Ilham

Hari ini saya menunda lagi.

Tapi, biarlah saya memulai menulis kembali. Mencoba mengalirkan inspirasi, ilham, melalui jari-jari saya menuju layar komputer. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata terdapat dua bagian besar dalam komunikasi. Yang pertama adalah bagian konten, di mana otak-otak komunikatornya perlu dipenuhi dengan inspirasi, ilham, pesan, renungan, atau motivasi, yang akan disampaikan. Sedangkan, bagian keduanya adalah bagian teknis, yaitu bagian pelaksanaan komunikasinya, baik dalam bentuk presentasi, orasi, pidato, menggambar, maupun menulis. Jadi, saya simpulkan, komunikasi yang baik itu memerlukan dua keterampilan, yaitu keterampilan berpikir untuk mendapat pesan, makna, dan ilham dari kejadian, serta keterampilan teknis menulis, berbicara, dan sebagainya.

Ngomong-ngomong soal ilham, kali ini dia tidak muncul dengan deras di otak saya. Mungkin hari ini saya kurang berpikir dan kurang merenung. Tapi, saya jadi penasaran dengan kata ilham sendiri. Saya jadi curiga, jangan-jangan ‘ilham’ berasal dari Bahasa Arab.

Ternyata benar. Menurut suatu sumber di internet, ilham berasal dari kata yang berarti menelan. Sedangkan, menurut KBBI, ilham adalah (1) petunjuk Tuhan yang timbul di hati, (2) pikiran yang timbul dari hati, (3) sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta. KBBI pun mensinonimkan ilham dengan inspirasi. Sementara itu, menurut Cambridge dictionary, inspiration berarti (1) someone or something that gives you ideas for doing something, (2) a sudden good idea, (3) someone that people admire and want to be like.

Arti asli ilham harus ditilik dari asal katanya juga. Disebutkan bahwa asal kata ilham adalah menelan. Maka, ilham apapun yang muncul, bukanlah sekedar a sudden good idea seperti arti dari inspirasi. Namun, ilham harusnya merupakan proses aktif dalam menerima input (menelan), yang melalui proses pemikiran dan pemaknaan, dan akhirnya menimbulkan keinginan untuk berbuat.

Kalau begitu, memang benar peribahasa,”you are what you eat.”

Saya harus menjaga ‘makanan’ saya agar ilham yang saya dapatkan merupakan ilham yang baik. Saya harus bisa mengambil masukan-masukan baik dari lingkungan saya. Sedangkan proses pemikiran dan pemaknaannya harus selalu saya kawal dengan frame yang baik pula. Harus ada prinsip-prinsip jelas yang saya pegang sehingga hasil yang saya peroleh juga terjaga kebaikannya.

29 Agustus 2014 (diedit, ditambahkan tiga kalimat baru, dan diposkan pada pagi hari 30 Agustus 2014)

Evaluasi di akhir minggu

Tiba di akhir minggu pertama sejak saya mengumandangkan janji saya kepada diri saya sendiri: satu hari satu tulisan. Setelah menjalaninya satu minggu, saya akhirnya melihat dengan jelas kekurangan diri saya yang sangat menonjol. Saya suka menunda sampai batas-batas penghabisan.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, saya mulai menulis untuk tanggal 24 Agustus pada jam 11.30an malam. Dan itupun saya banyak teralihkan oleh hal-hal lain di sekitar saya sehingga sekarang waktu sudah menunjukkan 25 Agustus 2014 kurang tujuh menit.

Ah tidak saya harus bergegas.

Disiplin saya kurang sekali, bahkan untuk solat fardhu sekalipun. Saya belum seniat itu untuk mengamalkannya di awal waktu. Baiklah, minggu depan tidak boleh menulis di akhir hari lagi.

Selain itu, pada hari ini harusnya saya sudah memiliki tujuh tulisan. Pada nyatanya, hanya terdapat tiga file dalam komputer saya plus satu tulisan di blog. Ada beberapa tulisan yang membutuhkan dua hari untuk selesai. Kalau begitu, saya benar-benar telah melanggar janji saya sendiri. Janji saya kan satu hari satu tulisan. Bukan sekedar setiap hari menulis. Baiklah, minggu depan tulisannya tidak boleh sampai bersambung-sambung seperti kemarin.

Tiga menit lagi menuju 25 Agustus!

Dengan adanya kewajiban satu tulisan setiap hari ini, I really need to be inspired everyday saya benar-benar butuh untuk terinspirasi terilhami setiap hari. Atau, lebih pasnya, saya harus mampu menemukan ilham dari setiap benda, kejadian, dan lingkungan yang saya alami sehari-hari. Dan, sejauh ini saya masih lebih sering menulis artikel dibandingkan dengan cerpen. Padahal, sepertinya cerpen lebih menantang karena sama-sama harus menemukan ilham dengan tambahan menuliskannya semua pesan-pesan yang ingin saya sampaikan dalam suatu imajinasi dan kreasi baru lagi.

Sudah jam 00.00, sudah tanggal 25 Agustus.

Bye.

(meski dipos pada tanggal 25 Agustus dini hari, tapi tulisan ini sesungguhnya rampung pada pk. 00.00 25 Agustus 2014, jadi dapat diakui bahwa tulisan ini adalah karya saya di tanggal 24 Agustus)

18 Agustus 2014

Welcoming birthday, again.

Birthday is getting less special when you grow old. Maybe I'm already bored with birthday celebrations. I have already faced them for 22 times!

So, this is me, in my 23rd. Nothing has changed since the last time I was 22 (21 minutes ago), except my hair getting more oily because I left it unwashed.

I am a grown up; birthday is not a special celebration; birthday is just another day.
I am a grown up; there's nothing special about birthday; what's so special is just life.
I am a grown up; I need to walk in the right path, in that special path, so I will leave bright and shiny traces in this world.

And yesterday an idea popped out in my brain. It suggests me to make a commitment to my self, one writing everyday and one painting every week, since today until the next time I find myself getting older a year.

Hmm, pinky swear?

...

Hahaha, why this feels so hard?

(Breath heavily)

Okay, one writing everyday! Pinky swear!

And this is my first article in my twenty-three.

Tanggung jawab!

Dibandingkan dengan negara-negara luar, Indonesia sepertinya menjadi salah satu negara yang masih gagal mengelola sampah-sampahnya. Banyak yang menyimpulkan, ini semua disebabkan oleh majunya teknologi tidak sebanding dengan pendidikan kepada masyarakatnya.

Sedikit banyak, tampaknya pernyataan tadi cukup benar. Saya pernah beberapa kali live in di pedesaan. Saya tinggal di rumah seorang penduduk desa, bergaul dengan remaja-remaja sepantaran saya, ikut membantu (atau justru gerecokin) tuan rumah bertani, menemani belanja ke pasar, sampai main-main dengan anak-anak kecil ingusan. Di samping pengalaman-pengalaman seru dan pemandangan indah di desa sana, ada sebuah hal lain yang membekas di ingatan saya.

Pertama kali saya live in, saya tinggal di daerah Sleman, di sekitar Yogyakarta. Hari pertama tiba di sana, saya beramah tamah seharian dengan tuan rumah, cengangas-cengenges sama teman serumah, sampai tibalah suatu sore hari di saat saya memegang sampah di tangan saya. Saya keliling-keliling mencari tong sampah, tapi pencarian saya sia-sia. Akhirnya, bertanyalah saya pada Ibu pemilik rumah, dan katanya, taruh saja di sana. Di sana, di sebuah tumpukan dedaunan.

Baiklah, kebetulan sampah saya juga sisa makanan, jadi… yasudahlah.

Beranjak malam, saya yang saat itu sedang datang bulan, keluar dari kamar mandi menggenggam seonggok ‘sampah wanita’. Masa saya taruh di tumpukan dedaunan? Kan, jijik… karena masih gagal menemukan tempat pembuangan yang lebih layak, saya bertanya lagi di mana tempat sampah, mau buang pembalut.
Si Ibu kemudian menunjuk tungku memasak, taruh saja di tungku, nanti dibakar.

Hah, gak apa-apa, Bu?

Beliau tersenyum.


***

Kali kedua, saya tinggal selama dua minggu di daerah Garut. Di sana saya bertempat di sebuah rumah di tepi lembah. Di bawah lembah sana mengalir sungai, dan sepanjang tembok landainya ramai ditumbuhi tanaman-tanaman tropis dan liar. Kalau dibayangkan, mungkin tampaknya indah – hijau-hijauan diiringi gemericik sungai. Tapi, sesungguhnya saya lupa untuk menyebutkan suatu informasi yang spontan menepis bayangan-bayangan indah tadi.

Jurang itu ternyata menjadi tempat pembuangan akhir sampah bagi mereka. Banyak sampah-sampah plastik, sebagian besar bungkus makanan ringan, bertebaran bagai bintang di malam hari. Saya cukup kaget melihat penduduk desa yang terbiasa membuang sampah langsung ke sana.

Saya langsung berpikir.

Satu, sarana, prasarana, dan fasilitas persampahan dari pemerintah tidak menyentuh langsung ke sana. Tidak ada petugas sampah dari pemerintah yang datang ke desa tersebut, mengambil sampah-sampah dan sebagainya. Tidak ada satupun tong sampah terlihat di sana. Mungkin, kalau dari sudut pandang makro, dengan data-data statistik sebagai bahan analisisnya, desa di bilangan Garut ini bisa saja mendapat penghargaan “Desa Zero Waste” saking tidak adanya sampah yang keluar dari sana membebani pemerintah. Padahal justru di sana tidak ada pengelolaan sampah sama sekali. Sampah secara langsung membebani alam.

Dua, bayangkan desa itu masih tertutup dari perkembangan teknologi terkini (bungkus plastik untuk makanan kecil itu teknologi, setuju kan?). Mereka hidup mandiri dari sumber daya mereka sendiri. Mereka membeli makanan kecil di warung-warung penduduk mereka sendiri. Pemilik warung membuat lemper, odading, ataupun kelepon, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Akhirnya, sampah yang mereka hasilkan pun organik.

Mungkin, nenek moyang mereka dulu, yang sampahnya hanya sebatas daun pisang, memang terbiasa membuang apapun ke lembah itu. Kini, penduduk sekarang, yang sudah kedatangan bungkus plastik, tetap membuang sampah ke lembah, karena tidak adanya pemahaman bahwa bungkus plastik tidak bisa diperlakukan sama seperti daun pisang.

Warung-warung bergeser dari menjual lemper ke ciki-cikian. Mereka sangat terbuka untuk teknologi, perusahaan-perusahaan makanan ringan mampu melesat dan memasuki desa. Namun, sayangnya, pendidikan dan pengetahuan tidak turut menyerap ke dalam desa tersebut. Mereka terisolasi dari perkembangan pengetahuan dan pendidikan.

***

Di ITB, terdapat wadah berkumpulnya mahasiswa yang satu jurusan untuk berkegiatan bersama. Wadah tersebut biasa disebut himpunan. Himpunan mahasiswa di ITB memiliki sebuah sekre, suatu tempat untuk berkumpul bersama. Kadang rapat, kadang bikin tugas, kadang main gitar sampai pagi, kadang main pingpong, dan kadang-kadang jadi tempat bakar dan makan jagung.

Penuhnya sekre oleh mahasiswa kadang-kadang membuat penuhnya sekre oleh sampah ketika mahasiswa-mahasiswa itu pulang. Mungkin sesuai dengan peribahasa gajah dan macan. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, mahasiswa pulang meninggalkan sampah. Tentu saja hal ini membuat geram sebagian mahasiswa-mahasiswa nan apik dan resik. Tidak jarang, sekre-sekre himpunan ditempeli tulisan-tulisan yang kurang lebih berbunyi “tanggung jawab akan sampahmu”.

Kurang lebih, para penjaga sekre mengharapkan para ‘produsen’ sampah itu bertanggung jawab akan sampahnya masing-masing dan membuangnya sendiri ke tong sampah agar tidak mengotori sekre. Kalau dalam konteks himpunan, produsennya itu mahasiswa dan sampahnya itu adalah botol-botol air mineral yang mereka beli, bungkus plastik bekas makanan, dan sebagainya.

Nah, kira-kira bisa gak ya konsep ini diterapkan dalam lingkup yang lebih luas?

Dalam lingkup yang lebih luas, produsennya adalah pabrik atau toko-toko. Coba bayangkan sebuah air kemasan. Ketika airnya habis, yang tersisa hanya sampah botol plastik, kan? Jadi sebenarnya, perusahaan-perusahaan itu, selain mencetak minuman, dia juga mencetak ribuan sampah botol setiap harinya.

Mengadopsi prinsip ketua divisi badan rumah tangga himpunan-himpunan di ITB, harusnya para perusahaan itu harus bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Program CSR perusahaan harusnya sesuai dan sebanding dengan kerusakan yang mereka buat. Kalau ada perusahaan yang menghasilkan 2 ton sampah plastik setiap harinya, maka program CSR mereka pun harusnya mengelola 2 ton sampah plastik setiap harinya pula. Atau, jika perusahaan tersebut menghasilkan produk yang pemakaiannya mengakibatkan pencemaran air, seharusnya mereka membantu pemerintah dalam pengelolaan air bersih sebagai program CSRnya.

Dinar. Ramadhani.

#1 Konteks yang terlalu sempit
"Kalau ke Thailand, mau liat karambanya ah,"kata Dinar.
"Jalan-jalan yuk!"
"Yuk, akhirnya..."
"Pengen ke Malang nih."
"Hah?"Dinar kaget.
"Loh,"saya ikut kaget,"emang pengen ke Thailand?"
"Ngga, kirain jalan-jalan itu mau keluar rumah."
-___-

#2 Gak lucu
"Adek kan juga gak jelas,"mulai Dinar,"terus kita suka gak jelas berdua gitu. Akhirnya kita bikin quote."
"Apaan?"
Dinar ketawa terpingkal-pingkal sendiri,"aduh, ga kuat. Ditulis aja ya. Hahahahahaha"
Wah, lucu banget nih kayaknya. "Hahaha, apa Nar, tulis aja."
"Hahahahahaha, jadi sama adek bikin quote gitu,'orang yang mentertawakan ketidakjelasan lebih tidak jelas daripada ketidakjelasan itu sendiri."
...
"HAHAHAHA GAK LUCU."
"HAHAHAHAHA IYAA MAKANYA ITU KARENA GAK LUCU JADI KETAWA"

Hahaha, what @#$%^&*?! gak logis

Sarjana, Toga, dan Wisdom

Hari ini adalah hari kelima di bulan Agustus tahun ini. Sebagai mahasiswa yang (seharusnya) tingkat akhir, saya sudah dua kali mencicip wisuda teman-teman seangkatan saya. Yang pertama wisuda ITB Juli kemarin, dan yang kedua wisuda Unpar, Juli juga.

Saya kemarin-kemarin heboh membeli kartu ucapan, lalu dituliskan "SELAMAT Siapakek, S.T.!". Di angkatan sendiri mulai terdengar 'gelar-gelar' ST1, ST12, sampai ST berapapun, yang menandakan urutan kelulusan sidang di angkatannya.

Sarjana.

Sarjana Teknik, Sarjana Sosial, Sarjana Hukum, Sarjana Seni, apalagi?

Kalau dipikir-pikir, memang, sarjana itu apaan ya?
Ahli? Ahli sosial, ahli psikologi?
Atau bahkan, jangan-jangan sarjana artinya sekedar... lulusan.
Lulusan teknik, lulusan sosial, lulusan hukum. Kalau benar artinya sekedar lulusan, beeeuh, capek-capek kuliah, ternyata cuma jadi seorang lulusan yang nobody guarantees you will do great or even be an expert there.

Saya masih belum paham makna sarjana sekarang, tapi kalau ditilik dari sejarahnya, sarjana, yang berasal dari Bahasa Sansekerta ini, ternyata bermakna orang yang pandai atau berilmu. Sarjana adalah orang yang dianggap ahli di kalangannya. Padahal, sekarang seorang sarjana S-1 masih banyak yang jadi pengangguran. Kalau sarjana adalah seorang ahli, seharusnya pekerjaan yang mencari beliau, bukan beliau yang mencari pekerjaan.

Makanya, saya masih belum menemukan makna sarjana yang diakui di masa sekarang selain sebagai seorang lulusan S1.

Guru pelajaran Bahasa Indonesia saya waktu SMA mengkategorikan kasus sarjana ini sebagai penyempitan makna. Mari kita bayangkan diagram Venn, kalau memang menyempit, artinya lulusan S1 merupakan himpunan bagian dari kelompok ahli, yang artinya lulusan S1 pasti ahli dalam bidangnya. Melihat kenyataan sekarang, saya justru menganggap kasus sarjana ini sebagai pergeseran makna. Haha, gak penting sih, ya sudah lupakan.

Selain itu, seremonial wisuda sekarang di seluruh dunia, sepertinya sudah diseragamkan dengan fashion  yang sama; toga dan mortarboard. Kalau dari sejarahnya lagi, toga ternyata adalah pakaian laki-laki pada masa Romawi Kuno (wanitanya memakai pakaian yang disebut dengan stola). Kurang lebih kayak gini:

Toga terbuat dari kain sepanjang enam meter yang dililit-lilit dan tidak dijahit. Ada yang menyebutkan bahwa toga merupakan satu-satunya pakaian yang layak dipakai di luar ruangan, tapi ada juga yang bilang bahwa toga merupakan pakaian yang biasa dipakai kalangan intelektual pada masa itu.

Tapi kayaknya benar dua-duanya deh. Jadi urutannya, toga pakaian sehari-hari di luar ruangan. Karena ribet, lama-lama pakaian ini ditinggalkan orang, tapi tetap digunakan di seremonial khusus (jadi kesannya intelektual). Haha tapi ini dugaan saya doang sih, kalau salah ya mohon maaf lahir batin, saya  kan lahir tahun 90an, bukan tahun Romawi Kuno haha. Intinya, ini pakaian orang Romawi. Dan yang jelas memang toga ini lama kelamaan ditinggalkan orang, tapi malah jadi dimodifikasi menjadi jubah seperti sekarang ini, dan 'naik derajat' jadi pakaian khusus acara penting, salah satunya wisuda.

Sementara itu, mortarboard, nama asli topi toga yang kotak itu, diduga asalnya terinspirasi dari biretta. Biretta adalah topi yang biasa dikenakan pendeta Katolik Roma. Biretta sendiri merupakan modifikasi dari berretto (nah loh mirip amat namanya) yang merupakan topi yang biasa digunakan kaum akademisi, seniman, dan humanis Romawi sekitar abad 12 hingga 14.

Si talinya sendiri entahlah melambangkan apa. Namun, dalam prosesi wisuda, katanya (saya belum diwisuda :') haha), sang rektor memindahkan tali ini dari kiri ke kanan. Ada yang bilang, prosesi itu melambangkan bahwa si sarjana, yang selama ini diolah otak kirinya di bangku kuliah, sekarang sudah lulus dan harus bisa menggunakan otak kanannya dalam pekerjaannya nanti. Otak kanan; perasaan, imajinasi, intuisi...

Setelah lulus kuliah, banyak sekali lambang-lambang yang akan diatributkan pada diri kita. Tapi, kadang, apa gunanya bahasa kalau tidak ada yang paham, apa gunanya lambang kalau tidak ada yang mengerti. Gelar sarjana itu kayaknya berat banget deh. Coba saja, dari seratusan SKS yang sudah saya ambil ini, berapa banyak nilai yang kurang dari baik? Okelah, nilai bukan segalanya, tapi, kalau saya renungi lagi, sudah berapa banyak SKS yang telah saya lupakan ilmunya? Inikah, saya, si calon sarjana berilmu pandai lagi ahli itu?

Anyway, kalau dipikir-pikir, toga tidak ada hubungannya dengan kelulusan dan kepandaian ya? Hahaha. Itu ibaratnya 1000 tahun lagi orang-orang diwisuda pakai kaos (men, apa yang sakral dari kaos? haha). Kalau menurut saya pribadi, perlambang yang paling tepat dipasang di sarjana adalah:
PADI!
hihi
lebih Indonesia, lebih lokal, dan orang-orang juga lebih paham; semakin berisi semakin merunduk.

Gelar jadi terasa tidak penting. Haha. Apalagi, setelah saya paham betapa arti sarjana sudah bergeser jauh dari makna aslinya yang begitu sabi. Sama saja seperti kata 'cantik' sudah bergeser jadi bermakna 'seenggaknya lo punya muka', ketika saya disebut cantik pada saat itu, tentu kebanggaannya sudah hilang.

Mari jadi sarjana sesungguhnya!!! Hiaaat!

:D

what is wrong

what is wrong with me
as the queen raises
i always feel under the stairs
looking up on those who smile

what is wrong with me
as the lions pass
i am just lying here on the grass
blaming on the time who fly

social media

mampir ke rumah eyang, buat nugas dan internetan, memberi dampak sampingan juga, saya jadi nonton tv. saluran yang dipasang saat ini saluran berita, dan sekarang banget nih, sedang ada pembahasan tentang anas, tepatnya pembahasan twitter-nya anas.

si pengamat politik yang diwawancara membicarakan apa saja tweet-nya anas, bagaimana reaksi masyarakat; retweet-kah, komenkah, dan sebagainya.

beliau bahkan menyebutkan,"... saya pantau akunnya anas..."

saya pantau.

saya pantau, men.

kalau orang awam yang ngomong, itu sama saja dengan "...saya stalk akunnya anas..." ga sih?

haha.

dunia memang berubah cepat ya, perasaan waktu SMA, twitter buat saya adalah sebuah social media baru yang tombol sign up-nya nempel di browser pilihan saya, sebuah social media iseng yang warna birunya lucu dan bagus, sampai akhirnya saya memutuskan untuk klik tombol itu dan sign up. sekarang, social media bahkan bisa jadi alasan sebuah masalah ("gua gak suka deh sama si itu, bacot banget twitternya"), bisa jadi penyebaran informasi yang efektif, iklan yang menarik, kuis online yang heboh, dan sekarang bahkan bisa jadi alat untuk analisis politik.

benar-benar, ini adalah era informasi.

yang sesungguhnya merantau hanyalah informasi, dan kita, beserta otot dan tulang-belulang kita, terduduk diam dan statis di suatu tempat di depan laptop.

rasanya kita seperti sudah berjalan di muka bumi ini, padahal hanya kode-kode biner program itu yang mengirimkannya ke muka kita!

huff, makanya, saya mau jalan-jalan.
jalan-jalan sungguhan.
ke phuket? :p

Harapan Palsu


Dina terbangun dari tidur siangnya yang damai. Kepalanya agak sakit, rasanya seperti otaknya yang lunak itu menjadi tempat ibu-ibu penjahit menancapkan jarum-jarum pentul. Kelopak matanya berat sekali. Dia melirik jam dinding berwarna kuning yang tergantung rapi di dinding kamar kosannya.

Gelap, tidak terlihat apapun.

Dina menyalakan lampu di meja sebelah kasurnya. Tampaklah jarum-jarum jam dindingnya meneriakkan kenyataan bahwa sekarang sudah jam 1 siang.

Dina mengerang sunyi.

Pelan-pelan, otaknya menghitung sudah berapa lama dirinya terlelap. Dia baru pulang dari kampus jam 7 tadi pagi. Tugas kelompoknya baru selesai jam 6. Segera, dengan semangat asik-tugas-gua-berkurang-satu, Dina dan Cinta beranjak ke tempat print pinggir jalan sekitar kampus. Jam setengah 7 mereka berhasil tiba di tata usaha untuk mengumpulkan tugas, dengan muka riang dan kantung mata yang membengkak. Sialnya, tata usaha masih tutup.

“Haha, hebat amat kita, bangun lebih pagi dari tata usaha,” Cinta tertawa frustasi.

Dina melengos,”sok-sokan bangun pagi ah lo, Cin, kita kan belum tidur.”

Cinta terkekeh lelah lalu mengajak Dina menunggu ibu-ibu tata usaha di kursi-kursi di sepanjang lorong gedung kuliahnya. Mereka menjatuhkan tubuh mereka di kursi yang keras, lalu bersandar mengantuk, memejamkan mata.

Sekitar 7 kurang 15, Ibu Tia datang dan membuka pintu ruangan tata usaha. Bergegas, Dina dan Cinta merapat pada Ibu Tia sambil membawa laporan tebal. Ibu Tia menolak mereka dengan alasan,”TU-nya belum buka, Neng. Sebentar lagi jam 7 aja.”

Dina segera menguap, memasang muka lelah dan mata sepet. Cinta berpura-pura kelelahan, meskipun memang benar-benar lelah, dan bersender pada pintu tata usaha, kemudian merayu Bu Tia dengan balada sedihnya dia dan Dina, betapa lelahnya mereka semalam suntuk begadang, belum lagi prahara laptop ngehang, tempat printer yang agak jauh (dan nanjak!) serta mahal, bahwa mereka akan kuliah pagi (meskipun mereka sudah meyakinkan diri untuk bolos), dan betapa sakitnya kepala mereka sekarang.

Akting mereka teruji kualitasnya sampai-sampai Bu Tia mengiyakan mereka untuk mengumpulkan tugas, lebih cepat dari waktunya. Dengan sepercik muka iba yang tulus dari Bu Tia, yang membuahkan rasa bersalah pada Cinta yang telah memberi alasan super hiperbola, beliau menyemangati anak-anak kuliahan ini dengan sungguh-sungguh.

Sambil berjalan pulang, Cinta meluapkan rasa tidak enaknya, yang menurut Dina berlebihan.

“Ya udah, sih, toh kita kan gak benar-benar berbohong dan berakting. Laptop Toni memang ngehang semalam dan Kika sampai harus minum panadol saking pusingnya. Kita memang capek, kok.”

Akhirnya, jam setengah delapan pagi, Dina tiba di kosannya – di kasurnya. Dina membanting tubuhnya ke kasur, lalu berguling menyamping menghadap tembok. Sekarang, dia sedang memandangi list tugas yang dia tempel di dinding samping tempat tidur. Dina mengambil bolpen, yang, entah bagaimana, tergeletak di samping bantalnya, lalu mencoret satu buah tugas.

“Laporan struktur bangunan… Rabu. Tugas manajemen konstruksi, tugas…”

Dina mendaftarkan tugasnya yang belum rampung satu persatu dalam hati. Masih ada 5 lagi. Dari tujuh tugas yang diberikan bertubi-tubi di dua minggu terakhir kuliah. Dina dan teman-temannya harus menyelesaikan 60% dari total tugas mereka dalam waktu 25% dari total kuliah! Salahkan dosen.

Hey, dosen tidak bersalah. Mereka sedang berbagi ilmu melalui… tugas.

Salahkan… salahkan diri sendiri berani-beraninya masuk universitas. Haha. Dina tersenyum sendiri. 

Kemudian terlelap.

Ketika jam satu siang akhirnya terbangun, Dina sudah beristirahat selama lima setengah jam. Cukup, sih, seharusnya. Dengan kepala yang agak sakit dan badan yang malas bergerak, dia memejamkan matanya sebentar.

Lima menit saja kok.

Suara hujan terdengar samar-samar, menenangkan. Lima menit kemudian, dia membuka matanya dan langsung beranjak keluar kamar. Entah bagaimana, ruangan di luar kamar kosannya tampak berbeda. Masa sih selama Dina tidur tadi ada renovasi besar-besaran di balik pintu kamarnya?

Ruangan ini tampak menyenangkan bagi Dina. Besar dan diterangi cahaya matahari yang agak redup, cerahnya termakan awan-awan mendung di atas sana. Jendela-jendela besar menghiasi sebagian besar dinding ruangan. Ruangan ini dipenuhi rak-rak buku yang terbuat dari kayu berwarna gelap. Sebuah karpet berwarna marun terbentang di tengahnya, memberi aksen yang menarik dari ruangan.

Dina pergi ke satu sudut ruangan dan duduk di sebuah kursi di samping jendela besar. Di depan kursinya terdapat meja kayu bundar dan di atasnya sudah disiapkan secangkir milo, untuknya. Butiran-butiran air sibuk berdempet-dempetan di kaca jendela.

Dina menyeruput Milonya dan mengambil HPnya. Sebuah SMS dari Cinta muncul. Bukan main gembiranya, semua sisa-sisa tugasnya diundur pengumpulannya jadi bulan depan. Dina sangat menikmati waktu istirahat ini, tanpa ada beban moril tugas menggantung di benaknya. Dia menyeruput Milonya lagi sambil memejamkan mata.

Kemudian dia buka matanya.

Dina masih ada di atas kasurnya. Dengan lampu di sampingnya menyala. Selimut yang berantakan. Serta jam dinding yang menunjukkan pukul 2 siang. Dina menelan ludahnya, merasa hidup ini pahit. Dina berdiri, duduk di meja belajarnya, mengambil laptopnya, kemudian mulai membuka Microsoft Word dengan wajah datar. Ditemani sisa-sisa mimpi yang mulai tertelan kembali ke pusaran ingatannya, Dina mulai mengetikkan kata, L-A-P-O-R-A-N …

untitled

The night with the rythm of quite quiet silence, calming the soul with its darling air.

As I breathe the grace given, the memories are getting sephia.

So can I just trust, as the thin air moist the roses, in this fancy world?


Published with Blogger-droid v2.0.4

Dunia

Dunia ini dunia kiasan,
Simbol-simbol tersurat,
Lambang dari makna-makna sirat
Hanya yang halus hatinya mampu tahu
Arti terselubung kata cita dan cinta
Topeng dari hati-hati menjerit

Dunia ini dunia penantian
Perjalanan panjang mereka yang bertuju
Mereka yang tak sia-sia
Hanya yang pasrah dan ikhlas tak menderita
Karena pekatnya kabut masa

Dunia ini dunia fana
Tangan Tuhan meliputi
Setitik guncang hancurkan utuh
Hanya yang tahu tak tersia
Yang dapat menaikkan semua ke atas
Menuju tempat yang kekal

Dunia ini dunia kiasan
Pernik fana kunanti
Dunia ini dunia kiasan
Tidakkah kamu mengerti?

Published with Blogger-droid v2.0.4

Kecoa

[GAMBAR]

Untuk tulisan-tulisan seperti ini sih biasanya saya suka kasih gambar dulu bagian atas. Namun, karena saya terlalu geli sama kecoa, saya jadi males naro gambar :p

Kamar saya lagi kemasukan kecoa.

Beberapa hari yang lalu Jeanne membuat post tentang pertanyaan-pertanyaan random, dan kata 'kecoa', secara kebetulan, tersebut juga di sana.

Semingguan yang lalu, entah kenapa, saya sempat membicarakan kecoa dengan seorang senior dari jurusan Biologi.

Yah, mungkin kecoa memang ingin ditulis jadi tema kali ini.

Jadi, si Jeanne ini menulis begini di halamannya:
"14. Hewan apa yang menurut Anda sebaiknya tidak perlu ada di muka bumi ini?
Definitely kecoa. Gunanya apa coba? Kalo ilang dari rantai makanan juga kayanya gak ngefek-ngefek amat."
Hahaha mungkin kalimat tadi kalau dibaca oleh ahli-ahli biologi bisa dapat pertentangan yang super menantang. Tapi toh saya juga mempertanyakan itu, emang kalau kecoa dipunahin, rantai makanannya terganggu amat apa? Kan ada serangga-serangga yang lain yang bisa jadi mangsa para pemakan serangga. (wah ini bisa jadi asal-muasal kejahatan genosida deh :p)

Dan waktu pertanyaan ini, iseng, saya lontarkan kepada senior dari Biologi itu, saya mendapat jawaban yang cukup menarik. Coba saya kasih cuplikan-cuplikan perbincangan kami waktu itu;

"...Kayaknya kalo lo berharap kecoa punah, itu ga bakal terjadi deh. Asal lo tau aja,kecoa itu adalah hewan yang berhasil bertahan dari zaman dinosaurus..."
"...yah, ekosistem pasti bakal terganggu, sih..."
dan, yang paling menarik buat saya adalah...
"...sebenernya, dulu tuh di Indonesia gak ada kecoa. Kecoa tuh asalnya dari Amerika, nama latinnya aja Periplaneta americana. Terus kecoa yang kecil-kecil, yang suka ada di beras-beras pasar itu aslinya dari Jerman..."
"...jaman dulu kan orang-orang amerika banyak yang ke Indonesia pake kapal, bawa kargo-kargo gede. Nah dari situ tuh kecoanya bermigrasi..."
well, kesimpulannya, Indonesia santai-santai aja dong kalau kecoa dipunahin?

:p

ah, tapi jangan jahat ah sama kecoa, kesian deh dia. Maksudnya, coba perhatikan kumbang tanduk.

Entah kenapa, menurut saya dia serangga terkeren sepanjang sejarah umat, padahal dia mirip-mirip aja sama kecoa; kecil, coklat, dan mudah diinjak.

Jadi.... apa salah kecoa sampai-sampai dia digeliin sedemikian rupa?

...

Tapi saya bakal tetap akan mengusir kecoa yang masuk ke teritori saya itu.

heheh

Pacaran

"Susah tau kalo kondisinya kayak gini, temen-temen lo mulai pada jadian semua. Bahkan, pembantu kosan lo jadian!" - seorang teman 

tekun


“Tidak ada yang menang dan yang kalah. Yang ada hanyalah yang menang dan bertahan.”
Saya membaca tulisan tersebut di sebuah kalender milik teman saya. Melihatnya, membuat saya teringat kepada buku yang tengah saya baca. Saya sedang menyelesaikan sebuah buku tentang teori relativitas sekaligus sedikit biografi Einstein. Untuk mencapai pembahasan teori relativitas, si penulis memperkenalkan dulu sejarah hukum orbit dan Johanes Keppler. Hukum orbit tadi tidak serta merta berasal dari otak Keppler seorang. Beliau sendiri juga turut mengambil ilmu dari hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh gurunya, Tycho Brahe. Keppler mempelajari data penelitian Brahe sembari melakukan pengamatan sendiri selama dua puluh tahun hingga akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa lintasan planet berbentuk elips dengan mentari berada di salah satu titik apinya.

Dua puluh tahun, butuh kesabaran dan ketekunan yang besar untuk mampu menjalaninya.

Agama saya sendiri, sejauh penafsiran saya, menghargai ketekunan. Tersebut bahwa Allah menyukai kebaikan, meskipun kecil, tapi terus-menerus dikerjakan.

Namun, selama ini generasi kita tumbuh dalam suasana novel, film, komik, dan lain-lain, yang punya tokoh utama yang sangat keren; pintar, berbakat, dan selalu berprestasi meski malas dan tanpa usaha. Akibatnya, sebelum ini saya cukup menganggap orang yang pintar ‘dari sananya’ memang lebih oke dibanding orang yang berprestasi karena usahanya.

Pintar ‘dari sananya’ itu dari Sana, loh, apa yang mau dibanggakan? Pintar ‘dari sananya’ ibaratnya Cuma semacam hibah gak sih?

Namun, coba perhatikan lebih dalam, sekarang ini banyak tokoh utama film-film keren yang punya karakter pintar dan tekun. Lihat saja Tony Stark di film Iron Man; dia tidak pernah dikisahkan punya pekerja. Tony Stark pun seringkali diperlihatkan dia membuat peralatannya sendiri. Dia bahkan punya bengkel yang penuh dengan robot dan CAD berbentuk hologram, kalau dia tidak punya pekerja, berarti selama ini dia mendesain dan merakitnya sendiri. Juga tengok Andy Dufresne di film Shawshank Redemption. Untuk mencapai tujuan akhirnya, dia perlu berjuang selama dua puluh tahun dengan pekerjaan yang membosankan.

Pantas saja, biasanya bidang para ahli dituliskan sebagai ‘bidang yang ia tekuni’, bukan ‘bidang yang ia bakati’. Ini mengamini juga Thomas Alfa Edison yang pernah berkata,”Genius is one percent inspiration and 99% perspiration”. Mirip dengan Einstein yang menyebutkan bahwa dia bukannya lebih pintar dari kita, hanya saja dia berusaha lebih lama di tempat itu lebih lama dari kita.

Semua ini sering membuat saya kembali ke masa lalu, sudah berapa hal yang saya tinggalkan setengah, yang saya pergi didorong kemalasan?

Heroin

Si Avi bilang lari itu seperti berpikir. Seiring dengan langkah-langkah cepat kita melintas, otak kita juga melaju dengan pikirannya sendiri, membawa diri kita pergi ke masa yang lampau, impian, dan bahkan masalah kita sekarang.

Ah saya kurang setuju.

Bagi saya, olahraga itu seperti heroin. Saat saya lari, bermain dengan bola, atau bahkan sekedar push up (yang jarang sekali saya tunaikan :p), ada detik-detik tertentu ketika otak saya benar-benar fokus pada apa yang di hadapan saya dan apa yang akan otot saya lakukan.

Saat itu adalah saat semua kenyataan, masalah, maupun kebahagiaan selama ini terlupa sesaat dari pikiran saya.

Saya tidak sedang bermasalah juga sih hahaha, tapi ide olahraga sebagai pelampiasan (atau pelarian?) sesaat sepertinya asik juga diterapkan. Bikin badan sehat kan :3


Published with Blogger-droid v2.0.4

Pembuka

Masih jam setengah sembilan pagi. Jarang-jarang nih, saya sudah tiba di gedung perpustakaan ITB. Ada tugas sih, tapi biasanya pun kalau ada tugas, saya jarang sekali nongkrong di perpustakaan.

Tapi, kali ini berbeda :D

Perpustakaan ITB sudah direnovasi, dengan tampak eksterior yang masih sama, tapi memiliki interior yang baru. Yah, memang tidak mewah, lagian ngapain mewah-mewah, tapi yang jelas, saya jadi semangat belajar di sini :D

Bersyukurlah saya yang pindah jurusan jadi masih punya dua tahun menikmati gedung ini. Ngomong-ngomong, nuansa warnanya jadi sama seperti perpustakaan SMA saya setelah direnovasi 5-6 tahun silam. Jingga dan hijau. Ada apa dengan jingga dan hijau?

Tapi ya sudah, bersyukurlah wahai TPB 2012! Kalian punya gedung yang enak nih, waktu saya masih muda TPB dulu, kalau mengerjakan tugas biasanya di CC barat. Lumayan enak kok, tapi memang lebih enak di perpus gini.

Sebenarnya saya agak sungkan untuk menceritakan tentang kehebatan perpus ITB masa kini karena takut perpus jadi penuh dan tidak nyaman lagi (egois hahaha), tapi saya harus menceritakan karena waktu itu ditegur Okihita.

"You have to learn how to get something by giving something," demikian katanya. Cmiiw, Ki, kalo salah. Haha iya sih, memang egois kalau sampai saya tidak mau bilang-bilang :P

Oh iya, semalam masa saya mimpi...

Eh jangan deh, kata Mahdi mimpi gak boleh diceritain. Haha.

Yah sudah lah, demikian pembuka hari ini dari saya, untuk saya. Ada agenda yang mengantri dalam kehidupan hari ini, mari kita layani~

Sekrup Buat Muka

Di suatu minimarket di Bumi Parahyangan

Saya: teh, ada sekrup?
 Si Teteh: skrup? Scrub maksudnya?
 Saya: bukaan, sekrup teh.
 Si Teteh: iya, scrub, kan?
 Saya: bukan scrub teh, sekrup, sekrup
 Si Teteh: iya, scrub, skrup yang buat muka kan?
 Saya: bukan, sekrup yang buat tembok.

-__-

Published with Blogger-droid v2.0.4

Berantakan

Saya kayaknya sering ngoceh ke mana-mana kalau kamar saya berkorelasi positif dengan hidup saya.

Berantakan. Kamar saya lagi berantakan, hidup saya jadi ikut-ikutan ngaco.

Sebenarnya, kayaknya sih hidupnya tetap aja, hanya saja otak ini jadi mumet dan barang susah dicari. Gara-gara itu hidup rasanya jadi ikut berantakan. Uhuy.

Kapan nih beres-beresnya?


Published with Blogger-droid v2.0.4

Dj Akarta!

Sebuah pusat perbelanjaan kembali dibangun di suatu jalan yang sering saya lewati. Agak heran juga karena selama ini kemacetan sudah menjadi kegiatan rutin di daerah tersebut, ibaratnya seperti buka puasa di bulan Ramadhan, pasti terjadi. Ahaha. Padahal kan, adanya pusat kegiatan ekonomi seperti itu akan menambah bangkitan transportasi menuju daerah tersebut, yang artinya bertambahnya volume kendaraan atau penumpang transjakarta, tanpa adanya penambahan lebar jalan ataupun jumlah bus transjakarta yang signifikan. Eh, gak tau sih, siapa tahu bus transjakartanya mau ditambah. Semoga.

Iseng, coba saya cari berapa jumlah mall yang menjadi warga ibukota ini. Ternyata, menurut vivaNews, sudah terdapat lebih dari 170 pusat perbelanjaan di DKI ini!

Mungkin, ini semua ada hubungannya dengan desain kota Jakarta yang sudah tidak nikmat bila dihayati dengan jalan kaki.

Mataharinya panas sih.

Eits, jangan salahin matahari, kalau matahari disuruh jadi dingin, nanti kita kembali ke jaman es (ngomong-ngomong, saya belum menonton Ice Age 4 nih HIKS HIKS).

Salahkan kita yang membuang pohon, semak, dan rumput, menggantinya dengan kongkrit dan aspal. Dengan kongkrit dan aspal dan semen dan lain-lain, gelombang cahaya matahari akan terpantul, tidak terserap seperti pada pepohonan rindang, jadi, ya, makin panas, coy. Belum lagi polusi udara dari kendaraan yang berjibun di kota ini. Dan copet. Dan jambret. Dan bencong. Makin tidak nyaman lah dunia kita ini, masberooooo.

Memang, Jakarta tampak seperti didesain bagi kehidupan mobil, saja.

Tidak aneh jika ruang publik Jakarta sebagian besar berada di dalam mall, gedung besar ber-AC, yang hampir tidak ada spot gratis untuk sekedar duduk.

Tapi, sebenarnya, yang dibutuhkan orang-orang di sini apaan sih.

Kalau saya pribadi, agak keberatan dengan sedikitnya ruang publik yang bisa dihinggapi dengan gratis. Meskipun, di dunia ini tidak ada yang gratis, jadi ya ruang publik itu mungkin saja dibiayai dengan pajak dari orang tua kita, tapi setidaknya gratis, yang, yah tahulah ya maksud saya.

Ceritanya kan saya mahasiswa nih, waktu itu pernah membuat suatu janji bersama teman-teman di Jakarta, untuk membuat tugas, dan kami berpikir keras tempat mana yang enak buat membuat tugas tanpa harus beli minum atau camilan.

Atau, di kesempatan lain saya pernah sekadar janji bertemu teman SMA, dan susah juga mencari tempat nangkring gratisan. Yang terus menerus muncul di kepala hanyalah Starbucks (kan mahal :/ ), McD, dan tempat-tempat sejenis. Intinya mesti beli minum, kalau tidak beli dipelototi mbak-mbaknya. :p

Oh iya, di dekat rumah saya ada BKT (Banjir Kanal Timur), tahu kan? Sungai, yang saya pikir, telah menyelamatkan Cipinang Indah dari banjir tahunan. Hihi. Nah, di pinggir kanal tersebut, dibangun juga dua jalur jalan untuk keperluan inspeksi. Jadi, sejatinya, sesungguhnya, dan sejujur-jujurnya jujur bisa jujur, jalanan itu sebenarnya tidak boleh digunakan untuk keperluan umum. Tapi, sekarang, jalanan di samping sungai itu sudah penuh dengan pasar kaget dan ramai dikunjungi muda-mudi bermotor, pacaran di pinggir sungai sambil menikmati pemandangan air mengalir riuh rendah.

Yah, mungkin fitrah manusia memang senang menikmati alam tanpa terkungkung dalam tembok-tembok berbentuk kotak itu. Pengennya melihat langit, bukan langit-langit.

Selain itu, di dekat rumah saya ada yang disebut Pasar Gembrong. Doski adalah sebuah pasar tumpah yang isinya mainan anak-anak semua. Ada karpet juga sih, sedikit. Pasar itu selalu membuat kemacetan di Jalan Baru. Sama macetnya dengan yang diakibatkan oleh Pasar Jatinegara. Dan Pasar Senen.

Yang saya tekankan di sini bukan macetnya, tapi kemacetan itu adalah bukti bahwa pasar itu selalu ramai pengunjung. Banyak warga Jakarta yang punya kepentingan untuk membeli kebutuhan, dan tentu saja membuka peluang mencari nafkah.

Tambahan lagi, berapa banyak warteg-warteg tidak legal yang ramai tumbuh di trotoar-trotoar jalanan? Subur dan banyaknya jumlah mereka, bagi saya, menunjukkan besarnya peluang dalam usaha tersebut, yang artinya banyaknya konsumen, alias warga Jakarta, yang mengantri makan-murah-tapi-enak-di-pinggir-jalan-jorok-dikit-bodo-amat-asal-nikmat.

(Kadang-kadang, sate di restoran mahal kalah enak sama sate abang-abang. Kalau dari asumsi saya dan ibu saya sih, itu karena sate mahal tidak ada keringat abangnya :p)

Dilihat dari fakta-fakta umum tadi (maaf ya, tanpa data), apakah benar pembangunan mall masih jadi kebutuhan warga Jakarta?

Kalau di mata saya sih, warteg pinggir jalan, pasar tradisional, dan ruang terbuka hijau masih tetap menjadi kebutuhan warga sini, harusnya sama difasilitasinya dengan kebutuhan untuk jalan-jalan di mall.

Mungkin kurang adil jika saya tidak menyebutkan fakta tentang mall. Tumbuhnya mall di Jakarta seperti jamur di musim hujan ini rasanya cukup membuktikan juga bahwa peluang ekonomi dalam mall cukup besar.

Tapi, ya kalau bangun mall pasti memainkan nominal uang yang lebih besar daripada Pasar Gembrong lah ya.   Maksudnya, secara jumlah, bukan persentase ya, kalau persentase saya tidak paham, hampir pasti mall menghasilkan nominal untung yang lebih besar daripada si pasar. Bandingkan saja jualan satu tas di Prada dengan selembar karpet di Pasar Gembrong. Kalau harganya sama sih, antara yang di Prada pasti saya beli, atau yang di Pasar Gembrong yang kurang ajar mahalnya :p

Ehehe.

Oh iya, sekedar trivia singkat, pada tahun 2010, ruang terbuka hijau di Jakarta masih kurang dari 10% loh, padahal harusnya minimal 30%.

Astaga, Naga!

Ada sebuah game yang saat ini sedang saya gila-gilai. Rasanya seperti memenuhi setiap ruang kosong yang ada di imajinasi saya :D

Seperti Harvest Moon waktu itu. Hihi.

Bahkan sekarang irama yang riang mengalun di sepanjang game ini seperti ramai lagi di telinga saya. Ihiy.

Dan juga, rasanya seperti Brigandine juga. Meskipun saya tidak pernah main game ini, tapi saya penonton setia kakak saya yang hobi main game ini. Rasanya seru saja, penuh dengan hewan-hewan fantasi

Tentu saja, imajinasi asyik ini mirip juga saat saya masih dalam dunia Harry Potter yang magis.


Serta yang terakhir, mungkin tidak yang terakhir juga, tapi yang saya ingat sekarang adalah: Ragnarok


Kali ini, game asik itu adalah...

Dragonvale!!

Jadi, di game itu kita semacam menjadi pemilik sebuah kebun naga. Cuma, serunya, naganya lucu-lucu dan bermacam-macam elemennya. Ada yang elemen plant, earth, fire, cold, water, air, lightning, bahkan ada elemen sun dan elemen moon. Ahaha yang dua itu aneh-aneh saja sih.
Terus terus, yang seru lagi, di situ kita bisa bikin naga hybrid juga. Mau gabungin elemen apa dan apa terserah. Huwooooooooooooow.

Seru yak.

Kayak Nobita pas di Doraemon edisi petualangan no.9, yang terjebak ke masa lalu. Si Nobita kan bikin hybrid antara... Apa ya? Kuda sama angsa kalau tidak salah, jadi pegasus. Lalu buaya dan... Hm elang kayaknya, jadi naga terbang. Satu lagi lupa, tapi seru juga.

Ah, serunya dunia fantasi ;p ehe

Bikin novel anak-anak aja apa ya?