29 Agustus 2014 (diedit, ditambahkan tiga kalimat baru, dan diposkan pada pagi hari 30 Agustus 2014)
Ilham
29 Agustus 2014 (diedit, ditambahkan tiga kalimat baru, dan diposkan pada pagi hari 30 Agustus 2014)
Evaluasi di akhir minggu
(meski dipos pada tanggal 25 Agustus dini hari, tapi tulisan ini sesungguhnya rampung pada pk. 00.00 25 Agustus 2014, jadi dapat diakui bahwa tulisan ini adalah karya saya di tanggal 24 Agustus)
18 Agustus 2014
Birthday is getting less special when you grow old. Maybe I'm already bored with birthday celebrations. I have already faced them for 22 times!
So, this is me, in my 23rd. Nothing has changed since the last time I was 22 (21 minutes ago), except my hair getting more oily because I left it unwashed.
I am a grown up; birthday is not a special celebration; birthday is just another day.
I am a grown up; there's nothing special about birthday; what's so special is just life.
I am a grown up; I need to walk in the right path, in that special path, so I will leave bright and shiny traces in this world.
And yesterday an idea popped out in my brain. It suggests me to make a commitment to my self, one writing everyday and one painting every week, since today until the next time I find myself getting older a year.
Hmm, pinky swear?
...
Hahaha, why this feels so hard?
(Breath heavily)
Okay, one writing everyday! Pinky swear!
And this is my first article in my twenty-three.
Tanggung jawab!
Pertama kali saya live in, saya tinggal di daerah Sleman, di sekitar Yogyakarta. Hari pertama tiba di sana, saya beramah tamah seharian dengan tuan rumah, cengangas-cengenges sama teman serumah, sampai tibalah suatu sore hari di saat saya memegang sampah di tangan saya. Saya keliling-keliling mencari tong sampah, tapi pencarian saya sia-sia. Akhirnya, bertanyalah saya pada Ibu pemilik rumah, dan katanya, taruh saja di sana. Di sana, di sebuah tumpukan dedaunan.
Baiklah, kebetulan sampah saya juga sisa makanan, jadi… yasudahlah.
Beranjak malam, saya yang saat itu sedang datang bulan, keluar dari kamar mandi menggenggam seonggok ‘sampah wanita’. Masa saya taruh di tumpukan dedaunan? Kan, jijik… karena masih gagal menemukan tempat pembuangan yang lebih layak, saya bertanya lagi di mana tempat sampah, mau buang pembalut.
Hah, gak apa-apa, Bu?
Beliau tersenyum.
…
***
Kali kedua, saya tinggal selama dua minggu di daerah Garut. Di sana saya bertempat di sebuah rumah di tepi lembah. Di bawah lembah sana mengalir sungai, dan sepanjang tembok landainya ramai ditumbuhi tanaman-tanaman tropis dan liar. Kalau dibayangkan, mungkin tampaknya indah – hijau-hijauan diiringi gemericik sungai. Tapi, sesungguhnya saya lupa untuk menyebutkan suatu informasi yang spontan menepis bayangan-bayangan indah tadi.
Jurang itu ternyata menjadi tempat pembuangan akhir sampah bagi mereka. Banyak sampah-sampah plastik, sebagian besar bungkus makanan ringan, bertebaran bagai bintang di malam hari. Saya cukup kaget melihat penduduk desa yang terbiasa membuang sampah langsung ke sana.
Saya langsung berpikir.
Satu, sarana, prasarana, dan fasilitas persampahan dari pemerintah tidak menyentuh langsung ke sana. Tidak ada petugas sampah dari pemerintah yang datang ke desa tersebut, mengambil sampah-sampah dan sebagainya. Tidak ada satupun tong sampah terlihat di sana. Mungkin, kalau dari sudut pandang makro, dengan data-data statistik sebagai bahan analisisnya, desa di bilangan Garut ini bisa saja mendapat penghargaan “Desa Zero Waste” saking tidak adanya sampah yang keluar dari sana membebani pemerintah. Padahal justru di sana tidak ada pengelolaan sampah sama sekali. Sampah secara langsung membebani alam.
Dua, bayangkan desa itu masih tertutup dari perkembangan teknologi terkini (bungkus plastik untuk makanan kecil itu teknologi, setuju kan?). Mereka hidup mandiri dari sumber daya mereka sendiri. Mereka membeli makanan kecil di warung-warung penduduk mereka sendiri. Pemilik warung membuat lemper, odading, ataupun kelepon, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Akhirnya, sampah yang mereka hasilkan pun organik.
Mungkin, nenek moyang mereka dulu, yang sampahnya hanya sebatas daun pisang, memang terbiasa membuang apapun ke lembah itu. Kini, penduduk sekarang, yang sudah kedatangan bungkus plastik, tetap membuang sampah ke lembah, karena tidak adanya pemahaman bahwa bungkus plastik tidak bisa diperlakukan sama seperti daun pisang.
Warung-warung bergeser dari menjual lemper ke ciki-cikian. Mereka sangat terbuka untuk teknologi, perusahaan-perusahaan makanan ringan mampu melesat dan memasuki desa. Namun, sayangnya, pendidikan dan pengetahuan tidak turut menyerap ke dalam desa tersebut. Mereka terisolasi dari perkembangan pengetahuan dan pendidikan.
***
Di ITB, terdapat wadah berkumpulnya mahasiswa yang satu jurusan untuk berkegiatan bersama. Wadah tersebut biasa disebut himpunan. Himpunan mahasiswa di ITB memiliki sebuah sekre, suatu tempat untuk berkumpul bersama. Kadang rapat, kadang bikin tugas, kadang main gitar sampai pagi, kadang main pingpong, dan kadang-kadang jadi tempat bakar dan makan jagung.
Penuhnya sekre oleh mahasiswa kadang-kadang membuat penuhnya sekre oleh sampah ketika mahasiswa-mahasiswa itu pulang. Mungkin sesuai dengan peribahasa gajah dan macan. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, mahasiswa pulang meninggalkan sampah. Tentu saja hal ini membuat geram sebagian mahasiswa-mahasiswa nan apik dan resik. Tidak jarang, sekre-sekre himpunan ditempeli tulisan-tulisan yang kurang lebih berbunyi “tanggung jawab akan sampahmu”.
Kurang lebih, para penjaga sekre mengharapkan para ‘produsen’ sampah itu bertanggung jawab akan sampahnya masing-masing dan membuangnya sendiri ke tong sampah agar tidak mengotori sekre. Kalau dalam konteks himpunan, produsennya itu mahasiswa dan sampahnya itu adalah botol-botol air mineral yang mereka beli, bungkus plastik bekas makanan, dan sebagainya.
Nah, kira-kira bisa gak ya konsep ini diterapkan dalam lingkup yang lebih luas?
Dalam lingkup yang lebih luas, produsennya adalah pabrik atau toko-toko. Coba bayangkan sebuah air kemasan. Ketika airnya habis, yang tersisa hanya sampah botol plastik, kan? Jadi sebenarnya, perusahaan-perusahaan itu, selain mencetak minuman, dia juga mencetak ribuan sampah botol setiap harinya.
Dinar. Ramadhani.
"Kalau ke Thailand, mau liat karambanya ah,"kata Dinar.
"Jalan-jalan yuk!"
"Yuk, akhirnya..."
"Pengen ke Malang nih."
"Hah?"Dinar kaget.
"Loh,"saya ikut kaget,"emang pengen ke Thailand?"
"Ngga, kirain jalan-jalan itu mau keluar rumah."
-___-
#2 Gak lucu
"Adek kan juga gak jelas,"mulai Dinar,"terus kita suka gak jelas berdua gitu. Akhirnya kita bikin quote."
"Apaan?"
Dinar ketawa terpingkal-pingkal sendiri,"aduh, ga kuat. Ditulis aja ya. Hahahahahaha"
Wah, lucu banget nih kayaknya. "Hahaha, apa Nar, tulis aja."
"Hahahahahaha, jadi sama adek bikin quote gitu,'orang yang mentertawakan ketidakjelasan lebih tidak jelas daripada ketidakjelasan itu sendiri."
...
"HAHAHAHA GAK LUCU."
"HAHAHAHAHA IYAA MAKANYA ITU KARENA GAK LUCU JADI KETAWA"
Hahaha, what @#$%^&*?! gak logis
Sarjana, Toga, dan Wisdom
what is wrong
as the queen raises
i always feel under the stairs
looking up on those who smile
what is wrong with me
as the lions pass
i am just lying here on the grass
blaming on the time who fly
social media
si pengamat politik yang diwawancara membicarakan apa saja tweet-nya anas, bagaimana reaksi masyarakat; retweet-kah, komenkah, dan sebagainya.
beliau bahkan menyebutkan,"... saya pantau akunnya anas..."
saya pantau.
saya pantau, men.
kalau orang awam yang ngomong, itu sama saja dengan "...saya stalk akunnya anas..." ga sih?
haha.
dunia memang berubah cepat ya, perasaan waktu SMA, twitter buat saya adalah sebuah social media baru yang tombol sign up-nya nempel di browser pilihan saya, sebuah social media iseng yang warna birunya lucu dan bagus, sampai akhirnya saya memutuskan untuk klik tombol itu dan sign up. sekarang, social media bahkan bisa jadi alasan sebuah masalah ("gua gak suka deh sama si itu, bacot banget twitternya"), bisa jadi penyebaran informasi yang efektif, iklan yang menarik, kuis online yang heboh, dan sekarang bahkan bisa jadi alat untuk analisis politik.
benar-benar, ini adalah era informasi.
yang sesungguhnya merantau hanyalah informasi, dan kita, beserta otot dan tulang-belulang kita, terduduk diam dan statis di suatu tempat di depan laptop.
rasanya kita seperti sudah berjalan di muka bumi ini, padahal hanya kode-kode biner program itu yang mengirimkannya ke muka kita!
huff, makanya, saya mau jalan-jalan.
jalan-jalan sungguhan.
ke phuket? :p
Harapan Palsu
Cinta terkekeh lelah lalu mengajak Dina menunggu ibu-ibu tata usaha di kursi-kursi di sepanjang lorong gedung kuliahnya. Mereka menjatuhkan tubuh mereka di kursi yang keras, lalu bersandar mengantuk, memejamkan mata.
Dina mendaftarkan tugasnya yang belum rampung satu persatu dalam hati. Masih ada 5 lagi. Dari tujuh tugas yang diberikan bertubi-tubi di dua minggu terakhir kuliah. Dina dan teman-temannya harus menyelesaikan 60% dari total tugas mereka dalam waktu 25% dari total kuliah! Salahkan dosen.
untitled
The night with the rythm of quite quiet silence, calming the soul with its darling air.
As I breathe the grace given, the memories are getting sephia.
So can I just trust, as the thin air moist the roses, in this fancy world?
Dunia
Simbol-simbol tersurat,
Lambang dari makna-makna sirat
Hanya yang halus hatinya mampu tahu
Arti terselubung kata cita dan cinta
Topeng dari hati-hati menjerit
Dunia ini dunia penantian
Perjalanan panjang mereka yang bertuju
Mereka yang tak sia-sia
Hanya yang pasrah dan ikhlas tak menderita
Karena pekatnya kabut masa
Dunia ini dunia fana
Tangan Tuhan meliputi
Setitik guncang hancurkan utuh
Hanya yang tahu tak tersia
Yang dapat menaikkan semua ke atas
Menuju tempat yang kekal
Dunia ini dunia kiasan
Pernik fana kunanti
Dunia ini dunia kiasan
Tidakkah kamu mengerti?
Kecoa
Untuk tulisan-tulisan seperti ini sih biasanya saya suka kasih gambar dulu bagian atas. Namun, karena saya terlalu geli sama kecoa, saya jadi males naro gambar :p
Kamar saya lagi kemasukan kecoa.
Beberapa hari yang lalu Jeanne membuat post tentang pertanyaan-pertanyaan random, dan kata 'kecoa', secara kebetulan, tersebut juga di sana.
Semingguan yang lalu, entah kenapa, saya sempat membicarakan kecoa dengan seorang senior dari jurusan Biologi.
Yah, mungkin kecoa memang ingin ditulis jadi tema kali ini.
Jadi, si Jeanne ini menulis begini di halamannya:
"14. Hewan apa yang menurut Anda sebaiknya tidak perlu ada di muka bumi ini?
Definitely kecoa. Gunanya apa coba? Kalo ilang dari rantai makanan juga kayanya gak ngefek-ngefek amat."Hahaha mungkin kalimat tadi kalau dibaca oleh ahli-ahli biologi bisa dapat pertentangan yang super menantang. Tapi toh saya juga mempertanyakan itu, emang kalau kecoa dipunahin, rantai makanannya terganggu amat apa? Kan ada serangga-serangga yang lain yang bisa jadi mangsa para pemakan serangga. (wah ini bisa jadi asal-muasal kejahatan genosida deh :p)
Dan waktu pertanyaan ini, iseng, saya lontarkan kepada senior dari Biologi itu, saya mendapat jawaban yang cukup menarik. Coba saya kasih cuplikan-cuplikan perbincangan kami waktu itu;
"...Kayaknya kalo lo berharap kecoa punah, itu ga bakal terjadi deh. Asal lo tau aja,kecoa itu adalah hewan yang berhasil bertahan dari zaman dinosaurus..."
"...yah, ekosistem pasti bakal terganggu, sih..."dan, yang paling menarik buat saya adalah...
"...sebenernya, dulu tuh di Indonesia gak ada kecoa. Kecoa tuh asalnya dari Amerika, nama latinnya aja Periplaneta americana. Terus kecoa yang kecil-kecil, yang suka ada di beras-beras pasar itu aslinya dari Jerman..."
"...jaman dulu kan orang-orang amerika banyak yang ke Indonesia pake kapal, bawa kargo-kargo gede. Nah dari situ tuh kecoanya bermigrasi..."well, kesimpulannya, Indonesia santai-santai aja dong kalau kecoa dipunahin?
:p
ah, tapi jangan jahat ah sama kecoa, kesian deh dia. Maksudnya, coba perhatikan kumbang tanduk.
Entah kenapa, menurut saya dia serangga terkeren sepanjang sejarah umat, padahal dia mirip-mirip aja sama kecoa; kecil, coklat, dan mudah diinjak.
Jadi.... apa salah kecoa sampai-sampai dia digeliin sedemikian rupa?
...
Tapi saya bakal tetap akan mengusir kecoa yang masuk ke teritori saya itu.
heheh
Pacaran
"Susah tau kalo kondisinya kayak gini, temen-temen lo mulai pada jadian semua. Bahkan, pembantu kosan lo jadian!" - seorang teman
tekun
“Tidak ada yang menang dan yang kalah. Yang ada hanyalah yang menang dan bertahan.”
Heroin
Si Avi bilang lari itu seperti berpikir. Seiring dengan langkah-langkah cepat kita melintas, otak kita juga melaju dengan pikirannya sendiri, membawa diri kita pergi ke masa yang lampau, impian, dan bahkan masalah kita sekarang.
Ah saya kurang setuju.
Bagi saya, olahraga itu seperti heroin. Saat saya lari, bermain dengan bola, atau bahkan sekedar push up (yang jarang sekali saya tunaikan :p), ada detik-detik tertentu ketika otak saya benar-benar fokus pada apa yang di hadapan saya dan apa yang akan otot saya lakukan.
Saat itu adalah saat semua kenyataan, masalah, maupun kebahagiaan selama ini terlupa sesaat dari pikiran saya.
Saya tidak sedang bermasalah juga sih hahaha, tapi ide olahraga sebagai pelampiasan (atau pelarian?) sesaat sepertinya asik juga diterapkan. Bikin badan sehat kan :3
Pembuka
Tapi, kali ini berbeda :D
Perpustakaan ITB sudah direnovasi, dengan tampak eksterior yang masih sama, tapi memiliki interior yang baru. Yah, memang tidak mewah, lagian ngapain mewah-mewah, tapi yang jelas, saya jadi semangat belajar di sini :D
Bersyukurlah saya yang pindah jurusan jadi masih punya dua tahun menikmati gedung ini. Ngomong-ngomong, nuansa warnanya jadi sama seperti perpustakaan SMA saya setelah direnovasi 5-6 tahun silam. Jingga dan hijau. Ada apa dengan jingga dan hijau?
Tapi ya sudah, bersyukurlah wahai TPB 2012! Kalian punya gedung yang enak nih, waktu saya masih
Sebenarnya saya agak sungkan untuk menceritakan tentang kehebatan perpus ITB masa kini karena takut perpus jadi penuh dan tidak nyaman lagi (egois hahaha), tapi saya harus menceritakan karena waktu itu ditegur Okihita.
"You have to learn how to get something by giving something," demikian katanya. Cmiiw, Ki, kalo salah. Haha iya sih, memang egois kalau sampai saya tidak mau bilang-bilang :P
Oh iya, semalam masa saya mimpi...
Eh jangan deh, kata Mahdi mimpi gak boleh diceritain. Haha.
Yah sudah lah, demikian pembuka hari ini dari saya, untuk saya. Ada agenda yang mengantri dalam kehidupan hari ini, mari kita layani~
Sekrup Buat Muka
Saya: teh, ada sekrup?
Si Teteh: skrup? Scrub maksudnya?
Saya: bukaan, sekrup teh.
Si Teteh: iya, scrub, kan?
Saya: bukan scrub teh, sekrup, sekrup
Si Teteh: iya, scrub, skrup yang buat muka kan?
Saya: bukan, sekrup yang buat tembok.
-__-
Berantakan
Saya kayaknya sering ngoceh ke mana-mana kalau kamar saya berkorelasi positif dengan hidup saya.
Berantakan. Kamar saya lagi berantakan, hidup saya jadi ikut-ikutan ngaco.
Sebenarnya, kayaknya sih hidupnya tetap aja, hanya saja otak ini jadi mumet dan barang susah dicari. Gara-gara itu hidup rasanya jadi ikut berantakan. Uhuy.
Kapan nih beres-beresnya?
Dj Akarta!
Iseng, coba saya cari berapa jumlah mall yang menjadi warga ibukota ini. Ternyata, menurut vivaNews, sudah terdapat lebih dari 170 pusat perbelanjaan di DKI ini!
Mungkin, ini semua ada hubungannya dengan desain kota Jakarta yang sudah tidak nikmat bila dihayati dengan jalan kaki.
Mataharinya panas sih.
Eits, jangan salahin matahari, kalau matahari disuruh jadi dingin, nanti kita kembali ke jaman es (ngomong-ngomong, saya belum menonton Ice Age 4 nih HIKS HIKS).
Salahkan kita yang membuang pohon, semak, dan rumput, menggantinya dengan kongkrit dan aspal. Dengan kongkrit dan aspal dan semen dan lain-lain, gelombang cahaya matahari akan terpantul, tidak terserap seperti pada pepohonan rindang, jadi, ya, makin panas, coy. Belum lagi polusi udara dari kendaraan yang berjibun di kota ini. Dan copet. Dan jambret. Dan bencong. Makin tidak nyaman lah dunia kita ini, masberooooo.
Memang, Jakarta tampak seperti didesain bagi kehidupan mobil, saja.
Tidak aneh jika ruang publik Jakarta sebagian besar berada di dalam mall, gedung besar ber-AC, yang hampir tidak ada spot gratis untuk sekedar duduk.
Tapi, sebenarnya, yang dibutuhkan orang-orang di sini apaan sih.
Kalau saya pribadi, agak keberatan dengan sedikitnya ruang publik yang bisa dihinggapi dengan gratis. Meskipun, di dunia ini tidak ada yang gratis, jadi ya ruang publik itu mungkin saja dibiayai dengan pajak dari orang tua kita, tapi setidaknya gratis, yang, yah tahulah ya maksud saya.
Ceritanya kan saya mahasiswa nih, waktu itu pernah membuat suatu janji bersama teman-teman di Jakarta, untuk membuat tugas, dan kami berpikir keras tempat mana yang enak buat membuat tugas tanpa harus beli minum atau camilan.
Atau, di kesempatan lain saya pernah sekadar janji bertemu teman SMA, dan susah juga mencari tempat nangkring gratisan. Yang terus menerus muncul di kepala hanyalah Starbucks (kan mahal :/ ), McD, dan tempat-tempat sejenis. Intinya mesti beli minum, kalau tidak beli dipelototi mbak-mbaknya. :p
Oh iya, di dekat rumah saya ada BKT (Banjir Kanal Timur), tahu kan? Sungai, yang saya pikir, telah menyelamatkan Cipinang Indah dari banjir tahunan. Hihi. Nah, di pinggir kanal tersebut, dibangun juga dua jalur jalan untuk keperluan inspeksi. Jadi, sejatinya, sesungguhnya, dan sejujur-jujurnya jujur bisa jujur, jalanan itu sebenarnya tidak boleh digunakan untuk keperluan umum. Tapi, sekarang, jalanan di samping sungai itu sudah penuh dengan pasar kaget dan ramai dikunjungi muda-mudi bermotor, pacaran di pinggir sungai sambil menikmati pemandangan air mengalir riuh rendah.
Yah, mungkin fitrah manusia memang senang menikmati alam tanpa terkungkung dalam tembok-tembok berbentuk kotak itu. Pengennya melihat langit, bukan langit-langit.
Selain itu, di dekat rumah saya ada yang disebut Pasar Gembrong. Doski adalah sebuah pasar tumpah yang isinya mainan anak-anak semua. Ada karpet juga sih, sedikit. Pasar itu selalu membuat kemacetan di Jalan Baru. Sama macetnya dengan yang diakibatkan oleh Pasar Jatinegara. Dan Pasar Senen.
Yang saya tekankan di sini bukan macetnya, tapi kemacetan itu adalah bukti bahwa pasar itu selalu ramai pengunjung. Banyak warga Jakarta yang punya kepentingan untuk membeli kebutuhan, dan tentu saja membuka peluang mencari nafkah.
Tambahan lagi, berapa banyak warteg-warteg tidak legal yang ramai tumbuh di trotoar-trotoar jalanan? Subur dan banyaknya jumlah mereka, bagi saya, menunjukkan besarnya peluang dalam usaha tersebut, yang artinya banyaknya konsumen, alias warga Jakarta, yang mengantri makan-murah-tapi-enak-di-pinggir-jalan-jorok-dikit-bodo-amat-asal-nikmat.
(Kadang-kadang, sate di restoran mahal kalah enak sama sate abang-abang. Kalau dari asumsi saya dan ibu saya sih, itu karena sate mahal tidak ada keringat abangnya :p)
Dilihat dari fakta-fakta umum tadi (maaf ya, tanpa data), apakah benar pembangunan mall masih jadi kebutuhan warga Jakarta?
Kalau di mata saya sih, warteg pinggir jalan, pasar tradisional, dan ruang terbuka hijau masih tetap menjadi kebutuhan warga sini, harusnya sama difasilitasinya dengan kebutuhan untuk jalan-jalan di mall.
Mungkin kurang adil jika saya tidak menyebutkan fakta tentang mall. Tumbuhnya mall di Jakarta seperti jamur di musim hujan ini rasanya cukup membuktikan juga bahwa peluang ekonomi dalam mall cukup besar.
Tapi, ya kalau bangun mall pasti memainkan nominal uang yang lebih besar daripada Pasar Gembrong lah ya. Maksudnya, secara jumlah, bukan persentase ya, kalau persentase saya tidak paham, hampir pasti mall menghasilkan nominal untung yang lebih besar daripada si pasar. Bandingkan saja jualan satu tas di Prada dengan selembar karpet di Pasar Gembrong. Kalau harganya sama sih, antara yang di Prada pasti saya beli, atau yang di Pasar Gembrong yang kurang ajar mahalnya :p
Ehehe.
Oh iya, sekedar trivia singkat, pada tahun 2010, ruang terbuka hijau di Jakarta masih kurang dari 10% loh, padahal harusnya minimal 30%.
Astaga, Naga!
Seperti Harvest Moon waktu itu. Hihi.