Pedas, silau

Pedas, rasanya
Semua terlihat menyilaukan
Kututup dia
Mencoba menikmati gelap
Dan dia terlarut dalam hitam
Yang kemudian bercampur
Dengan cahaya redup berwarna-warni
Sungguh enak dipandang
Dan aku melayang
Di antara awan-awan lembut
Ungu, biru, dan hijau

!!!

Aku membuka mataku dengan terkejut
Hampir jatuh dalam mimpi rupanya
Lampu kembali menyilaukan
Mataku kembali pedas

Huah,
Ngantuk.

Pohon Bentuk H

Jalan menuju perumahanku adalah jalan sempit yang diapit komplek pemakaman cina kuno. Kuburan dibangun sangat antik, begitu besar, beratap batu, bertuliskan tulisan mandarin, dan dipenuhi ilalang liar. Seandainya aku bukan penghuni sana, mungkin situs ini bisa menjadi tempat wisata yang menarik.

Selain pemakamannya yang lawas itu, ada sebuah hal unik tumbuh di dalamnya. Hal unik itu adalah dua buah pohon. Ada dua pohon di sana berdiri bersebelahan. Yang kerennya, kedua pohon tersebut sebenarnya bersatu! Di antara batangnya yang besar, terdapat sebuah batang besar yang menyatukan kedua pohon itu. Seperti bayi kembar siam.

Kalau dilihat-lihat, pohonnya seperti membentuk huruf H.

Tapi sayang, ketika saya sudah agak dewasa, sekitar SMA atau kuliah, hujan deras dan angin keras melanda komplek kami. Pohon yang sebelah kiri tidak mampu mempertahankan diri sehingga tumbanglah ia, mematahkan sambungan hebat di antara mereka.

Sekarang, dua pohon itu sudah tiada. Warga sekitar memutuskan untuk menghabisi mereka berdua setelah tumbang satu di antaranya.

Jangan setengah lah

Di mana-mana, pekerjaan yang setengah-setengah tidak bakalan sama sekali membuahkan hasil yang oke.

Hasilnya pasti serba tanggung; investasi  atau biaya mungkin lumayan, tapi hasilnya bagus mah ngga. Nanggung kumaha kitu.

Makanya saya, dan kebanyakan orang, kalau memilih di antara produk serupa, tapi ada yang lebih mahal namun berfitur lebih juga, pasti menimbang-nimbang keduanya. Lebih mahal dikit, asal kualitasnya jauh sih gak masalah.

Namun, ada sebuah hal besar, yang sangat krusial, di dunia ini yang dijalankan setengah-setengah. Setengah hati. Istilah inggrisnya: half-assed. Dan hal krusial besar itu adalah: transportasi Indonesia.

Kalau saya mau menciptakan sistem - sistem pasti punya aturan, kan - pasti saya desain sistemnya dengan pengendalian, untuk menjamin semua aturan terlaksana.

Sayangnya, kalau di sini:
Peraturan ada
Rambu-rambu dan marka jalan ada (investasi buat begini gede, lho)

Tapi pengendaliannya...

Aturan-aturan itu tidak ditegakkan dengan utuh. Hanya setengah-setengah dari seluruh sistem itu yang ditegakkan.

Bahkan si penegak-penegak aturan itu yang juga melanggarnya. Mereka pernah menyuruh saya menyeberang tidak di zebra cross. Dan di depan mobil saya, mereka menampakkan telapak tangannya di hadapan saya (tahu kan, kekuatan super orang Indonesia kan ada di telapak tangannya. Bisa berhentiin mobil dengan sekali lambaian. Wkwk), lalu menyeberangkan banyak orang di tengah-tengah jalan tak berzebra cross.

Ngapain sih setengah-setengah.
Lihat kan, hasilnya sekarang transport Indonesia ga ada bagus-bagusnya.

Tulisan yang Termudah

Hal yang paling mudah untuk ditulis tentangnya adalah tentang rasa saat ini dan tentang suasana saat ini.

Hari ini langit begitu mendung, awan berpendar-pendar dalam cahaya matahari. Udara pun terasa agak dingin. Absennya matahari dan kehangatan, membuat saya teringat pada maggot-maggot dan lalat tentara hitam yang sedang FOODLAP kembang biakkan di kosan Rizan. Mereka sepertinya salah satu di antara makhluk-makhluk yang butuh kehangatan. Sejuknya hari ini membuat saya khawatir akan perkembangannya.

Dan akhirnya pun saya menulis di pagi hari, meluapkan pikiran-pikiran lewat tulisan. Sudah dua hari saya absen menulis - sayang sekali. Kemarin-kemarin, menulis terasa berat karena saya selalu memaksa diri saya menuangkan perkataan-perkataan yang berat pula; tulisan dengan topik-topik berbobot. Masalahnya, tidak setiap hari saya mood untuk menulis yang seperti itu.

Tapi justru mood itulah yang harus dibabat.

Harusnya menulis bisa menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari hidup saya. Dan harusnya, juga, menulis menjadi suatu kegiatan yang begitu mudahnya saya lakukan, seperti bernafas, menggerakkan otot jantung, mengkontraksikan otot lambung~

Jadi lah, hari ini saya menulis tulisan yang termudah.

Hobi adalah Cinta

Hobi seharusnya menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Hobi seharusnya tidak menyita terlalu banyak pikiran, tidak membebani perasaan, dan tidak berat untuk dimulai.
Dulu, kayaknya sekitar masa-masa tingkat dua, hidup saya seakan-akan ditemani seorang narator yang siap berkomentar pada apapun yang indra saya rasakan. Langit yang biru, atau bahkan sekedar batu yang codet, bisa menjadi sebuah paragraf oleh narator saya itu. Dalam setiap perjalanan saya, otak saya selalu bercerita. Lalu, ketika saya sudah duduk tenang di meja, segeralah mengalir narator tadi menjadi ketikan di monitor laptop.
Nah, kalau sekarang? Tidak jarang muncul perasaan malas dan terbebani untuk menulis. Kenapa ya? Apakah karena menulis kini bukan sekedar hobi, tapi menjadi kewajiban? Memangnya kenapa kalau jadi kewajiban? Kenapa malah merasa berat? Harusnya bagus dong hobi jadi kewajiban berarti itu adalah kewajiban yang menyenangkan...
Padahal, kalau ditilik secara etimologis, ternyata hobi itu berasal dari kata haba , atau hub (حب) dalam Bahasa Arab. Dan haba sendiri sebenarnya berarti cinta.   Makanya ada kata-kata 'Habibi' yang aritnya kekasih. Jadi, kalau saya hobi menulis harusnya cinta menulis. Dan sebaliknya, kalau saya berani bilang cinta sama Tuhan, harusnya saya hobi melakukan hal-hal yang membuat Dia senang.
Entahlah.
Yang jelas hari ini saya sudah menulis, menunaikan kewajiban saya pada janji saya sendiri: menulis setiap hari selama berumur 23 tahun.

Malaikat

Tak pernah kulihat
Datangnya ia dari langit
Namun seketika muncullah
Di sampingku, membawa pelita
Bagi kalbuku yang merindu

Tidak,
Tiada sayapnya
Tiada pula memancar cahaya
Hanya senyum yang menyenangkan
Dan kata-kata yang menenangkan
Mengiring sepercik hujan
Bagi hatiku yang gersang

Dan ia pun bercerita
Kisah-kisah yang lalu
Kisahnya yang penuh ilham
Buatku tertegun membayang
Dan ku semakin jatuh cinta

Artifisial

Dia melangkahkan kakinya dalam tempo yang pelan. Dia terus berjalan, terus melangkah, terus, terus, dan dia tetap melangkah lambat.

Dia melangkah, tanpa maju, mundur pun tidak. Matanya menatap layar televisi yang menyala. Televisi pipih itu menayangkan reality show yang semuanya tampak diskenariokan. Kisahnya, dramanya, dan tentu pengambilan gambarnya memperlihatkan bagaimana dia direkayasa.

Meski haus belum menyerang, dia reflek mengambil minuman botolan di dekatnya. Sebotol air rasa jeruk diteguknya. Bukan air, bukan pula jeruk. Semua hanya perasa.

Dia pusing sendiri. Masih berjalan di atas treadmillnya, tiba-tiba dia merasa seluruh kehidupannya telah begitu artifisial.

Kalau Mirip Pasti Saudara

Ada sebuah kejadian hari ini yang membawa saya kembali pada secuil pusaran ingatan saya. Kala itu, saya masih kelas 1 SMA dan dipercaya (baca: ditumbalkan) oleh teman-teman sekelas saya yang cantik-cantik itu untuk menjadi 'pejabat' kelas. Entah ketua kelas, sekretaris, atau bendahara (saya lupa yang mana), yang jelas saya sering sekali disuruh-suruh guru untuk memfotokopi bahan pelajaran hari itu. Dan itu adalah pekerjaan yang sangaaaat menyenangkan; keluar kelas, horeeee!

Akhirnya, saking seringnya fotokopa-fotokopi, muka ibu-ibu fotokopian jadi menempel sekali dalam otak saya. Rasanya seperti punya tato wajahnya di balik tengkorak ini. Dan karenanya, saya jadi sadar betul bahwa wajah ibu ini bak pinang dibelah dua dengan wajah guru fisika saya, Ibu Maria.

Kayaknya mereka saudara.

Asumsi-asumsi itu terus menggelitik otak saya. Sampai-sampai, si otak pun mengirimkan sinyal-sinyal gatal pada lidah saya. Setelah saya beberapa lama saya tahan di ujung mulut, akhirnya terlontar juga pertanyaan akan misteri paling besar abad itu.

Waktu itu, saya lagi fotokopi soal Geometri.

"Bu, mau fotokopi bolak-balik 32 kali ya, Bu."
"Ya."
"Bu."
"Ya?"
"Ibu saudaranya Bu Maria ya?"
"Hah?" Si Ibu murni bingung. Wajahnya sesekali bergemerlap cahaya mesin fotokopi,"bukan..."
"Masa sih, Bu?" Lah kenapa saya maksa? Wong yang punya keluarga bukan saya hahaha.
"Hahaha bukan."
"Mirip banget, Bu, abisnya. Beneran bukan saudara?"
"Nggak ah, gak mirip. Bukan saudara juga."
"Beneran Bu? Ibu sepupuan deh kayaknya."
"Nggaak, Bu Maria bukan sepupu saya."
"Sepupuan deh kayaknya, Bu."

Si Ibu cuma ketawa-ketawa saja, sampai 32 lembar fotokopian sudah matang. Segera, saya disuruh bayar dan harus langsung kembali ke kelas.

Beneran mirip, loh.

Malam yang Panas

Percakapan dengan tenang melalui ruang-ruang digital baru saja saya ketak-ketikkan dengan santai, di tengah udara dingin Kota Maastricht. Duduk di ruang hotel yang sangat unik penataannya, ditemani sekaleng cokelat yang sangat terkenal di negerinya Si Kumpeni.

Bumi terus bergulir, gelap dan terang terus menggelincir menyaplok daerah kekuasaannya. Tanpa dirasa-rasa, daerah GMT+01 ini makin melarut dalam gelap antariksa. Sedang mata saya masih melotot menangkap gelombang-gelombang menyakitkan dari monitor laptop.

Target-target hari ini, satu, dua, yak, sudah terlaksana dua. Biasanya agenda harian saya mencapai enam, itupun tidak selalu saya sempurnakan semuanya. Hanya satu-dua yang menjadi prioritas selalu saya usahakan.

Percakapan terus berlanjut, isinya penting-penting, menyangkut pekerjaan maupun urusan pribadi. Dan semuanya terasa menyenangkan. Sampai sebuah kejadian di dunia non-digital itu kembali terulang.

Ah.

Muak saya, berulang-ulang kembali yang seperti ini. Seperti matahari yang pasti tenggelam, sedikit percikan saja langsung membakar seluruh hati dan pikiran saya. Kepala saya seperti terbakar-bakar dalam angkara dan perasaan saya bergemuruh seperti badai di musim panas.

*

Seandainya saya naga, mungkin udah nyembur dari tadi kali ya.

Mendidik untuk Hafal?

Aku sangat bersyukur saat membuka pintu belakang rumah. Siraman matahari yang begitu menyengat langsung berganti dengan udara sejuk dan lampu redup di dapur. Sambil sekilas menyapa Ceu As, aku langsung menapaki lantai yang dingin ke dalam rumah.

Seperti yang telah aku duga, gadis kecil ini menyambutku dengan riang. Dia langsung menggamit tanganku dan menarikku untuk duduk di meja makan.

"Mbak, main sekolah-sekolahan yuk," katanya riang.

"Hayuk," jawabku,"mau belajar apa, Dek?"

"Bahasa Indonesia."

Rupanya, sedari tadi dia sudah menenteng-nenteng buku tulis. Dia menaruhnya di hadapanku dan memberikanku sebuah pensil tumpul.

"Aku gurunya, Mbak muridnya, ya," dia memaksakan skenarionya.

"Ya udah, apa soalnya, Dek?"

Dia membuka bukunya yang lain, lalu membaca keras-keras dengan intonasi anak SD - ada cengkok naik di ujung kalimat,"apakah yang disebut dengan membaca istenif?"

Aku menaikkan alisku.

"Istenif?"
***
Anak SD sekarang rupanya diajari hal-hal yang artinya pun mereka tidak mengerti. Jangankan artinya, mengejanya pun masih susah mereka. Istenif tadi, ternyata, maksudnya adalah intensif. Jadi, di sekolahnya, saat ulangan maupun tugas, mereka ditanyakan definisi dari membaca intensif. Bukan cuma itu, ada lagi teori tentang membaca lantang.

Saat dahiku berkerut-kerut bingung, tidak tahu jawaban apa yang harus aku berikan untuk pertanyaan tadi, akhirnya si Adek langsung memberi tahu aku teori-teori yang harus aku hafalkan. Yang pertama adalah membaca i-isten-in-innn-tennn-sifff. Rupanya, membaca intensif adalah kegiatan membaca di dalam hati tanpa bersuara, menggerakkan kepala, dan menggunakan jari atau alat bantu sebagai petunjuk, dengan tujuan memahami isi bacaan.

Ada lagi jenis membaca yang lainnya. Membaca lantang adalah membaca dengan bersuara dengan tujuan untuk mendengar dan memahami isi bacaan.

Naon.

Apa gunanya menghafalkan makna kedua jenis membaca tadi? Toh aku hidup di dunia ini 23 tahun, tidak menyadari adanya dua jenis cara membaca yang berbeda, tanpa kesulitan yang berarti. Suka-suka gue lah mau baca sambil nunjuk atau teriak-teriak. Lagian, memang kenapa membaca lantang dibedakan dari membaca intensif? Kadang-kadang, aku bersuara kok kalau aku mau intense membaca. Sama-sama membaca intensif kaaan?

Yang aku lumayan sebal, pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku tulisnya semua bersifat menyalin teks di buku. Misalnya seperti tadi, apa yang dimaksud dengan membaca intensif? Padahal, yang penting bukan hafalannya. Yang penting adalah pemahaman konsepnya dan pemahamannya dalam mengaplikasikannya di dunia nyata.
***
"Pertanyaan ketiga!"

"Ya, apalagi," tanggapku tidak bersemangat. Aku mulai heran dengan pertanyaan-pertanyaan dari gurunya ini. Dan juga dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini.

"Di manakah kita membaca intensif?" tanyanya. Tentu saja, ngomong intensifnya belepotan.

Aku tercenung. Wah akhirnya ada yang lepas dari hafalan.

"Di kamar!" jawabku tiba-tiba senang.

"Salaaah," sahutnya kecewa. Kecewa kakak sepupunya ini salah melulu jawabnya dari tadi. Ya iyalah, mana gue tau gitu loooh.

"Loh, di mana dong?"

"Ayo Mbak, inget-inget di mana? Mungkin di tangan, di otak, di rambut..." dia berusaha memberiku clue.

"Oh..." aku agak terperangah,"maksud kamu, di dalam hati?"

"Iya!"
***

Sudah lama aku menyadari, adikku yang satu ini pemahamannya memang tergolong kurang. Dia cenderung untuk menghafal dan saklek pada definisi yang ada di lingkungannya.

Kala itu, dia sedang membuat gelang dari karet warna-warni. Ada alat sederhana khusus untuk membuatnya. Ketika membeli perlengkapan itu, adikku diajari oleh penjualnya bagaimana membuat gelang dan cincin. Rupanya, cara membuat gelang dan cincin itu berbeda, karena memang bentuknya dibuat berbeda.

Dia, yang berpikir kakaknya serba bisa, memintaku mengajari cara membuat cincin. Sudah lupa katanya. Berhubung saat itu aku belum tahu bahwa ada cara sendiri untuk membuat cincin, aku jawab saja,"ya sama aja dong dek sama gelang. Bikin aja lebih kecil."

"Ih gak gitu tau!" bantahnya,"ada caranya sendiri!"

Sekali lagi, ya mana gue tau, tapi di situ aku mulai sedih karena dia tidak mampu menangkap konsep cincin yang kecil dan konsep cara membuat gelang yang bisa dikreasikan. Contoh tadi bukan satu-satunya kasus yang membuatku menyimpulkan tentang kurangnya dia dalam memahami. Tentu ada yang lain lagi, dan semua itu tertuju pada satu kesimpulan. Dia hanya menghafal apa yang lingkungannya katakan. Dia tidak berusaha untuk memahami konsepnya. Padahal, dengan paham konsep, kita bisa berkreasi toh.

Dan aku mulai yakin musababnya ada pada pola pendidikan yang hanya menuntut hafalan.
***
Mereka benar-benar hanya diajari hafalan. Definisi suatu kata. Harus hafal, tidak mengerti tidak masalah. Aku makin bertambah frustrasi di soal-soal berikutnya.

"Sekarang..." Matanya naik turun mencari-cari soal yang ingin dia berikan,"oh coba jawab, apa yang disebut dengan intonasi?"

Dengan yakin tidak akan salah, jawabku,"nada bicara!"

"Salaaah!"

Whut

"Apa dong, Dek?"

"Lagu kalimat."

...

Yah, meski memang ternyata definisi dari KBBI adalah demikian, tapi ya gak gitu juga kali. Ada beberapa lagi pertanyaan-pertanyaan yang secara konsep aku telah benar menjawab, tapi tetap dia salahkan karena berbeda dengan yang ada di buku. Tapi aku lupa pertanyaan apa lagi. Yang jelas, tidak salah kalau aku menyimpulkan bahwa dia sebenarnya tidak mengerti makna dari intonasi. Dia hanya hafal.

Aku jadi penasaran, kalau dia menjawab 'nada bicara' untuk pertanyaan tadi dalam ulangannya, akankah disalahkan oleh gurunya?
***
Sepertinya, tidak adil kalau aku dengan sepihak, dan tanpa riset apapun, menyimpulkan semuanya dengan satu frasa "anak SD jaman sekarang...", lalu geleng-geleng kepala. Karena, sepertinya, masa SDku juga dihabiskan dengan pola yang memangkas kreativitas.

Ceritanya, aku dari kecil senang membaca buku dan menulis. Ada satu buku cerita yang aku cukup sukai. Buku tipis itu bercerita tentang Anastasia. Itu loh, salah satu film kartun yang sempat booming tahun 90an akhir.

Buku itu dimulai dengan prolog dari seorang tokoh bernama Vladimir. Vladimir sendiri juga tokoh di dalam cerita, namun di buku itu dia mendapat peran lebih sebagai narator. Semua kisahnya dituliskan dari sudut pandangnya.

Pada kesempatan itu, guruku meminta anak-anaknya untuk membuat cerita tentang liburan panjang kemarin. Akhirnya, aku membuat sebuah cerita diawali dengan prolog yang kurang umum. Meniru konsep buku Anastasia dengan gayaku sendiri. Di saat anak-anak lain memulai cerita dengan "pada liburan kemarin aku bersama keluarga aku pergi ke...", aku membukanya dengan paragraf yang agak nyentrik.

Sebenarnya gak nyentrik sih, biasa saja. Berbeda, lah.

Esoknya, ibu guru itu mengulas cerita yang kami buat hari yang lalu. Di depan kelas, dia langsung membahas cerpenku, meski tanpa menyebut nama, namun dia mengejeknya. Dia bilang, ngaco banget bikin cerita kayak begini, lalu dia bacakan ceritaku.

UNTUNG, aku tidak langsung minder dan terpangkas percaya dirinya. Untung aku yakin pada buku Anastasia dan hanya menganggap bahwa guruku ini memang kurang pengetahuan. Untung kreativitas aku tidak dia matikan.

Fuh.


Usaha dulu, baru minta

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suat kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Ar-Ra'ad: 11)
Bagi saya, dengan dasar pengetahuan saya dari Al-Quran, tidak ada suatu kondisi di mana kita mengandalkan Allah sepenuhnya. Hasil usaha kita, memang, semua karena Allah. Ya jangan sampai deh kita menjadi orang yang sombong dan merasa mampu hidup tanpa Allah, seperti orang-orang yang digambarkan dalam Surat Az-Zumar: 49.
Maka, apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (Az-Zumar: 49)
Tapi, apakah Dia memberikan hasil atas apa yang kita usahakan atau tidak, itu semua wewenang Allah. Kedaulatan sepenuhnya milik Allah. Dan, kalaupun kita menerima pemberian Allah, pemberian-Nya itu semua karena Dia menilai usaha kita.

Seperti seorang Ibu yang akan mengizinkan anaknya bermain bola di luar jika anaknya telah cukup belajar hari itu. Ibu pasti menilai usaha anaknya dalam belajar, bila tidak cukup keras ya tidak diizinkan. Namun, bila anaknya telah belajar sungguh-sungguh, tetap sepenuhnya hak Ibu untuk mengizinkan atau tidak.

Bisa saja anaknya lagi pilek, kalau sudah belajar ya tetap tidak diizinkan. Nanti ga epet embuh :( Atau di luar rumah sedang panas terik hujan badai kita lalui bersama, masa dikasih izin? Ntar atit lagii. Atau ibunya mau jalan-jalan ke mall anaknya disuruh jaga rumah haha canda.

Jelas-jelas, kalau tidak ada usaha apapun sama sekali dari diri kita, kenapa kita bisa-bisanya meminta macam-macam kepada Allah?

Padahal kita telah ceroboh, tidak bisa kita dengan seenaknya bilang,"ya sudahlah, gue yakin nanti pasti Allah kasih jalan."

Kasarnya ya, tahu diri lah.

Tapi saya gak ngomong begitu loh, itu orang kasar yang ngomong. :|

Allah bilang bertawakallah, bukan pasrah. Tawakal itu beda dengan pasrah. Tawakal itu berjuang sekerasnya dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, ikhlas dengan keputusan-Nya, dan selalu yakin bahwa kita memang mendapat yang terbaik dari Allah. Tapi kalau pasrah itu hanya meminta saja pada Allah, tanpa perjuangan, tanpa usaha, tanpa keringat.

Cerita-Cerita yang Ingin Dikisahkan

Pagi ini, langit sangat mendung. Udaranya benar-benar dingin. Angin memaksa masuk lewat celah-celah jendela, membuat kulit saya jadi agak merinding.

Semalam saya tidur meninggalkan beberapa kewajiban. Habis, sudah terlanjur terlalu ngantuk. Sebenarnya tidak terlalu ngantuk sih, mata saya tidak menyipit-nyipit dan kelopak mata saya belum terasa begitu berat. Tapi saya tahu saya ngantuk karena saya mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan tidak beres. Seperti membuka keran air galon saat gelasnya tidak ditaruh di bawahnya, daaan banyak hal ‘skip´lainnya. Saya jadi teringat dahulu, waktu SMA, ketika saya lagi mengantuk dan ingin minum, saya malah mengisi gelas saya dengan air keran. Whut da hell.

Ada beberapa kisah yang ingin saya ceritakan, saya mau bodo amat dulu sama kerjaan-kerjaan saya yang lain. Sebenarnya, menulis setiap hari kan juga bagian dari kewajiban saya untuk memenuhi perjanjian dengan Nona Prianka. Dan, pekerjaan-pekerjaan lain sudah terlalu sering saya dahulukan daripada pekerjaan pribadi saya ini. Kini saatnya saya menulis di pagi hari, saat otak masih segar, matahari belum menyengat, dan waktu masih banyak.

***
Tiga hari yang lalu adalah hari pertama saya tahu bahwa di kosan ini ada shower air panas. Meski sudah dua tahun tinggal di sini, bukan sesuatu yang tidak wajar kalau saya baru tahu, sebab bapak kosan saya yang dulu melarang anak kosan menggunakan kamar mandi itu. Bapak kosan yang sekarang ternyata mengizinkan (tanpa saya ketahui), hanya jika para pemilik kosan tidak sedang mendiami rumah ini.

Pagi itu cukup dingin, meski tidak sedingin hari ini. Bayangan-bayangan akan mandi air panas muncul di benak saya – duh nyaman sekali. Saya pun segera turun ke lantai dasar dan menyalakan heater. Heater harus dinyalakan dahulu selama setengah jam agar airnya panas.

Saya kembali ke kamar dan berkutat dengan laptop lagi. Sekitar setengah jam kemudian, saya langsung turun lengkap membawa sabun, sikat gigi, shampoo, dan handuk.

Namun, tiba-tiba, di lorong pintu sedang berjalanlah kakak ipar Ibu Kosan, menggeret dua koper yang besar-besar. Dia menyadari kehadiran saya di depannya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap saya. Senyum senang melebar di bibirnya, lalu menyapa saya dengan keras dan bersemangat.

“Selamat pagi!!”

Ah, tidak jadi mandi air panas.
***

lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn.

*) kisah ini ditulis dalam bahasa kalbu. sepertinya gak compatible sama blogger :3

***
Menengok juga wajahmu,
Kupikir silau matamu akan sorot lampu
Hingga begitu gelap bayangannya
Dan yang ada di baliknya.

Wajah yang tertengok,
Berapakah?
Mata-mata tertuju dalam sorot
Aku melihatnya tidak berkedip
Dalam pesona indah tarian dan senyuman.

Di samping sini
Membuatku ingin melangkah
Pintu yang terbuka
Siraman cahaya matahari
Hingga ku hangat dengan siramannya
Dan matahari bilangku untuk diam
Agar tak ada yang lihat
Aku dalam sinaran.
***

Semalam saya tertidur di atas jempol kiri saya sampai-sampai jempol saya sakit. Tertidur dengan posisi menyakitkan, pantat di bangku, jempol di atas meja, dan kepala di atas jempol.

Saya terbangun berkat telefon dari teman, dan tak lama syaraf-syaraf saya mulai sadarkan diri. Denyut sakit dari ujung jempol terasa hingga ke ubun-ubun kepala.

Akhirnya saya tidur lagi dengan lebih baik, dengan pantat di bangku dan kepala di kasur.

Tengah malam, saya terbangun. Pinggang yang melayang itu sungguh posisi tidur yang menyebalkan. Saya pun bergeser untuk tidur dengan sempurna di kasur.

Pagi ini, jempol saya memar.

***

lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn. lsdklsdf kkdsjfdskjf;auoiwer iruo oik wersidf slsdfu oeois ncv eir alkd f sek skjdfie ijdf sl mc jfkie oww msn ihci lereoi d asdlf pndf vmkjsdf  sldkjf  mn.

*) kisah ini ditulis dalam bahasa kalbu. sepertinya gak compatible sama blogger :3

Menunggu mood

Ada suatu Gagasan Besar di kepala. Gagasan Besar menggoyang-goyangkan isi tempurung kepalaku dengan keinginannya untuk tumpah menuju dunia.
Dia ingin didengar, dan dia mau sekarang juga.

Dia mengalir keluar menuju jari-jemariku, menggerayangi pembuluh darahku di sana. Dia mendesak-desak nadiku, memaksa keluar lewat ujung jariku.

Tangaku geli karenanya.

Tanganku gatel.

Aku ingin menulis.

Sekarang dia meledak-ledak di dalam badanku. Mendidih, seperti orang sakaw, dia gemetaran meminta keluar. Bosan dia berkurung di dalam kepalaku.

Tapi, lihatlah. Sekarang sudah jam setengah 7 pagi, ada pekerjaan yang harus kusambut sebentar lagi. Aku harus siap-siap. Tidak akan sempat kutuliskan semuanya.

*

Dia paham maksudku. Dia tahu saat ini aku digencet oleh sempitnya waktu. Dan, yang jelas, dia tahu aku jadi tidak mood untuk menulis.

Dia menyerah. Dia menyusut masuk ke dalam kepalaku meninggalkan jari-jariku yang kini terasa hampa, meringkuk di tengah otakku.

Semoga dia tidak hilang dilekang waktu.

Prolog Film

Bandung terbangun dengan pelan.
Cahaya matahari perlahan merambat menyapa, begitu lembut seolah berbisik.
Langit berawan biru muda, rasanya sangat... sendu.
Sunyinya dunia, tanpa hentakan drum dari radio, tanpa bising knalpot, bahkan tanpa kicau burung, membuat semuanya semakin... sendu.

Rasanya, cocok sekali hari ini menjadi permulaan sebuah film tentang kiamat atau zombie apocalypse.

Buku adalah Jendela Dunia

Buku adalah jendela dunia. Kalau saya hanya membaca, maka saya cuma seorang penonton dunia dari dalam rumah saya, menontonnya melalui jendela saya yang sempit.

***

Peribahasa umum buku adalah jendela dunia menginspirasi orang-orang untuk menjadi pembaca yang rajin. Buku adalah jendela dunia menyemangati sebagian untuk gemar membaca.

Saya juga senang membaca buku, meskipun akhir-akhir ini jarang sekali saya menyentuh buku selain buku tulis dan buku agenda. Tapi saya masih sering membaca artikel-artikel di laptop. Yah, tapi laptop kan jendela (windows) juga, hehe.

Dengan membaca, saya jadi tahu banyak hal-hal baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Saya juga bisa mengetahui penelitian-penelitian baru, yang kadang-kadang erat kaitannya dengan keseharian saya. Atau bahkan, jawaban 'kenapa' atas banyak hal, yang terkadang terlalu biasa untuk dipertanyakan mengapa. Misal, mengapa langit biru, mengapa pelangi hanya setengah lingkaran (karena setengahnya ada di matamu).

Tapi, jangan lupa. Buku hanyalah jendela dunia. Ingatlah, one only knows the road once he walks the road.

Tidak ada pemahaman yang utuh hanya dengan membaca, Yang terpenting adalah menjalankan atau mempraktikkan apa yang dibacanya, mencobanya sendiri. Misal saja saya membaca peta, tentu saya bisa tahu arah dan jalan dari Dago menuju Cileunyi. Tapi, jika saya tidak pernah menapakinya, saya tidak akan pernah mengerti dengan sempurna bagaimana caranya menuju ke sana.

Kalau saya hanya pembaca peta, saya mampu menjelaskan arah menuju Cileunyi. Tapi saya tidak akan pernah bisa menyebutkan bahwa kalau ke sana macet loh di daerah Margahayu, dan di sana ada jalanan bolong-bolong, udaranya panas saat di Soekarno-Hatta dan jadi dingin ketika di Cileunyi, dan ternyata di daerah sini banyak premannya mending hindari.

Buku adalah jendela dunia. Kalau saya hanya membaca, maka saya cuma seorang penonton dunia dari dalam rumah saya, menontonnya melalui jendela saya yang sempit.
Kasih
Tidak pedih
Karena sedih
Tak perih

Kala hati
Terpatri
Pada mati

Senyum

Di dunia ini, ada beberapa jenis senyum.

Mungkin, banyak yang mengklasifikasikan senyum menjadi dua golongan, yaitu senyum tulus dan senyum palsu. Tapi, sore ini aku melihat lebih.

Aku berjalan beriringan bersama Kak Gita, menikmati udara sore di tepi taman kota.

"Gita!"

Suara berat memanggil nama kakakku dari belakang. Sontak, kami berdua menoleh lalu Kak Gita melontarkan sebuah senyum kepada laki-laki itu. Senyum untuk menyapa.

"Halo,"jawab Kak Gita manis.

Senyum halo.

"Eh- halo," jawab laki-laki itu kikuk.,"lagi apa di sini?"

"Jalan-jalan aja sama adikku," Kak Gita mengedikkan kepalanya kepadaku. Aku bertatapan dengan laki-laki seumuran kakakku tadi, lalu segera menyunggingkan senyum.

Senyum formalitas.

Dia balas tersenyum dan langsung mengalihkan pandangannya lagi pada kakakku.

"Btw, Git," katanya.

"Ya?" Kak Gita tersenyum,"ada apa?"

Senyum menunggu tanggapan.

"Eh-," dia bergerak kikuk lagi, menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak terlalu gatal,"kebetulan ketemu kamu nih, aku tadi dapat tiket gratis nonton bioskop berdua untuk malam ini."

Laki-laki itu berhenti bicara, seolah menanti jawaban Kak Gita. Tapi, Kak Gita sendiri bingung mau jawab apa, wong pertanyaannya saja belum ada.

Keheningan pun menggelayut aneh.

"Maksudku," dia melanjutkan sambil tersenyum.

Senyum canggung.

"Maksudku, kamu mau gak nonton sama aku malam ini?"

"Oh," jawab Kak Gita riang. Dia tersenyum.

Senyum senang.

"Mau-mau aja kok!"

"Eh betulan?" laki-laki itu balik bertanya. Setelah Kak Gita mengangguk yakin, dia langsung tersenyum lebar.

Senyum yang lebih senang lagi.

Kak Gita menoleh kepadaku,"nanti kita beli satu tiket aja buat kamu. Lumayan kan, harga satu tiket buat nonton bertiga. Kamu ada uang gak?"

Mendengar niatan Kak Gita untuk mengajakku, laki-laki tadi melongo pasrah.

Aku mengabaikan laki-laki tadi, lalu kusampaikan bahwa uangku habis. Dan ternyata Kak Gita juga tidak membawa uang yang cukup banyak.

"Yah, maaf ya," kata Kak Gita menyesal pada sang pria,"kita gak ikut deh, gak bawa uang ternyata."

"Eh, aku bayarin aja deh," panik, laki-laki itu berbicara dengan sangat cepat.

"Wah, beneran?"

"I-iya, aku aja yang bayarin," katanya. Kak Gita mengucapkan terimakasih dengan riang, dan aku juga menyampaikan rasa terimakasihku kepadanya. Dia menoleh padaku, lalu tersenyum.

Senyum terpaksa.

Bapak Kecil

Di ITB, ada seorang bapak tua yang mungil. Rambutnya agak panjang untuk ukuran laki-laki, tapi masih potongan rambut laki-laki. Warna rambutnya abu-abu, hitamnya telah lekang oleh waktu. Kemejanya selalu kebesaran.

Dagu runcingnya sekilas membuat dia bermuka licik. Matanya agak kecil. Aku jadi teringat Kreacher - salah satu peri rumah di Harry Potter.

Tidak, tidak. Bukan karena beliau seperti makhluk aneh. Beliau sangat manusia, kok.

Aku sering melihat beliau masuk ke kelas-kelas membawa nampan berisi segelas besar air putih, terkadang teh hangat. Beliau biasanya mengetuk pintu, menyela pembicaraan dosen di kelas, lalu masuk dengan membungkuk dan menaruh gelas itu di meja dosen.

Beliau sangat hormat sekali, padahal dari tampangnya, umur beliau lebih tua dari sebagian besar dosen.

Terkadang dia masuk membawa remote control proyektor kelas yang tertinggal di tata usaha.

Pernah suatu kali, aku berkuliah di lantai 4 sebuah gedung kuliah yang jauh dari tata usahaku. Di tengah pelajaran, beliau muncul di samping pintu, mengetuk-ngetuk, lalu masuk dengan sangat sopan. Beliau menyerahkan remote control kepada dosenku, dengan tampang melongo karena kelelahan. Beliau berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan agar bisa bicara kepada dosenku dengan benar.

Tapi usahanya gagal.

Lalu sang dosen memijit-mijit tombol remote. Dan tidak terjadi apapun.

"Kayaknya salah remote," kata dosenku.

"Oh iya, Pak," jawab bapak tua pasrah.

Masih ngos-ngosan, beliau keluar dari kelas dengan cepat untuk mencari remote yang benar.

Berilah petunjuk

Dian menghempaskan tubuhnya ke kursi keras di tepi taman.

Randi, di sampingnya, tampak terkejut dengan kedatangannya, namun dengan sengaja tidak mau menoleh. Biar cool.

"Ran, Andra tadi minta putus," keluh Dian suram. Air mata menggenang di tepian mata indahnya.

"Hm," jawab Randi sok tidak peduli. Dia masih menatap bukunya, meski otaknya sudah tidak konsen lagi.

"Raaan, nengok dong, gue ngobrol sama lo, lo jangan baca doaang," rengek Dian.

"Iya nih gue tutup," dengan nada kesal Randi menoleh,"apa?"

"Gue mau diputusin."

"Hmm"

"Pemicu berantemnya gara-gara gue telat janjian. Padahal bukan salah gue, angkotnya ngetem gila. Jalanan macet, orang-orang nyebrang di mana-mana bikin kendaraan jadi pelan. Eh giliran ada yang nyebrang di zebra cross, malah ditabrak sedan. Makin macet lah. Mana panas banget, make up gue sampai luntur."

"Yaaah, memang sudah rusak kota ini,"jawab Randi akhirnya.

"Panaaaaas, gak ada pohon di mana-mana, makin panaaaaas." Dian mengeluh.

Randi memaksakan senyum.

"Ya Allah, rusak banget bumi," muka Dian semakin buram,"dan Andra tega-teganya cuma karena telat lima menit..."

Dian menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan,"maaf gak nyambung curhatannya, Ran. Tapi udah kepalang sedih banget nih, semua hal jadi sedih. Terus tadi lihat penjambretan juga di pinggir jalan, kakek-kakek pula yang dijambret. Sedih banget lihatnya."

"Kota ini kacau banget ya, Yan?"

"Iya, Ya Allah... Beri petunjuk-Mu,"kini menetes satu butir air mata. Dian menghapusnya cepat.

Randi merogoh sesuatu dari tasnya, lalu menaruhnya keras di pangkuan Dian.

"Nih, petunjuk."

Al-Quran berwarna silver terdiam di atas paha Dian. Dian dan Kitab itu saling bertatapan. Keheningan kaku terasa menyelubungi dedaunan di taman.

"Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa," lanjut Randi.

Dian tertawa canggung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya siih, tapi apa hubungannya sama masalah hidup gue?"

Randi mendecak kesal,"ya hidup muslim kan harusnya berpedoman sama Quran? Pemecahan masalah lo ada di sana juga. Tadi lo minta petunjuk, ini udah dikasih, malah ga mau baca. Lo berharapnya petunjuk apa sih? Petunjuk lewat mimpi? Hahahaha."

Dian menciut,"iya bener sih, yaudah gue tanya ke elo deh sebagai orang yang rajin baca, masalah gue sama Andra gimana dong penyelesaiannya?"

"Ya putus aja," kata Randi pendek, "sudah jelas kan?"

Cewek itu tidak mampu berkata-kata. Dia hanya terperangah menatap Randi. Benar sih, kalau di Islam katanya gak ada pacaran, tapi...

"Nah, kalau masalah kota ini gimana? Penjambretan, macet, panas, global warming, kan harus baca-baca literatur lain," Dian mengalihkan pembicaraan.

"Ada, Yan," kata Randi, "prinsip pengelolaannya ada di situ. Lo cuma harus baca dan belajar."

"Gue udah pernah baca, tapi kan gue gak paham maknanya, banyak banget yang kiasan-kiasan gitu."

"Ah lo mah cari-cari alasan aja, bilang aja males baca," merasa Kitabnya tidak akan disentuh Dian, Randi merebutnya lagi dari Dian, "tinggal cari pembimbing, repot amat."

Dian nyengir tidak enak, "ya udaaah, lo mau jadi pembimbing gue?"

"Oke, siap. Kapan mulai?"

Randi menatap Dian tegas. Bulat niatnya untuk ngajarin cewek ini ilmu Allah, kalau dia memang mau. Kapan mulai?

...

Hening.

"Hehe, gak sekarang deh. Kapan-kapan."

"Halah, tuh kan."

Puitis

Puitis,
kala jemuku menulis

Puisi,
waktu ilham tak isi

Rima,
janji tetaplah sama

Sajak,
malam beranjak!

Hei!

Tulis!
Walau ilhammu habis.