzan maghrib berkumandang, saya bergegas menutup semua program di laptop saya. Mirip burung, saya terpanggil untuk pulang ke sangkar saat senja beranjak. Mulai malam, mulai gelap, nanti saya mulai rabun berbahaya katanya.

Setelah membayar kopi yang terlalu kuat mengocok lambung saya, saya keluar dari kafe kecil itu dan mulai menunggu angkot di tepian Jalan Dago. Udara terasa sejuk menyenangkan. Teriknya matahari sudah berganti dengan semburat kemerahan di langit abu-abu Bandung. Anginnya berhembus sedap, tidak terlalu kencang, tapi cukup untuk menyegarkan pikiran.

Saya dicuekin dua angkot sampai akhirnya sebuah angkot yang sama bututnya menawarkan tumpangannya pada saya. Saya segera masuk dan duduk di pojok kanan depan. Di dalam angkot telah duduk dua orang remaja cantik, salah satunya merokok, yang sedang bergosip dengan suara melengking. Seorang laki-laki rapi, sepertinya beberapa tahun lebih tua dari saya, duduk di sudut kiri belakang. Pakaiannya monokrom; abu-abu dan hitam. Dia membawa sebuah gitar yang disenderkan di pahanya.

Saya terlalu asik menikmati udara Bandung, tak terganggu sama sekali dengan lengkingan gosip neng-neng geulis. Langit semakin pekat dengan biru tua. Lampu-lampu kendaraan, bangunan, dan lampu jalanan membuat suasana temaram syahdu. Mungkin di Lembang sana mulai penuh pengunjung yang menikmati lampu-lampu di sekitar saya ini dari ketinggian sana.

Di Simpang Dago, barudak geulis tadi turun dari angkot. Angkot ini melaju lagi dengan kecepatan santai. Langit semakin pekat dan cahaya terasa semakin kuning, hangat. Saya terhanyut dalam suasana, seolah Bandung bersenandung dalam dentingan gitar. Diiringi suara berat yang merdu, bernyanyi dalam akustik.

Dan ternyata, Bandung memang sedang bermusik. Laki-laki di ujung sana ternyata benar-benar sedang memainkan gitarnya dalam volume yang sungguh tepat. Nyanyinya juga merdu, suara bariton itu mengisi angkot ini. Saya agak terperangah sambil menahan diri untuk tidak menengok kepada laki-laki tadi.

Saya tersenyum sendiri di dalam angkot.

Lucunya hidup saya, menyenangkan sekali.

Di tengah temaram Bandung yang hangat dan udaranya yang sejuk, saya duduk di sini seperti seorang aktris dalam film. Soundtrack mengiringi perjalanan pulang. Semuanya terpadu dengan sempurna. Harmonis.

Saya tersenyum lebar.

Saya selalu ingin hidup dalam film musikal; tiba-tiba alunan musik terdengar, entah dari mana, mengiringi hidup sang aktris dengan melodi yang tepat.

Dan saya sudah merasakannya!


Yeay!

Tempaan Kasih Sayang

Ada sebersit rasa kecewa menggores hatinya. Faldi masih lesu tak bergerak di depan laptop bututnya. Matanya sedari tadi menelusuri daftar nama-nama calon mahasiswa yang mendapat beasiswa. Pencariannya untuk Muhammad Rifaldi: nihil. Padahal ini adalah harapan terakhirnya. Tiga beasiswa lainnya menolak Faldi mentah-mentah. Sebenarnya ada satu beasiswa yang menerimanya, tapi di jurusan teknik universitas lain.

Menguap sudah dari otaknya impian dan khayalan menjadi dokter.

***

Bang Adi duduk di sofa ruang tamu. Di hadapannya tergeletak secangkir teh panas, terlalu panas, hingga sepupu jauhnya ini enggan menyentuh cangkirnya.

“Eh, Bang Adi,”sapa Faldi, mencoba bersemangat demi sopan santun.

“Wa’alaikumsalam!”Bang Adi antusias langsung berdiri menyambut Faldi. Dia menjabat tangan Faldi sambil tersenyum sangat senang.

Disindir begitu, Faldi hanya tertawa,”menjawab salam hukumnya wajib ya, Bang. Tapi memberi salam kan nggak.”

“Hahaha, bisa saja kamu, Fal. Kamu biasakan memberi salam, lah. Kita kan sesama muslim.”

“Iya, Bang. Kapan-kapan,”Faldi menjawab asal sambil mempersilakan Bang Adi duduk kembali.

Bunda semalam menyampaikan Bang Adi akan datang hari ini. Bang Adi datang jauh-jauh dari Bandung ke Cirebon untuk survey tugas akhirnya. Setelah surveynya selesai, Bang Adi menyempatkan mengunjungi keluarga Faldi yang tinggal di tengah Kota Cirebon.

“Gimana kuliah? Sudah dapat?”

Luka Faldi yang belum kering seolah ditetesi air garam.

 “Sudah, Bang,”jawab Faldi sambil tersenyum getir,”di kampus Abang.”

“Waaaaaah, keren dong,”timpal Bang Adi sumringah. Bang Adi menepuk-nepuk pundak Faldi sambil tersenyum,”bangga banget sama adik sepupu Bang Adi yang satu ini.”

“Yah, keberuntungan saja, Bang. Hahaha.”

“Tapi kok gak jadi kedokteran? Bang Adi pikir kamu keterima di FK?”

“Iya, Bang, aku jadi malas sama kedokteran,”kata Faldi yang disambut tatapan kaget Bang Adi.
Faldi menghela nafas,”habis, suksesnya lama.”

Namun, kalimat keduanya bukanlah sebuah kebohongan. Faldi memang beberapa kali sudah diterpa kebimbangan akan impiannya menjadi dokter. Lima tahun kuliah, menjadi ko-as, merangkak dari bawah… Banyak yang bilang jadi dokter itu suksesnya lama. Meskipun Faldi bisa lihat jelas bahwa dokter-dokter tua selalu berlimpah uangnya, namun curam dan jauhnya pendakian menuju kesuksesan tersebut menjadi momok juga bagi Faldi. Setelah resmi ditolak beasiswa untuk melanjutkan studinya di bidang kedokteran, Faldi mulai meyakinkan dirinya bahwa kedokteran itu menyebalkan. Pelajarannya susah, ujiannya gila-gilaan, dan yang terpenting; suksesnya lama.

Mendengar jawaban Faldi, Bang Adi tersenyum dikulum. Dia melipat tangannya, dagunya mendongak, matanya memandang lurus ke depan, dan tatapannya tiba-tiba berbinar. Itu tatapan yang sering sekali Faldi lihat dari Bang Adi, dari mereka kecil hingga sekarang. Gestur itu selalu Bang Adi perankan dikala Faldi melontarkan istilah-istilah, kalimat, dan pendapatnya yang menurut Bang Adi, Faldi tidak mengetahui apapun tentangnya. Seluruh gerak tubuh Bang Adi seolah-olah mengucap,”ah tahu apa kamu. Kamu gak tahu apa-apa, Bang Adi tahu semua.

Melihat Bang Adi demikian, Faldi langsung menciut kesal. Dia mendengus,”ah, tuh kan Bang Adi pasti begini.”

Bang Adi tertawa melihat adik sepupunya memandangnya sebal. Lalu dia melanjutkan,”memangnya, sukses itu apa, Fal?”

Faldi tahu, Bang Adi pasti akan melontarkan pertanyaan yang membuatnya gelagapan. Pertanyaan yang tidak akan disangka-sangkanya, tapi memang benar perlu dipertanyakan. Faldi pun terdiam, memikirkan bagaimana sukses yang selama ini dia bayang-bayangkan, dia impi-impikan.

“Gimana hayo,”tuntut Bang Adi. Teh mendidihnya sudah berubah menjadi teh hangat. Bang Adi menyeruputnya pelan.

“Kaya, sih Bang,”jawab Faldi setelah jeda yang agak lama.

“Udah saya duga,”senyumnya merekah meremehkan. Lalu dengan cekatan, Bang Adi mencari sesuatu di smart phone-nya dan memberikannya pada Faldi,”baca ini deh, Fal.”

Surah Al-Baqarah: 247

Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”

***

Bang Adi ini memang berbeda di antara sepupu-sepupu lainnya. Imannya mantap sekali dan pengetahuan akan agamanya pun melimpah. Tak hanya rajin sholat dan tadarus, tapi dia pun tahu banyak tentang hal-hal agama yang fundamental dan filosif, yang tidak semua orang tahu. Sementara sepupu-sepupu lainnya sama bejatnya dengan Faldi.

Waktu itu Faldi masih SMP kelas 2 dan Bang Adi sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Faldi menatap dahi Bang Adi yang semakin hitam. Tidak kuasa, Faldi melontarkan cie-cie yang membuat Bang Adi kesal.

“Cie Bang Adi rajin solat. Jejak sujudnya nempel bener, Bang.”

“Apaan sih,”ujar Bang Adi gusar,”jejak sujud itu bukan yang di dahi, tau. Jejak sujud itu karya nyata yang manfaatnya membekas di bumi, kayak Madinah; jejak sujud Rasul.”

Faldi saat itu tidak peduli,”yang penting jidatnya hitam,”dia menjulurkan lidahnya, lalu kabur meninggalkan Bang Adi yang gatal tangannya ingin menjitak Faldi.

***

Ruang tamu bergema dengan sebuah ayat Al-Quran. Namun, Faldi tidak mampu memahami maksud Bang Adi. Dia hanya memberi tatapan bertanya.

Sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak,”ulang Bang Adi,”Allah sudah tahu ada orang-orang kayak kamu, Fal. Ada orang-orang yang berpikir bahwa kekuasaan bisa dicapai dengan kekayaan dan kesuksesan diukur dengan material.”

Faldi mulai paham arahnya.

“Allah sudah tahu ada kamu, Fal. Dan dari dulu pun memang manusia banyak yang berpikir seperti itu. Makanya Allah, dalam Kitab-Nya, menjawab, bahwa kesuksesan itu adalah ilmu yang luas. Tidak cukup itu, tubuh yang sehat juga sangat diperlukan supaya manusia bisa tetap kuat untuk bekerja keras mengamalkan ilmunya. Memangnya, jadi dokter itu cuma perlu belajar doang? Kalau badannya lemah, gak bakalan kuat dia begadang-begadang menangani pasien yang membutuhkan.”

Faldi mangut-mangut. Dia sendiri baru sadar bahwa selama ini dia mengukur kesuksesan dari uang, penghasilan, gaji, dan kemewahan hidup seseorang. Padahal, memang benar abangnya yang satu ini, memang benar kitab suci agamanya ini, bahwa kesuksesan itu adalah sebuah keberhasilan menggunakan ilmunya untuk kebermanfaatan. Toh, banyak di dunia ini orang kaya, yang diujung umurnya, merasa hidupnya tidak bernilai, tidak berguna, karena selama ini dia hanya terus memperkaya dirinya sendiri. Atau, lihatlah Angelina Jolie yang gila-gilaan melakukan pengabdian di Afrika, mengadopsi banyak anak untuk dihidupi. Itu adalah bukti nyata bahwa pada akhirnya manusia akan tetap merasa kosong apabila dia hanya terus mengisi dirinya sendiri. Kehampaan hati hanya dapat terobati jika manusia itu membagi manfaatnya kepada seisi dunia.

***

Tetap saja, kekecewaan itu membara dalam nadinya. Membakar semua kebaikan-kebaikan, yang mungkin hanya sedikit, namun ada di hati Faldi. Amarahnya entah ditumpahkan pada siapa. Dendamnya pun disalurkan kepada Allah.

Dia yang membuat Faldi miskin, dan Dia pula yang tidak memberinya beasiswa. Padahal, dengan jadi dokter, dia kan bisa memberi manfaat kepada orang lain, kenapa tidak Allah izinkan?

“Fal, lo gak dapat beasiswanya ya?”tanya Boy, temannya.

“Nggak,”jawab Faldi sambil membuka sepatunya. Mereka hendak berwudhu di masjid, Faldi memenuhi keinginan Boy untuk sholat berjamaah di masjid, padahal panas hatinya masih membuatnya malas beribadah.

“Sabar, bro.”

“Iya, Boy. Kurang miskin deh kayaknya gue. Gue bakar apa ya rumah gue?”

“Woy, ngaco, ucapan itu doa.”

Betul juga, ya. Hati Faldi bergetar takut,”eh iya, naudzubillah min zalik…”

“Bersyukur saja lah, udah bagus dapat beasiswa lain di universitas yang bagus juga, Fal. Gue masih belum dapat manapun.”

Faldi hanya diam. Sindiran Allah pun berlanjut dari mulut Boy menuju mulut imam sholat. Surah yang dibacakan pada rakaat pertama adalah Ar-Rahman.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzdzibaan 33 kali bergaung di langit-langit masjid. Perasaan Faldi jadi semakin kacau. Maka nikmat mana lagi yang saya dustakan? Luka di hatinya semakin besar. Kali ini oleh kekecewaannya pada diri sendiri.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

***

Missed call dari Tanri, mantan ketua osis angkatannya, bertubi-tubi menyerang handphone-nya. Faldi segera menelponnya balik.

 “Faldi! Jadi mau kedokteran?”

Apa lagi sih ini?

“Kenapa emangnya, Tan?” Faldi balik bertanya.

“Beasiswa yang kemarin gak dapet ya Fal?”

“Nggak,”jawab Faldi gusar. Ini cewek ngomongnya santai amat, dasar gak sensitif.

“Donatur SMA kita datang, Fal! Katanya mau bayarin anak yang nggak dapat beasiswa tapi mau sekolah di kedokteran. Tinggal kamu aja nih calon anak kedokteran yang belum dapat beasiswa.”

Subhanallaah. Faldi langsung menghapus bayangan-bayangan akan kehidupan mewah di depannya. Luka hatinya seakan disiram air yang sangat sejuk. Ternyata penolakan beasiswanya, pertemuannya dengan Bang Adi, dan shalatnya bersama Boy, adalah suatu tempaan yang Allah sediakan untuk Faldi. Untuk Faldi meluruskan niatnya. Agar kuliahnya, gelarnya, dan dokternya, semua suci di mata Allah, dan menjadi suatu amal sholeh yang bisa Faldi persembahkan kepada Allah.


***

Ilham

Hari ini saya menunda lagi.

Tapi, biarlah saya memulai menulis kembali. Mencoba mengalirkan inspirasi, ilham, melalui jari-jari saya menuju layar komputer. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata terdapat dua bagian besar dalam komunikasi. Yang pertama adalah bagian konten, di mana otak-otak komunikatornya perlu dipenuhi dengan inspirasi, ilham, pesan, renungan, atau motivasi, yang akan disampaikan. Sedangkan, bagian keduanya adalah bagian teknis, yaitu bagian pelaksanaan komunikasinya, baik dalam bentuk presentasi, orasi, pidato, menggambar, maupun menulis. Jadi, saya simpulkan, komunikasi yang baik itu memerlukan dua keterampilan, yaitu keterampilan berpikir untuk mendapat pesan, makna, dan ilham dari kejadian, serta keterampilan teknis menulis, berbicara, dan sebagainya.

Ngomong-ngomong soal ilham, kali ini dia tidak muncul dengan deras di otak saya. Mungkin hari ini saya kurang berpikir dan kurang merenung. Tapi, saya jadi penasaran dengan kata ilham sendiri. Saya jadi curiga, jangan-jangan ‘ilham’ berasal dari Bahasa Arab.

Ternyata benar. Menurut suatu sumber di internet, ilham berasal dari kata yang berarti menelan. Sedangkan, menurut KBBI, ilham adalah (1) petunjuk Tuhan yang timbul di hati, (2) pikiran yang timbul dari hati, (3) sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta. KBBI pun mensinonimkan ilham dengan inspirasi. Sementara itu, menurut Cambridge dictionary, inspiration berarti (1) someone or something that gives you ideas for doing something, (2) a sudden good idea, (3) someone that people admire and want to be like.

Arti asli ilham harus ditilik dari asal katanya juga. Disebutkan bahwa asal kata ilham adalah menelan. Maka, ilham apapun yang muncul, bukanlah sekedar a sudden good idea seperti arti dari inspirasi. Namun, ilham harusnya merupakan proses aktif dalam menerima input (menelan), yang melalui proses pemikiran dan pemaknaan, dan akhirnya menimbulkan keinginan untuk berbuat.

Kalau begitu, memang benar peribahasa,”you are what you eat.”

Saya harus menjaga ‘makanan’ saya agar ilham yang saya dapatkan merupakan ilham yang baik. Saya harus bisa mengambil masukan-masukan baik dari lingkungan saya. Sedangkan proses pemikiran dan pemaknaannya harus selalu saya kawal dengan frame yang baik pula. Harus ada prinsip-prinsip jelas yang saya pegang sehingga hasil yang saya peroleh juga terjaga kebaikannya.

29 Agustus 2014 (diedit, ditambahkan tiga kalimat baru, dan diposkan pada pagi hari 30 Agustus 2014)

Evaluasi di akhir minggu

Tiba di akhir minggu pertama sejak saya mengumandangkan janji saya kepada diri saya sendiri: satu hari satu tulisan. Setelah menjalaninya satu minggu, saya akhirnya melihat dengan jelas kekurangan diri saya yang sangat menonjol. Saya suka menunda sampai batas-batas penghabisan.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, saya mulai menulis untuk tanggal 24 Agustus pada jam 11.30an malam. Dan itupun saya banyak teralihkan oleh hal-hal lain di sekitar saya sehingga sekarang waktu sudah menunjukkan 25 Agustus 2014 kurang tujuh menit.

Ah tidak saya harus bergegas.

Disiplin saya kurang sekali, bahkan untuk solat fardhu sekalipun. Saya belum seniat itu untuk mengamalkannya di awal waktu. Baiklah, minggu depan tidak boleh menulis di akhir hari lagi.

Selain itu, pada hari ini harusnya saya sudah memiliki tujuh tulisan. Pada nyatanya, hanya terdapat tiga file dalam komputer saya plus satu tulisan di blog. Ada beberapa tulisan yang membutuhkan dua hari untuk selesai. Kalau begitu, saya benar-benar telah melanggar janji saya sendiri. Janji saya kan satu hari satu tulisan. Bukan sekedar setiap hari menulis. Baiklah, minggu depan tulisannya tidak boleh sampai bersambung-sambung seperti kemarin.

Tiga menit lagi menuju 25 Agustus!

Dengan adanya kewajiban satu tulisan setiap hari ini, I really need to be inspired everyday saya benar-benar butuh untuk terinspirasi terilhami setiap hari. Atau, lebih pasnya, saya harus mampu menemukan ilham dari setiap benda, kejadian, dan lingkungan yang saya alami sehari-hari. Dan, sejauh ini saya masih lebih sering menulis artikel dibandingkan dengan cerpen. Padahal, sepertinya cerpen lebih menantang karena sama-sama harus menemukan ilham dengan tambahan menuliskannya semua pesan-pesan yang ingin saya sampaikan dalam suatu imajinasi dan kreasi baru lagi.

Sudah jam 00.00, sudah tanggal 25 Agustus.

Bye.

(meski dipos pada tanggal 25 Agustus dini hari, tapi tulisan ini sesungguhnya rampung pada pk. 00.00 25 Agustus 2014, jadi dapat diakui bahwa tulisan ini adalah karya saya di tanggal 24 Agustus)

18 Agustus 2014

Welcoming birthday, again.

Birthday is getting less special when you grow old. Maybe I'm already bored with birthday celebrations. I have already faced them for 22 times!

So, this is me, in my 23rd. Nothing has changed since the last time I was 22 (21 minutes ago), except my hair getting more oily because I left it unwashed.

I am a grown up; birthday is not a special celebration; birthday is just another day.
I am a grown up; there's nothing special about birthday; what's so special is just life.
I am a grown up; I need to walk in the right path, in that special path, so I will leave bright and shiny traces in this world.

And yesterday an idea popped out in my brain. It suggests me to make a commitment to my self, one writing everyday and one painting every week, since today until the next time I find myself getting older a year.

Hmm, pinky swear?

...

Hahaha, why this feels so hard?

(Breath heavily)

Okay, one writing everyday! Pinky swear!

And this is my first article in my twenty-three.

Tanggung jawab!

Dibandingkan dengan negara-negara luar, Indonesia sepertinya menjadi salah satu negara yang masih gagal mengelola sampah-sampahnya. Banyak yang menyimpulkan, ini semua disebabkan oleh majunya teknologi tidak sebanding dengan pendidikan kepada masyarakatnya.

Sedikit banyak, tampaknya pernyataan tadi cukup benar. Saya pernah beberapa kali live in di pedesaan. Saya tinggal di rumah seorang penduduk desa, bergaul dengan remaja-remaja sepantaran saya, ikut membantu (atau justru gerecokin) tuan rumah bertani, menemani belanja ke pasar, sampai main-main dengan anak-anak kecil ingusan. Di samping pengalaman-pengalaman seru dan pemandangan indah di desa sana, ada sebuah hal lain yang membekas di ingatan saya.

Pertama kali saya live in, saya tinggal di daerah Sleman, di sekitar Yogyakarta. Hari pertama tiba di sana, saya beramah tamah seharian dengan tuan rumah, cengangas-cengenges sama teman serumah, sampai tibalah suatu sore hari di saat saya memegang sampah di tangan saya. Saya keliling-keliling mencari tong sampah, tapi pencarian saya sia-sia. Akhirnya, bertanyalah saya pada Ibu pemilik rumah, dan katanya, taruh saja di sana. Di sana, di sebuah tumpukan dedaunan.

Baiklah, kebetulan sampah saya juga sisa makanan, jadi… yasudahlah.

Beranjak malam, saya yang saat itu sedang datang bulan, keluar dari kamar mandi menggenggam seonggok ‘sampah wanita’. Masa saya taruh di tumpukan dedaunan? Kan, jijik… karena masih gagal menemukan tempat pembuangan yang lebih layak, saya bertanya lagi di mana tempat sampah, mau buang pembalut.
Si Ibu kemudian menunjuk tungku memasak, taruh saja di tungku, nanti dibakar.

Hah, gak apa-apa, Bu?

Beliau tersenyum.


***

Kali kedua, saya tinggal selama dua minggu di daerah Garut. Di sana saya bertempat di sebuah rumah di tepi lembah. Di bawah lembah sana mengalir sungai, dan sepanjang tembok landainya ramai ditumbuhi tanaman-tanaman tropis dan liar. Kalau dibayangkan, mungkin tampaknya indah – hijau-hijauan diiringi gemericik sungai. Tapi, sesungguhnya saya lupa untuk menyebutkan suatu informasi yang spontan menepis bayangan-bayangan indah tadi.

Jurang itu ternyata menjadi tempat pembuangan akhir sampah bagi mereka. Banyak sampah-sampah plastik, sebagian besar bungkus makanan ringan, bertebaran bagai bintang di malam hari. Saya cukup kaget melihat penduduk desa yang terbiasa membuang sampah langsung ke sana.

Saya langsung berpikir.

Satu, sarana, prasarana, dan fasilitas persampahan dari pemerintah tidak menyentuh langsung ke sana. Tidak ada petugas sampah dari pemerintah yang datang ke desa tersebut, mengambil sampah-sampah dan sebagainya. Tidak ada satupun tong sampah terlihat di sana. Mungkin, kalau dari sudut pandang makro, dengan data-data statistik sebagai bahan analisisnya, desa di bilangan Garut ini bisa saja mendapat penghargaan “Desa Zero Waste” saking tidak adanya sampah yang keluar dari sana membebani pemerintah. Padahal justru di sana tidak ada pengelolaan sampah sama sekali. Sampah secara langsung membebani alam.

Dua, bayangkan desa itu masih tertutup dari perkembangan teknologi terkini (bungkus plastik untuk makanan kecil itu teknologi, setuju kan?). Mereka hidup mandiri dari sumber daya mereka sendiri. Mereka membeli makanan kecil di warung-warung penduduk mereka sendiri. Pemilik warung membuat lemper, odading, ataupun kelepon, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Akhirnya, sampah yang mereka hasilkan pun organik.

Mungkin, nenek moyang mereka dulu, yang sampahnya hanya sebatas daun pisang, memang terbiasa membuang apapun ke lembah itu. Kini, penduduk sekarang, yang sudah kedatangan bungkus plastik, tetap membuang sampah ke lembah, karena tidak adanya pemahaman bahwa bungkus plastik tidak bisa diperlakukan sama seperti daun pisang.

Warung-warung bergeser dari menjual lemper ke ciki-cikian. Mereka sangat terbuka untuk teknologi, perusahaan-perusahaan makanan ringan mampu melesat dan memasuki desa. Namun, sayangnya, pendidikan dan pengetahuan tidak turut menyerap ke dalam desa tersebut. Mereka terisolasi dari perkembangan pengetahuan dan pendidikan.

***

Di ITB, terdapat wadah berkumpulnya mahasiswa yang satu jurusan untuk berkegiatan bersama. Wadah tersebut biasa disebut himpunan. Himpunan mahasiswa di ITB memiliki sebuah sekre, suatu tempat untuk berkumpul bersama. Kadang rapat, kadang bikin tugas, kadang main gitar sampai pagi, kadang main pingpong, dan kadang-kadang jadi tempat bakar dan makan jagung.

Penuhnya sekre oleh mahasiswa kadang-kadang membuat penuhnya sekre oleh sampah ketika mahasiswa-mahasiswa itu pulang. Mungkin sesuai dengan peribahasa gajah dan macan. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, mahasiswa pulang meninggalkan sampah. Tentu saja hal ini membuat geram sebagian mahasiswa-mahasiswa nan apik dan resik. Tidak jarang, sekre-sekre himpunan ditempeli tulisan-tulisan yang kurang lebih berbunyi “tanggung jawab akan sampahmu”.

Kurang lebih, para penjaga sekre mengharapkan para ‘produsen’ sampah itu bertanggung jawab akan sampahnya masing-masing dan membuangnya sendiri ke tong sampah agar tidak mengotori sekre. Kalau dalam konteks himpunan, produsennya itu mahasiswa dan sampahnya itu adalah botol-botol air mineral yang mereka beli, bungkus plastik bekas makanan, dan sebagainya.

Nah, kira-kira bisa gak ya konsep ini diterapkan dalam lingkup yang lebih luas?

Dalam lingkup yang lebih luas, produsennya adalah pabrik atau toko-toko. Coba bayangkan sebuah air kemasan. Ketika airnya habis, yang tersisa hanya sampah botol plastik, kan? Jadi sebenarnya, perusahaan-perusahaan itu, selain mencetak minuman, dia juga mencetak ribuan sampah botol setiap harinya.

Mengadopsi prinsip ketua divisi badan rumah tangga himpunan-himpunan di ITB, harusnya para perusahaan itu harus bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Program CSR perusahaan harusnya sesuai dan sebanding dengan kerusakan yang mereka buat. Kalau ada perusahaan yang menghasilkan 2 ton sampah plastik setiap harinya, maka program CSR mereka pun harusnya mengelola 2 ton sampah plastik setiap harinya pula. Atau, jika perusahaan tersebut menghasilkan produk yang pemakaiannya mengakibatkan pencemaran air, seharusnya mereka membantu pemerintah dalam pengelolaan air bersih sebagai program CSRnya.