Berilah petunjuk

Dian menghempaskan tubuhnya ke kursi keras di tepi taman.

Randi, di sampingnya, tampak terkejut dengan kedatangannya, namun dengan sengaja tidak mau menoleh. Biar cool.

"Ran, Andra tadi minta putus," keluh Dian suram. Air mata menggenang di tepian mata indahnya.

"Hm," jawab Randi sok tidak peduli. Dia masih menatap bukunya, meski otaknya sudah tidak konsen lagi.

"Raaan, nengok dong, gue ngobrol sama lo, lo jangan baca doaang," rengek Dian.

"Iya nih gue tutup," dengan nada kesal Randi menoleh,"apa?"

"Gue mau diputusin."

"Hmm"

"Pemicu berantemnya gara-gara gue telat janjian. Padahal bukan salah gue, angkotnya ngetem gila. Jalanan macet, orang-orang nyebrang di mana-mana bikin kendaraan jadi pelan. Eh giliran ada yang nyebrang di zebra cross, malah ditabrak sedan. Makin macet lah. Mana panas banget, make up gue sampai luntur."

"Yaaah, memang sudah rusak kota ini,"jawab Randi akhirnya.

"Panaaaaas, gak ada pohon di mana-mana, makin panaaaaas." Dian mengeluh.

Randi memaksakan senyum.

"Ya Allah, rusak banget bumi," muka Dian semakin buram,"dan Andra tega-teganya cuma karena telat lima menit..."

Dian menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan,"maaf gak nyambung curhatannya, Ran. Tapi udah kepalang sedih banget nih, semua hal jadi sedih. Terus tadi lihat penjambretan juga di pinggir jalan, kakek-kakek pula yang dijambret. Sedih banget lihatnya."

"Kota ini kacau banget ya, Yan?"

"Iya, Ya Allah... Beri petunjuk-Mu,"kini menetes satu butir air mata. Dian menghapusnya cepat.

Randi merogoh sesuatu dari tasnya, lalu menaruhnya keras di pangkuan Dian.

"Nih, petunjuk."

Al-Quran berwarna silver terdiam di atas paha Dian. Dian dan Kitab itu saling bertatapan. Keheningan kaku terasa menyelubungi dedaunan di taman.

"Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa," lanjut Randi.

Dian tertawa canggung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya siih, tapi apa hubungannya sama masalah hidup gue?"

Randi mendecak kesal,"ya hidup muslim kan harusnya berpedoman sama Quran? Pemecahan masalah lo ada di sana juga. Tadi lo minta petunjuk, ini udah dikasih, malah ga mau baca. Lo berharapnya petunjuk apa sih? Petunjuk lewat mimpi? Hahahaha."

Dian menciut,"iya bener sih, yaudah gue tanya ke elo deh sebagai orang yang rajin baca, masalah gue sama Andra gimana dong penyelesaiannya?"

"Ya putus aja," kata Randi pendek, "sudah jelas kan?"

Cewek itu tidak mampu berkata-kata. Dia hanya terperangah menatap Randi. Benar sih, kalau di Islam katanya gak ada pacaran, tapi...

"Nah, kalau masalah kota ini gimana? Penjambretan, macet, panas, global warming, kan harus baca-baca literatur lain," Dian mengalihkan pembicaraan.

"Ada, Yan," kata Randi, "prinsip pengelolaannya ada di situ. Lo cuma harus baca dan belajar."

"Gue udah pernah baca, tapi kan gue gak paham maknanya, banyak banget yang kiasan-kiasan gitu."

"Ah lo mah cari-cari alasan aja, bilang aja males baca," merasa Kitabnya tidak akan disentuh Dian, Randi merebutnya lagi dari Dian, "tinggal cari pembimbing, repot amat."

Dian nyengir tidak enak, "ya udaaah, lo mau jadi pembimbing gue?"

"Oke, siap. Kapan mulai?"

Randi menatap Dian tegas. Bulat niatnya untuk ngajarin cewek ini ilmu Allah, kalau dia memang mau. Kapan mulai?

...

Hening.

"Hehe, gak sekarang deh. Kapan-kapan."

"Halah, tuh kan."

Puitis

Puitis,
kala jemuku menulis

Puisi,
waktu ilham tak isi

Rima,
janji tetaplah sama

Sajak,
malam beranjak!

Hei!

Tulis!
Walau ilhammu habis.

Bangga?

Scroll,

scroll,

scroll,

Matanya menelurusi barisan kalimat di layar.

Scroll, scroll.

Sepintas, senyum kecil, walau hanya beberapa milidetik, tersungging di bibirnya.

Bagus, pikirnya. Senang.

Dia sibuk mengagumi tulisan itu, dengan diksi yang sungguh tepat dan unik, membuatnya tak jemu dibaca. Kata sambungnya selalu pas, bahkan spasinya, enternya, italicnya, tulisan itu terpahat dengan cantik.

Scroll

Dia larut dalam blognya sendiri. Kebanggaan bermekaran dalam hatinya, menguap ke atas dan membesarkan kepalanya hingga siap meletus. Percaya dirinya tumbuh; gue jago.

Scroll

Dan dia mendapati sebuah tulisannya tahun lalu, ketika dia menyebutkan cerita tentang seorang temannya. Sebuah tautan tertera di sana, sebuah tautan menuju blog teman baiknya itu. Lama tidak jumpa, coba aku lihat blognya ah.

Dan, satu kali klik ternyata mampu menariknya ke dasar palung.

Dia ingat temannya ini pernah jadi penulis cerpen lepas dari suatu majalah cewek.

Kalimat pembukanya sungguh ngena.

Kalimat pembuka ini akan menarik semua pembacanya untuk tenggelam dalam tulisannya. Bahkan dia bisa memberikan soundeffect dalam kisahnya, seolah kisah ini benar-benar bersuara.

Diksinya, oh, bahkan kata-kata sesederhana itu tidak pernah terlintas dalam otaknya. Bagaimana bisa?

Sebuah kisah yang mengalir dengan santai, dan mengenakkan pembacanya. Diakhiri dengan cerita yang menggantung, pun begitu mempesona.

Kepalanya mengempis dengan cepat, bunga-bunga bangga berguguran di dasar hatinya.

Gara-gara klik setitik, rusak scroll sebelangga.

nilai

gelap
larut
diam-diam

tengok
saat terang
dan lihat
kamu
terbaring

gelap
larut
tiba-tiba

esok
kala terang
langkahkan
kaki
lepaskan
baringanmu

Gantungan Korden

Saya mau gantungan korden, atau gorden, dengan panjang kurang lebih 1 m. Yang bukan dari kayu, tapi. Di ACE Hardware aja tidak ada. Sepertinya saya harus cari di toko khusus korden.

Saya perlu gantungan korden, soalnya saya sudah beli korden baru untuk di kosan. Murah dan warnanya enak, lumayan untuk ganti suasana kamar. Tapi sayangnya korden yang baru ternyata tidak compatible dengan gantungan korden yang lama. Alhasil, saya perlu cari gantungan baru juga.

Ngomong-ngomong soal alhasil, saya baru menyadari bahwa alhasil sepertinya berasal dari bahasa Arab. Saya menyadari ini karena melihat suku kata Al di depan Hasil. Bahasa Arab kan punya kata "Al" sebagai "The" dalam Bahasa Inggris. Mungkin, kalau dibahasa Indonesiakan, Al adalah Sang, atau Si.

Atau, Al adalah anaknya Maia dan Ahmad Dhani.

Saya juga baru menemukan bahwa ternyata karib berasal dari Bahasa Arab; qoriib. Dan yang paling lucu adalah tajir! Ternyata tajir berasal dari Bahasa Arab; At-taajir, yang artinya pedagang. Jadi, kalau orang Indonesia mengartikan tajir sebagai kaya, berarti ada korelasi antara pedagang dengan kekayaan ya. Hahaha. Btw, kaya dalam Bahasa Arab sendiri adalah ghoniyun.

Your Love

I gaze to the dark, glowing sky
I notice its stars blink
In the space
Farther than this soul could fly

And that distance
Will ever be the gap
Between You
And me
If I just sit here
Wish and ask you things

My reaching hands
Shall never knock Your door
As I cry for Your Love

Because You have shown me the path
That leads to You
I just need to walk
Halfway
Because You, on the other end
Will run
Towards me
And flood me
With Your healing, soothing love
That I have always been thirsty of

(Ikut) Heboh RUU Pilkada

Belakangan, Indonesia, atau facebookers pada khususnya, tengah ramai dengan RUU Pilkada; langsung atau tidak langsung (saya, melalui blog ini, mau ikut serta dalam keramaian itu ah). Sebagian besar berbelasungkawa atas ‘matinya’ demokrasi di Indonesia dengan disahkannya RUU Pilkada tidak langsung. Tidak saya temukan sedikitpun yang mendukung RUU Pilkada tidak langsung di media sosial, tapi ada segelintir yang menyatakan ‘ah, sama saja’.

Kebetulan, saya termasuk di dalam yang segelintir itu.

Historikal
Secara faktual, sejarah bangsa ini tidak melulu indah dengan dilangsungkannya sistem pilkada langsung. Nyatanya, pilkada langsung juga menghasilkan banyak kepala daerah yang dibenci dan dinyatakan tidak becus, korup, dan sebagainya, oleh para rakyat. Sebut saja, Fauzi Bowo yang bahkan tidak mampu mengambil hati rakyat pada pilkada keduanya, Dada Rosada, yang sudah divonis penjara, dipersalahkan untuk berbagai macam kemunduran di Kota Bandung, dan tentu tidak lupa kan dengan kasus heboh Ibu Ratu Atut Chosiyah? Ratu Atut Chosiyah yang asik bermain dengan suap-menyuap dalam urusan Pilkada. Mereka semua produk Pilkada langsung, bung.

Seolah kita semua lupa dengan kasus-kasus itu. Memang, kepala daerah yang lovely juga ada yang dihasilkan dari proses Pilkada langsung. Sebut saja Ridwan Kamil, Jokowi, Ahok, Nurdin Abdullah, dan sebagainya. Tapi, sejujurnya, berapa sih yang baik itu dibandingkan ratusan kepala daerah lainnya di Indonesia? Apakah dari situ kita mau menyimpulkan bahwa Pilkada langsung memang superior dan jauh lebih baik daripada Pilkada tidak langsung?

Menang dengan Hati
Pilkada langsung, apakah semewah itu sampai harus benar-benar dipertahankan? Penyelenggaraan Pilkada langsung sebenarnya sangat mahal. Dan buang-buang kertas, kecuali rakyat Indonesia mau kertas votingnya menggunakan daun pisang hahaha.

Selain itu, kebobrokan pilkada langsung yang membuat saya jijik dari dulu adalah: sistem marketing.
Dalam pilkada langsung, para calon harus mampu merebut hati rakyat. Apalagi di tengah masyarakat postmodern ini, yang direbut secara harafiah benar-benar perasaan rakyat, bukan lagi logika rakyat. Rakyat memilih tidak lagi dengan pertimbangan rasional, tapi menggunakan insting dan perasaannya,
Dengan kenyataan demikian, untuk menghemat kampanye, untuk apakah calon tersebut mempromosikan program-programnya? Toh rakyat tidak terlalu peduli. Rakyat maunya calon yang dapat menyentuh hati mereka.

Dan hati yang tersentuh bisa diperoleh dengan senyum yang ramah. Hati dapat disentuh dengan kisah yang mengharu biru. Lihat saja, banyak kontes pemilihan idola yang dimenangi oleh para finalis yang memiliki kisah hidup serba sedih. Hati mudah simpati oleh orang yang unik, yang tampak beda, yang tampak terzalimi, yang tampak membumi, yang tampak membela rakyat, bahkan yang penampilannya tampak baik (dalam buku Psikologi Komunikasi karya Jalalludin Rahmat, salah satu aspek yang menimbulkan simpati seseorang adalah aspek atraksi personal, dan aspek atraksi personal ini salah satunya dipengaruhi oleh kecantikan atau ketampanan). Bahkan, bagi sebagian rakyat Indonesia, hati dapat disentuh oleh pribadi yang dermawan, yang mau berbagi, yang sayangnya, menurut KPU, kedermawanan ini disebut sebagai money politic.

Hati tidak dapat tersentuh dengan logika dan rasional dan konten pemikiran. Perhatikan saja debat cawapres kemarin. Banyak yang berpendapat bahwa Hatta Rajasa secara konten lebih unggul dalam debat dibandingkan Pak Jusuf Kalla. Tapi toh simpati sebagian besar rakyat tetap setia pada pasangan Jokowi-JK. Hehe.

Kalau kondisinya begini, tim pemenangan atau tim marketing calon tidak perlu repot-repot mengedukasi masyarakat tentang konten yang akan dibawa calon; yaitu analisis mengenai apa permasalahan bangsa ini, apa akar masalahnya, dan apa solusi yang ditawarkannya. Yang penting, desain bagus, citra sesuai yang diinginkan rakyat, dan sosok yang mengayomi.

Jadi, saya bisa ambil kesimpulan kasar bahwa hati rakyat disentuhnya dengan pencitraan dan orang yang menyosok. Tanpa bermaksud menyinggung, Jokowi sudah memiliki banyak pendukung bahkan sebelum dia mengajukan diri sebagai capres. Artinya, para “awwalun” pendukung tersebut mendukung karena sosoknya, tanpa perlu mengetahui konten apa yang akan dibawa Jokowi saat mencalonkan diri nanti.

Padahal, kalau pakai analisis yang logis, Jokowi kan sevisi dengan Bu Megawati. Bahkan Ibu Mega tidak berhasil maju lagi sebagai presiden pada tahun 2004 silam. Saya yakin, kalau kemarin yang maju sebagai pilpres dari PDI-P adalah Ibu Mega, pemilihnya tidak akan sebanyak Jokowi, meski mereka berada di bawah payung visi yang sama.

Bahkan, kelompok masyarakat sekelas mahasiswa ITB, yang katanya putra-putri terbaik bangsa dan terbiasa melakukan analisis dalam tugas-tugas kuliah, masih lebih melihat sosok daripada konten, alias lebih memakai perasaan daripada rasio. Kesimpulan ini saya ambil dengan sampling asal dan seadanya pada kasus pemilu calon ketua kabinet keluarga mahasiswa ITB pada tahun 2013 kemarin. Teman-teman di sekitar saya banyak yang memilih calon x karena sosoknya yang keren dan rupawan. Bahkan, ada pernyataan,”gue ga tau sih isu yang dia bawa, tapi gue milih dia abis keren sih.”

Yang jelas, saya langsung berpendapat,”wah PR banget buat dia kalau sampai kepilih, soalnya dia dipilih oleh orang-orang yang secara umum tidak peduli tentang apa yang dia bawa.”


*
Padahal, tahu dari mana bahwa calon yang kita dukung benar-benar merakyat, baik, dan keren, seperti yang kita duga, selain dari media kampanye mereka? Namanya juga media kampanye, pasti iklannya yang bagus-bagus dong hehe.
Lagian, kata Rasul, kalau mau mengenal pribadi seseorang, kita harus tinggal tiga hari sama beliau.
*

Anggota Dewan yang Terhormat
Bagi saya, banyaknya protes yang dituai RUU Pilkada tidak langsung menunjukkan ketidakpercayaan rakyat pada wakil-wakilnya di kursi DPR. Padahal, RUU Pilkada tidak langsung ini, sebenarnya, sesuai-sesuai saja dengan sila terpanjang dari Pancasila. Bahkan lebih sesuai daripada Pilkada langsung yang menggunakan sistem voting.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

Teringat waktu SD, guru saya menjelaskan perbedaan demokrasi liberal dengan demokrasi Pancasila. Katanya, demokrasi liberal dijalankan dengan sistem voting alias suara terbanyak yang menang, sedangkan dalam demokrasi Pancasila, pengambilan keputusan dilakukan dengan musyawarah. Dalam musyawarah, yang menang adalah pendapat dengan argument yang terkuat, meskipun yang menyuarakan hanya sebagian kecil.

Ya mana bisa gak pakai sistem voting, orang rakyat Indonesia kan banyak, masa disuruh musyawarah buat nentuin Kepala Daerah?
Ya makanya ada DPR. Seperti kata pelajaran PPKn waktu SMA, sejarah dibentuknya perwakilan rakyat pada zaman Yunani dahulu disebabkan makin bertambahnya jumlah manusia sehingga pengambilan keputusan tidak lagi dapat melibatkan seluruh warga negara. 

(Tapi, katanya sih DPR kita sekarang pakai sistem voting, bukan musyawarah lagi.)

Meski demikian, saya, secara jujur dan subjektif, juga kurang percaya sih sama wakil saya. Hehe. Saya  agak beranggapan bahwa pencetusan RUU Pilkada tidak langsung ini berbau ‘mempertahankan kekuasaan’. Jadi, seperti orang banyak, ternyata saya sama halnya dengan kebanyakan orang, kurang percaya dengan wakil-wakil saya di DPR. Dan, dengan demikian, saya menyimpulkan bahwa akar permasalahannya sebenarnya ada pada DPRnya. Kalau kita semua percaya sama orang-orang yang kita pilih untuk duduk di kursi DPR, Pilkada tidak langsung tidak akan menjadi masalah lagi, kan?

Ngomong-ngomong, anggota DPR itu dipilih langsung oleh kita, loh. Lihat kan bahwa pemilihan langsung ternyata bisa menghasilkan orang-orang yang tidak kita percaya? Pemilihan langsung DPR ternyata menghasilkan UU yang ditentang sebagian besar rakyatnya; UU Pilkada tidak langsung.

Manusianya
Money politic dan kasus suap pilkada tidak akan terjadi kalau manusianya berakhlak. Pemilihan kepala daerah dengan tujuan mempertahankan kekuasaan golongan, memenangkan yang bayar, dan sebagainya, tidak akan terjadi kalau manusianya berakhlak. Pilkada langsung maupun tidak langsung akan sama-sama menghasilkan produk yang baik apabila manusia-manusianya berakhlak dan cerdas.

Jadi, akar permasalahan dari semua ini sebenarnya manusianya; pendidikan bagi manusianya. Sampai kapanpun, kalau permasalahan pendidikan tidak dibenahi, mau sistem langsung kek, tidak langsung kek, setengah langsung kek, ya sama saja lah hasilnya.

Sekedar informasi, Nabi Muhammad, Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khatab,  dan beberapa khalifah lainnya, ternyata tidak dipilih dengan sistem Pemilu langsung, loh. Memang deh, semua  tergantung manusianya.

Musikal

Mendengar adzan maghrib berkumandang, saya bergegas menutup semua program di laptop saya. Mirip burung, saya terpanggil untuk pulang ke sangkar saat senja beranjak. Mulai malam, mulai gelap, nanti saya mulai rabun berbahaya katanya.

Setelah membayar kopi yang terlalu kuat mengocok lambung saya, saya keluar dari kafe kecil itu dan mulai menunggu angkot di tepian Jalan Dago. Udara terasa sejuk menyenangkan. Teriknya matahari sudah berganti dengan semburat kemerahan di langit abu-abu Bandung. Anginnya berhembus sedap, tidak terlalu kencang, tapi cukup untuk menyegarkan pikiran.

Saya dicuekin dua angkot sampai akhirnya sebuah angkot yang sama bututnya menawarkan tumpangannya pada saya. Saya segera masuk dan duduk di pojok kanan depan. Di dalam angkot telah duduk dua orang remaja cantik, salah satunya merokok, yang sedang bergosip dengan suara melengking. Seorang laki-laki rapi, sepertinya beberapa tahun lebih tua dari saya, duduk di sudut kiri belakang. Pakaiannya monokrom; abu-abu dan hitam. Dia membawa sebuah gitar yang disenderkan di pahanya.

Saya terlalu asik menikmati udara Bandung, tak terganggu sama sekali dengan lengkingan gosip neng-neng geulis. Langit semakin pekat dengan biru tua. Lampu-lampu kendaraan, bangunan, dan lampu jalanan membuat suasana temaram syahdu. Mungkin di Lembang sana mulai penuh pengunjung yang menikmati lampu-lampu di sekitar saya ini dari ketinggian sana.

Di Simpang Dago, barudak geulis tadi turun dari angkot. Angkot ini melaju lagi dengan kecepatan santai. Langit semakin pekat dan cahaya terasa semakin kuning, hangat. Saya terhanyut dalam suasana, seolah Bandung bersenandung dalam dentingan gitar. Diiringi suara berat yang merdu, bernyanyi dalam akustik.

Dan ternyata, Bandung memang sedang bermusik. Laki-laki di ujung sana ternyata benar-benar sedang memainkan gitarnya dalam volume yang sungguh tepat. Nyanyinya juga merdu, suara bariton itu mengisi angkot ini. Saya agak terperangah sambil menahan diri untuk tidak menengok kepada laki-laki tadi.

Saya tersenyum sendiri di dalam angkot.

Lucunya hidup saya, menyenangkan sekali.

Di tengah temaram Bandung yang hangat dan udaranya yang sejuk, saya duduk di sini seperti seorang aktris dalam film. Soundtrack mengiringi perjalanan pulang. Semuanya terpadu dengan sempurna. Harmonis.

Saya tersenyum lebar.

Saya selalu ingin hidup dalam film musikal; tiba-tiba alunan musik terdengar, entah dari mana, mengiringi hidup sang aktris dengan melodi yang tepat.

Dan saya sudah merasakannya!


Yeay!

Tempaan Kasih Sayang

Ada sebersit rasa kecewa menggores hatinya. Faldi masih lesu tak bergerak di depan laptop bututnya. Matanya sedari tadi menelusuri daftar nama-nama calon mahasiswa yang mendapat beasiswa. Pencariannya untuk Muhammad Rifaldi: nihil. Padahal ini adalah harapan terakhirnya. Tiga beasiswa lainnya menolak Faldi mentah-mentah. Sebenarnya ada satu beasiswa yang menerimanya, tapi di jurusan teknik universitas lain.

Menguap sudah dari otaknya impian dan khayalan menjadi dokter.

***

Bang Adi duduk di sofa ruang tamu. Di hadapannya tergeletak secangkir teh panas, terlalu panas, hingga sepupu jauhnya ini enggan menyentuh cangkirnya.

“Eh, Bang Adi,”sapa Faldi, mencoba bersemangat demi sopan santun.

“Wa’alaikumsalam!”Bang Adi antusias langsung berdiri menyambut Faldi. Dia menjabat tangan Faldi sambil tersenyum sangat senang.

Disindir begitu, Faldi hanya tertawa,”menjawab salam hukumnya wajib ya, Bang. Tapi memberi salam kan nggak.”

“Hahaha, bisa saja kamu, Fal. Kamu biasakan memberi salam, lah. Kita kan sesama muslim.”

“Iya, Bang. Kapan-kapan,”Faldi menjawab asal sambil mempersilakan Bang Adi duduk kembali.

Bunda semalam menyampaikan Bang Adi akan datang hari ini. Bang Adi datang jauh-jauh dari Bandung ke Cirebon untuk survey tugas akhirnya. Setelah surveynya selesai, Bang Adi menyempatkan mengunjungi keluarga Faldi yang tinggal di tengah Kota Cirebon.

“Gimana kuliah? Sudah dapat?”

Luka Faldi yang belum kering seolah ditetesi air garam.

 “Sudah, Bang,”jawab Faldi sambil tersenyum getir,”di kampus Abang.”

“Waaaaaah, keren dong,”timpal Bang Adi sumringah. Bang Adi menepuk-nepuk pundak Faldi sambil tersenyum,”bangga banget sama adik sepupu Bang Adi yang satu ini.”

“Yah, keberuntungan saja, Bang. Hahaha.”

“Tapi kok gak jadi kedokteran? Bang Adi pikir kamu keterima di FK?”

“Iya, Bang, aku jadi malas sama kedokteran,”kata Faldi yang disambut tatapan kaget Bang Adi.
Faldi menghela nafas,”habis, suksesnya lama.”

Namun, kalimat keduanya bukanlah sebuah kebohongan. Faldi memang beberapa kali sudah diterpa kebimbangan akan impiannya menjadi dokter. Lima tahun kuliah, menjadi ko-as, merangkak dari bawah… Banyak yang bilang jadi dokter itu suksesnya lama. Meskipun Faldi bisa lihat jelas bahwa dokter-dokter tua selalu berlimpah uangnya, namun curam dan jauhnya pendakian menuju kesuksesan tersebut menjadi momok juga bagi Faldi. Setelah resmi ditolak beasiswa untuk melanjutkan studinya di bidang kedokteran, Faldi mulai meyakinkan dirinya bahwa kedokteran itu menyebalkan. Pelajarannya susah, ujiannya gila-gilaan, dan yang terpenting; suksesnya lama.

Mendengar jawaban Faldi, Bang Adi tersenyum dikulum. Dia melipat tangannya, dagunya mendongak, matanya memandang lurus ke depan, dan tatapannya tiba-tiba berbinar. Itu tatapan yang sering sekali Faldi lihat dari Bang Adi, dari mereka kecil hingga sekarang. Gestur itu selalu Bang Adi perankan dikala Faldi melontarkan istilah-istilah, kalimat, dan pendapatnya yang menurut Bang Adi, Faldi tidak mengetahui apapun tentangnya. Seluruh gerak tubuh Bang Adi seolah-olah mengucap,”ah tahu apa kamu. Kamu gak tahu apa-apa, Bang Adi tahu semua.”

Melihat Bang Adi demikian, Faldi langsung menciut kesal. Dia mendengus,”ah, tuh kan Bang Adi pasti begini.”

Bang Adi tertawa melihat adik sepupunya memandangnya sebal. Lalu dia melanjutkan,”memangnya, sukses itu apa, Fal?”

Faldi tahu, Bang Adi pasti akan melontarkan pertanyaan yang membuatnya gelagapan. Pertanyaan yang tidak akan disangka-sangkanya, tapi memang benar perlu dipertanyakan. Faldi pun terdiam, memikirkan bagaimana sukses yang selama ini dia bayang-bayangkan, dia impi-impikan.

“Gimana hayo,”tuntut Bang Adi. Teh mendidihnya sudah berubah menjadi teh hangat. Bang Adi menyeruputnya pelan.

“Kaya, sih Bang,”jawab Faldi setelah jeda yang agak lama.

“Udah saya duga,”senyumnya merekah meremehkan. Lalu dengan cekatan, Bang Adi mencari sesuatu di smart phone-nya dan memberikannya pada Faldi,”baca ini deh, Fal.”

Surah Al-Baqarah: 247

Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”

***

Bang Adi ini memang berbeda di antara sepupu-sepupu lainnya. Imannya mantap sekali dan pengetahuan akan agamanya pun melimpah. Tak hanya rajin sholat dan tadarus, tapi dia pun tahu banyak tentang hal-hal agama yang fundamental dan filosif, yang tidak semua orang tahu. Sementara sepupu-sepupu lainnya sama bejatnya dengan Faldi.

Waktu itu Faldi masih SMP kelas 2 dan Bang Adi sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Faldi menatap dahi Bang Adi yang semakin hitam. Tidak kuasa, Faldi melontarkan cie-cie yang membuat Bang Adi kesal.

“Cie Bang Adi rajin solat. Jejak sujudnya nempel bener, Bang.”

“Apaan sih,”ujar Bang Adi gusar,”jejak sujud itu bukan yang di dahi, tau. Jejak sujud itu karya nyata yang manfaatnya membekas di bumi, kayak Madinah; jejak sujud Rasul.”

Faldi saat itu tidak peduli,”yang penting jidatnya hitam,”dia menjulurkan lidahnya, lalu kabur meninggalkan Bang Adi yang gatal tangannya ingin menjitak Faldi.

***

Ruang tamu bergema dengan sebuah ayat Al-Quran. Namun, Faldi tidak mampu memahami maksud Bang Adi. Dia hanya memberi tatapan bertanya.

“Sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak,”ulang Bang Adi,”Allah sudah tahu ada orang-orang kayak kamu, Fal. Ada orang-orang yang berpikir bahwa kekuasaan bisa dicapai dengan kekayaan dan kesuksesan diukur dengan material.”

Faldi mulai paham arahnya.

“Allah sudah tahu ada kamu, Fal. Dan dari dulu pun memang manusia banyak yang berpikir seperti itu. Makanya Allah, dalam Kitab-Nya, menjawab, bahwa kesuksesan itu adalah ilmu yang luas. Tidak cukup itu, tubuh yang sehat juga sangat diperlukan supaya manusia bisa tetap kuat untuk bekerja keras mengamalkan ilmunya. Memangnya, jadi dokter itu cuma perlu belajar doang? Kalau badannya lemah, gak bakalan kuat dia begadang-begadang menangani pasien yang membutuhkan.”

Faldi mangut-mangut. Dia sendiri baru sadar bahwa selama ini dia mengukur kesuksesan dari uang, penghasilan, gaji, dan kemewahan hidup seseorang. Padahal, memang benar abangnya yang satu ini, memang benar kitab suci agamanya ini, bahwa kesuksesan itu adalah sebuah keberhasilan menggunakan ilmunya untuk kebermanfaatan. Toh, banyak di dunia ini orang kaya, yang diujung umurnya, merasa hidupnya tidak bernilai, tidak berguna, karena selama ini dia hanya terus memperkaya dirinya sendiri. Atau, lihatlah Angelina Jolie yang gila-gilaan melakukan pengabdian di Afrika, mengadopsi banyak anak untuk dihidupi. Itu adalah bukti nyata bahwa pada akhirnya manusia akan tetap merasa kosong apabila dia hanya terus mengisi dirinya sendiri. Kehampaan hati hanya dapat terobati jika manusia itu membagi manfaatnya kepada seisi dunia.

***

Tetap saja, kekecewaan itu membara dalam nadinya. Membakar semua kebaikan-kebaikan, yang mungkin hanya sedikit, namun ada di hati Faldi. Amarahnya entah ditumpahkan pada siapa. Dendamnya pun disalurkan kepada Allah.

Dia yang membuat Faldi miskin, dan Dia pula yang tidak memberinya beasiswa. Padahal, dengan jadi dokter, dia kan bisa memberi manfaat kepada orang lain, kenapa tidak Allah izinkan?

“Fal, lo gak dapat beasiswanya ya?”tanya Boy, temannya.

“Nggak,”jawab Faldi sambil membuka sepatunya. Mereka hendak berwudhu di masjid, Faldi memenuhi keinginan Boy untuk sholat berjamaah di masjid, padahal panas hatinya masih membuatnya malas beribadah.

“Sabar, bro.”

“Iya, Boy. Kurang miskin deh kayaknya gue. Gue bakar apa ya rumah gue?”

“Woy, ngaco, ucapan itu doa.”

Betul juga, ya. Hati Faldi bergetar takut,”eh iya, naudzubillah min zalik…”

“Bersyukur saja lah, udah bagus dapat beasiswa lain di universitas yang bagus juga, Fal. Gue masih belum dapat manapun.”

Faldi hanya diam. Sindiran Allah pun berlanjut dari mulut Boy menuju mulut imam sholat. Surah yang dibacakan pada rakaat pertama adalah Ar-Rahman.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzdzibaan 33 kali bergaung di langit-langit masjid. Perasaan Faldi jadi semakin kacau. Maka nikmat mana lagi yang saya dustakan? Luka di hatinya semakin besar. Kali ini oleh kekecewaannya pada diri sendiri.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

***

Missed call dari Tanri, mantan ketua osis angkatannya, bertubi-tubi menyerang handphone-nya. Faldi segera menelponnya balik.

 “Faldi! Jadi mau kedokteran?”

Apa lagi sih ini?

“Kenapa emangnya, Tan?” Faldi balik bertanya.

“Beasiswa yang kemarin gak dapet ya Fal?”

“Nggak,”jawab Faldi gusar. Ini cewek ngomongnya santai amat, dasar gak sensitif.

“Donatur SMA kita datang, Fal! Katanya mau bayarin anak yang nggak dapat beasiswa tapi mau sekolah di kedokteran. Tinggal kamu aja nih calon anak kedokteran yang belum dapat beasiswa.”

Subhanallaah. Faldi langsung menghapus bayangan-bayangan akan kehidupan mewah di depannya. Luka hatinya seakan disiram air yang sangat sejuk. Ternyata penolakan beasiswanya, pertemuannya dengan Bang Adi, dan shalatnya bersama Boy, adalah suatu tempaan yang Allah sediakan untuk Faldi. Untuk Faldi meluruskan niatnya. Agar kuliahnya, gelarnya, dan dokternya, semua suci di mata Allah, dan menjadi suatu amal sholeh yang bisa Faldi persembahkan kepada Allah.


***

Ilham

Hari ini saya menunda lagi.

Tapi, biarlah saya memulai menulis kembali. Mencoba mengalirkan inspirasi, ilham, melalui jari-jari saya menuju layar komputer. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata terdapat dua bagian besar dalam komunikasi. Yang pertama adalah bagian konten, di mana otak-otak komunikatornya perlu dipenuhi dengan inspirasi, ilham, pesan, renungan, atau motivasi, yang akan disampaikan. Sedangkan, bagian keduanya adalah bagian teknis, yaitu bagian pelaksanaan komunikasinya, baik dalam bentuk presentasi, orasi, pidato, menggambar, maupun menulis. Jadi, saya simpulkan, komunikasi yang baik itu memerlukan dua keterampilan, yaitu keterampilan berpikir untuk mendapat pesan, makna, dan ilham dari kejadian, serta keterampilan teknis menulis, berbicara, dan sebagainya.

Ngomong-ngomong soal ilham, kali ini dia tidak muncul dengan deras di otak saya. Mungkin hari ini saya kurang berpikir dan kurang merenung. Tapi, saya jadi penasaran dengan kata ilham sendiri. Saya jadi curiga, jangan-jangan ‘ilham’ berasal dari Bahasa Arab.

Ternyata benar. Menurut suatu sumber di internet, ilham berasal dari kata yang berarti menelan. Sedangkan, menurut KBBI, ilham adalah (1) petunjuk Tuhan yang timbul di hati, (2) pikiran yang timbul dari hati, (3) sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta. KBBI pun mensinonimkan ilham dengan inspirasi. Sementara itu, menurut Cambridge dictionary, inspiration berarti (1) someone or something that gives you ideas for doing something, (2) a sudden good idea, (3) someone that people admire and want to be like.

Arti asli ilham harus ditilik dari asal katanya juga. Disebutkan bahwa asal kata ilham adalah menelan. Maka, ilham apapun yang muncul, bukanlah sekedar a sudden good idea seperti arti dari inspirasi. Namun, ilham harusnya merupakan proses aktif dalam menerima input (menelan), yang melalui proses pemikiran dan pemaknaan, dan akhirnya menimbulkan keinginan untuk berbuat.

Kalau begitu, memang benar peribahasa,”you are what you eat.”

Saya harus menjaga ‘makanan’ saya agar ilham yang saya dapatkan merupakan ilham yang baik. Saya harus bisa mengambil masukan-masukan baik dari lingkungan saya. Sedangkan proses pemikiran dan pemaknaannya harus selalu saya kawal dengan frame yang baik pula. Harus ada prinsip-prinsip jelas yang saya pegang sehingga hasil yang saya peroleh juga terjaga kebaikannya.

29 Agustus 2014 (diedit, ditambahkan tiga kalimat baru, dan diposkan pada pagi hari 30 Agustus 2014)

Evaluasi di akhir minggu

Tiba di akhir minggu pertama sejak saya mengumandangkan janji saya kepada diri saya sendiri: satu hari satu tulisan. Setelah menjalaninya satu minggu, saya akhirnya melihat dengan jelas kekurangan diri saya yang sangat menonjol. Saya suka menunda sampai batas-batas penghabisan.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, saya mulai menulis untuk tanggal 24 Agustus pada jam 11.30an malam. Dan itupun saya banyak teralihkan oleh hal-hal lain di sekitar saya sehingga sekarang waktu sudah menunjukkan 25 Agustus 2014 kurang tujuh menit.

Ah tidak saya harus bergegas.

Disiplin saya kurang sekali, bahkan untuk solat fardhu sekalipun. Saya belum seniat itu untuk mengamalkannya di awal waktu. Baiklah, minggu depan tidak boleh menulis di akhir hari lagi.

Selain itu, pada hari ini harusnya saya sudah memiliki tujuh tulisan. Pada nyatanya, hanya terdapat tiga file dalam komputer saya plus satu tulisan di blog. Ada beberapa tulisan yang membutuhkan dua hari untuk selesai. Kalau begitu, saya benar-benar telah melanggar janji saya sendiri. Janji saya kan satu hari satu tulisan. Bukan sekedar setiap hari menulis. Baiklah, minggu depan tulisannya tidak boleh sampai bersambung-sambung seperti kemarin.

Tiga menit lagi menuju 25 Agustus!

Dengan adanya kewajiban satu tulisan setiap hari ini, I really need to be inspired everyday saya benar-benar butuh untuk terinspirasi terilhami setiap hari. Atau, lebih pasnya, saya harus mampu menemukan ilham dari setiap benda, kejadian, dan lingkungan yang saya alami sehari-hari. Dan, sejauh ini saya masih lebih sering menulis artikel dibandingkan dengan cerpen. Padahal, sepertinya cerpen lebih menantang karena sama-sama harus menemukan ilham dengan tambahan menuliskannya semua pesan-pesan yang ingin saya sampaikan dalam suatu imajinasi dan kreasi baru lagi.

Sudah jam 00.00, sudah tanggal 25 Agustus.

Bye.

(meski dipos pada tanggal 25 Agustus dini hari, tapi tulisan ini sesungguhnya rampung pada pk. 00.00 25 Agustus 2014, jadi dapat diakui bahwa tulisan ini adalah karya saya di tanggal 24 Agustus)

18 Agustus 2014

Welcoming birthday, again.

Birthday is getting less special when you grow old. Maybe I'm already bored with birthday celebrations. I have already faced them for 22 times!

So, this is me, in my 23rd. Nothing has changed since the last time I was 22 (21 minutes ago), except my hair getting more oily because I left it unwashed.

I am a grown up; birthday is not a special celebration; birthday is just another day.
I am a grown up; there's nothing special about birthday; what's so special is just life.
I am a grown up; I need to walk in the right path, in that special path, so I will leave bright and shiny traces in this world.

And yesterday an idea popped out in my brain. It suggests me to make a commitment to my self, one writing everyday and one painting every week, since today until the next time I find myself getting older a year.

Hmm, pinky swear?

...

Hahaha, why this feels so hard?

(Breath heavily)

Okay, one writing everyday! Pinky swear!

And this is my first article in my twenty-three.

Tanggung jawab!

Dibandingkan dengan negara-negara luar, Indonesia sepertinya menjadi salah satu negara yang masih gagal mengelola sampah-sampahnya. Banyak yang menyimpulkan, ini semua disebabkan oleh majunya teknologi tidak sebanding dengan pendidikan kepada masyarakatnya.

Sedikit banyak, tampaknya pernyataan tadi cukup benar. Saya pernah beberapa kali live in di pedesaan. Saya tinggal di rumah seorang penduduk desa, bergaul dengan remaja-remaja sepantaran saya, ikut membantu (atau justru gerecokin) tuan rumah bertani, menemani belanja ke pasar, sampai main-main dengan anak-anak kecil ingusan. Di samping pengalaman-pengalaman seru dan pemandangan indah di desa sana, ada sebuah hal lain yang membekas di ingatan saya.

Pertama kali saya live in, saya tinggal di daerah Sleman, di sekitar Yogyakarta. Hari pertama tiba di sana, saya beramah tamah seharian dengan tuan rumah, cengangas-cengenges sama teman serumah, sampai tibalah suatu sore hari di saat saya memegang sampah di tangan saya. Saya keliling-keliling mencari tong sampah, tapi pencarian saya sia-sia. Akhirnya, bertanyalah saya pada Ibu pemilik rumah, dan katanya, taruh saja di sana. Di sana, di sebuah tumpukan dedaunan.

Baiklah, kebetulan sampah saya juga sisa makanan, jadi… yasudahlah.

Beranjak malam, saya yang saat itu sedang datang bulan, keluar dari kamar mandi menggenggam seonggok ‘sampah wanita’. Masa saya taruh di tumpukan dedaunan? Kan, jijik… karena masih gagal menemukan tempat pembuangan yang lebih layak, saya bertanya lagi di mana tempat sampah, mau buang pembalut.
Si Ibu kemudian menunjuk tungku memasak, taruh saja di tungku, nanti dibakar.

Hah, gak apa-apa, Bu?

Beliau tersenyum.

…

***

Kali kedua, saya tinggal selama dua minggu di daerah Garut. Di sana saya bertempat di sebuah rumah di tepi lembah. Di bawah lembah sana mengalir sungai, dan sepanjang tembok landainya ramai ditumbuhi tanaman-tanaman tropis dan liar. Kalau dibayangkan, mungkin tampaknya indah – hijau-hijauan diiringi gemericik sungai. Tapi, sesungguhnya saya lupa untuk menyebutkan suatu informasi yang spontan menepis bayangan-bayangan indah tadi.

Jurang itu ternyata menjadi tempat pembuangan akhir sampah bagi mereka. Banyak sampah-sampah plastik, sebagian besar bungkus makanan ringan, bertebaran bagai bintang di malam hari. Saya cukup kaget melihat penduduk desa yang terbiasa membuang sampah langsung ke sana.

Saya langsung berpikir.

Satu, sarana, prasarana, dan fasilitas persampahan dari pemerintah tidak menyentuh langsung ke sana. Tidak ada petugas sampah dari pemerintah yang datang ke desa tersebut, mengambil sampah-sampah dan sebagainya. Tidak ada satupun tong sampah terlihat di sana. Mungkin, kalau dari sudut pandang makro, dengan data-data statistik sebagai bahan analisisnya, desa di bilangan Garut ini bisa saja mendapat penghargaan “Desa Zero Waste” saking tidak adanya sampah yang keluar dari sana membebani pemerintah. Padahal justru di sana tidak ada pengelolaan sampah sama sekali. Sampah secara langsung membebani alam.

Dua, bayangkan desa itu masih tertutup dari perkembangan teknologi terkini (bungkus plastik untuk makanan kecil itu teknologi, setuju kan?). Mereka hidup mandiri dari sumber daya mereka sendiri. Mereka membeli makanan kecil di warung-warung penduduk mereka sendiri. Pemilik warung membuat lemper, odading, ataupun kelepon, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Akhirnya, sampah yang mereka hasilkan pun organik.

Mungkin, nenek moyang mereka dulu, yang sampahnya hanya sebatas daun pisang, memang terbiasa membuang apapun ke lembah itu. Kini, penduduk sekarang, yang sudah kedatangan bungkus plastik, tetap membuang sampah ke lembah, karena tidak adanya pemahaman bahwa bungkus plastik tidak bisa diperlakukan sama seperti daun pisang.

Warung-warung bergeser dari menjual lemper ke ciki-cikian. Mereka sangat terbuka untuk teknologi, perusahaan-perusahaan makanan ringan mampu melesat dan memasuki desa. Namun, sayangnya, pendidikan dan pengetahuan tidak turut menyerap ke dalam desa tersebut. Mereka terisolasi dari perkembangan pengetahuan dan pendidikan.

***

Di ITB, terdapat wadah berkumpulnya mahasiswa yang satu jurusan untuk berkegiatan bersama. Wadah tersebut biasa disebut himpunan. Himpunan mahasiswa di ITB memiliki sebuah sekre, suatu tempat untuk berkumpul bersama. Kadang rapat, kadang bikin tugas, kadang main gitar sampai pagi, kadang main pingpong, dan kadang-kadang jadi tempat bakar dan makan jagung.

Penuhnya sekre oleh mahasiswa kadang-kadang membuat penuhnya sekre oleh sampah ketika mahasiswa-mahasiswa itu pulang. Mungkin sesuai dengan peribahasa gajah dan macan. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, mahasiswa pulang meninggalkan sampah. Tentu saja hal ini membuat geram sebagian mahasiswa-mahasiswa nan apik dan resik. Tidak jarang, sekre-sekre himpunan ditempeli tulisan-tulisan yang kurang lebih berbunyi “tanggung jawab akan sampahmu”.

Kurang lebih, para penjaga sekre mengharapkan para ‘produsen’ sampah itu bertanggung jawab akan sampahnya masing-masing dan membuangnya sendiri ke tong sampah agar tidak mengotori sekre. Kalau dalam konteks himpunan, produsennya itu mahasiswa dan sampahnya itu adalah botol-botol air mineral yang mereka beli, bungkus plastik bekas makanan, dan sebagainya.

Nah, kira-kira bisa gak ya konsep ini diterapkan dalam lingkup yang lebih luas?

Dalam lingkup yang lebih luas, produsennya adalah pabrik atau toko-toko. Coba bayangkan sebuah air kemasan. Ketika airnya habis, yang tersisa hanya sampah botol plastik, kan? Jadi sebenarnya, perusahaan-perusahaan itu, selain mencetak minuman, dia juga mencetak ribuan sampah botol setiap harinya.

Mengadopsi prinsip ketua divisi badan rumah tangga himpunan-himpunan di ITB, harusnya para perusahaan itu harus bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Program CSR perusahaan harusnya sesuai dan sebanding dengan kerusakan yang mereka buat. Kalau ada perusahaan yang menghasilkan 2 ton sampah plastik setiap harinya, maka program CSR mereka pun harusnya mengelola 2 ton sampah plastik setiap harinya pula. Atau, jika perusahaan tersebut menghasilkan produk yang pemakaiannya mengakibatkan pencemaran air, seharusnya mereka membantu pemerintah dalam pengelolaan air bersih sebagai program CSRnya.

Dinar. Ramadhani.

#1 Konteks yang terlalu sempit
"Kalau ke Thailand, mau liat karambanya ah,"kata Dinar.
"Jalan-jalan yuk!"
"Yuk, akhirnya..."
"Pengen ke Malang nih."
"Hah?"Dinar kaget.
"Loh,"saya ikut kaget,"emang pengen ke Thailand?"
"Ngga, kirain jalan-jalan itu mau keluar rumah."
-___-

#2 Gak lucu
"Adek kan juga gak jelas,"mulai Dinar,"terus kita suka gak jelas berdua gitu. Akhirnya kita bikin quote."
"Apaan?"
Dinar ketawa terpingkal-pingkal sendiri,"aduh, ga kuat. Ditulis aja ya. Hahahahahaha"
Wah, lucu banget nih kayaknya. "Hahaha, apa Nar, tulis aja."
"Hahahahahaha, jadi sama adek bikin quote gitu,'orang yang mentertawakan ketidakjelasan lebih tidak jelas daripada ketidakjelasan itu sendiri."
...
"HAHAHAHA GAK LUCU."
"HAHAHAHAHA IYAA MAKANYA ITU KARENA GAK LUCU JADI KETAWA"

Hahaha, what @#$%^&*?! gak logis

Sarjana, Toga, dan Wisdom

Hari ini adalah hari kelima di bulan Agustus tahun ini. Sebagai mahasiswa yang (seharusnya) tingkat akhir, saya sudah dua kali mencicip wisuda teman-teman seangkatan saya. Yang pertama wisuda ITB Juli kemarin, dan yang kedua wisuda Unpar, Juli juga.

Saya kemarin-kemarin heboh membeli kartu ucapan, lalu dituliskan "SELAMAT Siapakek, S.T.!". Di angkatan sendiri mulai terdengar 'gelar-gelar' ST1, ST12, sampai ST berapapun, yang menandakan urutan kelulusan sidang di angkatannya.

Sarjana.

Sarjana Teknik, Sarjana Sosial, Sarjana Hukum, Sarjana Seni, apalagi?

Kalau dipikir-pikir, memang, sarjana itu apaan ya?
Ahli? Ahli sosial, ahli psikologi?
Atau bahkan, jangan-jangan sarjana artinya sekedar... lulusan.
Lulusan teknik, lulusan sosial, lulusan hukum. Kalau benar artinya sekedar lulusan, beeeuh, capek-capek kuliah, ternyata cuma jadi seorang lulusan yang nobody guarantees you will do great or even be an expert there.

Saya masih belum paham makna sarjana sekarang, tapi kalau ditilik dari sejarahnya, sarjana, yang berasal dari Bahasa Sansekerta ini, ternyata bermakna orang yang pandai atau berilmu. Sarjana adalah orang yang dianggap ahli di kalangannya. Padahal, sekarang seorang sarjana S-1 masih banyak yang jadi pengangguran. Kalau sarjana adalah seorang ahli, seharusnya pekerjaan yang mencari beliau, bukan beliau yang mencari pekerjaan.

Makanya, saya masih belum menemukan makna sarjana yang diakui di masa sekarang selain sebagai seorang lulusan S1.

Guru pelajaran Bahasa Indonesia saya waktu SMA mengkategorikan kasus sarjana ini sebagai penyempitan makna. Mari kita bayangkan diagram Venn, kalau memang menyempit, artinya lulusan S1 merupakan himpunan bagian dari kelompok ahli, yang artinya lulusan S1 pasti ahli dalam bidangnya. Melihat kenyataan sekarang, saya justru menganggap kasus sarjana ini sebagai pergeseran makna. Haha, gak penting sih, ya sudah lupakan.

Selain itu, seremonial wisuda sekarang di seluruh dunia, sepertinya sudah diseragamkan dengan fashion  yang sama; toga dan mortarboard. Kalau dari sejarahnya lagi, toga ternyata adalah pakaian laki-laki pada masa Romawi Kuno (wanitanya memakai pakaian yang disebut dengan stola). Kurang lebih kayak gini:

Toga terbuat dari kain sepanjang enam meter yang dililit-lilit dan tidak dijahit. Ada yang menyebutkan bahwa toga merupakan satu-satunya pakaian yang layak dipakai di luar ruangan, tapi ada juga yang bilang bahwa toga merupakan pakaian yang biasa dipakai kalangan intelektual pada masa itu.

Tapi kayaknya benar dua-duanya deh. Jadi urutannya, toga pakaian sehari-hari di luar ruangan. Karena ribet, lama-lama pakaian ini ditinggalkan orang, tapi tetap digunakan di seremonial khusus (jadi kesannya intelektual). Haha tapi ini dugaan saya doang sih, kalau salah ya mohon maaf lahir batin, saya  kan lahir tahun 90an, bukan tahun Romawi Kuno haha. Intinya, ini pakaian orang Romawi. Dan yang jelas memang toga ini lama kelamaan ditinggalkan orang, tapi malah jadi dimodifikasi menjadi jubah seperti sekarang ini, dan 'naik derajat' jadi pakaian khusus acara penting, salah satunya wisuda.

Sementara itu, mortarboard, nama asli topi toga yang kotak itu, diduga asalnya terinspirasi dari biretta. Biretta adalah topi yang biasa dikenakan pendeta Katolik Roma. Biretta sendiri merupakan modifikasi dari berretto (nah loh mirip amat namanya) yang merupakan topi yang biasa digunakan kaum akademisi, seniman, dan humanis Romawi sekitar abad 12 hingga 14.

Si talinya sendiri entahlah melambangkan apa. Namun, dalam prosesi wisuda, katanya (saya belum diwisuda :') haha), sang rektor memindahkan tali ini dari kiri ke kanan. Ada yang bilang, prosesi itu melambangkan bahwa si sarjana, yang selama ini diolah otak kirinya di bangku kuliah, sekarang sudah lulus dan harus bisa menggunakan otak kanannya dalam pekerjaannya nanti. Otak kanan; perasaan, imajinasi, intuisi...

Setelah lulus kuliah, banyak sekali lambang-lambang yang akan diatributkan pada diri kita. Tapi, kadang, apa gunanya bahasa kalau tidak ada yang paham, apa gunanya lambang kalau tidak ada yang mengerti. Gelar sarjana itu kayaknya berat banget deh. Coba saja, dari seratusan SKS yang sudah saya ambil ini, berapa banyak nilai yang kurang dari baik? Okelah, nilai bukan segalanya, tapi, kalau saya renungi lagi, sudah berapa banyak SKS yang telah saya lupakan ilmunya? Inikah, saya, si calon sarjana berilmu pandai lagi ahli itu?

Anyway, kalau dipikir-pikir, toga tidak ada hubungannya dengan kelulusan dan kepandaian ya? Hahaha. Itu ibaratnya 1000 tahun lagi orang-orang diwisuda pakai kaos (men, apa yang sakral dari kaos? haha). Kalau menurut saya pribadi, perlambang yang paling tepat dipasang di sarjana adalah:
PADI!
hihi
lebih Indonesia, lebih lokal, dan orang-orang juga lebih paham; semakin berisi semakin merunduk.

Gelar jadi terasa tidak penting. Haha. Apalagi, setelah saya paham betapa arti sarjana sudah bergeser jauh dari makna aslinya yang begitu sabi. Sama saja seperti kata 'cantik' sudah bergeser jadi bermakna 'seenggaknya lo punya muka', ketika saya disebut cantik pada saat itu, tentu kebanggaannya sudah hilang.

Mari jadi sarjana sesungguhnya!!! Hiaaat!

:D

what is wrong

what is wrong with me
as the queen raises
i always feel under the stairs
looking up on those who smile

what is wrong with me
as the lions pass
i am just lying here on the grass
blaming on the time who fly

social media

mampir ke rumah eyang, buat nugas dan internetan, memberi dampak sampingan juga, saya jadi nonton tv. saluran yang dipasang saat ini saluran berita, dan sekarang banget nih, sedang ada pembahasan tentang anas, tepatnya pembahasan twitter-nya anas.

si pengamat politik yang diwawancara membicarakan apa saja tweet-nya anas, bagaimana reaksi masyarakat; retweet-kah, komenkah, dan sebagainya.

beliau bahkan menyebutkan,"... saya pantau akunnya anas..."

saya pantau.

saya pantau, men.

kalau orang awam yang ngomong, itu sama saja dengan "...saya stalk akunnya anas..." ga sih?

haha.

dunia memang berubah cepat ya, perasaan waktu SMA, twitter buat saya adalah sebuah social media baru yang tombol sign up-nya nempel di browser pilihan saya, sebuah social media iseng yang warna birunya lucu dan bagus, sampai akhirnya saya memutuskan untuk klik tombol itu dan sign up. sekarang, social media bahkan bisa jadi alasan sebuah masalah ("gua gak suka deh sama si itu, bacot banget twitternya"), bisa jadi penyebaran informasi yang efektif, iklan yang menarik, kuis online yang heboh, dan sekarang bahkan bisa jadi alat untuk analisis politik.

benar-benar, ini adalah era informasi.

yang sesungguhnya merantau hanyalah informasi, dan kita, beserta otot dan tulang-belulang kita, terduduk diam dan statis di suatu tempat di depan laptop.

rasanya kita seperti sudah berjalan di muka bumi ini, padahal hanya kode-kode biner program itu yang mengirimkannya ke muka kita!

huff, makanya, saya mau jalan-jalan.
jalan-jalan sungguhan.
ke phuket? :p

Harapan Palsu


Dina terbangun dari tidur siangnya yang damai. Kepalanya agak sakit, rasanya seperti otaknya yang lunak itu menjadi tempat ibu-ibu penjahit menancapkan jarum-jarum pentul. Kelopak matanya berat sekali. Dia melirik jam dinding berwarna kuning yang tergantung rapi di dinding kamar kosannya.

Gelap, tidak terlihat apapun.

Dina menyalakan lampu di meja sebelah kasurnya. Tampaklah jarum-jarum jam dindingnya meneriakkan kenyataan bahwa sekarang sudah jam 1 siang.

Dina mengerang sunyi.

Pelan-pelan, otaknya menghitung sudah berapa lama dirinya terlelap. Dia baru pulang dari kampus jam 7 tadi pagi. Tugas kelompoknya baru selesai jam 6. Segera, dengan semangat asik-tugas-gua-berkurang-satu, Dina dan Cinta beranjak ke tempat print pinggir jalan sekitar kampus. Jam setengah 7 mereka berhasil tiba di tata usaha untuk mengumpulkan tugas, dengan muka riang dan kantung mata yang membengkak. Sialnya, tata usaha masih tutup.

“Haha, hebat amat kita, bangun lebih pagi dari tata usaha,” Cinta tertawa frustasi.

Dina melengos,”sok-sokan bangun pagi ah lo, Cin, kita kan belum tidur.”

Cinta terkekeh lelah lalu mengajak Dina menunggu ibu-ibu tata usaha di kursi-kursi di sepanjang lorong gedung kuliahnya. Mereka menjatuhkan tubuh mereka di kursi yang keras, lalu bersandar mengantuk, memejamkan mata.

Sekitar 7 kurang 15, Ibu Tia datang dan membuka pintu ruangan tata usaha. Bergegas, Dina dan Cinta merapat pada Ibu Tia sambil membawa laporan tebal. Ibu Tia menolak mereka dengan alasan,”TU-nya belum buka, Neng. Sebentar lagi jam 7 aja.”

Dina segera menguap, memasang muka lelah dan mata sepet. Cinta berpura-pura kelelahan, meskipun memang benar-benar lelah, dan bersender pada pintu tata usaha, kemudian merayu Bu Tia dengan balada sedihnya dia dan Dina, betapa lelahnya mereka semalam suntuk begadang, belum lagi prahara laptop ngehang, tempat printer yang agak jauh (dan nanjak!) serta mahal, bahwa mereka akan kuliah pagi (meskipun mereka sudah meyakinkan diri untuk bolos), dan betapa sakitnya kepala mereka sekarang.

Akting mereka teruji kualitasnya sampai-sampai Bu Tia mengiyakan mereka untuk mengumpulkan tugas, lebih cepat dari waktunya. Dengan sepercik muka iba yang tulus dari Bu Tia, yang membuahkan rasa bersalah pada Cinta yang telah memberi alasan super hiperbola, beliau menyemangati anak-anak kuliahan ini dengan sungguh-sungguh.

Sambil berjalan pulang, Cinta meluapkan rasa tidak enaknya, yang menurut Dina berlebihan.

“Ya udah, sih, toh kita kan gak benar-benar berbohong dan berakting. Laptop Toni memang ngehang semalam dan Kika sampai harus minum panadol saking pusingnya. Kita memang capek, kok.”

Akhirnya, jam setengah delapan pagi, Dina tiba di kosannya – di kasurnya. Dina membanting tubuhnya ke kasur, lalu berguling menyamping menghadap tembok. Sekarang, dia sedang memandangi list tugas yang dia tempel di dinding samping tempat tidur. Dina mengambil bolpen, yang, entah bagaimana, tergeletak di samping bantalnya, lalu mencoret satu buah tugas.

“Laporan struktur bangunan… Rabu. Tugas manajemen konstruksi, tugas…”

Dina mendaftarkan tugasnya yang belum rampung satu persatu dalam hati. Masih ada 5 lagi. Dari tujuh tugas yang diberikan bertubi-tubi di dua minggu terakhir kuliah. Dina dan teman-temannya harus menyelesaikan 60% dari total tugas mereka dalam waktu 25% dari total kuliah! Salahkan dosen.

Hey, dosen tidak bersalah. Mereka sedang berbagi ilmu melalui… tugas.

Salahkan… salahkan diri sendiri berani-beraninya masuk universitas. Haha. Dina tersenyum sendiri. 

Kemudian terlelap.

Ketika jam satu siang akhirnya terbangun, Dina sudah beristirahat selama lima setengah jam. Cukup, sih, seharusnya. Dengan kepala yang agak sakit dan badan yang malas bergerak, dia memejamkan matanya sebentar.

Lima menit saja kok.

Suara hujan terdengar samar-samar, menenangkan. Lima menit kemudian, dia membuka matanya dan langsung beranjak keluar kamar. Entah bagaimana, ruangan di luar kamar kosannya tampak berbeda. Masa sih selama Dina tidur tadi ada renovasi besar-besaran di balik pintu kamarnya?

Ruangan ini tampak menyenangkan bagi Dina. Besar dan diterangi cahaya matahari yang agak redup, cerahnya termakan awan-awan mendung di atas sana. Jendela-jendela besar menghiasi sebagian besar dinding ruangan. Ruangan ini dipenuhi rak-rak buku yang terbuat dari kayu berwarna gelap. Sebuah karpet berwarna marun terbentang di tengahnya, memberi aksen yang menarik dari ruangan.

Dina pergi ke satu sudut ruangan dan duduk di sebuah kursi di samping jendela besar. Di depan kursinya terdapat meja kayu bundar dan di atasnya sudah disiapkan secangkir milo, untuknya. Butiran-butiran air sibuk berdempet-dempetan di kaca jendela.

Dina menyeruput Milonya dan mengambil HPnya. Sebuah SMS dari Cinta muncul. Bukan main gembiranya, semua sisa-sisa tugasnya diundur pengumpulannya jadi bulan depan. Dina sangat menikmati waktu istirahat ini, tanpa ada beban moril tugas menggantung di benaknya. Dia menyeruput Milonya lagi sambil memejamkan mata.

Kemudian dia buka matanya.

Dina masih ada di atas kasurnya. Dengan lampu di sampingnya menyala. Selimut yang berantakan. Serta jam dinding yang menunjukkan pukul 2 siang. Dina menelan ludahnya, merasa hidup ini pahit. Dina berdiri, duduk di meja belajarnya, mengambil laptopnya, kemudian mulai membuka Microsoft Word dengan wajah datar. Ditemani sisa-sisa mimpi yang mulai tertelan kembali ke pusaran ingatannya, Dina mulai mengetikkan kata, L-A-P-O-R-A-N …

untitled

The night with the rythm of quite quiet silence, calming the soul with its darling air.

As I breathe the grace given, the memories are getting sephia.

So can I just trust, as the thin air moist the roses, in this fancy world?


Published with Blogger-droid v2.0.4

Dunia

Dunia ini dunia kiasan,
Simbol-simbol tersurat,
Lambang dari makna-makna sirat
Hanya yang halus hatinya mampu tahu
Arti terselubung kata cita dan cinta
Topeng dari hati-hati menjerit

Dunia ini dunia penantian
Perjalanan panjang mereka yang bertuju
Mereka yang tak sia-sia
Hanya yang pasrah dan ikhlas tak menderita
Karena pekatnya kabut masa

Dunia ini dunia fana
Tangan Tuhan meliputi
Setitik guncang hancurkan utuh
Hanya yang tahu tak tersia
Yang dapat menaikkan semua ke atas
Menuju tempat yang kekal

Dunia ini dunia kiasan
Pernik fana kunanti
Dunia ini dunia kiasan
Tidakkah kamu mengerti?

Published with Blogger-droid v2.0.4